
Mahalini hati ini datang ke Yayasan yang beberapa minggu lalu pernah di undang ke rumah catering nya, Mahalini pergi bersama Mama Clara dan juga Mami Amora.
''Kamu sudah siap sayang?'' tanya Mama Clara yang sudah siap dengan tas jinjing di tangan nya.
''Sudah Ma? tapi Mama coba lihat penampilan Lini sekarang, apa Lini sangat gendut sampai sampai baju baju Lini tidak ada yang muat lagi,'' tanya Mahalini di depan Mama mertua nya.
''Tidak kok sayang, kamu sangat seksi dan semakin cantik di saat sedang hamil seperti ini,'' jawab nya dengan menggenggam tangan menantunya.
''Mama, Lini serius?'' rengek nya dengan memanyunkan bibir nya.
''Lagian kamu nakal sama suami kamu, jadi seperti itu dech,'' ledek Devano yang baru turun dari lantai atas.
''Ini semua gara-gara kamu tau nggak Mas,'' sahut Mahalini dengan mencebikkan bibir nya.
''Lha, itukan kamu yang nakal,'' bela nya dengan terus melangkah menuju meja makan, di mana di sana sudah terhidang beberapa macam makanan.
''Ma, tuh lihat Mas Vano,'' adu Mahalini kepada Mama Clara, Mama mertua nya.
''Sudah sudah, lebih baik kita sarapan dulu, Devan, apa? kamu akan ikut kita ke yayasan,'' tanya Mama Clara menatap wajah putra nya.
''Tidak Ma, hari ini Devan ada rapat di kantor, jadi tidak bisa ikut sekarang, mungkin lain waktu aku bisa ke sana berdua dengan Lini, iya kan sayang?'' Ucap nya dengan memandang wajah cantik istri nya, yang semakin hari semakin berisi di saat kehamilan nya.
''Iya Ma,'' sambung Mahalini yang membalas tatapan Devano.
''Setelah itu Mama antarkan istriku ini ke butik? untuk memilih baju yang lebih besar lagi dari sekarang, kan kasian anak Devano ke gencet kalau pakaian nya sempit seperti itu,'' ujar Devano melirik sang istri, sedangkan yang di lirik tak menghiraukan suaminya yang tengah meledek nya.
''Apa tidak sekalian Lini pakai Burqa Mas,'' serunya yang sudah tidak tahan ingin menjawab ucapan suaminya.
''Jangan Burqa sayang, lebih baik hijab saja,'' sahutnya dengan menyunggingkan senyuman nya, dari dulu sebenarnya Mahalini ingin menutup aurat nya, tapi dia merasa tidak enak hati kepada suaminya, di mana suaminya adalah orang yang berpengaruh di dunia perbisnisan.
__ADS_1
''Beneran?'' tanya Lini dengan sangat antusias, jarang jarang suaminya berkata seperti itu kepada nya.
''Jangan dulu dech, nanti malah kamu lepas pakek, lepas pakek kan jadinya seperti apa githu,'' jawab Devano meralat ucapan nya yang tadi, Devano hanya tidak ingin istri nya buka pasang hijab nya, karena menuruti ucapan nya semata.
''Insya Allah, Lini akan istiqomah kok Mas, do'ain saja oke,'' balas Mahalini dengan mengecup pipi suaminya.
Seketika di ruangan itu hening, ketika Mahalini mencium pipi suaminya.
Mahalini menyibukkan diri dengan sarapan paginya, dan sesekali dia membalas chat yang masuk ke dalam ponsel nya, membuat Devano berdecak kesal.
''Mama, Mami sudah ada di jalan menuju ke yayasan, mungkin nanti pulang nya Mami akan bareng sama kita,'' kata Mahalini ketika sudah meletakkan ponsel nya.
''Baiklah, bagaimana makanan nya? apa kita samperin saja ke sana,'' tanya Mama Clara, mengingat ada banyak makanan yang sudah ia siapkan untuk anak anak di sana.
