
Di sebuah restoran
Mahalini dan juga Devano sudah memulai makanan nya dengan sangat nikmat di ruangan VIP, karena Devano sendiri tidak mau ada orang yang mengganggu mereka berdua ketika sedang santap siang bersama Mahalini, istri yang baru kemarin ia nikahi.
''Makanlah yang banyak, biar orang tuamu tidak mengurangi aku tidak memberikan kamu makan, karena tubuhmu yang sangat kurus,'' Ujar Devano menatap Mahalini yang rupanya tidak menyukai makanan nya.
''Tu-tuan, bolehkah Lini meminta makanan yang lain nya saja,'' Kini Mahalini memberanikan membuka suaranya, setelah beberapa saat kemudian.
''Kamu tidak menyukai makanan nya,'' tanya Devano yang sudah mengetahui nya, namun masih pura pura tidak tahu.
''Makanan nya enak sich Tuan, tapi perut Lini yang nggak bisa memakan ini? karena perut Lini terasa mual ketika ingin menyantapnya,'' jawab Mahalini dengan jujur. Jujur Mahalini tidak menyukai makanan yang tadi di pesan oleh Devano, Devano sendiri tidak meminta pendapat Mahalini yang mau makan apa, tapi justru dia malah langsung memesan makanan yang menjadi favorit nya sendiri.
''Baik lah, kamu pesan saja apa yang kamu mau, aku akan keluar dulu? ada yang masih harus aku urus di luar,'' kata Devano beranjak dari tempat duduk nya dan berjalan keluar ruangan.
Hari ini Devano akan menemui asisten nya di restoran ini juga untuk membahas soal Almira yang tadi membuat ulah di kantor nya.
''Bos?'' panggil Riki ketika melihat bosnya baru keluar dari ruangan VIP restoran.
''Sudah lama,'' tanya Devano datar, dan langsung mendaratkan bokong nya di kursi restoran.
''Lumayan Bos, Kakak ipar nggak ikut?'' tanya Riki yang celingukan mencari keberada'an istri Bos nya.
''Ada di dalam, dia masih makan.'' jawab Devano dingin, entah kenapa Devano tak suka dengan seseorang yang bertanya tentang istri kecilnya itu.
''Almira bersama Mama nya masih ingin membuat ulah lagi dengan kakak ipar, jadi Bos hatus lebih extra hati hati menjaga kakak ipar,'' Riki memulai obrolan yang akan ia sampaikan kepada Devano, Riki menyuruh anak buahnya untuk mengikuti Almira dari perusaha'an menuju rumah nya. Di pertengahan jalan, anak buah yang di utus untuk memata matai Almira, dia melihat Almira tengah mengobrol dengan seorang wanita yang di ketahui sebagai Ibu kandung nya.
Flashback On
Setelah di usir dari perusaha'an Devano Almira menghubungi Mama nya untuk di minta bertemu di jalan. Tapi sesaat kemudian mereka berdua berjalan menuju ke arah cafe yang berada tak jauh mereka berhenti tadi.
''Lebih baik kita ke cafe sana saja, kaki Mama pegel berdiri terus,'' Ucap Mama Agnes yang sudah lama berdiri.
Almira mengangguk dan berjalan mengikuti Mama Agnes menuju cafe yang ia tunjuk.
''Mas,'' panggil Almira dengan mengangkat satu tangan nya ke atas untuk memanggil pramuniaga di cafe tersebut.
Seorang wanita berusia muda datang menghampiri dengan membawa buku menu di tangan nya, ''Mau pesan apa Nona,'' tanyanya ramah.
''Cappucino satu dan orange jus satu,'' jawab Almira langsung, tanpa mau melihat isi buku yang sudah di sodorkan oleh pelayan di depan nya.
__ADS_1
''Masih ada lagi Nona,'' sang oelayan masih bersikap ramah kepada Mama Agnes dan juga Almira yang malah bersikap kebalikan nya.
''Sudah itu saja dulu,'' sambung Mama Agnes di kala melihay wajah jutek puteri kesayangan nya.
Sepeninggal sang pelayan tadi, Mama Agnes langsung memburu Almira dengan beberapa pertanya'an kepada sang putri.
''Bagaimana, kamu berhasil di terima di perusaha'an itu,'' tanya Mama Agnes sangat antusias.
''Almira gagal lagi Ma, bahkan mereka semua menghina aku karena mengatakan calon istri Devano,'' Almira mulai menceritakan apa yang sudah terjadi kepadanya, saat tadi masih berada di perusaha'an besar Devano.
''Lagian kamu, belum juga keterima sudah membuat ulah. Harusnya kamu bersikap baik di depan semua orang, agar kamu bisa menday empati dari semua karyawan di sana, kalau sudah seperti ini, bakalan susah juga untuk masuk ke dalam perusaha'an itu lagi,'' Mama Agnes mengimeli Almira yang kini wajahnya semakin di tekuk di depan Mama nya.
''Ini semua gara-gara Mahalini yang bekerja di sana Ma, mungkin dia sudah mengadu yang bukan bukan kepada semua karyawan di sana, sehingga membuat mery semua membenci Almira, dan asal Mama tau saja? mereka mengusir Almira sebelum melihat surat lamaran yang Mira bawa,'' cerita Almira yang mulai menjelek jelekkan Mahalini kepada sang Mama.
''Och jadi semua itu karena ulah anak sampah itu, tidak ada kapok kapoknya dia, setelah kemarin di hajar habis habisan,'' sahut Mama Agnes.
Anak buah Riki sangat terkejut ketika mendengar obrolan mereka berdua di sana, ''Jadi yang mencelakai wanita Tuan Muda adalah mereka berdua,'' gumam nya pelan.
