
Setelah penantian lamanya, akhirnya Hanafi dan Almira bisa menikah juga, meski tanpa kehadiran Mama Agnes.
''Kenapa sayang?'' tanya Bunda Hanafi dengan sangat lembut kepada Almira.
''Tidak apa apa kok Bunda, Mira hanya ingat dengan Mama Mira saja,'' jawab nya tidak kalah lembut nya.
''Sudah jangan terlalu di pikirkan, di sini masih ada Papa kamu yang selalu merestui kamu kok,''
Almira mengangguk pelan, seraya memeluk sangat Bunda mertua nya, dia sangat bahagia dengan pernikahan nya dengan Hanafi, laki laki yang sudah mengubah nya menjadi wanita yang lebih baik dari sebelum nya.
''Terima kasih Bunda, tanpa Bunda dan Mas Hanafi? Mira yidak akan menjadi wanita sekuat saat ini, dan juga Mas Hanafi yang sudah merubah ku menjadi lebih baik dari sebelum nya.
''Sudah, lebih baik kita keluar sekarang saja, sebelum ada orang yang menjemput kita kembali ke sini,'' ajak Bunda Hanafi yang langsung di angguki oleh Almira, selaku pengantin hari ini.
''Sayang? kenapa belum keluar juga, apa kamu menunggu kita tarik keluar dari kamar sekarang,'' ujar Mahalini yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar yang di tempati Almira.
Pagi ini adalah pernikahan Almira dengan Hanafi, yang di langsungkan di kediaman Hanafi, tak banyak tamu yang hadir ke dalam pernikahan nya karena itu semua perminta'an Almira juga.
''Kenapa kamu malah datang ke sini, mana si kembar?'' tanya Almira yang di landa penasaran, karena Mahalini datang untuk menjemput dirinya ke kamar nya langsung.
''Kembar ada di luar, ayo kita keluar sekarang saja, suami kamu sudah resah karena sudah menunggu kamu sejak tadi,'' tukas nya dengan menarik sedikit pergelangan Almira.
''Apakah ijab kabul nya sudah selesai?'' tanya Almira yang sedikit malu kepada Mahalini sangat adek.
''Memang nya kamu tidak mendengar itu tadi, acara ijab kabul nya sudah selelah dari tadi dan kamu sekarang sedang di tunggu di luar, ayo kita tidak punya banyak waktu lagi, sekarang kita harus menemui suamimu itu, '' ajak nya lagi.
__ADS_1
Almira hanya mengangguk pasrah dan berjalan mengikuti sangat adek dan juga sang Bunda yang mengikuti di belakang nya.
''Memang nya apa sih yang kamu pikirkan, sampai kamu tidak tau kalau acara ijab kabul nya sudah selelah dari tadi. '' tanya nya dengan terus menggenggam tangan Almira.
''Aku hanya mengobrol ringan dengan Bunda di kamar, dan kamu datang mengagetkan aku dan juga Bunda tadi,'' jelas nya dengan terus mencoba mengimbangi langkah Mahalini sang adek.
Dengan memakai kebaya warna putih, Almira berjalan dengan begitu anggun ke arah Hanafi, dengan di temani oleh Mahalini adek angkat nya, Almira sangat terharu ketika melihat semua keluarga nya sudah berkumpul di dalam ruangan, tapi kesedihan nampak begitu terlihat di wajah Almira, meski sang empuk sudah memaksakan senyuman nya, Almira tidak memungkiri kalau dirinya begitu kangen sang Mama, yang sudah mengandung dan juga membesarkan nya, tapi dia juga tidak tau keberada'an Mama Agnes.
Almira kini sudah berada di hadapan Hanafi dan juga Bapak penghulu yang sudah menunggu nya sejak tadi.
''Pengantin wanita kayaknya betah banget di dalam kamar, sampai dia orang yang menjemput ke kamar nya,'' kata Pak penghulu yang langsung di sambut dengan kekehan kecil dari para tamu yang ikut hadir dalam acara ijab kabul mereka berdua.
''Maaf, karena sudah membuat Anda menunggu lama,'' jawab Almira menundukkan kepala nya, dia tidak berani dengan menatap wajah suami dan juga penghulu di depan nya.
