Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 149.


__ADS_3

Setelah puas Mahalini dan juga Devano bermain dengan adek adek yang berada di yayasan, mereka pun pulang karena hari sudah semakin larut.


''Kalau githu kakak pamit dulu ya, insya Allah kapan kapan kakak akan datang lagi ke sini, oke bho,'' ujar nya dengan penuh semangat.


''Oke kakak, kita tunggu kedatangan kakak lagi, bye bye,'' jawab nya serempak.


Mahalini mencium tangan Bunda Kinan dengan takdzim. ''Lini pamit dulu ya Bunda, insya Allah nanti Lini akan datang lagi kemari, kalau ada apa apa? Jangan sungkan sungkan untuk memberi kabar pada Mahalini,'' pesan nya, Mahalini sangat tau betul kalau Ibu pengasuh di yayasan sangat sungkan dan malu, kepada keluarga Mahalini, karena selama ini mereka sudah banyak membantu di yayasan nya, dan bantuan nya sangat lah banyak. Di mulai dari biaya sekolah anak anak yang berada di yayasan tersebut, dan anak anak yang sudah mulai masuk ke jenjang perguruan tinggi.


Tapi pesan Bunda Kinan kepada semua anak anak nya, agar selalu ingat dengan kebaikan Tuan Sagara dan juga keluarga Bhaskara.


''Pasti, nanti Bunda akan hubungi kamu kok nak, terima kasih banyak selama ini sudah membantu yayasan ini,'' tutur Bunda Kinan.


Mahalini mengulas senyum di bibir nya, ''Jangan berkata seperti itu Bunda, Lini juga sangat bersyukur sekali karena sudah kenal dengan Bunda, dan Lini juga selalu merasa nyaman ketika berada di sini, banyak anak anak yang menemaniku di sini,'' seloroh nya.


Malam semakin larut dengan cahaya rembulan dan juga bintang yang menghiasi langit biru.


''Sudah malam, lebih baik kalian cepat balik, takut nya malah kemaleman lagi,'' kata Bunda Kinan, bukan niat untuk mengusir Mahalini dan juga Devano, tapi mengingat keada'an yang sudah semakin larut malam.


''Kalau gitu kami pamit dulu ya Bunda, lain waktu kamu akan menyempat kan untuk datang kemari,'' ucap Devano dengan mengulas senyum.


Bunda Kinanti pun mengangguk dan melambaikan tangan nya, ketika mobil Debay sudah melaju meninggalkan area Yayasan milik nya.


Hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai ke rumah besar nya, di mana di sana juga ada kedua orang tuanya yang juga tinggal di sana.


Ketika turun dari mobil, nampak lah beberapa asisten rumah nya tengah menunggu kedatangan nya.


Mahalini mengerutkan kening nya ketika melihat beberapa asisten rumah nya belum pada tidur.


''Kok Bibi belum pada tidur sich, ini kan sudah sangat malam, dan seharus nya kalian sudah beristirahat juga kan?'' kata Mahalini kepada beberapa asisten rumah nya.

__ADS_1


''Kami masih menunggu kedatangan Nona dan juga Tuan muda, nanti setelah ini kami akan langsung beristirahat,'' sahut nya dengan mengulas senyum di bibir tuanya.


''Ya sudah Bi, sekarang kalian sudah boleh istirahat, kalian juga besok harus bangun pagi untuk mempersiapkan sarapan dan juga masih banyak lagi lain nya,'' perintah Devano yang langsung di angguki oleh sang asisten.


''Kalau gitu kami permisi Tuan?'' jawab nya dengan membungkuk hormat.


Setelah kepeegian para asisten nya Debano mengajak sang istri untuk masuk ke dalam kamar nya, yang kini sudah berada di lantai dasar. Mendingan kehamilan Mahalini yang semakin besar dan sebentar lagi akan melahirkan, di tambah lagi bobot kedua bayinya sudah semakin nampak, ketika melihat perut Mahalini yang terlalu besar.


