Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 93.


__ADS_3

Keesokan harinya, Mahalini dan Mama Clara benar-benar mencari rumah Bapak penjual rujak buah tersebut, mereka berdua sempat bertanya kepada salah satu orang yang juga tinggal di sana, dan tanpa mereka sadari yang ia tanyakan adalah sang istri dari Bapak penjual rujak buah tersebut.


''Bu, mohon maaf? saya mau tanya rumah Bapak penjual rujak buah itu di mana ya,'' tanya Mahalini dengan sangat ramah.


''Bapak penjual rujak buah? maksud neng Pak Djarot,'' tanya nya lagi dengan menyebutkan nama suami nya.


''Saya tidak tau pasti nama beliau, tapi semalam saya sempat beli rujak buah nya,'' sahut nya lagi.


''Och, neng yang semalam di ceritain sama suami Ibu ya,'' tanya nya lagi tanpa basa basi lagi.


''Maksud Ibu...''


''Saya istri dari Bapak penjual rujak buah itu neng? mari ke rumah saja,'' ajak nya dengan berjalan lebih dulu, sedangkan Mama Clara hanya mengangguk pelan, seraya terus mengikuti langkah suami Pak Djarot.


Mereka bertiga sudah sampai di sebuah rumah yang sangat kecil, tanpa alasan semen di bawah nya, hanya tanah yang keras, dan juga kursi rotan yang sudah jelek di bagian depan.


''Maaf Nyonya, neng? rumah Ibu seperti ini,'' ucap nya dengan merasa tidak enak dengan tamunya, yang pasti dari golongan orang kaya.


''Tidak apa apa kok Bu, walaupun rumah kita seperti ini, tapi kita harus tetap bersyukur. Lagian kami datang ke sini bukan nyari rumah Ibu yang bagus kok, tapi rasa peduli Ibu yang menyambut kita dengan sangat baik saja sudah sangat alhamdulillah,'' jawab Mama Clara dengan panjang lebar.


Percuma mempunyai rumah besar dan juga mewah, kalau orang nya saja bersikap angkuh dan egois, pikir Mama Clara.


Istri dari Pak Djarot pun berlalu setelah mendengar jawaban dari Mama Clara, sedangkan Mahalini terus menelisik beberapa atap rumah yang sudah mulai lapuk, di dalam hatinya dia bergumam.


'Separah inikah kehidupan Bapak dan Ibu itu di sini, ya Allah? sehatkan lah beliau dan selalu limpahkan rezeki yang halal dan juga berkah bagi keluarga kecil ini,' gumam nya di dalam hati, tanpa ia terasa air mata nya sudah menggenang di kedua pipi nya, membuat Mama Clara terkejut? melihat menantunya menangis.


''Sudah, jangan menangis seperti itu, nanti kita bicarakan di rumah ya,'' gumam nya pelan, Mahalini menghapus air mata nya dan mengulas senyuman nya kepada sang mertua.


''Di minum dulu Nyonya, neng,'' kata istri Pak Djarot dengan meletakkan kedua gelas yang berisi teh hangat.


''Ibu kenapa repot repot seperti ini sich,'' balas Mahalini dengan senyuman nya.


''Tidak apa apa neng, adanya cuma teh saja,'' sambung nya dengan duduk di depan nya, yang hanya terhalang dengan sebuah meja yang sudah kusam.

__ADS_1


''saya datang kemari karena mau membeli rujak buah lagi Bu, maklum semalam di makan berdua sama Mama, jadi merasa kurang puas makan tujak buah nya,'' Mahalini membuka suara, dengan alasan ingin membeli rujak buah lagi.


''Och, Bapak nya baru saja pergi neng? bagaimana ya, dan Ibu juga tidak terlalu tau Bapaknya mangkal di mana,'' sahut nya dengan nada sedih.


''Ya sudah, tidak apa apa Bu? nanti kami kembali lagi ke sini, kalau Bapaknya sudah pulang. Kebetulan sekali saya punya rumah catering di dekat sini, mungkin Bapak bisa ke sana saja nanti,'' kata Mahalini dengan nada yang tak kalah sedih nya, melihat keadaan rumah istri Pak Djarot yang sehari hari hanya berjualan rujak buah keliling.


''Ya maklumin saja Bu, menantu saya sedang hamil? semalam saya kira sudah tidak mau di makan lagi, terpaksa saya makan, ech nggak tau nya malah di tanyain pagi pagi nya,'' sambung Mama Clara, di mana dia juga ingin menyempurnakan ekting dari menantunya.


''Tidak apa apa Nyonya, mungkin itu semua bawa'an dari sang bayi,'' jawab nya dengan mengulas senyum.


