Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 157.


__ADS_3

Di rumah sakit.


Devano membawa Mahalini ke ruangan Dokter Laila untuk melakukan cek up.


Mahalini duduk di kursi roda dan Devano mendoring ke ruangan Dokter Laila yang sedikit jauh dari halaman rumah sakit.


''Apa dokter Laila ada di ruangan nya?'' tanya Devano kepada resepsionis.


''Ada Tuan, kebetulan sedang tidak ada pasien, jadi Tuan dan Nona bisa langsung masuk,'' ucap sang asisten Dokter Laila yang kebetulan ada di resepsionis sedang mengurus sesuatu di sana.


''Baiklah terima kasih,'' jawab nya dengan wajah datar nya, sedangkan Mahalini hanya bisa menggeleng pelan, melihat wahyu datar suaminya.


''Kenapa kamu geleng geleng gitu?'' tanya Devano mengerutkan kening nya.


''Nggak apa apa kok, yang pasti semoga anak anak kita tidak ada yang memiliki sifat dingin kamu itu,'' sahut Mahalini dengan jujur.


Jujur saja Mahalini tidak ingin kedua anak nya menuruni sifat dingin sang Ayah, yang nantinya akan susah bergaul dengan semua teman teman nya, pikir nya.


''Siang Dokter,'' sapa Mahalini setelah sang suami mendoring kursi roda nya masuk ke dalam ruangan dokter Laila.


''Siang Nona Lini, bagaimana? apa masih ada yang sakit atau nyeri,'' tanya nya.


''Kalau nyeri sich masih sama seperti yang kemarin Dok, tapi yang saya mau tanyakan saat ini? masalah ASI saya yang masih sama tidak lancar, padahal saya sudah meminum obat dari dokter,'' cerita Mahalini dengan jelas.


''Mungkin dari hormon juga Nona, Nona terlalu stres dengan keada'an sekitar nya, jadi menyebabkan tidak lancar, Nona hrus selalu bahagia dan happy, jangan terlalu memikirkan kata kata orang yang tidak ingin Nona bahagia, cukup anak anak anda dan juga anda sendiri yang merasakan kebahagia'an itu sendiri, yang lain biarlah mereka sendiri yang pikirkan,'' ucap dokter Laila panjang lebar, dokter Laila sebenarnya di hubungi secara langsung oleh Mama Clara, untuk mengatakan apapun yang membuat memlnantunya tidak lagi memikirkan hal yang macam macam.


''Entahlah Dok, saya juga tidak ingin memikirkan perkata'an seperti itu, tapi ketika saya mengingat kembali kata kata itu sangat sakit, dan dada terasa sesak, karena saya juga bukan tidak mau melahirkan anak anak saya dengan normal, tapi mungkin takdir yang tidak beroihak kepada ku saja,'' tukas nya. Mahalini menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan perlahan.


''Nggak apa apa kok Nona, yang penting sekarang ini adalah kesembuhan Nona Lini dan juga kesehatan si kembar, itu saja sudah cukup tidak usah mencari apapun lagi,'' sambung nya dengan menulis sesuatu di kertas kosong nya.


''Mari kita periksa dulu, apa sudah kering jahitan nya,'' ajak dokter Laila dengan menggandeng lengan Mahalini.


Devano dengan sihap membantu istrinya untuk naik ke atas tempat tidur, untuk melakukan pemeriksa'an di area perut nya.


''Apa bekas operasi nya itu akan membekas dokter?'' tanya Devano ketika melihat luka yang tertutup perban.


''Iya Tuan, lukanya akan membekas seperti ini,'' sahut nya dengan membuka perban yang masih menutupi luka operasi kemarin.


Mahalini meringis, ketika perekat di tarik oleh perawat yang membantu dokter Laila. ''Pelan pelan suster,'' seru Devano, Mahalini menatap wajah suaminya yang terlihat sedikit takut.


''Lebih baik Mas Vano tunggu di luar saja, aku bisa sendiri kok, lagipula ada suster yang akan. membantu aku nanti keluar dari ruangan dokter Laila,'' kata Mahalini lembut.


''Tidak sayang, Mas akan tetap di sini, sambil mendengarkan apa yang di katakan dokter Laila nantinya, aku nggak apa apa kok? hanya tidak tega saja ketika kamu merasa sakit tadi,'' jawab nya dengan berjalan menghampiri sang istri.