Pak penghulu menyodorkan surat yang harus di tanda tangani oleh Almira dan juga Hanafi, untuk segera mendapatkan buku nikah nya, karena sudah sah menjadi suami istri.
Hanafi dan Almira bergantian menandatangani surat surat dan dia juga mendapatkan buku nikah di tangan nya, Almira mencium punggung tangan Hanafi dengan wajah sedih, karena dia sangat terharu.
Hanafi membacakan ayat-ayat di puncak kepala Almira, dan setelah nya Hanafi mencium puncak kepala Almira.
''Sekarang kalian sudah sahabat menjadi suami istri, dan pesan Papa? selalu menjadi seorang istri yang menurut kepada suami nya, dan jangan pernah membantah semua perkata'an yang di ucapkan atau di perintah kan oleh suaminya, selama perintah dan ucapan nya benar, dan tidak melanggar syariat islam dan juga hukum, hanya ini yang Papa bisa kasih kepada kalian berdua,'' pesan Papa Setiawan dengan menitikkan air matanya.
''Jaga putri Ayah dengan baik, kalau dia salah tegur dia, dan kalau kamu sudah bosan jangan main tangan? kembalikan pada Papa dengan baik,'' tambah nya lagi kepada Hanafi.
Almira tercengang dengan perkata'an sangat Ayah, dia tidak menyanhka kalau Ayah nya bisa berkata demikian.
__ADS_1
''Papa jangan khawatir, Hanafi akan menjaga Almira dengan sangat baik, dan akan mendidik dia menjadi istri yang sholehah juga, Hanafi tidak akan pernah mau mengembalikan Almira kepada Papa, karena cinta Hanafi adalah kepada Almira seorang, tidak ada wanita lain di dalam hati Hanafi Pa, jadi do'akan saja yang terbaik untuk hubungan kami berdua ke depan nya,'' pintar Hanafi dengan mencium punggung tangan Papa Setiawan.
''Terima kasih, putri Papa tidak salah memilih seorang suami, Papa akhirnya bisa bernafas lega, karena sudah menyerahkan putri Papa kepada orang yang tepat,'' sahut nya dengan menepuk punggung Hanafi sang menantu.
''Berbahagialah Nak, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah,''
Air mata Almira dan juga Mahalini sudah tidak bisa di bendung lagi, kedua nya menangis bahagia dengan saling berpelukan dengan satu sama lain nya.
''Aku titip kakak ku kepada Kak Hanafi, aku percaya kak Hanafi bisa menjaga dan menyayangi kakak ku yang sangat manja dan juga cerewet ini, dan aku juga berharap kak Hanafi tidak lelah dengan Kak Mira, dan semoga segera di beri keturunan yang lucu dan juga gemoy,'' ungkapan dengan mencoba tersenyum di sela sela tangisan nya.
''Terima kasih kamu sudah mau menjadi adekku, meski aku sudah berbuat jahat sama kamu, tapi kamu selalu membalas semua kejahatan ku dengan kebaikan, terima kasih,'' balas Almira dengan memeluk Mahalini dengan sangat erat, semua keluarga yang datang ke pernikahan Almira dan Hanafi hanya bisa menjadi penonton, dan juga tenggelam dengan kesedihan yang mereka lihat dari awal sampai akhir.
''Sudah sudah, ini hari bahagia? kenapa harus sedih gitu sich, pada lebay dech!'' seru Devano yang sudah jengah melihat sinetron di depan nya.
Mahalini menepuk lengan Devano, karena dia merasa tersinggung dengan ucapan suaminya, ''Mas Vani apa'an sich ngomong seperti itu, kita itu lagi nangis bahagia tau nggak,'' gumam Mahalini pelan.
Dengan aksi Devano, semua orang hanya bisa tertawa, karena melihat Devano yang kena amuk oleh sang istri, Devano sengaja berbuat hal semacam nya, karena dia hanya ingin merubah suasana sedih menjadi suasana yang begitu menggembirakan dan menyenangkan, Devano kagum dengan aksinya? karena sudah membuat semua keluarga besar yang hadir menjadi riuh dengan tawa mereka dan di susul yepuk tangan dari sebagian para tamu, karena mereka tidak akan bisa melihat kekonyolan itu lagi di masa yang akan datang.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.