Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 82.


__ADS_3

Seperti biasa, Mahalini selalu bangun pagi. Setelah sholat Subuh? di lanjutkan dengan membaca surah Yasin dan juga Al-Waqiah, sebagai pembuka rezeki di hari ini.


Sedangkan Devano hanya melaksanakan shalat subuh berjama'ah bersama istri nya, dan setelah itu Devany malah kembali lagi keramas ranjang, karena dia masih sangat mengantuk sekali, semalaman Devano mempermainkan istri nya dinatas ranjang, sampai jam 3 dini hari, baru mereka menyelesaikan nya.


Tapi aneh nya Mahalini tidak merasa ngantuk sama sekali, ketika dia melihat jam dinding menunjukkan pukul 3 dini hari, Mahalini beranjak dari tidur nya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya yang di penuhi dengan keringat.


Mahalini memang tidak pernah meninggalkan sholat sunnah nya, sebisa mungkin dia selalu melaksanakan sholat sunnah dan bermunajat kepada sang Khalik, berterima kasih atas semua pemberian nya dan juga atas nikmat yang selama ini ia limpahkan kepada nya dan kepada semua keluarga nya.


Mahalini nampak menangis ketika mengucapkan kata demi kata kepada Allah SWT, tempat mengadu yang aman dan juga baik hanyalah kepada sang pencipta.


Mahalini melipat mukenah dan juga sajadah nya, menatuh di atas nakas di samping tempat tidur nya.


''Sayang, kamu mau kemana?'' tanya Devano dengan suara serak nya, sedangkan matanya masih terpejam.


''Lini mau ke dapur Mas? ada apa,'' tanya nya, ''Nanti Lini akan bawa kooinya ke kamar ya, atau kamu juga main sarapan di kamar,'' tanya nya lagi ketika melihat suaminya hanya terdiam.


Melihat suaminya hanya berdiam diri, Mahalini memutuskan untuk keluar dari kamar, menuju ke lantai bawah di mana di dalam dapur sudah ada 2 orang sedang mempersiapkan sarapan majikan nya.


Beberapa pelayan lainnya juga sedang sibuk dengan pekerja'an masing-masing, membersihkan setiap ruangan dan juga halaman depan dan belakang yang lumayan luas.


''Pagi Nona,'' sapa kepala pelayan yang sedang membantu di dapur.


''Pagi Bi?'' jawab nya ramah dan juga tidak melupakan senyuman nya.


''Nona butuh sesuatu,'' tanya seorang pelayan yang melihat Mahalini melihat kanan kiri.


''Lini mencari susu yang ada di sini itu Bi, apa sudah habis ya? kok nggak ada sich,'' Mahalini masih terus mencari susu untuk nya dan juga untuk suaminya.


''Susu hamil Nona,'' tanya sang pelayan memastikan.

__ADS_1


''Iya benar Bi,'' jawab nya.


Sang pelayan mengambilkan susu yang sempat di pindahkan oleh majikan semalam. ''Semalam Nyonya yang memindahkan susu ini ke dalam toples ini Nona,'' ucap sang Bibi memberi tahu majikan muda nya.


''Terima kasih Bi, sebenarnya Lininsudah berpikiran mau di pindahkan ke dalam toples, tapi lupa hehehe,'' Mahalini terkekeh menampakkan deretan giginya putih nya kepada semua pelayan yang ada di dapur.


''Iya, sama sama Nona,'' jawab mereka bertiga hampir bersama'an.


Di dalam kamar, Devano sudah berpakaian rapi, pagi ini Devano akan ada meeting dengan klien di salah satu restoran, Mahalini masuk ke dalam kamar dan sudah menemui Devano di dalam kamar nya.


''Mas Vano sudah bangun, Lini kira mas Vano masih capek,'' sindir nya dengan meletakkan susu coklat di atas meja.


Devano tidak menjawab ucapan dari Mahalini, dia langsung memeluk Mahalini dari belakang dan langsung mencium leher putih istri nya.


''Mas, jangan seperti ini dong geli,'' gumam Mahalini yang menggelinjang karena ciuman dari suaminya.


''Siapa suruh kamu menyindir Mas, dan lagi? memang nya kamu tidak mengantuk, setelah kita semalaman bermain celup celup,'' tanya nya dengan terus mencium leher jenjang Mahalini.


''Ya sudah kamu istirahat lah, hari ini tidak ada pesanan kue kan?'' tanya Devano membelai rambut panjang Mahalini yang di tutupi dengan handuk kecil sebagian.


''Ada sich, tapi kan sudah di bikin semalam sama Mbak mbak nya, jadi hari ini tinggal nganterin saja ke toko kue,'' jelas nya dengan mendudukkan diri di atas sofa.


''Istirahat lah, nanti siang Mas ingin kamu mengantar makan siang Mas ke kantor, Mas mau makan siang masakan kamu sayang?'' ucap nya dengan mengelus perut rata Mahalini dan mencium nya sejenak, sebelum keluar dari kamar nya.


''Kapan kita periksa si cebong ini lagi,'' tanya nya.


''Enak saja ngatain dia cebong,'' cubit Mahalini yang tidak mau calon anak nya di panggil cebong oleh suaminya.


''Sudah lah, Lini lapar dan ingin makan sekarang,'' Mahalini beranjak dari tempat duduk nya dan berjalan keluar dengan di ikuti Devano dari belakang.

__ADS_1


Devano hanya mengulas senyum di wajah nya ketika istri nya protes dengan sebutan cebong terhadap si jabang bayi.


...****************...


Di tempat lain Almira sedang menunggu Hanafi menjemput di kos kosan nya, semenjak Almira kenal dengan Hanafi? dia selalu menurut apa yang di katakan oleh Hanafi selama itu baik untuk nya.


''Sudah lama nunggu nya,'' tanya Hanafi ketika mobil nya sudah sampai di depan Almira.


''Tidak kok,'' jawab nya dan langsung masuk ke dalam mobil menuju kampus nya, ''Kita mampir dulu di toko kue di depan itu ya, tadi aku belum sempat sarapan soal nya,'' lanjut nya dengan tidak enak hati.


Selama ini Almira sudah banyak sekali merepotkan Hanafi sang teman, ''Kenapa kamu belum sarapan? lebih baik kita sarapan bubur atau nasi uduk mungkin,'' jawab Hanafi dengan melirik Almira sejenak.


''Tapi pagi ini aku ingin sarapan kue di toko depan, apalagi pelanggan di Toko itu sekarang lagi banyak banget,'' balas nya tetap kekeh mau sarapan roti.


''Baiklah, takut nya bayi kamu ileran kalau keluar nanti,'' canda Hanafi, membuat Almira mencubit perut teman disamping nya.


''Enak saja bilang aku hamil, suami saja belum punya masaknya sudah mau hamil sich,'' gerutu Almira dengan mencebikkan bibir nya.


''Ya kali aja hamil anakku,'' kata Hanafi dwngan nada santai nya, sedangkan Almira kini sudah melotot ke arah sang teman.


Almira tidak menyangka teman laki-laki nya akan bercanda sedemikian rupa, namun di dalam hati Almira sangat bahagia mendengar gurauan dari teman nya. 'Apa aku masih pantas bahagia, setelah aku banyak melakukan dosa, dan sampai saat ini aku masih belum mendapatkan kata maaf dari adek ku yang sedari dulu, aku hina dan aku siksa, ya Allah, tunjukkan hamba di mana adekku berada?'' gumam Almira di dalam hatinya, sedangkan pandangan nya masih tertuju ke depan, menatap mobil mobil yang saling kejar kejaran.


.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕.


__ADS_2