''Kalau neng mau menunggu, bagaimana kalau Ibu bikinin di sini saja, tapi buah nya tidak terlalu lengkap sich, hanya mangga dan bengkuang saja adanya,'' lanjut nya.


''Tidak apa apalah Bu, dari pada anakku nanti ngeces gara-gara nggak cepat cepat makan rujak nya,'' jawab Mahalini dengan sumringah.


Ibu tersebut berlalu masuk ke dalam rumah nya, tapi beberapa langkah kemudian Mahalini meminta ijin untuk ikutan bikin rujak buah nya.


''Bu, apakah saya boleh ikutan bikin tujak buah nya,'' tanya nya dengan takut takut.


''Maaf sebelumnya ya Bu, apa ini rumah Ibu sendiri,'' tanya Mahalini dengan tidak enak hati, takut nya sang Ibu malah salah paham kepada nya.


''Sebenarnya ini bukan rumah Ibu neng, Ibu hanya ngontrak di sini? karena rumah Ibu sudah di jual beberapa tahun yang lalu, untuk membayar rumah sakit Alm, anak Ibu yang sakit,'' jawab nya dengan jujur.


Kalau bukan rumah Ibu itu, Mahalini tidak akan merenovasi rumah ini dong, karena bukan hal milik Pak Djarot yang sesungguhnya.


'Ya Allah, berilah hamba jalan untuk selalu membantu orang orang yang membutuhkan bantuan,' batin nya dengan mengusap ngusap perut nya yang sudah mulai membuncit.


''Tiap bulan nya berapa Bu, ini kan sudah tidak layak huni menurut saya, tapi maaf ya Bu? saya tidak bermaksud yang demikian,'' ucap nya dengan sangat hati hati.


''Murah kok neng, hanya 300 perbulan nya, itu sudah termasuk air dan juga listrik? sebenarnya tidak boleh bayar sama pemilik rumah, tapi Ibu merasa tidak enak sama beliau, jadi buat bayar listrik dan air nya saja mungkin,'' ungkap nya dengan jujur.


''Githu ya Bu, syukur lah kalau seperti itu Bu,'' ucap Mahalini yang sudah kehabisan kata-kata, ''Oiya Bu, bumbu nya memang bikin sendiri, dan di ulek seperti ini juga,'' tanya nya lagi dengan mengalihkan obrolan sebelum nya.


''Iya neng, Ibu ulek pakek tangan? agar lebih enak saja satu di makan,'' jawab nya tersenyum.

__ADS_1


Mahalini membalas swnyiman dari sang Ibu, Mahalini tidak menyangka? kalau istri dari Pak Djarot ternyata sangat baik dan juga ramah kepada nya.


Di sisi lain, Mama Clara sedang menghubungi putra nya yang sedang berada di kantor nya, kedatangan Mama Clara dan juga Mahalini ke rumah Bapak Djarot adalah untuk membelikan lemari pendingin, agar buah nya tidak mudah rusak, tapi setelah mendengar cerita dari sang istri kalau rumah nya hanya ngontrak, Mama Clara membatalkan rencana awal dia datang ke rumah tersebut.


-''Ada apa Ma,'' tanya Devano dengan suara dingin nya.


-''Mama sudah batalkan pengiriman barang barang ke sini Devan, karena istri Pak Djarot cerita kalau rumah nya adalah rumah kontrakan,'' jawab nya.


-''Kalau rumah kontrakan? apa salah nya coba, cuma kulkas kecil saja yang akan datang, dan kenapa harus di batalkan segala sich,'' Devano dengan nada bawel nya, ketika mengobrol dengan sang Mama.


Mama Clara mematikan sambungan telfon nya, dan beralih ke video call? memperlihatkan keada'an rumah Bapak Djarot yang sebenarnya kepada Devano, agar dia tidak lagi bertanya terus, yang ujung ujungnya bakalan bikin sakit kepala saja, pikir Mama Clara.


Devano ternganga dengan penampakan rumah yang sekarang sedang di datangi oleh sang istri.


-''Mahalini kemana Ma, kok nggak ada di situ,'' tanya Devano ketika tidak melihat wajah istri nya di ruangan yang di perlihatkan oleh sang Mama.


-''Istri kamu sedang di belakang bersama istri Pak Djarot, dia lagi bikin rujak buah di belakang,'' jawab nya.


-''Ya sudah, kita bahas nanti lagi oke, yang pasti Mama sudah membatalkan pengiriman semua barang itu ke sini,'' lanjut nya yang langsung di angguki oleh Devano.


Devano sudah tidak bisa berkata apa apa lagi, setelah melihat keada'an rumah tersebut, yang seharusnya nya rumah itu hanya di tempati hewan peliharaan, seperti ayam. (maaf ya Bu) 🙏🙏.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕.

__ADS_1


__ADS_2