Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 81.


__ADS_3

Setelah keluarga Mahalini kembali ke rumah nya, Devano dan Mahalini memilih untuk masuk ke dalam kamar nya, rasa capek dan juga ngantuk.


Sebentar Mahalini sudah ngantuk sedari tadi, ketika orang tuanya masih berada di rumah Mama Clara, tapi Mahalini tidak enak kalau meninggalkan kedua orang tuanya begitu saja.


''Kamu kenapa?'' tanya Devano ketika melihat Mahalini.


''Lini nggak apa apa kok Mas, hanya saja Lini ngantuk banget,'' sahut nya dengan memejamkan matanya.


''Bagaimana pendapat kamu tentang resepsi pernikahan kita,'' tanya Devano pelan, Mahalini yang sudah sangat ngantuk membuka matanya dan menatap wajah suaminya.


Ada rasa bahagia, dan juga kegembira'an di mata suaminya, ''Kalau menurut Mas Vano itu baik, ya sudah Lini hanya bisa ikut saja,'' balas nya dengan bangun dari tidur nya, Mahalini menyandarkan kepala nya di sandaran tempat tidur, Mahalini nggak jadi tidur karena obrolan ini harus selesai malam ini juga, pikir Mahalini.


''Mas, Lini juga mau ngomong sesuatu, ada hal yang mau Lini sampaikan sama Mas Vano,'' ucap nya dengan menundukkan kepala nya.


''Mau ngomong apa sich sayang? jangan bilang kamu kepingin celup celup,'' jawab Devano, dengan sedikit menggoda sang istri.


''Apa sich Mas, apalagi itu celup celup,'' Mahalini tak mengerti apa yang di katakan suaminya.


Devano berjalan memutari ranjang tempat tidur nya, menghampiri Mahalini yang masih setengah tiduran. Devano menciumi dan berbisik, ''Bikin dedek lagi,''


Mahalini terbelalak kaget dengan bisikan Devano, ''Yang ini saja belum keluar, sudah mau bikin lagi,'' cebik nya, dengan memukul lengan Devano.


''Masalah bikin kan kita bisa setiap hari sayang, Mas kuat kok?'' cetus nya dengan menaik turunkan alis nya ke atas dan ke bawah.


''Nggak mau ach, Lini tuh sebenarnya capek dan juga ngantuk tau Mas? tapi tadi Mas malah ngomongin resepsi gitu, jadi sekalian saja Mahalini mau ngomong hal yang penting, itupun kalau di ijinin Mas Vano sich,'' tukas nya dengan menyilangkan tangan nya ke depan dada nya.


''Kayak nya penting banget ya, kok sampai minta ijin githu,'' seru Devano dengan menghadap ke arah sangat istri.


''Yah githu dech, penting, penting, pentiiiiinggg pakek banget lagi,'' sahut nya dengan tersenyum.


''Panjang amat penting nya tuh sayang, jadi penasaran dech,'' Kini Devano sudah memangku dagu nya dengan tangan kanan nya.


''Lini mau buka Catering,'' Ucap Mahalini membuat Devano melototi istri nya.


''Mau nambah lagi nich ceritanya, usaha kue yang kemarin saja sudah membuat kamu capek dan tidak bisa beristirahat dengan benar, dan sekarang malah mau buka usaha catering githu,'' jawab Devano dengan sedikit terengah-engah.


''Apa'an sich Mas, Mas Vano kan tidak lari? tapi kenapa terengah-engah seperti itu sich, bikin kesal tau nggak,'' cetus nya dengan membatingkan tubuh nya dan menutupi tubuh nya dengan selimut tebal nya.


Devano semakin dekat dengan Mahalini yang membungkus dirinya dengan selimut tebal nya.


''Sayang, Mas serius lho? kalau kamu capek dan terjadi sesuatu dengan anak ku bagaimana,'' ujar nya dengan memaksa membuka selimut nya.

__ADS_1


''Enak saja, ini anak ku tau! aku yang hamil dan bawa dia kemana-mana,'' sambung Mahalini yang tak terima dengan n ucapan suaminya.


''Ech, yang benar saja, ini anakku tau,'' jawab Devano dengan kekeh.


''Mas Vano cuma nitip saja, Lini nyang capek bawa nya,'' balas Mahalini yang sudah membuka selimut nya, karena dia juga ngap di dalam selimut tebal nya.


''Pokok nya ini anak ku, anak ku, anak ku,'' teriak Mahalini yang tidak ingin di bantah lagi oleh suaminya.


''Enak saja, ini juga anakku sayang, kamu jangan egois githu dech,''


''Mas Vano yang ngaku ngaku dari tadi,'' ketus nya dengan menggembungkan pipinya.


Mereka berdua akhirnya tidak jadi mengobrol serius tentang usaha baru yang akan di kelola Mahalini, Devano dan juga Mahalini sibuk dangan bercanda dan berdebat masalah anak mereka berdua.


...****************...


Farel sedang sibuk dengan pekerja'an paruh waktu nya, Farel juga tidak ingin membebani Ayah nya di kota lain yang juga sedang bekerja keras, agar semua keluarga nya bisa hidup enak dan juga nyaman.