''Lukanya sudah kering Nona, kita buka jahitan nya dulu ya,''

__ADS_1


Mahalini mengangguk dan mulai merasakan kekhawatiran yang berlebihan, padahal benang nya hanya ada di sisi kiri dan juga sisi kiri, bukan jahitan semua nya.


Setelah membuka jahitan dan juga mengelap luka bekas operasi, dokter Laila melangkah pergi, kini tinggal Mahalini dan juga suster, sedangkan Devano sudah mengikuti langkah dokter Laila, dia ingin bertanya lebih lanjut lagi.


''Kalau boleh tau kapan sembuh nya luka itu dokter,''


''Saat ini hanya bisa di lihat dari luar nya saja Tuan, jahitan di luar sudah kering sempurna, tapi untuk hamil kembali? di butuhkan waktu 3 tahun, sampai bekas lukanya benar benar sembuh luar dan dalam,'' jawab nya yang mengira Devano akan bertanya hal demikian.


''Bukan itu maksud nya dokter,'' Devano mendengus kesal, ''Saya hanya tidak tega saja, kalau melihat dan mendengar rintihan istri saya, ketika mau bangun dari tidur nya dan juga beranjak dari duduk nya.


''Memang Nona Mahay saat ini tidak boleh mengangkat beban yang berat berat dulu, kalau misalkan mau beranjak dari tidur nya, harus nya Tuan miring kanan tubuh Nona Mahalini dulu, baru coba bangun dengan sendiri. Kalau misal langsung bangun begitu saja, tanpa jeda dulu makan akan terasa sakit, karena perut nya masih terasa kaku, dan itu yang menyebabkan sakit itu menyerang,'' jelas nya.


''Baiklah kalau seperti itu dokter, terima kasih sudah menjelaskan semua nya, kaki permisi dulu?'' pamit Devano sesudah meraih resep obat dari dokter Laila.


Sementara Mahalini sudah berada di luar ruangan dokter Laila, setelah di bantu dorong oleh sang suster.


''Terima kasih suster,'' ucap nya tulus.


''Sama sama Nona?'' sahut nya dengan senyuman yang sudah mengembang di bibir nya.


Devano mengambil alih kursi y dan menuju ke apotik untuk menebus obat yang sudah di tulis di buku resep oleh dokter Laila.


''Kamu tunggu di sini sebentar ya, jangan berdiri atapun bergerak sesuka hatimu lagi, aku akan menebua obat nya sebentar dan jangan nakal oke,'' Devano menarik hidung mancung Mahalini.


''Baru sadar ya, kalau istri Mas ini terlihat sangat cantik ketika ngambek seperti ini,'' goda nya dengan melangkah ke arah apotik yang lumayan tinggal beberapa yang ikut mengangtri di depan nya, ya mungkin banyak orang yang sakit sedang ingin menebua obat nya juga.


Devano sesekali melihat ke rahmatullah sang istri berada, sampai akhirnya dia di kagetkan dengan sesuatu yang juga ikut antri untuk mengambil obat nya.


''Maaf Pak, uang kurang dan di sini tidak di anjurkan untuk membeli separuh dari resep yang sudah di berikan oleh dokter, karena itu menyalahi aturan,'' kata sang apoteker yang bertugas jaga di sana.


''Tapi uang saya hanya 600 ribu Mbak, sedangkan harga obat semua nya, satu juta lebih, apa tidak bisa di beri keringanan dulu, nanti saya akan tebus lagi setelah saya mendapatkan uang nya kembali.'' mohon nya. Devano merasa tersentak dengan celengan kepala sang apoteker, dia juga tidak bisa membantu nya.


''Tolong ambilkan obat bapak ini, biar aku yang bayar tagihan nya,'' sahut Devano datar.


''Baik Tuan,' jawab sang apoteker dengan mengambil obat nya kembali.


''Tidak usah Tuan, saya tidak memiliki cukup uang untuk sekedar mengganti uang Tuan, biarlah nanti saja saya kembali lagi untuk menebus obat anak saya,'' sang Bapak berbalik dan ingin meninggalkan apotik.


