Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 61.


__ADS_3

Riki segera keluar dan menutup pintu ruangan itu kembali, namun sebelum Riki berhasil menutup pintu nya, Devano sudah mencegah kepergian Riki sang asisten dan juga tangan kanan nya.


''Ada apa Riki,'' tanya Devano mencegah kepergian Riki.


''Maaf Tuan, rapat sebentar lagi akan di mulai, dan semua orang sudah menunggu Tuan di ruang rapat,'' tutur nya dengan mengingat kan kembali sang bos. ''Kalau memang Tuan masih mau bersama dengan Nona Lini, biar saya mundurin waktunya saja Tuan,'' lanjut nya dengan menunduk, Riki tak berani menatap keduanya yang masih duduk bersama.


''Aku akan segera ke sana, tak usah kau mundurin waktunya segala, aku juga sudah selesai kok? dan lain kali kamu harus ketuk pintu dulu kalau mau masuk,'' Devano mengingykan sang asisten, agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi, dan membuat istri nya malu seperti sekarang ini.


''Aku mau rapat dulu, kamu istirahat lah di dalam selama aku sedang rapat,'' pamit nya dengan menyuruh sang istri uy istirahat di ruangan nya.


''Tidak Mas terima kasih sebelum nya, tapi Lini ingin kembali ke tempat kerja Lini, takutnya Kak Clarencia mencari Lini,'' jawab Lini dengan menolak tawaran dari suaminya.


''Ya sudah kalau itu mau kamu, aku juga tidak bisa berbuat apa apa, kalau misalkan ada apa apa? cepat hubungi aku,'' pesan Devano yang di angguki Mahalini.


Devano melangkah menuju ruangan rapat nya, sedangkan Mahalini kembali ke pantry di mana di sana Clarencia sedang melipat kedua tangan nya di depan dada, dan siap untuk mendakwa Mahalini yang sedari tadi menghilang, ''Kemana saja kamu sejak tadi, cuma nganter kopi saja lama banget di ruangan Bos,'' cecar nya dengan terus menatap ke arah Mahalini.


''Maaf kak, tadi Lini juga di suruh beli cemilan di luar dulu, karena Lini lupa tidak menaruh camilan di atas nampan tadi, dan di sini juga sudah habis cemilan nya,'' bohong nya, karena Mahalini hanya ingin mencari aman, jadi dia harus berbohong demi keselamatan nya juga.


''Baiklah, lagian kamu ceroboh banget sich, sudah tau camilan nya habis? kenapa kamu tidak beli tadi,'' ujar Clarencia kembali memarahi Mahalini, Karena keteledoran nya yang sampai lupa dengan camilan sang bos.


''Sekarang aku akan menagih janji kamu tadi pagi itu,'' Clarencia mengingat kan janji Mahalini kepadanya, di mana Clarencia minta di traktir di kantin perusaha'an, tempat ia bekerja.


''Ayo, Lini traktir? tapi- jangan pilih yang mahal ya, bokek nich,'' Mahalini mengingat kan rekan kerja nya kalau dirinya tidak lah banyak uang yang harus mentraktir teman nya dengan makanan mahal, namun Clarencia juga sudah paham dengan perekonomian rekan kerja nya yang bernama Mahalini itu.


''Kamu tenang saja, aku pastikan akan memilih menu yang murah kok, jadi kamu tidak usah khawatir lagi oke,'' jawaban Clarencia membuat Mahalini jadi lega, memang dia adalah istri dari bos tempat ia bekerja, tapi Mahalini tidak akan meminta kepada suaminya hanya untuk mentraktir rekan kerjanya.


''Memangnya gaji kamu di potong ya,'' tanya Clarencia ketika melangkah menuju kantin yang berada di lantai 3.


''Ya, setengah nya lah kak, memang nya berapa lagi? kan bulan ini Lini hanya belerja selama dua minggu saja, jadi setengah dari gaji kak Clarencia lah,'' jawab jujur Mahay, itu atas perminta'an dia, agar semua orang yang bekerja di sana tidak mencurigai kalau dirinya adalah istri bos besar nya.


Di pertengahan jalan ada seorang pria yang mengejar Mahalini, dan dia juga memanggilnya dengan sebutan seperti teman yang lain nya.


''Lini tunggu,'' panggil nya dengan sedikit keras.


''Ada apa kak?'' tanya Lini dengan raut wajah yang sulit di artikan.


'Jangan sampai Mas Vano mengetahui kalau aku sedang di sapa laki-laki lain selain dirinya,' gumam nya di dalam hati.

__ADS_1


''Kamu mau ke kantin ya,'' tanya nya lagi dengan terus ingin mengajak Mahalini untuk mengobrol.


''Maaf kak, tiba-tiba Lini sakit perut, Lini ke toilet sebentar ya, kak Clarencia berangkat saja duluan,'' ujar nya berbou hanya untuk menghindar dari karyawan divisi 8 itu.


''Kalau Lini tidak balik talangin dulu ya, nanti Lini ganti? janji,'' Bisik Mahalini seraya berlari ke toilet yang tak jauh dari pandangan mereka berdua.


