Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab. 12 Hari pertama bekerja


__ADS_3

Mereka berdua langsung akrab dengan satu sama lain nya. Ketika Mahalini sedang duduk santai untuk meregangkan semua otot nya yang kaku tiba-tiba sebuah telfon berbunyi.


-''Bikin kan aku kopi 3,'' Ucap seseorang di seberang, sedangkan Mahalini melotot tidak mengerti.


''Ka ada yang minta di anterin kopi ke ruangan nya, tapi saya tidak tau siapa yang meminta kopi tersebut dan mau di antarkan kemana kopi kopi itu,'' tanya Mahalini kepada Clarencia.


''Kamu bikin saja dulu, nanti aku antar kamu ke ruangan tersebut,'' jawab Clarencia dengan senyuman nya.


''Kak Vero sudah jelasin kan kalau bikin kopi buat CEO kita,'' tanya Clarencia yang tidak mau ada kesalahan.


''Sudah kak, jangan terlalu manis,'' gumam Mahalini yang tengah mengaduk 3 cangkir kopi yang di minta seseorang tadi lewat sambungan telfon.


''Ayo aku antar kamu sampai depan ruangan saja, kamu sendiri yang masuk oke,'' kata Clarencia dengan mantap.


''Tapi aku-''


''Sudah cepat masuk, nanti keburu marah lagi presdir nya,'' Clarencia memotong ucapan Mahalini. Dengan terpaksa dia masuk seorang diri setelah mengetuk pintu.


Tok tok tok


''Masuk,'' suara seorang laki-laki paruh baya terdengar di telinga Mahalini. Dengan gugup Mahalini membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan, Mahalini terus saja menundukkan kepalanya tanpa melihat ada siapa saja di dalam ruangan sang presdir.


''Maaf Tuan kopinya?'' Ucap Mahalini dengan lembut.


''Taruh di meja sebelah sana saja,'' tunjuk seorang laki-laki paruh baya ke meja sebelah, di mana di sana ada dua orang laki laki yang sudah duduk santai di sana.


Mahalini menaruh dengan tangan bergetar seraya dia mendudukkan diri di dekat meja, agar lebih sopan kepada tamu di depan nya.


Sedangkan Devan sangat terkejut, karena dia baru sadar? kalau Mahalini bekerja sebagai office girls di kantor nya.

__ADS_1


''Silahkan di minum tuan?'' kata Mahalini yang beranjak dari duduknya, sembari melangkahkan kakinya menuju ke pintu ruangan, Mahalini melangkah pergi dari hadapan 3 laki-laki yang beda usianya.


Namun tiba-tiba ada suara yang menghentikan Mahalini yang sudah menarik handle pintu.


''Tunggu! jangan keluar dulu, aku ingin mencoba kopinya terlebih dulu baru kamu boleh keluar,'' seru Devan dengan nyaring. Kedua laki-laki yang ada di samping nya tertegun melihat Devan yang mau berbicara seperti itu kepada seorang wanita di kantor nya, yang hanya berprofesi sebagai office girls.


Mahalini membalikkan tubuhnya menghadap ketiga orang di depan nya. Dengan sabar Mahalini menunggu apa yang akan di lakukan oleh Devan kepadanya.


'Lagi lagi orang ini, kenapa sich dia selalu bikin mood aku hilang setelah bertemu dengan nya,' gumam Mahalini dalam hatinya, Mahalini yang nampak tegang hanya bisa memuntir pucuk bajunya saja.


''Bagaimana Pah,'' tanya Devan kepada laki-laki di sebelah nya.


''Kopinya pas, tidak pahit dan tidak terlalu manis? tapi aku belum pernah melihat kamu sebelum nya di kantor ini, apa kamu karyawan baru di sini,'' tanya sangat presdir menatap Mahalini.


''Alhamdulillah, terima kasih sudah suka dengan buatan kopi saya Tuan. Saya karyawan baru dan baru bekerja mulai hari ini,'' jawab Mahalini dengan sangat sopan, sedangkan kepalanya masih tertunduk karena dia tidak berani menatap ketiga nya.