''Istirahat lah sayang, Mas mau ke kamar mandi dulu untuk membersihkan tubuhku,'' ucap nya yang langsung di angguki Mahalini.


Devani masuk ke dalam kamar mandi, Mahalini berjalan menuju lemari pakaian, untuk menyiapkan baju untuk suami nya.


Setelah itu Mahalini pun berjalan ke tempat tidur dan merebahkan diri, beberapa menit kemudian Mahalini sudah memejamkan matanya, menuju alam mimpi yang begitu indah.


Devano yang keluardari kamar mandi segera memakai baju yang sudah di siapkan oleh istri nya.


Devano berjalan ke arah dapur guna mengambil baskom untuk membasuh tubuh lengket Mahalini, mengingat seharian Mahalini beraktivitas di luar ruangan, di tambah lagi dia bermain dengan adek adek yayasan tadi, pastilah sangat lengket.


''Sayang, kamu anak pintar dan juga anak yang hebat, Ayah harap kelak kalian bisa menjaga Bunda dan juga keluarga lain nya, Ayah sangat bersyukur karena memiliki kalian, jadilah anak yang selalu membanggakan kami berdua, mengharumkan nama Ayah dan juga Bunda,'' bisik Devano tepat di perut besar Mahalini.


Tendangan kecil ia dapatkan kembali dari sang buah hati, yang mungkin dia juga sangat paham, dengan apa yang di katakan oleh nya barusan.


''Mas, kamu sedang apa?'' tanya Mahay yang terkejut dengan tendangan debay nya.


''Apa mas mengganggu tidur kamu sayang?'' tanya nya dengan mengecup kening Mahalini.


''Tidak kok, aku hanya terkejut tadi ketika anak anak kita menendang nya dengan lumayan keras, membuat perutku terasa sakit, apa yang mas lakukan?'' tanya nya ketika melihat tubuh nya yang sudah polos.


''Mas hanya membersihkan tubuh kamu kok sayang, dan mas tadi hanya memiliki sesuatu kepada calon anak anak kita di dalam sini, tapi dia malah nendang githu,'' jawab nya yang merasa bersalah kepada sang istri, sehingga sudah membuat dia bangun dari tidur nya.

__ADS_1


''Tidak apa apa kok Mas, dan terima kasih sudah mau membersihkan tubuh saya,'' ucap nya dengan beranjak dari tidur nya.


''Kamu mau kemana sayang?'' tanya Devano ketika melihat sang istri yang sudah terbangun dari tidur nya.


''Kini mau ke kamar mandi Mas?'' Lini menghentikan pergerakan tubuh nya, ketika melihat tubuh nya yang polisi tanpa busana.


''Mas, boleh tolong ambilkan baju Lini di lemari itu,'' pintar Mahalini dengan ragu.


Devano tidak menjawab ucapan sang istri, dia hanya beranjak dan berjalan ke arah lemari, dan mengambil daster yang ada di dalam nya.


''Terima kasih Mas,'' ucap nya ketika Devano sudah memberikan baju yang selalu Mahalini pakai ketika di dalam rumah nya.


''Apa tidak mau Mas bantu?''


''Tidak usah, aku bisa sendiri kok Mas, lagian ini kan bukan pertama kalinya Lini ke kamar mandi, iya kan,'' seloroh nya dengan membalas senyuman suaminya.


Devano mengangguk dan menatap kepergian istri nya yang sudah menutup pintu kamar mandi.


''Anak anak Ayah memang nakal, sudah membuat Bunda kalian bangun dan dia kayaknya malu banget dengan perlakuan ku tadi, mungkin karena ini pertama kali buat nya, memang aku terlalu sibuk dengan duniaku, sehingga selalu mengabaikan hal hal kecil semacam ini,'' gumam nya menyalahkan dirinya sendiri.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.


__ADS_2