
Pagi ini Mahalini bangun pagi pagi sekali, setelah mendapatkan telfon dari Pak Luwis kepala HRD di tempat dia bekerja.
''Neng Lini mau bekerja hari ini?'' tanya Bi Ijah yang baru selesai sholat subuh.
''Iya Bi, Lini kira? Lini di pecat setelah berbuat huru hara di kantor kemarin, tapi ternyata semalam Lini di telfon langsung oleh Pak Luwis, dan di suruh masuk kerja seperti biasanya,'' jawab Mahalini panjang lebar.
''Bibi turut bahagia mendengar nya neng, apa mau Bibi bantu?'' tanya Bi Ijah yang masih terus berdiri di sampingnya.
''Tidak usah Bi, Bibi bisa kerjakan yang lain nya saja oke,'' sahut nya dengan nada senang nya.
'Semoga kamu selalu bahagia neng Lini, Bibi tidak bisa memberi sesuatu yang lebih kepada neng Lini, tapi Bibi hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk masa depan neng Lini dengan menemukan laki-laki yang begitu mencintai dan menyayangi neng Lini sampai ajal yang memisahkan,' batinnya seraya pergi mengambil sapu dan kain pel di tempat biasa ia menyimpan.
''Bi, Lini berangkat kerja dulu ya, assalamu'alaikum,'' pamit Mahalini kepada sang Bibi.
''Waalaikum salam,'' jawab Bi Ijah dengan lembut.
Mahalini memacu motor nya membelah jalanan Jakarta, nampak masih lengang tidak seperti biasanya, karena Mahalini hari ini berangkat lebih pagi dari sebelumnya.
''Alhamdulillah, sampai juga ternyata?'' gumam Mahalini memarkirkan sepeda motor nya.
''Tumben sudah datang pagi pagi Lini?'' tanya sang satpam ketika melihat Mahalini berjalan menuju ke arah nya.
''Iya Pak, buat ganti yang kemarin karena Mahalini pulang lebih dulu kemarin,'' jawab Mahalini sopan dan juga ramah. Sikap seperti ini yang di sukai oleh semua orang yang sama sama menjadi pekerja sebagai OB dan juga satpam.
''Lini masuk dulu ya Pak?'' pamit Mahalini, tak lupa juga Mahalini mengembangkan senyuman nya kepada sang satpam.
__ADS_1
'Senyuman kamu itu sangat memabukkan Lini,' gumam sang satpam dalam hati nya.
''Mahalini memang cantik, dan juga luar biasa dalam segala hal. Entahlah aku juga senang kalau Mahalini mulai bekerja lagi,'' ujar salah satu rekan yang juga menjadi satpam.
''Iya, aku tak menyangka kalau Mahalini ternyata adalah anak dari Pak Setiawan, itupun taunya dari pengakuan Mahalini kemarin,'' jawab nya bangga dengan Mahalini yang berani mengakui kalau dia hanyalah anak angkat yang di temukan di pinggir jalan.
''Sudahlah kita mulai bekerja, takut nya ada tuan muda datang tiba-tiba,'' sambung yang lain mengakhiri obrolan nya yang sedang membahas Mahalini.
Sedangkan di lantai 5 Mahalini sedang membersihkan semua alat alat yang masih berantakan di sana, mungkin semalam ada orang yang bekerja lembur dan membiarkan semua alat makan nya berantakan begitu saja tanpa di cuci.
''Lini?!'' Pekik Clarencia dan langsung menghambur ke pelukan Mahalini. ''Kirain kamu akan berhenti dari sini, kamu semua sudah sangat khawatir tau nggak,'' seru Clarencia yang terus memeluk Mahalini.
''Iya kak, Lini juga mikirnya begitu. Karena Lini sudah berani melawan klien Tuan Hutama, tapi ternyata Lini masih bisa bekerja di sini,'' jawab Mahalini membalas pelukan Clarencia.
''Sudah, sekarang kita beres beres di lantai Tuan muda saja, takut nya nanti keburu datang dan lantainya masih kotor dan juga berantakan,'' ajak Clarencia yang langsung menggandeng tangan Mahalini.