''Ya sudah, sekarang kita pikirkan saja dulu untuk menghilangkan Mahalini anak sampah itu,'' Mama Agnes mencoba membuat puterinya kembali bersemangat, untuk mengambil hati seorang laki-laki yang kaya raya, sehingga di juluki orang nomor 2 di kotanya.
Anak buah Riki langsung beranjak pergi sebelum Almira dan juga Mama Agnes curiga kepada nya.
Di restoran Devano sudah mengepalkan tangan nya erat setelah mendengar semua isi rekaman yang di perdengarkan oleh Riki sang Asisten nya.
''Sekarang apa rencana Bos untuk memberi pelajaran sama keduanya,'' tanya Riki membuyarkan lamunan nya.
''Kamu suruh orang untuk terus memantau Agnes dan juga Almira, kalau dia berbuat macam macam langsung bekuk dia dan taroh di tempat biasanya,'' balas Devano setaya melirik ke arah ruangan VIP yang terbuka.
Terlihat Mahalini keluar dari ruangan itu membuat Devano beranjak dari duduk nya, sedangkan Mahalini menghampiri seseorang yang sedang membersihkan meja meja yang sudah di tinggalkan oleh pengunjung.
''Permisi mbak, mau tanya? kamar mandi nya di mana ya,'' tanya Mahalini dengan nada lembut nya.
''Kamar mandi, kakak jalan lurus dan belok kanan saja,'' jawab sang pelayan tak kalah ramah juga.
''Terima kasih bak?'' Ucap Mahalini sebelum pergi menuju ke kamar mandi. Mahalini berjalan dengan langkah yang terburu-buru karena dia sudah tidak tahan ingin buang air kecil.
Sebenar sejak tadi Mahalini sudah menahan diri, untuk tetap menunggu kedatangan Devano, sampai akhirnya Mahalini sudah tidak tahan, di tambah lagi dengan perutnya yang sakit akibat akan kedatangan tamu bulanan nya.
''Perutku sakit sekali, sedangkan aku tidak membawa persiapan di dalam tas,'' gumam Mahalini yang menyalahkan dirinya sendiri, karena sudah teledor tidak mengingat tanggal datang tamunya.
__ADS_1
Sesudah nya Mahalini berjalan menuju ke tempat yang tadi di tempati, namun Devano sudah berdiri di samping pintu ruangan dengan tangan yang di lipat di depan dadanya.
''Dari mana kamu,'' tanya Devano dingin.
''Maaf Tuan, Lini dari kamar mandi,'' sahut Mahalini dengan menundukkan kepalanya karena takut dengan Devano yang sudah terlihat sangat kesal.
'Apa aku salah, sehingga membuat wajah Tuan begitu marah ketika melihat aku balik dari kamar mandi,' gumam Mahalini di dalam hatinya.
''Kamu sudah selesai kan makan siang nya,'' tanya lagi Devano, sebenarnya Devano sudah mengecek makanan yang tadi sempat di pesan ulang oleh Mahalini, dan terlihat habis semua nya.
''Su-sudah Tuan,'' jawab Mahalini dengan gugup.
''Kita pulang sekarang, setelah aku mengantar kamu ke apartemen, aku akan pergi ke perusaha'an sebentar,'' kata Devano menjelaskan kepada Mahalini, Mahalini hanya mengangguk pelan sembari mengikuti langkah Devano dari belakang nya.
Tak banyak orang yang tau kalau sebelah Mahalini sudah menikah dengan seorang pria yang di agung agungkan oleh semua wanita di sekeliling nya.
''Ech itu kan Devano,'' seru tamu yang melihat Devano berjalan menuju keluar restoran.
''Iya, tapi perempuan di belakang nya, kayaknya sedang mengikuti Devan dech,'' sahut teman satunya.
''Ya mungkin dia hanya sekedar banu saja sich, coba saja lihat penampilan nya yang tak pantas sama sekali dengan seorang laki-laki sukses dan juga kaya raya itu,'' yang lainnya juga menimpali obrolan lainnya.
Semua obrolan itu masih bisa di dengar jelas oleh Mahalini, tapi apa boleh buat? karena semua yang di katakan oleh segerombolan wanita tadi memang benar adanya.
'Lini seharus nya kamu sadar diri, tak sepantasnya kamu mengikuti laki-laki yang banyak di kagumi semua perempuan perempuan muda dan juga kaya,' batin Lini yang harus terus sadar dengan keada'an nya saat ini.
''Lini ayo cepat,'' sentak Devano membuyarkan lamunan lamunan yang tadi ada di otak nya.
''Baik Tuan,'' jawab Mahalini melangkah dengan cepat, namun di dalam hatinya masih banyak yang harus ia pikirkan.
Devano sendiri sudah sangat kesal dengan pengunjung restoran yang ia datengin karena semua orang hanya memandang seseorang dengan cover nya saja, sedangkan mereka semua bisa saja cuma berpenampilan elit, sedangkan di belakang siapa yang tau.
Devano sebenarnya tidak pilih pilih dalam mencari pasangan hidupnya, tapi untuk saat ini Devano masih belum siap untuk menjalani bahtera rumah tangga dengan semua perempuan manapun. Tapi Mahalini sudah membuat pikiran Devano terbuka.
Devano adalah sosok laki-laki yang dingin dan irit bicara dengan siapapun, tapi tidak dengan Mahalini, di hadapan Mahalini Devano bisa menjadi seseorang yang hangat dan banyak bicara ketika hanya berdua saja dengan nya.
Apakah benih benih cinta akan segera hadir di kehidupan Devano, dan menerima Mahalini sebagai istri satu satunya dan juga calon Ibu dari anak anak nya kelak.
Simak terus ceritanya ya kak, terimakasih yang sudah mampir dan jangan lupa like, komen favorit kan ya kak, terimakasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕
__ADS_1