
Keluarga Mahalini kini sudah berkumpul di rumah sakit, karena Mahalini sudah di pindahkan ke ruangan rawat, setelah sehari semalam menginap di ruangan ICU.
Almira datang bersama Hanafi dan juga Farel ke rumah sakit xxx. Papa Setiawan juga juga sudah di beritahu oleh Farel kalau kakak nya sudah melahirkan kemarin.
''Ponakan aunty tampan sekali ya, nggak nyangkabisa setampan ini sich dek,'' kata Almira menatap sang adek yang masih terbaring lemah di brankar rumah sakit.
''Iyalah kak, nggak usah di tanya lagi kalau soal ketampanan ponakan kita ini, bibit nya saja sudah tergolong unggulan,'' celetuk Farel yang juga sedang menatap kedua ponakan nya.
''Oia kak, nama kedua nya siapa,'' tanya Farel yang baru ingat dengan nama kedua ponakan nya yang baru kemarin lahiran.
''Enahlah, kakak masih tidak kepikiran tentang nama mereka berdua, apa kalian berdua punya nama yang bagus buat kedua nya,'' tanya Mahalini kepada adek dan juga kakak nya.
''Mama dan Mami sudah menyiapkan nama buat mereka berdua, tapi nanti nunggu mereka tujuh hari, baru akan dikasih tau,'' sambung Devano yang sudah menerima pesam dari Mama dan juga Mami nya.
''Och, maaf Lini tidak tau soal itu,'' jawab nya dengan mengulas senyum nya.
''Nggak apa apa, adek kan juga bru sadar jadi tidak tau kalau mereka sudah memiliki nama masing masing,'' kata Amira dengan bijak.
Farel juga terkesima mendengar ucapan dari sang kakak yang sudah banyak berubah dari sebelum nya.
''Kakak kapan di halalin sama Kak Hanafi,'' tanya Mahalini dengan menatap kedua nya.
''Ya itu masaah nya, semua dokume yang aku butuhkan masih di sita oleh Mama, entah kenapa Mama suka sekali membuat masalah baru dengan ku dek, aku juga mau secepatnya di halalin. Tapi ya tterkendala dengan semua dokumen yang merujuk ke pernikahan yang di sembunyikan oleh Mama, sedangkan aku juga tidak bisa berbuat apa apa saat ini,'' cerita nya.
''Kenapa bisadi persulit seperti itu sich, kan niat kalian berdua baik, ingin melakukan sunnah rosul, yaitu dengan menikah, sebelum melakukan perzinaahan, iya kan,'' sahut Devano yang baru mendengar berita seperti itu.
''Mama mau menjodohkan aku dengan putra teman sosialitanya yang lebih kaya dari Mas Hanafi, makanya Mama memilih menyembunyikan semua dokumen ku di rumah,''
''Kamu serius ingin menikah dengan Hanafi,'' tanya Devano memastikan kakak iparnya.
__ADS_1
''Serius lah dek, aku tidak ingin main main lagi, aku mau serius dengan hubungan ini, umur sudah segini masih mau nyari yang seperti apalagi coba,'' jawab nya dengan sangat yakin.
''Ternyata kakak ku banyak perubahn saat ini ya, aku salut dengan kegigihan kak Hanafi yang mau merubah kakak ku menjadi wanita yang muslimah, dan aku juga kagum dengan penampilan kak Mira sekarang, semoga selalu istiqomah ya kak,'' kata Mahalini yang semakin takjub dengan kakak nya.
''Amiin, do'akan yang tebaik saja ya dek, sekalian aku minta do'a restu agar sselalu di mudahkan dengan niat tulusku ini,'' gumam nya dengan menaruh si kembar ke box bayinya.
Semua orang menjawab dengan kata amiin, dan juga mendo'akan keduanya, agar di mudahkan jalan nya oleh Allah SWT.
''Kalau kalian benar benar serius dengan hubungan ini, aku bisa saja membantu kalian berdua,'' putus Devano.
