Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 70.


__ADS_3

Selesai membuat kue, Mahalini memasak untuk makan malam, Nyonya Amora dan Tuan Sagara sedang duduk santai di ruang tamu bersama Devano, mereka bertiga bercerita dan bercanda tawa, sedangkan Mahalini memasak di dapur sendirian, karena sang Mami tidak boleh membantu memasak.


''Tadinya Mami mau bantuin memasak, tapi nggak di bolehin sama Mahalini,'' ucap nya. ''Bukan hanya pintar bikin kue saja Pi, dia juga sangat pandai dalam mengolah makanan,'' cerita nya kepada Tuan Sagara suaminya.


''Alhamdulillah, Devano juga sangat suka dengan masakan Mahalini Tuan, makanan nya sangat enak dan juga bikin nagih di lidah,'' sambung Devano yang membuat Tuan Sagara tambah penasaran dengan masakan puteri nya.


''Ayo Mi, Pi, Mas?'' panggil Mahalini ketika makan malam nya sudah siap di atas meja.


Devano beserta lainnya beranjak dari duduk nya, dan berjalan menghampiri Mahalini yang masih membuat minuman berupa kopi susu untuk ketiga orang yang Mahalini sayangi.


Devano duduk di samping Mahalini, sedangkan Tuan Sagara dan nyonya Amora duduk di depan nya terhalang meja, aneka masakan sudah tertata rapi di atas nya.


Ada cah kangkung, ayam goreng kecap dan juga udang goreng petai, dan tak lupa sambal terasi buatan Mahalini yang membuat Devano semangat dalam makan malam nya.


''Mami dan Papi, ayo makan? maaf ya, makan malam nya hanya seperti ini saja,'' tukas nya merasa tidak enak hati, biasanya Tuan Sagara bersama keluarga nya akan memakan makanan yang super mewah dari masakan Mahalini.


''Tidak apa apa kok nak, Papi cukup senang karena masakan kamu pati tidak akan terkalahkan dengan koki yang ada di rumah Papi,'' sahutnya dengan memuji hasil masakan sederhana puteri nya.


Tuan Sagara dan Nyonya Amora mengambil nasi dan juga lauk pauk yang terhidang di atas meja makan, Nyonya Amora mengunyah dan merasakan masakan puterinya.


'Masya Allah, ini enak banget,' bathin nya dengan terus menyuapi mulut nya dengan masakan sederhana Mahalini.


''Bagaimana Mi? apa Mami dan Papi tidak suka dengan masakan Mahalini, maaf kalau masakan Mahalini tidak seenak buatan koki di rumah Papi dan juga Mami ya,'' ucap nya dengan perasa'an campur aduk, karena baru sekarang kedua orang tuanya memakan masakan Mahalini.


''Tidak kok sayang, ini sangat lezat dan nikmat banget, apalagi sambel nya, huh mantep banget,'' puji Mami Amora. ''Benr kan Pi,'' lanjut nya dengan meminta persetujuan suaminya.


''Yang di katakan Mami kamu itu semuanya benar, dan ini paling enak yang Papi makan, apalagi kemarin sempat Papi mampir di rumah makan, dan memesan cah kangkung seperti ini, tapi tidak seenak ini rasanya, kalau makanan nya seperti ini terus, bisa bisa gemuk banget Papi sayang?'' puji nya dengan terus melahap habis makan malam nya, sedangkan Devano sudah nambah dia kali tanpa terasa oleh semua orang di depan nya.

__ADS_1


''Ayo tambah Tuan, biar kita sama sama gendutan gara-gara makan makanan enak ini,'' tukas nya dengan sedikit tersenyum ke arah mertua nya.


''Iya, kamu benar sekali, kalau terus terusan memakan seperti ini, kita harus siap siap untuk giat olahraga juga, takutnya perutnya kita yang berganti menjadi buncit,'' jawab nya, semua orang pada tertawa dengan ucapan Tuan Sagara, seorang pria paruh baya yang irit bicara, kini bisa berbicara sebanyak itu di depan Devano dan juga Mahalini, Tuan Sagara bisa bersikap hangat dengan orang yang biasa sayangi, namun dengan yang lain nya Tuan Sagara termasuk orang yang pelit dalam mengatakan sesuatu.


Seperti halnya di perusaha'an nya, semua pekerja'an nya ia percayakan kepada sang asisten dan juga kepada orang kepercaya'an nya, sedangkan untuk meeting dan juga rapat, Tuan Sagara akan menghadapi sendiri, dengan wajah dingin dan juga tegas.


Selesai makan malam di apartemen Devano, Tuan Sagara dan Nyonya Amora berpamitan untuk kembali ke rumah nya, Nyonya Amora sendiri tidak mau di ajak pulang ke rumah nya, beliau masih ingin tetap tinggal bersama Mahalini di apartemen suaminya, tapi dengan rasa sabar yang di miliki tuan Sagara dalam membujuk sang istri, akhirnya Nyonya Amora mau kembali ke rumah nya, dengan alasan besok akan bertemu lagi dengan puteri kecilnya.


