
Di perjalanan pulang menuju ke apartemen Devano Mahalini tak banyak bicara, dia lebih fokus ke jalanan dan sesekali menguap karena sudah mengantuk. Mungkin karena dia capek atau juga karena efek dari obat yang ia minum tadi pagi, ketika sesudah sarapan di rumah kakek Devano yang tak lain dan tak bukan kakek dari suami boongan nya.
30 menit berlalu dan kini keduanya sudsh berada di apartemen yang menurut Mahalini sangat mewah.
''Di sini siapa saja yang tinggal Tuan?'' tanya Mahalini dengan membawa paperback yang berisi alat sholat nya.
''Hanya ada kita, jadi kamu harus bersih bersih sebelum berangkat kerja besok,'' sahutnya yang terus melangkah menuju kamar utama, yang di tempati oleh Devano.
''Kamar kamu yang ini,'' tunjuk Devano ke arah kamar di sebelah kamar utama.
''Tuan, maaf? barang barang Lini masih ada di rumah,'' ungkap Lini yang merasa kebingungan dengan baju dan juga yang lainnya, mengingat dirinya belum ganti baju.
''Aku sudah meminta asisten ku untuk mengambil semua barang barang kamu, mungkin sebentar lagi akan datang,'' jawab Devano lalu masuk ke dalam kamar nya.
Devano melangkah menuju kamar mandi nya, dia memilih membersihkan tubuh lelah nya setelah pulang dari rumah sang kakek.
Selesai mandi, ponsel Devano bergetar dan menampilkan ID Riki sedang menghubungi dirinya.
-''Kenapa Rik,'' tanya Devano setelah menggeser layar ponsel nya.
-''Tuan, Almira bikin ulah di kantor? dia mengaku ngaku sebagai calon istri anda,'' terang Riki kepada sang Tuan.
-''Sekarang dia ada di mana,'' tanya Devano dengan nada dinginnya.
__ADS_1
-''Sudah saya usir Tuan Muda, lebih baik Tuan memberi pelajaran sedikit kepada Almira, agar dia tidak bikin ulah lagi di kantor ini. Tadi klien kita sempat ada yang percaya dengan semua bualan Almira, jadi mereka semua menganggap dan menghormati Almira, mengingat anda sebagai CEO di perusaha'an ini,'' Riki menceritakan semua yang terjadi di kantornya siang tadi.
-''Sudah, kamu urus saja dulu masalah Almira, kalau dia masih membuat ulah di sana, suruh orang kita yang menyelesaikan semua nya,'' balas Devano dan segera mematikan ponsel nya.
Sedangkan Mahalini tengah tertidur pulas di kasur berukuran king size di kamar barunya. Devano berjalan menuju ke kamar Mahalini dan melihat Mahalini yang tengah tertidur dengan pulas nya.
''Cantik,'' tanpa ia sadari, Devano duduk di samping Mahalini, tangan nya terulur begitu saja membenarkan anak rambut yang berada di atas pipinya.
''Kamu sangat ceroboh, bukan nya kamu mengunci pintu kamar sebelum tidur,'' gumam nya pelan, jari jemari nya masih mengelus pipi putih Mahalini.
Mahalini yang merasa terganggu dalam tidur menggeliat dan mengganti posisi tidur nya menghadap ke arah Devano. Devano mengulas senyum melihat kini wajah Mahalini berada tepat di sisi pahanya.
''Ada apa dengan ku sekarang, kenapa aku bisa berbuat seperti ini,'' gumam nya lagi, mengingat Devano menikahi Mahalini hanya sebatas nikah kontrak saja tak lebih, tapi sekarang malah Devano seakan-akan sudah jatuh cinta kepada gadis cantik yang bernama lengkap Risty Mahalini.
''Aku... aku hanya ingin mengajar mu makan siang saja di luar, mengingat di apartemen ini masih belum ada perlengkapan masak,'' Devano berkilah dengan mengatakan? kalau dia akan mengajak nya makan. Padahal kan Devano sedang menikmati wajah cantik Mahalini yang sedang tidur, pikirnya.
''Lebih baik kamu siap siap sekarang juga, kita akan pergi 10 menit lagi,'' Devano beranjak dari tempat tidur Mahalini seraya melangkah.
''Tapi Tuan, Lini tidak memiliki baju ganti sama sekali di sini, barang barang Lini belum datang?'' ucapan Mahalini menghentikan langkah Devano dan menoleh ke belakang.
''Barang barang kamu sudah di kirim, namun karena kamu sedang tidur? jadi aku meminta menaruh di luar,'' jawab Devano datar, ''Siap siap lah, aku tunggu di luar,'' tambah nya lagi yang di angguki oleh Mahalini.
Mahalini buru buru beranjak turun dari tempat tidur nya, dan mengambil barangnya yang ada di luar kamarnya, di sana terdapat dua koper membuat Mahalini bingung, ''Yang mana koper ku ini, perasa'an barang barang ku di rumah tidak sebanyak ini,'' gumam nya.
__ADS_1
Mahalini memutuskan untuk bertanya kepada Devano yang terlihat sedang duduk santai di ruang tamu sambil memainkan gadget nya.
''Maaf Tuan, kenapa di sana ada dua koper, sedangkan koper Lini cuma satu,'' tanya nya dengan perasa'an campur aduk, karena Mahalini sehatinya sangat takut ketika sedang berhadapan dengan Devano.
''Memang ada dua koper yang di bawa anak buahku tadi, tapi yang satu koper itu baju masih baru, dan itu semua adalah baju baju kamu juga,'' jawab Devano tanpa mengalihkan pandangan nya dari gadget nya.
''Apa semua itu Tuan yang membelikan nya,'' tanya Mahalini penasaran, karena jiwa kepo nya sudah mulai meronta ronta ingin tau yang sebenarnya.
''Sudah jangan banyak tanya, lebih baik kamu siap siap secepatnya, karena aku sudah sangat lapar,'' jawab Devano seraya menatap ke arah Mahalini yang tengah berdiri tak jauh dari tempat ia duduk.
''Ba-baiklah Tuan, saya akan segera bersiap sekarang?'' balasnya dengan wajah yang sudah mulai pucat karena ketakutan dengan menatap wajah sang Tuan yang sudah menjadi suami kontrak nya.
Mahalini menggerutu ketuka menuju ke kamar nya dengan menggeret dua koper yang sama sama beratnya saat Mahalini mencoba mengangkat nya.
''Emang isinya apa'an sich berat banget,'' keluhnua dengan memajukan bibir nya seperti bebek.
Dia tengah bersiap untuk pergi makan siang di sebuah restoran atau bahkan mungkin Devano akan membawa Mahalini ke warteg seperti yang dia lakukan selama ini.
Lucu juga sich kalau Devano di bawa makan ke warteg, tapi meski makan di warteg, makanan nya juga sangat enak dan juga lezat bagi Mahalini dan juga sebagian orang orang menengah ke bawah.
Terima kasih yang selalu dukung karya Almahyra, dan juga terimakasih sudah mampir dan memberikan like, komen. kalau bisa vote juga ya kak😄😄.
Maaf kalau author nya maruk. Terima kasih,🙏🙏🙏💕💕💕💕💕
__ADS_1