Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 124.


__ADS_3

Mahalini sangat bersyukur dengan keada'an Papa nya, yang baik baik saja. Sepanjang perjalanan Mahalini sudah memilih hal hal yang di luar nalar, Mahalini membayangkan Papa Setiawan sedang terbaring lemah di atas tempat tidur nya.


''Syukur lah, Papa baik baik saja? Lini khawatir tau nggak Pa??'' ucap nya dengan mendongakkan kepala nya.


''Papa tidak apa apa kok sayang, Papa sangat sehat? itu semua karena do'a dari kalian semuanya,'' sahut nya dengan melepaskan pelukan nya.


''Papa tidak boleh terlalu capek, ingat kesehatan Papa saat ini sedang menurun, Papa harus banyak banyak istirahat, mengingat sekarang tanggung jawab Papa sudah mulai berkurang, iya kan dek?'' kata Almira yang di akhiri dengan meminta persetujuan dari sang adek.


''Yang di katakan oleh Kak Almira benar Pa, Papa tidak boleh terlalu memforsir pekerja'an nya,'' sambung Mahalini lagi.


''Iya, Papa akan selalu mengingat pesan pesan kalian semua kok, dan maafkan Papa? karena belum bisa menjenguk anak-anak Papa, di rumah nya masing-masing,'' jawab nya dengan nada sedih nya.


''Sudah, jangan bahas itu lagi, bahas masalah pekerja'an Papa hanya bisa membuat Papa semakin sedih saja,'' Ucap Devano dengan berjalan menghampiri istri dan juga Papa mertuanya.


Devano membawa Mahalini dan juga Papa Setiawan ke sofa, yang berada tak jauh darinya, ''Lebih baik Papa istirahat saja ya, atau putri Papa masak buat Papa dan yang lain nya juga, ya hitung hitung keduanya ada di sini,'' cicit nya dengan merangkul pundak Papa Setiawan.


Mahalini mencebik kesal, karena perminta'an suaminya yang menyuruh dia untuk masak makan malam, ya Mahalini dan Almira masih ingin bercanda tawa dengan sang Papa, tapi nyatanya? Devano malah menyuruh untuk pergi ke dapur dan memasak buat semua orang di rumah dinas Papa Setiawan.


''Sudah lah kak, lebih baik kita ke dapur sekarang saja, itung itung kita berbakti sama Papa juga kan?'' ajak Mahalini dengan memegang lengan Almira, kakak angkat nya.


Almira hanya mengangguk pelan, sebenarnya Almira dan Mahalini masih begitu kenyang, dan dia berencana tidak mau ikut makan malam, karena perutnya yang sudah penuh dengan memakan camilan, selama di perjalanan menuju tumah dinas sang Ayah.


Mahalini mengeluarkan ikan dan juga ayam yang ada di dalam kulkas, tapi Mahalini terkejut dengan kedatangan seorang wanita paruh baya dengan belanja'an di tangan nya.


''Maaf Nona, kalau Simbok mengejutkan kalian?'' ucap nya dengan menundukkan kepala nya, simbok takut kena marah sama dua wanita di depan nya, makanya yang biasa di panggil simbok langsung menunduk hormat.

__ADS_1


''Tidak apa apa kok Mbok, kita juga yang salah, masuk ke dapur dengan tanpa suara, jadi itu bukan salah simbok?'' kata Mahalini dengan mengambil tas belanja'an yang di bawa oleh asisten Papa nya.


''Biar saya bersihkan Mbok?'' kata Almira dengan mengambil alih tas tersebut.


''Tidak apa apa kok Nona, biar simby saja yang ngerapiin semua nya, apa Nona berdua adalah putri Tuan Setiawan?'' tanya sang asisten dengan setengah menyelidik.


''Iya mbok, kami putri Papa Setiawan?'' jawab Mahalini dengan mengulas senyum ramah nya.