Dengan langkah berat nya Nyonya Amora menuju mobil yang ada di parkiran apartemen, wajah nya juga terlihat sendu memikirkan puteri nya yang sudah memiliki suami, dan beliau juga sangat bersyukur karena bertemu dengan orang baik seperti keluarga Devano.


''Mami jangan sedih lagi oke, Mami harus lebih sehat dari hati ini, agar Mami bisa bebas bertemu dengan Mahalini tanpa Papi antar ke sana,'' ucapnya dengan mengendarai mobil mewah nya.


''Mami masih sangat kangen dengan puteri kita Pi, Mami juga bahagia sekali bisa membuat kue bersama Mahalini, dia sangat jago dan kue kue bikinan nya juga sangat enak sekali, entah belajar kepada siapa puteri kita dalam membuat kue kue itu,'' sahut Nyonya Amora dengan terus menatap jalanan di depan nya.


Tuan Sagara tidak menjawab pertanya'an sang istri, karena yang ia tahu, Mahalini selama tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tua angkat nya, Mahalini hanya mendapatkan kasih sayang dari sang adik dan juga ayah nya, bagaimana mungkin Mama angkat Mahalini yang mengajari dia untuk membuat kue, pikir Tuan Sagara, sampai akhirnya mereka berdua sudah sampai di depan rumah besar nya.


Tuan Sagara menyelesaikan pekerja'an nya yang sempat tertunda tadi, sampai jam dingin menunjukkan pukul satu dini hari, Tuan Sagara menata kembali semua pekerja'an nya dengan rapi, dan ada juga yang sudah di masukkan ke dalam tas kerja nya, beliau saat ini sudah beranjak dari tempat duduk nya dan berjalan menuju kamar untuk menemani sang istri, di tambah lagi besok pagi tuan Sagara dan Nyonya Amora akan melakukan tes DNA dengan Mahalini, untuk memastikan kalau Mahalini adalah puteri kandung nya.


...****************...


Di sisi lain Papa Setiawan sangat senang mendengar cerita dari Mahalini, karena sudah bertemu dengan orang tua kandung nya, Papa Setiawan juga merasa sedih? karena harus berpisah dengan anak yang ia rawat selama 19 tahun lamanya.


-''Papa tidak sedih, mendengar Mahalini bertemu dengan orang tua kandung Lini,'' tanya Mahalini dalam sambungan telfon nya.


-''Di bilang sedih ya sedih Nak, karena selama ini Lini adalah puteri Ayah, tapi Ayah tidak boleh egois juga, hari ini puteri Ayah sudah bertemu dengan orang tuanya, semoga Papa dan juga Mama kamu bersikap baik ya sama kamu Nak,'' jawab Papa Setiawan dengan menahan tangis nya.


-''Mahalini belum tau pasti, tapi yang Lini dengar dari Mami, beliau sudah mencari Mahalini ke tempat tempat lainnya, ada juga sampai mencari ke Negara seberang juga Pa, Papa tau nggak, Mami sempat down dan juga hilang akal, karena terus-terusan memikirkan Lini yang waktu itu di culik oleh saudara tiri Papi Sagara,'' balas nya dengan sedikit bercerita kepada sang ayah di seberang telfon.

__ADS_1


-''Papa senang dengar nya Nak, semoga kehidupan kamu lebih baik lagi dari sebelum nya,'' ucap nya dengan sesekali mengusap air mata yang sudah membanjiri pipi nya.


-''Ya sudah, kamu jaga diri baik baik ya, semoga Papa bisa bertemu kamu di lain waktu, sebenarnya Papa sudah kangen sama kamu, tapi pekerja'an Papa masih sangat banyak di sini,'' ucapnya dengan sedikit berbohong, karena Papa Setiawan sudah beberapa kali pulang ke rumah nya, tapi tidak pernah mampir ke apartemen Mahalini dan Devano, Papa Setiawan merasa sangat malu dengan keluarga Devano, karena sikap istri nya yang urakan kepada puteri angkat nya.


Papa Setiawan hanya bisa menghubungi sang puteri saja, tanpa mau menemui di rumah nya.


Papa Setiawan yang sudah memutuskan panggilan telfon dengan Mahalini hanya bisa menghela nafas panjang nya, karena dia masih tidak rela untuk kehilangan sang puteri yang sudah ia anggap sebagai puteri kandung nya sendiri.


Entahlah, Papa Setiawan merasa sangat kehilangan sekarang, karena mendengar cerita dari Mahalini yang ternyata dia adalah anak seorang konglomerat, siapa yang tidak mengenal Tuan Sagara, pengusaha sukses dan perusaha'an nya berada di mana-mana, sedangkan Papa Setiawan hanya karyawan yang bekerja di sebuah perusaha'an kecil.


''Semoga kamu bahagia dengan keluarga baru mu Nak,'' gumam nya dengan nada sedih.


Papa Setiawan tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja, karena selalu di bayangi wajah cantik puteri angkat nya yang kini sudah berkeluarga.


Do'a selalu di panjatkan untuk kebahagia'an puteri angkat nya dan juga anak anak nya yang lain. Seperti Farel dan juga Almira.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕

__ADS_1


__ADS_2