''Sok so'an bikin kopi di kantor ini, kuliahnya saja bolos,'' gumam Devan dengan pelan, namun kedua laki-laki di sampingnya masih mendengar gumaman dari Devan.


''Kenapa? dan tadi kenapa lama banget di dalam, kakiku sampai kram nunggu kamu di luar ruangan, jadi aku pikir kamu juga ikut ngopi di dalam sana, aku makan dech?'' tanya nya dengan menatap wajah pucat Mahalini, nafas Mahalini masih naik turun ketika sudah keluar dari ruangan sang presdir.


''Jangan anech dech, aku ke kantin dulu dech, aku juga lapar?'' jawab Mahalini dengan memegang perut nya, yang sejak tadi minta di isi.


''Nggak usah ke kantin, aku sudah pesan tadi. Nich buat kamu?'' Ucap Clarencia seraya menyodorkan satu nasi kotak buat Mahalini.


Mahalini membuka nasi kotak pemberian Clarencia, Lini melihat isi di dalam nya dan matanya langsung membola ketika melihat isi di dalam kotak, ''Kak Clarencia nggak salah dengan pesanan ini?'' tanya Mahalini terkejut. Karena ada beberapa macam lauk di dalam nya.


''Enggak, itu Pak presdir yang beliin buat kita berdua kok,'' balas Clarencia yang terus menyuapkan makanan nya.


''Memang setiap hari makanan di kantor ini seperti ini terus ya kak,'' tanya Mahalini lagi karena penasaran sekaligus terkejut juga.

__ADS_1


''Nggak sich, cuma hari ini saja. Mungkin ini adalah hari keberuntungan kamu saja sebagai karyawan baru di sini,'' jawab nya dengan santai.


Mahalini masih ingin bertanya lagi, namun Clarencia malah bikin pergi ke lantai lima, di mana ruangan para office girls dan office boy.


''Lini belum selesai makan nya kak?'' kata Mahalini kepada Clarencia.


''Kamu tunggu di sini saja dech,'' sahutnya seraya terus melangkah keluar dari pantri.


Sesampainya di depan pintu, putera dari presdir nya berjalan menuju pantri. ''Ada yang bisa saya bantu tuan muda,'' tanya Clarencia dengan menundukkan kepalanya hormat.


''Tidak aku bisa sendiri, lagian di sini ada satu lagi karyawan baru kan?'' jawab Devan dengan nada dingin nya.


''Ada Tuan, dia sedang makan di dalam?'' jawab Clarencia dengan masih menundukkan kepalanya.


''Sudah kamu kalau mau pergi, pergilah.'' Devan pun melenggang pergi menuju pantri, di mana di sana Mahalini tengah menyantap makanan nya.


''Besok aku harus membawa bekal sendiri saja dech, bisa habis gaji aku selama sebulan kalau makan seperti ini terus?'' Gumam Mahalini yang di dengar oleh Devan.


''Memang benar, makanan itu tidak gratis, kamu harus membayar tagihan nya setiap bulannya,'' sahut Devan tiba-tiba.


Mahalini beranjak dari duduknya dan menghadap ke arah Devan yang sedang menatap nya dengan sinis.


''Maaf Tuan, ada yang bisa Lini bantu?'' tanya Mahalini yang sudah mengetahui kalau ternyata Devan adalah cucu dari seorang Bagaskara.


''Aku hanya ingin bertanya sama kamu, kamu tidak sedang memata mataiku kan?'' tanya Devan tho the poin.


Mahalini melotot mendengar nya, 'Buat apa aku memata matai kamu Tuan, kayak kurang kerjaan saja,' gumam Mahalini di dalam hatinya.


''Kok diam,'' seru Devan membuyarkan lamunan Mahalini.

__ADS_1


''Saya benar-benar bekerja di sini Tuan, lagian siapa yang berani mematai matai anda?'' jawab Mahalini dengan takut, namun dia harus menjawab semua pertanya'an dari Tuan mudanya.


__ADS_2