
Keesokan harinya, Mahalini pergi ke rumah catering nya, dia juga sudah kangen dengan rujak buah bikinan Pak Djarot, dan masakan dari koki di rumah catering nya juga.
''Hallo, assalamu'alaikum,'' seru Mahalini dari luar rumah, karena semua para pegawai nya sibuk dengan pekerja'an masing-masing.
''Waalaikum salam??'' jawab pegawai yang sedikit mendengar ucapan salam dari bos nya.
Sebelum Mahalini masuk ke dalam rumah nya, dia sempat melihat ketiga anak kecil yang tengah duduk di depan pintu dapur, sembari menopang wajahnya nya ke lututnya.
''Sayang, kenapa kalian ada di sini, dan? sedang apa kalian di sini?'' tanya Mahalini lembut.
''Maaf Nyonya, kami di sini hanya untuk berteduh saja, seteu ini kami akan melanjutkan perjalanan kita, maaf kalau sudah menggangu Nyonya,'' jawab anak laki-laki yang lebih besar.
''Memang kalian mau pada kemana, dan kalian semua adalah saudara?'' tanya Mahalini yang kini tengah di landa penasaran.
Ketiganya mengangguk lemah, di tambah lagi mereka bertiga belum makan sedari tadi malam, mengakibatkan mereka bertiga tidak memiliki tenaga sama sekali.
''Kalau gitu, kalian bertiga ikut kakak ke dalam yuck, kakak punya banyak makanan di dalam,'' ajak nya seraya mengulurkan tangan kanan nya, ke arah anak kecil yang tengah menatap nya.
''Kalian jangan takut oke, kakak tidak jahat kok, setelah kalian makan? kalian bisa lanjutin perjalanan kalian semua nya.'' ucap nya meyakinkan ketiga nya, karena mereka bertiga nampak sedikit takut dengan Mahalini.
''Zarine, tolong bawakan makanan keluar dong,'' ointanya ketika melihat Zarine melangkah keluar.
''Untuk berapa orang shayy,'' tanya Zarine dengan mencondongkan tubuhnya ke samping pintu.
__ADS_1
''Tiga, buatkan mereka tiga makanan, dan setelah itu bungkus kan juga untuk mereka bertiga,'' ujar Mahalini yang tengah menyuruh Zarine sahabat nya, sekaligus orang kepercaya'an nya juga.
''Siap Bu Bos, adik adik mau makan dulu kuat apa makan di dalam,'' tanya Zarine ramah.
''Kami di kuar saja kak, maaf kalau kami merepotkan kalian berdua,'' sahut anak laki-laki yang lebih besar.
''Tidak apa apa, kakak ikhlas kok membantu kalian bertiga, kalau gitu kakak masuk dulu ya, pegel kalau harus jongkok seperti ini terus,'' keluh nya dengan menegakkan tubuh nya.
''Sekali lagi, terima kasih ya kak,'' ucap nya dengan mengulas senyum di kedua bibir nya.
''Sama sama sayang?'' Setelah mengobrol dengan ketiga anak anak di depan, Mahalini berjalan menuju ruangan nya, yang sudah ia tinggalkan beberapa hari ini.
''Akhirnya, sampai juga di sini,'' gumam nya dengan mendaratkan bokongnya di kursi kebesaran nya.
''Haruskah aku memeriksanya sekarang, tapi aku mau istirahat sejenak, setelah tadi pagi lari dari rumah, tapi kenyata'an nya? malah di hadapkan dengan tumpukan kertas kertas ini,'' Mahalini terus ngedumel karena pekerja'an nya sudah menunggu di depan nya.
Tumpukan kertas kertas di meja Mahalini, adalah struk belanjanya ketika di tinggal pergi mengunjungi Papa Setiawan, entah apa saja yang mereka belanjakan sampai sampai struk nya bisa menggunung seperti ini.
Setelah di rasa cukup istirahat nya, Mahalini memanggil Zarine untuk datang ken ruangan nya, dia ingin bertanya langsung kepada yang bersangkutan, karena Mahalini orang nya pemalas untuk mengecek ulang struk struk di atas meja nya.
''Iya, kenapa bos?'' tanya Zarine ketika sudah berada di ruangan Mahalini.
''Zarine, coba jelaskan dengan detail, apa yang terjadi selama aku tidak di sini, terus kenapa struk struk ini semua ada dibatas meja ku, bikin mood ku anjlok tau nggak,'' jawab nya dengan menunjuk struk struk yang masih tertata rapi.
__ADS_1
''Lebih baik anda periksa dulu semua struk dan berkas yang nada di atas meja Bos, jadi biar lebih jelas saja. Kalau misalkan saya yang menjelaskan semuanya, membutuhkan waktu yang cukup lama? dan saya juga libur dong kerjanya, karena cerita tentang struk struk itu semua Bos,'' cetus nya dengan sangat lugas, Mahalini berdecak kesal dengan ucapan Zarine yang menyuruh untuk memeriksa sendiri.
''Ya sudah lah, percuma aku memanggil kamu ke ruangan ku sekarang, lebih baik kamu kembali kerja dan lakukan semuanya dengan baik dan benar,'' ujar Mahalini, membalas ucapan yang di lontarkan oleh Zarine, orang yang sudah di berikan kepercaya'an penuh oleh nya.
''Zarine, satu lagi yang perlu kamu ingat? mungkin nanti aku juga akan mengatakan kepada semua orang yang bekerja di rumah catering ini, kalau misalkan ada anak kecil, sedang bermain? atau anak dari pegawai kita, kamu kasih mereka makanan dan juga minuman, dan ajaklah mereka masuk ke dalam, jangan biarkan kejadian seperti tadi terulang kembali, maunitu anak jalanan? anak karyawan atau anak yang lain nya, kamu harus beri dia makanan, ya-itung itung sedekah buat rumah catering ini lah, agar selalu di beri keberkahan dalam mengais rezeki yang halal dan juga barokah,'' ucap Mahalini panjang lebar.
Zarine mengangguk dan tersenyum manis di bibir nya, dia tidak menyangka kalau bos nya akan semarah ini, ketika ada anak kecil yang bermain di depan rumah catering nya, ''Siap laksanakan, perintah bos akan selalu saya ingat sampai kapanpun juga,'' balas nya dengan kekehan kecil, sehingga membuat Mahalini yang tengah serius juga mengembangkan senyuman nya.
''Masih ada lagi Bos, kalau sudah tidak ada perintah lagi, saya pamit undur diri kebelakang, karena pesanan hati ini sangat banyak, dan kalau bisa Bos dengan segera merekrut karyawan baru, agar kami lebih santai dalam kerja nya,'' tutur nya dengan sedikit membungkuk kan tubuh nya.
''Baiklah, nanti aku atur semuanya, kalian mau yang seperti apa, mau ganteng, sudah, perawan, janda, atau...?'' Mahalini menggantungkan ucapan nya, karena Zarine sudah menaruh telunjuknya di bibir Mahalini, ya memang sedikit lancang sich, tapi kalau tidak di gituin? Mahalini akan terus berkata yang bukan bukan lagi.
Sebenarnya mau karyawan yang seperti apa saja terserah, yang penting dia rajin dan juga tidak perhitungan dengan sesama karyawan lain nya, agar semua pekerja'an yang di kurang berat menjadi pekerja'an yang ringan dan juga menyenangkan, Mahalini mwncebikkan bibir nya dengan tingkah Zarine yang mulai berani kepada nya, kenapa harus takut, pikir Zarine, selamat dirinya merasa benar dan tidak merasa bersalah, ya hajar lah, pikir nya.
.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.