
Keesokan harinya, Mama Devano sudah mempersiapkan segalanya, sesuai dengan perminta'an putera nya.
Malam itu juga sang Mama dan juga kakek Devano sudah menghubungi para keluarga dan juga Catering yang akan di pakai besok, tak lupa juga Mama Devano menghubungi butik langganan nya untuk memesan kebaya yang sederhana, namun elegan.
Acara ijab kabul akan di selenggarakan nanti sore di kediaman kakek Bagaskara, tak banyak tamu yang mereka undang di acara peresmian ini, hanya keluarga inti saja yang datang ke acara tersebut.
Mahalini juga tak lupa untuk mengundang Farel dan juga Papa nya yang berada di luar kota, sedangkan untuk Mama Agnes dan Almira, Mahalini sengaja tidak mengundang nya, karena dia tau mereka berdua hanya akan membuat kekacauan saja di acara pernikahan nya nanti, ya? walaupun hanya nikah kontrak saja, tapi itu sangat sakral.
Siang ini Mahalini sudah di jemput oleh keluarga Devano dan membawa ke kediaman kakek Bagaskara.
''Akhirnya kamu datang juga sayang?'' Mama Devano menyambut kedatangan Mahalini dengan kebahagia'an yang terpancar di wajah nya.
''Siang Nyonya,'' sapa Bi Ijah yang juga di bawa ke kediaman kakek Bagaskara.
''Bi Ijah, akhirnya aku melihat Bibi lagi,'' seru Mama Devano memeluk mantan sang asisten rumah nya.
''Iya Nyonya, karena majikan saya saat ini adalah Nona Mahalini,'' sahutnya dengan ramah dan membungkukkan badan nya.
''Ach sudah lah, ayo kita ke kamar sayang?'' ajak Mama Devano kepada Mahalini, di mana di dalam kamar sudah ada beberapa MUA yang sedang menunggu kedatangan Mahalini sejak tadi.
''Ini menantuku, dan aku harap kamu benar make up in dia,'' kata Mama Devano pelan namun terdengar memerintah.
''Baik Nyonya, anda seperti tidak tau saja dengan keahlian kita kita di sini,'' jawab salah satu MUA yang akan merias wajah Mahalini.
''Mama tinggal ya sayang?'' pamit sang Mama mertua dengan nada lemah lembut ketika sedang berbicara dengan menantunya.
'Ach, giliran sama eike galaknya minta ampun,' gerutu sang MUA yang memang sudah langganan dengan Mama Devano.
''Jangan mengumpat ku Hans, atau kamu mau tidak aku bayar sepeserpun karena sudah mengumpat ku,'' seru Mama Devano yang tau sang MUA sedang mengumpat di dalam hatinya.
__ADS_1
''Tidak Nyonya, mana mungkin saya berani mengumpat anda?'' belanja dengan sedikit berbohong.
''Ya sudah, saya keluar sebentar,'' Mama Devano pun berlalu dengan langkah yang lebar, mengingat ada sesuatu yang masih harus ia urus di luar.
Sepeninggal Mama Devano, Hansa yang biasa di panggil Hans, oleh Mama Devano sedang bercerita tentang sang mertua kepada Mahalini, otomatis Mahalini terkekeh mendengar nya.
''Mama memang sangat ramah kok orang nya, saya saja baru pertama kali bertemu memang sudah ramah dan juga baik, tapi kalian kenapa bilang kalau Mama culas,'' sahut Mahalini yang memang mengetahui keramahan sang mertua.
''Iya Non, itu hanya berlaku dengan orang yang ia sayangi, seperti kamu karena akan menjadi menantunya. Sungguh beruntung Nona Mahalini memiliki Tuan Devano yang tampan, gagah dan juga kaya,'' sambung Anna teman Hansa.
''Alhamdulillah, sangat bersyukur. Karena sudah mengirim laki-laki yang seperti itu, do'akan saja pernikahan kami langgeng sampai ajal memisahkan kita,'' balas Mahalini dengan mengulas senyum di bibir tipis nya, sedangkan di dalam hatinya kini Mahalini sedang menangisi nasib nya, karena setelah 3 bulan pernikahan dia akan menjadi janda, namun janda nya harus perawan, pikir Mahalini.