''Tunggu Pak, Bapak tidak usah mengganti uang saya, Bapak cukup do'a kan keluarga kecil kami, dan di beri kelancaran rezeki, dan juga agar kedua anak anak kamu menjadi anak anak yang soleh sholehah,'' ucap Devano menghentikan langkah si Bapak.


''Tapi Tuan,''


''Saya tidak butuh uang Bapak, yang saya butuhkan hanya do'a saja,'' putus nya dengan menepuk punggung sang Bapak.


Mahalini yang melihat kebaikan suami nya dari jauh, hanya bisa tersenyum dan terus berdo'a di dalam hatinya, agar suaminya terus bersikap seperti itu untuk selama nya.

__ADS_1


''Maaf Bapak? Bapak menebus obat buat siapa,'' kini giliran Mahalini yang bertanya kepada sang bapaky, yang berjalan di samping nya.


''Anak saya neng, Bapak juga sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang baik seperti Mas itu, tadinya Bapak sudah putus asa dengan tidak membelikan obat untuk anak saya di rumah,'' cerita nya.


''Alhamdulillah ya Pak, kalau boleh tau anak bapaky sakit apa?'' tanya Mahalini lagi.


''Sebenarnya sudah tidak ada harapan lagi untuk anak saya neng, dia menderita gagal jantung dan juga ginjal nya bermasalah, setiap bulan nya harus selalu menebus obat nya, hanya demi kesembuhan nya saja.'' Mahalini menitikkan air mata.


'Ya Allah, sehatkan bapaky ini dalam merawat anak nya yang sedang menderita sakit, dan cukupkan rezeki nya? untuk sekedar beliau makan dan menebus obat anak nya,' gumam Mahalini di dalam hatinya, dia sudah tidak kuat menahan tangis nya, mendengar cerita seorang Bapak yang berjuang untuk kesembuhan anak nya.


''Ada apa sayang?'' tanya Devano ketika sudah hampir sampai ke tempat istrinya.


Devano juga menatap Bapak Bapak yang tadi ia tolong. Mahalini menarik lengan suaminya, agar Devano bisa mensejajarkan tubuh nya dengan nya.


''Mas Vano bawa uang cash nggak,'' bisik nya.


''Bawa,'' jawab nya singkat.


''Lini pinjam dulu ya,'' Mahalini pun menengadahkan tangan nya, agar sang suami memberikan dompet yang sekarang sedang niat pegang, Mahalini lupa tidak membawa tas, karena dia tidak bisa berjalan jalan, jadi dia hanya mengikuti sang suami saja.


Devano mengeluarkan semua uang nya yang berjumlah 5 juta, Mahalini tersenyum ketika menerima uang dari tangan suami nya.


Dengan segera Mahalini mengambil tangan si Bapak, dan memberikan semua uang yang ia pegang, terkejut lah si Bapak dan menolak terus pemberian Mahalini.


''Ambillah Pak, ini rezeki anak bapaky, semoga dengan uang ini bisa mengurangi beban Bapak dan keluarga ya,'' Mahalini kekeh dengan menggenggam erat tangan laki-laki paruh baya yang seumuran dengan Papa Setiawan.


''Terimalah Pak, ini istriku? kemarin dia baru melakukan operasi cesar, uy menyelamatkan anak anak kami,'' sambung Devano.


''Astagfirullah, semoga lekas sembuh ya neng, maafkan Bapak sebelum nya,'' humam nya yang merasa bersalah, karena sudah tarik menarik barusan.


''Tidak apa apa, sekarang Bapak kembali ke rumah, mungkin anak Bapak sudah menunggu Bapak di rumah,'' kata Mahalini mengulas senyum.


''Iya neng, sekali lagi terima kasih, semoga semua kebaikan dan amalan baik nya di terima oleh Allah SWT,'' ucap nya dengan mengelus puncak kepala Mahalini, Devano hanya melihat sang Bapay yang tengah mengelus puncak kepada sang istri, biasa nya Devano bersikap arogan ketika ada seseorang yang tidak ia kenal memegang istri nya, tapi tidak dengan sekarang, dia mengizinkan Bapak di depan mengelus dan meniup ubun ubun Mahalini, dan setelah nya sang Bapak pun berpamitan pergi kepada Devano dan juga Mahalini.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.

__ADS_1


__ADS_2