''Makanan nya akan segera di antarkan oleh Zerine Ma, sebelum sampai di sana, bagaimana kalau kita mampir ke mini market untuk membeli camilan juga,'' jawab Mahalini dengan menatap wajah Mama Clara sang mertua.
''Ide bagus itu sayang, apa nggak sekalian kita membeli susu formula untuk bayi bayi di sana?'' balas Mama Clara dengan sangat antusias.
''Kasih uangnya saja lah Ma, lagian Istri Devan tidak boleh terlalu capek juga kan,'' kata Devano mengingat kan Mama nya.
''Iya, kamu tenang saja dech, menantu Mama yang cantik ini? tidak akan kecape'an kok,'' sahut nya dengan terus menghabiskan makanan nya.
''Kalau gitu Devan berangkat ke kantor dulu oke,'' pamit nya dengan mencium punggung tangan Mama Clara dan juga mencium kening Mahalini, Mahalini mencium punggung tangan Devano seperti hari hari biasa nya.
''Uang yang akan di belikan camilan dan juga susu formula, sudah Devan tranfer ya sayang?'' ucap nya sebelum masuk ke dalam mobil nya.
''Lini masih ada kok Mas, kenapa malah di tranfer lagi sich,'' sahut nya cemberut.
''Uang yang kemarin itu adalah milik kamu, untuk jajan dan membeli kebutuhan kamu yang lain nya, kalau ini uang untuk sedekah kita ke Ibu yayasan nantinya,'' cetus nya dengan memeluk pinggang sang istri.
__ADS_1
''Ya sudah, terima kasih Mas, dan hati hati di jalan oke,'' ucap Mahalini mencium tangan suaminya lagi.
''Iya, kamu juga hati hati ya, kalau ada apa apa, hubungi suami kamu ini,'' pesan nya lalu masuk ke dalam mobil yang sudah ada supir yang sudah menunggu sedari tadi.
Pak Idun menunggu dengan sabar sang majikan yang masih terus mengobrol, beliau juga tersenyum ketika melihat majikan kecilnya tak henti hwntinya mengembangkan senyuman nya, ketika sedang bersama istri kecil nya.
''Ke perusaha'an Pak,'' kata Devano kwtika dia sudah berada di dalm mobil nya.
''Baik den,'' jawab nya dengan ramah, Pak Idun lantas melakukan mobil nya menuju ke pusat kota, di mana di sana banyak gedung gedung yang menjulang tinggi, dan salah satunya? adalah perusaha'an Devano dan juga Tuan Sagara Papi Mahalini.
Di saat lampu merah, Devano menatap seorang wanita yang berhijab dan juga memakai cadar, Devano yang penasaran lalu bertanya kepada Pak Idun.
''Pak, wanita yang bercadar seperti itu? apa tidak sesak nafas ya, karena seharian selalu menutup hidung nya dengan penutup seperti itu,'' cetus nya, ketika mobil nya sudah melakukan kembali.
''Tidak seperti itu den, semuanya karena niat mereka yang ingin menutup aurat nya, tapi lebih ke ribet nya sich kalau menurut Bapak, karena setiap makan harus memindahkan cadar nya lebih dulu ke samping, agar bisa menyuapkan makanan nya, tapi ya itu kan gak masing-masing orang juga den,'' balas nya.
''Iya juga sich, aku pikir demikian ketika melihat wanita bercadar, tapi itu semua demi melindungi aurat nya dari pandangan mata jahat,'' tutur nya, tiba-tiba Devano sangat menginginkan istri nya memakai hijab, bukan burqa dan juga cadar.
Devano menarik nafas panjang dan menghembus kan secara perlahan, agar pikiran pikiran yang semacam nya tidak bersemayam di otak nya, apalagi saat ini istri nya sedang hamil anak nya, bukan kah apapun yang menjadi keputusan Mahalini saat ini, adalah hal yang sudah baik baginya, pikir Devano.
.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.