''Ich syukur lah, minggu lalu ada seorang wanita yang datang ke sini Nona, dia hanya marah marah nggak jelas kepada Tuan, sampai sampai Tuan tidak sadarkan diri, saya sebagai bawahan hanya bisa mendengarkan saja, tidak bisa melerai pertengkaran beliau,'' adu sang asisten Papa Setiawan.


Almira dan juga Mahalini mengweutkan keningnya, mereka berdua sedang memikirkan, wanita yang mendatangi Ayah nya dengan marah marah di rumah nya.


''Kalau boleh tau siapa Mbok?'' tanya Almira, yang sudah penasaran sejak tadi.


''Wajahnya hampir mirip dengan Nona ini,'' Simbok menunjuk ke arah Almira, yang sedang menatap nya, Almira tertegun mendengar jawaban asisten Ayah nya, dia bahkan tidak pernah menyangka? kalau Mama nya pernah datang ke rumah dinas Ayah nya.


''Baik Nona,'' jawab nya dengan mengangguk hormat.


''Terima kasih mbok, oiya mbok? kalau tidak keberatan boleh nggak bantuin masak buat makan malam kami semua,'' pinta Mahalini dengan sedikit malu, karena dia tidak pernah menyuruh, ataupun meminta bantuan kepada asisten di rumah nya, tapi untuk saat ini? Mahalini terpaksa meminta bantuan kepada asisten rumah dinas Papa nya.


Mahalini sudah tidak gesit seperti dulu lagi, karena perutnya yang semakin membesar, sehingga membuat Mahalini malas bergerak, dan ruang geraknya pun sangat sulit, sedangkan Almira masih baru belajar memasak, yang ada kalau Mahalini mengerjakan sendirian, bisa bisa mateng nya sampai bubar jam makan malam nya, pikir Mahalini.


''Baiklah Nona, simbok juga berniat untuk memasak makan malam, makanya simbok datang lagi kemari? dengan membawa sayur dan juga buah, kebetulan suami simbok selesai memanen buah dan juga sayur, di sawah pak Lurah,'' jawab nya dengan panjang lebar.


''Jadi ini simbok bawa dari rumah nya langsung, apa simbok tidak memikirkan keluarga simbok di sana, bagai kalau mereka tau? kalau milik nya di berikan kepada orang lain, seperti aku ini mbok,'' gumam Mahalini.

__ADS_1


''Tidak apa apa kok Nona, di rumah masih ada kok, sebentar ya, simbok mau nyiapin bahan bahan nya dulu,'' tukas nya dengan beranjak ke arah lemari pendingin, yang ada di samping Almira.


''Maaf Nona,'' ucapnya dengan ramah.


Mahalini tersenyum melihat asisten di rumah dinas Papa nya, ''Kak, apa benar yang kita pikirkan ,'' bisik Mahalini tepat di telinga Almira sang kakak.


''Benar apanya sich dek,'' tanya Almira yang masih belum mengerti dengan ucapan sang adek.


''Tebakan kita sama nggak?'' tanya nya lagi, membuat kening Almira mengkerut.


''Maksudnya,''


''Ya elah kak, yang datang ke sini minggu lalu, tebakan kita sama atau enggak,'' Mahalini memperjelas ucapan nya, agar sang kakak mengerti apa yang biasa katakan baru saja.


''Iyalah, siapa lagi kalau bukan Mama yang datang ke sini, dan mengajak Papa bertengkar seperti itu, sehingga membuat lawan bicara sampai jatuh pingsan,'' papar nya nada di penuhi dengan rasa benci dan juga rasa tidak terima, karena dirinya akan tampil kembali.


''Sudah kak, ini kan sudah lewat masa tenggang, kita sebaiknya mendo'akan yang baik baik untuk putri saya sendiri, sama hal nya dengan para ibu ibu,'' papar nya dengan menarik nafas nya, mencoba menghilangkan rasa gugup nya.


.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.


__ADS_2