Clarencia sangat bahagia ketika melihat Mahalini bekerja di kantor ini lagi, semalam Clarencia sudah berpikir kalau Mahalini akan di pecat karena melawan klien Tuan Hutama. 'Sungguh beruntung sekali aku bertemu dengan kamu Lini, kamu orang nya tidak sombong dan suka membantu teman yang lain ketika kerja'an kamu sudah selesai,' batin Clarencia yang melihat Mahalini sedang mengepel lantai, dan juga membersihkan ruangan sang CEO yang terkenal angkuh dan juga dingin.
...****************...
Setelah makan siang Mama Magdalena mencari rumah Mahalini, dengan bekal secarik kertas yang di tulis oleh putera nya semalam, karena Mama Magdalena sendiri masih tidak percaya dengan ucapan Devano yang mengatakan kalau Bi Ijah tinggal bersama dengan Mahalini.
''Maaf Nyonya kita sudah sampai,'' Ucap sang sopir yang mengantarkan Mama Magdalena ke rumah Mahalini.
''Bapak tunggu di sini saja, aku masuk dulu sebentar,'' sahut Mama Magdalena yang membuka pintu mobil nya.
__ADS_1
Mama Magdalena berjalan menuju rumah yang nampak sederhana dari depan, namun begitu sedap saat di pandang lebih dekat, karena taman bunga yang begitu indah di halaman rumah nya.
Tok tok tok
Mama Magdalena mengetuk pintu, namun tidak ada sahutan dari dalam rumah, Mama Magdalena pun mengetuk pintu untuk kesekian kalian ya, dan akhirnya ada suara sahutan dari dalam.
''Sebentar,'' ujar Bi Ijah yang tergopoh gopoh dari belakang.
kriekkk
Bi Ijah sangat terkejut melihat mantan majikan nya sudah berdiri di depan pintu, ''Nyo-nyonya Magdalena?'' Ucap Bi Ijah gugup.
''Jadi benar apa yang di katakan Devan semalam, kalau Bi Ijah tinggal di sini?'' tanya Mama Magdalena mengangkat satu alis nya ke atas.
''Silahkan masuk Nyonya,'' Bi Ijah mempersilahkan Mama Magdalena untuk masuk terlebih dahulu sebelum menjawab pertanya'an nya.
Setelah menyuruh duduk, Bi Ijah melangkah pergi menuju dapur untuk membuatkan teh dan juga camilan yang sengaja di sediakan di sana, karena mengingat teman Mahalini yang kadang datang ke rumah nya untuk sekedar berkunjung.
''Silahkan di minum dulu Nyonya,'' kata Bi Ijah dan duduk di depan sangat mantan majikan nya.
Mama Magdalena pun meminum teh yang di sajikan oleh Bi Ijah. ''Maaf sebelum nya Nyonya, pasti Nyonya mengita saya tidak ingin kembali ke kediaman Tuan Bagaskara, tapi saya baru bisa bekerja lagi setelah di tawarkan untuk menjaga neng Mahalini.'' Cerita Bi Ijah yang tak kembali ke kediaman mertuanya.
''Bi Ijah betah bekerja dengan Mahalini sekarang?'' tanya Nyonya Magdalena dengan menatap wajah tua Bi Ijah.
''Iya Nyonya, neng Mahalini hidup sendirian setelah dia di bawa kabur oleh adek nya karena dia tidak mau melihat kakak nya selalu di siksa oleh Ibu angkat nya,'' balas nya lembut.
__ADS_1
''Di siksa!!'' seru Mama Magdalena terkejut dengan pengakuan Bi Ijah kepada nya.
''Iya Nyonya, selama ini istri tuan Setiawan selalu menyiksa neng Mahalini kalau tidak ada Tuan, jadi Tuan Muda dan Tuan Setiawan bersekongkol agar bisa membawa Mahalini ke rumah ini, terus beliau bilang kalau Mahalini telah di culik, makanya istri Tuan Setiawan belum tau keberada'an neng Mahalini untuk saat ini,'' Bi Ijah menceritakan semuanya kepada mantan majikan nya, kalau saat ini dia tidak bisa kembali bekerja di rumah besar tersebut, walaupun gajinya yang begitu besar.