Suatu sore, Almira dan juga Hanafi berkunjung di sebuah mini market, untuk membeli bahan makanan yang akan di bawa Almira ke kos kosan nya.


Ya, sekarang Almira lebih memilih tinggal di kos kosan kecil, dari pada harus tinggal bersama Mama nya yang super pengatur Almira.


Kebetulan sore itu Farel sedang berjaga di meja kasir, karena rekan kerja nya sedang melakukan sholat di belakang.


''Iya,'' jawab Farel dengan singkat.


''Kamu kerja di sini?'' tanya nya lagi.


''Ya begitulah, karena aku bukan anak manja yang suka menghabiskan uang Papa,'' jawab nya dengan ketus.


Almira yang merasa tersindir hanya terdiam mendengarkan ocehan Farel sang adek. ''Aku sedang sibuk dan juga tidak mau berdebat dengan kamu, karena ini juga,'' kata Farel dengan merapikan belanja'an kakak nya.


''Total nya 367.000 ribu,'' kata Farel lagi dengan memberikan tas belanja'an nya.


Hanafi memberikan uang berwarnaerah sebanyak 4 lembar, ''Kembalian nya buat kamu saja,'' ucap Hanafi yang bermaksud baik kepada adik Almira.


''Tidak usah, aku masih bisa bekerja dan aku juga bukan pengemis,'' sahut nya dengan sarkas, sembari memberikan uang kembalian kepada Hanafi.


Almira hanya mengangguk pasrah dengan sikap sang adek yang sudah sangat kelewatan menurut nya.


''Kakak pergi dulu dek,'' pamit Almira namun tidak di tanggepi dwngan baik oleh sang adek.

__ADS_1


Supervisor di mini maret tersebut melihat perilaku Farel baru saja, tapi dia juga kenal dengan seorang wanita yang ada di depan Farel, dia juga mengerti perasa'an Farel saat ini, jadi sang supervisor pura pura tidak melihat.


Namun beberapa menit kemudian supervisor memanggil Farel untuk segera menghadap ke ruangan nya.


''Farel, kamu di panggil supervisor sekarang, mungkin masalah yang tadi itu,'' ucap nya dengan menepuk punggung teman kerja nya.


''Terima kasih, aku juga minta tolong? jaga kasir sampai Lukman datang,'' pesan nya sebelum benar-benar pergi dari meja kasir.


''Baiklah, aku akan berjaga di sini sampai Lukman kembali nanti.


''Terima kasih banyak ya,'' balas nya dengan mengulas senyum yang begitu manis, seakan-akan dia sudah tau kalau dirinya bakalan di pecat dari pekerja'an nya, dan itu semua gara-gara Almira sang kakak.


Tok tok tok


''Masuk,'' suara berat terdengar dari dalam, Farel yang sudah ada di depan pintu segera memutar knop dan masuk ke dalam.


''Bapak memanggil saya,'' tanya Farel ketika sudah berada di dalam ruangan supervisor nya, meskipun yang menjadi supervisor adalah teman nya, tapi Farel masih memanggil teman nya dengan sebutan Bapak.


''Iya, aku memanggil kamu? tadi aku lihat ada Almira belanja di muni market ini, apa dia bikin ulah? sehingga kamu bersikap dingin seperti itu kepada nya,'' tanya nya dengan setengah menyelidik, apa yang terjadi sebenarnya kepada dua saudara tersebut.


''Saya yang kesal dengan kakak saya Pak, dia tidak bikin ulah sama sekali, tapi akhir akhir dia sering datang ke apartemen ku dengan terus bertanya keberada'an kak Lini, jadi rasa kesal ketika melihat wajah nya yang ada di hadapan saya Pak, tapi Bapak tidak usah khawatir, kalau Bapak mau memecat saya silahkan,'' tantang Farel yang tidak pernah takut akan dia di pecat.


Karena Farel sudah memikirkan konsekuensi nya, berkata kasar dengan seorang pelanggan, meskipun itu adalah kakak nya sendiri.


''Aku tidak akan pernah memecat kamu Farel, tapi aku sarankan? kamu tidak boleh lagi berjaga di kasir, takutnya kakak kamu kembali lagi dan membuat masalah lagi di sini, itu akan membuatku merasa sulit dalam mengambil keputusan seperti sekarang ini,'' ucap nya dengan panjang lebar.


''Terima kasih Pak,'' jawab nya dengan menganggukkan kepalanya dan segera keluar dari ruangan supervisor nya.


Farel memejamkan matanya sejenak, sebelum menghampiri ketiga teman nya di depan, mereka sedang sibuk menata barang yang baru datang.


Farel memang tidak bersikap manja dengan selalu mengandalkan uang dari orang tuanya, apalagi yang Farel tau adalah Ayah nya yang bekerja di luar kota hanya untuk menafkahi semua keluarga nya, sedangkan kakak nya hanya bisa berfoya-foya dan menghabiskan uang Ayah nya dengan bersenang-senang dengan semua teman teman nya.


Di tambah lagi perlakuan dia yang sudah sangat kelewatan kepada Mahalini kakak angkat nya, membuat Farel bertambah benci kepada Almira yang notabene nya adalah kakak kandung nya.


.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕.


__ADS_2