''Lebih baik kita duluan ke kantin nya, biar waktu istirahat nya tidak habis, kalau harus menunggu Mahalini, waktu istirahat nya akan habis karena Lini lama banget di dalam toilet nya,'' ajak Clarencia kepada pria yang bernama Arjun itu.


Arjun hanya mengikuti langkah kaki Clarencia dari belakang nya tanpa mau mengajak untuk mengobrol bareng.


Sesampainya di kantin, Clarencia memesan Mie ayam makanan favorit nya, dengan segelas es teh. Dengan sangat lahap Clarencia menyeruput Mie ayam nya sampai berbunyi.


Sluruuuppp


''Ck, jorok banget nich cewek,'' gumam Arjun dengan suara pelan nya, sehingga Clarencia yang berada di depan tidak mendengar gumaman Arjun.


''Kenapa bengong Pak, tidak suka dengan makanan nya,'' tanya Clarencia ketika melihat makanan Arjun masih utuh tanpa ia sentuh sama sekali.


''Entah kenapa, aku sudah tidak nafsu makan lagi,'' jawab nya dengan beranjak dari duduk nya.


''Kebetulan aku sudah membayarnya tadi, juga Mie ayam yang kamu makan juga sudah aku bayar,'' balasnya dengan berlalu tanpa menoleh ke belakang lagi.


Arjun sebenarnya ingin makan siang bersama dengan Mahalini bukan dengan si gentong Clarencia, ''Apes banget aku hati ini, niatnya mau makan dengan wanita cantik, ech malah makan dengan si gentong itu,'' gerutu Arjun ketika mulai kembali ke ruangan nya.


Sedangkan Mahalini sudah memasak Mie instan di pantry, Mahalini sudah tau dari sebelumnya kalau Arjun menaruh hati kepada nya, tapi Mahalini yang sudah menjadi istri orang selalu menjauhi setiap laki-laki yang akan mau mendekati nya dengan terus saja berbohong ketika bertemu dengan mereka semua.


''Kenapa kamu makan siang hanya dengan Mie rebus saja,'' suara serak terdengar tepat di belakang nya.


Mulut Mahalini yang tengah menyeruput Mie instan nya segera membalikkan tubuh nya, dan benar saja? di belakang Mahalini sudah ada sang suami sedang menatap tajam ke arah nya.


''Hehehe,'' Mahalini hanya membalas dengan tawa'an saja, lalu berkata. ''Lini hari ini sedang tidak bawa bekal, karena bangun nya kesiangan,'' jawab nya dengan memperlihatkan deretan gigi putih nya kepada suaminya.


Sedangkan Devano sudah mengepal tangan nya dengan erat, karena istri nya memakan makanan yang tidak bergizi.


''Sekarang ikut ke ruangan ku,''


''Ta-tapi...''

__ADS_1


''Aku tidak suka dengan penolakan, jadi ikuti aku ke ruangan ku sekarang juga,'' titah nya, Devano segera menghubungi kantin perusaha'an nya dan memesan beberapa makanan yang sehat untuk sang istri.


''Apa kamu lupa, keinginan Mama sama kamu,'' seru Devano ketika sudah sampai di dalam ruangan nya.


Mahalini menggeleng pelan karena tidak tau apa yang di maksud dengan suaminya barusan.


''Kamu harus banyak banyak makan makanan yang bergizi dan juga sehat, agar di dalam perut kamu segera hadir Devano junior,'' ungkapnya dengan nada kesal nya.


''Maaf, maaf Mas,'' Mahalini hanya bisa menunduk dan mengucapkan kata maaf berulang kali.


Devano yang melihat wajah imut istri nya semakin ingin mencubiy dan memeluk nya dengan erat tanpa mau melepaskan sama sekali, ''Sini,'' panggil Devano dengan menepuk sofa di samping nya.


Mahalini hanya bisa menurut apa yang di ucapkan suaminya, Devano langu memeluk tubuh Mahalini dari samping, dan membawa kepala Mahalini ke dada bidang nya.


''Mulai sekarang, jangan sekali kali memakan makanan yang tidak bergizi, kamu hatus mengurangi makanan yang serba instan itu,'' pesan Devano adalah mutlak dan harus bin wajib di patuhi, kalau tidak maka Devano bisa saja meletuskan gunung merapi. (canda✌)


10 menit menunggu kini makanan yang di pesan oleh Devano sudah datang dan siap di santap, Mahalini hanya terdengar melihat makanan yang sangat banyak.


''Semua ini, siapa yang mau habiskan makanan sebanyak ini Mas,'' tanya Mahalini menengadahkan wajah nya ke atas, agar dia bisa menatap wajah tampan suaminya.


''Ya kamu lah sayang, siapa lagi coba,'' jawab Devano dengan santai, sedangkan. Mahalini sudah memelotot kan matanya melihat makanan di depan nya.


''Sebanyak ini??'' tanya nya, masih dengan keterkejutan nya.


Mahalini membayangkan saja sudah kenyang, apalagi kalau di makan sendiri? betapa besar perut nya nanti, pikir Mahalini.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih πŸ™πŸ’•πŸ™πŸ’•πŸ™πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2