Di sebuah surat perjanjian kontrak nya ada poin yang tertulis sangat jelas di sana, bahwa mereka berdua bakalan tidur di kamar masing-masing, dan Devano juga menuliskan tidak akan pernah mengusik keseharian Mahalini selama pernikahan nya.
Hansa dan kawan kawan sudah merias wajah Mahalini, ada juga yang menata rambut dan ada yang memberikan henna di tangan putih Mahalini.
Senyum Mahalini terus mengembang ketika sedang di goda oleh ketiga MUA yang sengaja di panggil ke rumah kakek Bagaskara.
Papa Setiawan dan juga Farel sudah tiba di kediaman kakek Bagaskara, di mana di sana akan di adakan acara ijab kabul Devano dan Mahalini.
''Nggak nyangka ya Pa, kak Lini bisa seberuntung ini,'' gumam Farel ketika sudah ada di dalam kediaman kakek Bagaskara.
''Iya, Papa juga belum yakin dan masih seperti mimpi saja, ketika kakak kamu mengatakan akan menikah dengan Devano Bagaskara,'' sahut Papa Setiawan, sembari celungukan mencari keberada'an sang puteri.
''Tuan Setiawan,'' sapa Papa Devano dengan ramah ketika melihat besannya datang lebih awal ketimbang tamu tamu yang lainnya.
''Apa kabar?'' tambah Papa Devano lagi.
''Alhamdulillah baik Tuan, seperti yang Anda lihat saat ini,'' jawab nya ramah.
__ADS_1
''Mahalini masih ada di dalam kamar, kalau kamu ingin bertemu dengan dia, silahkan?'' kata Papa Devano yang mengerti dengan tatapan Tuan Setiawan Papa angkat Mahalini.
''Terima kasih Tuan, saya akan menemui puteri saya terlebih dulu,'' balas Papa Setiawan.
''Anton, antar Tuan Setiawan ke kamar Nona mudamu,'' perintah Papa Devano kepada kepala pengawal yang berada tak jauh darinya.
''Baik Tuan,'' sahutnya dengan membungkukkan badan nya, ketika sang Tuan berjalan melewati nya.
''Mari Tuan saya antar ke kamar Nona muda,'' ajak Anton yang mendapatkan perintah dari sang Tuan.
Papa Setiawan bersama Farel mengikuti Anton dari belakang, sampai tiba di depan kamar yang berada di lantai bawah, di mana Mahalini berada.
Tok tok tok
''Maaf Nona, Ayah anda ingin bertemu,'' seru Anton dari luar kamar.
''Suruh masuk saja,'' jawab Mahalini dengan pelan, namun masih bisa di dengar ileh Anton.
''Silahkan masuk Tuan,'' Ucap Anton dengan membukakan pintu untuk calon besan Tuan nya.
Papa Setiawan melangkah masuk di ikuti Farel dari belakang nya, dan di sanalah kesedihan di mulai.
''Papa,'' Ucap Mahalini lirih. Mahalini menahan tangisnya agar tidak pecah begitu saja, yang akan membuat riasan wajahnya berantakan karena tangisan nya.
''Jangan menangis nak? kamu berhak bahagia dan mendapatkan suami yang akan menyayangi kamu apa adanya,'' Ucap Papa Setiawan memeluk sang puteri, sesekali Papa Setiawan mengelus punggung Mahalini dengan lembut.
''Kakak sangat cantik dengan kebaya seperti ini, maafkan Farel karena masih belum bisa bahagiain kakak,''
''Tidak apa apa kok dek, kakak sudah sangat senang, kamu bisa hadir di acara ini,'' sahut Mahalini yang kini menghambur ke pelukan sang adek angkat.
__ADS_1
''Terima kasih Pa, karena sudah mau datang di acara nikahan Mahalini dengan Mas Devano,'' tuturnya dengan menggenggam kedua tangan laki laki yang ada di sampingnya.
Ya, kini Mahalini tengah di apit oleh kedua laki-laki beda usia yang begitu menyayangi Mahalini.