
Mahalini terus bersikap tenang menghadapi laki-laki yang sudah membentak nya barusan, dia tidak tau lagi ketika laki-laki itu tidak mempercayai ucapan nya, padahal dia kan beneran tersesat, pikir nya.
''Apa kamu antek antek mahasiswa sebelah!'' tanyanya lagi dengan ketus. Mahalini sendiri hanya bisa meremas ujung cardigan nya mendengar pertanya'an tersebut.
''Jawab!!'' sentaknya membuat Mahalini meringis mendengar nya.
''A-aku be-benaran tersesat kak,'' Mahalini mencoba berkata jujur sekali lagi, namun alih alih di percaya malah laki-laki di depan nya malah memanggil beberapa teman teman nya.
Mahalini merasa takut kalau dirinya di apa apain oleh segerombolan laki-laki yang baru saja berkumpul. ''Kakak mau ngapain, Lini benar-benar tersesat sampai ke sini, tadi Lini nanya sama mahasiswi ruangan dosen, tapi malah di suruh ke sini,'' lagi lagi Mahalini mencoba menjelaskan kepada mereka semua. Kini wajah Mahalini sudah pucat pasih, takut takut para laki-laki di depan nya berbuat yang macam macam.
Beberapa menit kemudian salah satu teman nya datang ke lokasi di mana Mahalini sekarang berada, diapun berbisik kepada laki-laki tersebut.
Laki-laki yang belum di ketahui namanya itupun mengangguk pelan dan segera menyuruh teman nya untuk bubar, ''Kalian pergilah,'' titah nya.
Mahalini yang sudah memejamkan matanya segera membuka lebar lebar setelah di rasa cukup aman. 'Syukur lah mereka semua pergi, tapi?apa yang aku lakukan sehingga wanita itu mengerjai ku seperti itu,' gumam Mahalini di dalam hatinya.
''Kamu ikut dengan ku sekarang!'' ajaknya dengan nada ketus dan juga memerintah. Mahalini hanya bisa mengangguk pasrah, dia tidak tau harus berkeluh kesah kepada siapa di kampus ini, sedangkan dia hanyalah murid baru yang belum tau seluk beluk kampus ini, dan lagi? dia juga belum kenal dengan teman sekelas nya.
Dengan langkah pelan Mahalini mengikuti langkah kaki laki-laki yang melangkah dengan lebar lebar, sehingga Mahalini tertinggal jauh dari laki-laki di depan nya.
''Selain kamu penakut, ternyata kamu lemot juga,'' seru laki-laki yang biasa di panggil Devan oleh semua teman teman nya, cowok terkeren yang ada di kampus ternama di kota ini.
''Maaf,'' sahut Mahalini yang masih melangkahkan kakinya dengan pelan.
''Sudahlah, lebih baik kamu cepat jalan nya atau akan aku tinggal di sini kamu,'' suara Devan memekik di indera pendengar Mahalini.
__ADS_1
Mahalini hanya bisa menarik nafas dan meniup telapak tangan nya yang terkepal, lalu dia menaruh di telinga kanan dan telinga kiri nya karena berdenging.
''Di depan ruangan dosen, dan jangan bilang tersesat lagi kalau tidak mau pergi ke temu yang tadi itu lagi!'' ancam Devan seraya menunjuk ruangan di depan nya.
Devan sendiri sudah pergi ke kelasnya, karena sudah masuk sedari tadi.
''Dari mana saja kamu Devan!'' suara sangat dosen begitu menggelegar di pendengaran Devan.
''Saya sedang menolong seorang wanita yang tersesat Pak, apa saya salah mengantar dia ke ruangan dosen,'' jawab Devan yang tak mengenal takut kepada sang dosen. Teriakan sang dosen hanya di anggap angin lalu oleh nya, karena mengingat Devan adalah putera dari pengusaha terkenal di kota ini, dan beliau juga dinatur tetap di kampus ini sekarang.
