
Bi Ijah berlari kecil sejak mulai turun dari ojek online nya, beliau sudah tidak bisa berkata apa apa lagi saat ini, matanya sudsh membengkak karena sejak tadi ia menangis, memikirkan anak majikan nya yang di suruh ia jaga, tapi nyatanya Mahalini saat ini tidak dalam baik baik saja.
Tanpa bertanya Bi Ijah terus berjalan sampai di depan UGD beliau melihat dua orang yang sangat familiar sekali, namun Bi Ijah tidak mau berpikir saat ini. Beliau hanya masih fokus dengan keada'an Mahalini yang belum tau keada'an nya seperti apa di dalam.
''Dokter, apa baru saja ada pasien wanita yang di bawa ke rumah sakit ini?'' tanya Bi Ijah ketika melihat seorang dokter yang keluar dari ruangan IGD.
''Apakah seorang wanita? iya, dia ada di dalam dan belum sadarkan diri,'' jawab sang dokter dengan sangat hati hati, 'Bukan nya tadi tuan Bagaskara yang membawa wanita itu ke rumah sakit ini, dan siapa yang bertanya di depanku,' batin sang dokter yang tidak mengetahui jelas asal usul wanita tadi.
''Boleh saya lihat dokter,'' pinta Bi Ijah setengah memohon kepada dokter di depan nya.
''Sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruangan yang sudah di siapkan oleh Tuan besar,'' jawab nya dan berpamitan, karena masih banyak pasien yang harus ia tangani hari ini.
Bi Ijah tidak menyadari sedari tadi ada dua orang yang mengikuti gerak gerik Bi Ijah ketika sedang mengobrol dengan dokter yang menangani Mahalini.
''Kek, kayaknya nenek mengenal dengan wanita itu,'' tunjuk nenek Devano ke arah Bi Ijah yang masih menatap ke arah Mahalini yang sedang terbaring lemah, melewati celah pintu, yang kebetulan terdapat kaca di sana.
Kakek Bagaskara tidak menjawab ucapan dari istri nya, kakek Bagaskara langsung beranjak dan menghampiri seorang wanita paruh baya, yang menatap Mahalini yang terbaring lemah di dalam. Kakek Bagaskara melihat secara langsung wanita paruh baya di depan nya, siapa yang ada di depan nya saat ini, pikirnya.
''Bi ijah??'' panggil kakek Bagaskara yang masih mengenali wajah asisten rumah tangga nya beberapa tahun lalu.
__ADS_1
''Tu-tuan besar,'' jawab nya dengan gugup. ''Tu-tuan sedang apa di rumah sakit ini? apa penyakit tuan besar sedang kambuh?'' tanya Bi Ijah dengan berbagai pertanya'an seperti dulu ketika masih bekerja dengan keluarga Bagaskara.
''Tidak, saya kesini karena mengantar wanita yang ada di dalam ruangan ini? Bi Ijah sendiri sedang apa di rumah sakit. Apa.. ada yang sedang sakit,'' tanya balik kakek Bagaskara mengikuti pandangan Bi Ijah yang terlihat memandangi gadis yang ia tolong.
''Maaf Tuan besar, puteri majikan saya sedang ada di dalam, dan sekarang dia belum sadarkan diri juga,'' jawab Bi Ijah berkata jujur, seperti yang di katakan oleh dokter tadi yang ia temui.
''Maksud kamu wanita yang terbaring itu?'' tanya Nenek Devano yang sudah menyela obrolan suami dan juga mantan asisten rumah tangganya.
''Benar Nyonya besar?'' jawab Bi Ijah membungkukkan badan nya.
''Jadi? kamu tau siapa wanita itu,'' tanya kakek Bagaskara terkejut, seraya menunjuk ke arah dalam ruangan IGD.
Bi Ijah mengangguk dan berkata, ''Dia Mahalini Tuan? puteri angkat Tuan Setiawan,''
Namun belum sempat kakek Bagaskara menjawab Devano sudah menghampiri Bi Ijah, dan mencegah beberapa pertanya'an kepada wanita paruh baya yang ia suruh berangkat ke rumah sakit lebih dulu.
''Bi Ijah, bagaimana keada'an Mahalini sekarang!'' tanya nya dengan nada khawatir, Devano tidak sadar kalau di belakang nya ada kakek dan juga nenek nya yang sedari tadi sudah di punggung oleh nya.
''Nina Mahalini masih belum sadarkan diri tuan muda, dia masih di dalam?'' sahutnya dengan lirih.
__ADS_1
Devano menatap ke dalam ruangan, di mana dia melihat dengan sendiri keada'an Mahalini saat ini, hatinya begitu sakit ketika melihat wanita yang mulai dekat dengan nya, meski Devano berencana menikah kontrak dengan Mahalini, namun Devano sedikit punya rasa kepada gadis yang sedang terbaring di dalam.
''Devan!'' panggil sang kakek karena Devano masih memunggunginya sedari tadi.
Devano yang di panggil Punde tersentak kaget ketika sebuah suara yang begitu ia kenal, bukan ia kenal lagi tapi malah setiap hari ia dengar di rumah maupun di ponsel.
''Sedang apa kamu di sini?'' tanya sang nenek setengah menyelidik.
''Kakek sama nenek di sini juga, sedang apa kalian di sini.'' tanya Devano yang benar-benar tidak tau dengan kakek serta neneknya.
''Maaf Tuan Muda, Tuan Besar dan Nyonya besar sudah sejak tadi berdiri di belakang anda?'' sahut Bi Ijah yang merasa tak enak hati kepada mantan majikan nya.
''Hah,'' Devano hanya membelalakkan matanya, karena tidak tau harus berkata apa dengan kakek nya.
''Devan, kamu belum jawab pertanya'an kakek,'' kakek Bagaskara mengulang pertanya'an nya.
''Dia Mahalini kek, dan rencananya dia yang akan di perkenalkan ke kakek dan juga nenek nanti malam,'' jelas Devano yang tak bisa berkata apa apa lagi selain jujur.
Bi Ijah hanya melongo mendengar penuturan dari tuan muda nya. 'Ada hubungan apa tuan muda dengan nona Mahalini, sehingga tuan Devano ingin mengenalkan kepada tuan besar,' batin Bi Ijah.
__ADS_1
Sedangkan Tuan Bagaskara mengangkat sudut bibir nya ke atas mendengar jawab dari cucunya, 'Ternyata benar duga'anku, cucuku mau bermain main dengan ku,' gumam nya dalam hati.
'Kalau memang wanita itu yang akan di kenalkan dengan keluarga besar Bagaskara, aku tidak keberatan sama sekali? sepertinya wanita itu cukup cantik buat cucuku yang dingin seperti gunung Everest ini,' sang nenek juga ikut ikutan bergumam dalam hatinya, mengingat sang cucu yang tak pernah menggandeng seorang wanita selama ini, dan mungkinkah ini awal kebahagiaan Mahalini.