''Baiklah, sekarang kamu ke tempat duduk kamu,'' titah nya seraya menunjuk kursus Devan di depan nya.
'Untung kamu putera pak Guntur, kalau anak orang lain sudah aku cincang cincang kau menjadi sate,' bisik nya dalam hati.
''Pak dosen memaki ku kan?!'' ujar Devan dengan tatapan membunuh nya.
Di sisi lain Mahalini sedang di antar ke dalam kelas nya, Mahalini yang terkenal pendiam di depan orang banyak sedikit menundukkan kepalanya, dia masih trauma dengan perlakuan Agnes dan juga Almira kemarin.
''Sekarang kamu bisa memperkenalkan nama kamu,'' dosen yang ada di dalam kelas barunya mempersilahkan Mahalini.
''Assalamu'alaikum, semuanya. Perkenalkan nama saya Risty Mahalini. Mohon bantuannya,'' Ucapnya tanpa menatap lawan bicaranya.
''Cantik, tapi pemalu,'' seru mahasiswa yang kini sudah menjadi teman Mahalini.
''Nggak usah malu, kita teman kok?'' Ucap perempuan memakai kacamata tebal yang duduk sendirian di kursi paling belakang.
__ADS_1
Mahalini tersenyum mendengar penuturan dari teman baru nya yang belom tau namanya.
''Sekarang kamu cari tempat duduk, Ibu akan segera memulai materi nya,'' kata sang dosen mempersilahkan Mahalini duduk.
Mahal memilih duduk di dekat seorang gadis berkacamata tebal yang sering di panggil si Cupu. ''Hay,'' sapa Mahalini menjabat tangan teman baru nya.
''Hay juga,'' balasnya seraya menerima uluran tangan Mahalini. ''Salam kenal, aku Naira,'' tambah memperkenalkan dirinya kepada Mahalini.
''Aku Mahalini, panggil saja Lini biar terlihat akrab,'' balas Mahalini dengan lembut, tak lupa juga dengan senyuman yang memabukkan orang yang melihat nya.
...****************...
Dua bulan sudah setelah kepergian Mahalini dari rumah Pak Setiawan, Farel tidak pernah betah di rumah mewah nya, sesekali dia pulang hanya sekedar mengambil baju baju yang akan ia kenakan setiap harinya.
''Farel, kenapa kamu tak pulang ke rumah ini lagi, sejak kepastian anak pungut itu,'' tanya Mama Agnes yang melihat putera nya baru pulang lagi ke rumah nya.
Farel tidak menggubris pertanya'an dari sang Mama, dia melangkah ke rahmatullah tangga untuk menuju ke kamar nya yang ada di lantai dua.
''Farel!! Kalau Mama ngomong dengerin!'' teriak Mama Agnes yang merasa di abaikan oleh putera nya.
''Mama, sudahlah? mungkin dia masih mencari anak pungut yang hilang itu, sampai sekarang anak pungut itu tidak di temukan? mungkin dia sudah mati di terkam buaya buaya darat Ma,'' sahut Almira yang terganggu dengan teriakan sang Mama.
'Lebih baik kamu juga pergi dari rumah ini Farel, biar aku yang jadi penguasaan rumah ini sendirian, anak pungut dan kamu hanya akan merebut hak yang akan menjadi milikku kelak,' Almira tersenyum smirk ketika semua saudara nya sudah pergi dari rumah besar nya.
Almira yang tahun ini akan lulus kuliah akan mencari pekerja'an di perusaha'an ternama yang ada di kota Jakarta.
__ADS_1
''Ma tahun ini aku ingin bekerja di perusaha'an Bagaskara Grub, selain gajinya besar, di sana juga cowok nya ganteng ganteng,'' ujar Almira dengan fokus ke ponsel nya, mencari perusaha'an terbesar beserta pewaris Bagaskara Grub.
Mata Agnes melotot tak menyangka, kalau puteri nya yang kuliahnya saja awut awutan, mempunyai kuliah di perusaha'an ternama seperti Bagaskara Grub.