''Beneran kamu mau bantuin aku mengurus surat surat itu, apa aku tidak salah dengar, dan bagaimana kalau Mama tidak boelehin aku untuk pulang ke rumah kontrakan lgi,'' tutur nya yang masih ragu untuk pulang ke rumah nya.
''Kenapa harus ke rumah Mma kamu segala, sedangkan aku bisa mengurus semua surat surat nya langsung dari kantor nya, jadi mau ngaoain capek capek berurusan dengan Mama kamu sich,'' tukas nya dengan mengerutkan kening nya.
''Iya juga sich, kenapa aku tidak kepikiran kesitu kemarin ya,'' papar nya yang baru ingat dengan datang langsung ke kantor nya, pasti akan di permudah dari pada harus berurusan dengan Mama nya.
''Bagaimana? Mau nggak,'' tanya nya satu kali lagi, untuk meyakinkan mereka berdua.
Perhatian dan juga selalu mencintai dan juga menyayanginya untuk jangka waktu yang sangat lama, mungkin hanya ajal yang bisa melakukan nya.
Figur laki laki tampan hanya untuk gengsi dan memamerkan kepada teman teman nya dan sanak saudaranya saja, sedangkan di belakang mereka semua, pasangan tersebut hanya akan seperti seekor kucing yang selalu mengaong.
Kembali ke cerita.
''Baiklah kalau kalian berdua sudah sangat serius dengan hubungan kalian, aku akan minta tolong untuk mengurus semua surat surat nya, tenang saja surat surat nya pasti asli kok bukan bajakan,'' celetuk Devano yang langsung meledak tawa mereka, sehingga membuat kedua bayi yang sedang asik memejamkan matanya pun di buat terkejut oleh semua orang orang deasa di depan nya.
''Kan, kalian kenceng banget tertawa nya,'' tegur Mahalini yang masih belum bisa ngapa ngapain, karena goresan operasi nya masih basah, sehingga rasa nyeri itu menjalar ke seluruh tubuh nya.
''Kamu mau ngapain sich sayang? Kan di sini masih ada kami yang akan membant kamu merawat bayi kita, kalau mereka tidak mau bantu kita, ya? Sangat terpaksa aku membatalkan bantuan yang tadi aku tawarkan sebelum nya,'' tukas nya dengan melirik ke arah Almira dan juga Hanafi yang masih berdiam di dekat box bayinya.
__ADS_1
''Kayak nya kamu tidak ikhlas membantu kami berdua, kami akan bantu rawat si kembar? Tapi tolong lah jangan seperti itu,'' sahut Almira pasrah.
''Apa sich kak, Mas Vano hanya bohongin kamu saja, dia benar benar tulus akan membantu kamu dan kak Hanafi, Papa juga sudah setuju dengan rencana kalian kok,'' sambung Mahalini yang kini sudah menggendong bayi perempuan nya.
''Kan Papa bukan mata duitan, berbeda dengan Mama yang selalu memikirkan uang uang dan uang,'' sahut Almira yang sudah jenggah menengar Mama nya yang selalu di sebut di dalam obrolan nya, padahal Almira sangat males bahas nya.
''Sudahlah jangan bahas dia lagi, biarlah dia denga pemikiran nya dan juga dengan money nya, aku hanya akan memikirkan kebahagia'an ku dan juga Papa saja,'' tambah nya dengan sangat yakin.
''Ternyata aku sudah tidak di anggap lagi kak Lini, mentang mentang sudah mendapatkan laki laki baik seperti Kak Hanafi, adek nya tidak di akui lagi,'' balas Farel dengan pura pura sedih.
''Kalau kamu tidak di anggap adek oleh kak Mira, aku masih sanggup kok dek menampung kamu di rumah,'' sabung Mahalini yang langsung mendapatkan taapan tajam dari sang kakak.
''Piis, bercanda doang kok.'' ujar Mahalini dengan jari dua nya membentuk huruf v.
''Ponakan aunty tidak boleh seperti Bundanya ya, dia sangat nyebelin jadi orang,'' ucap Almira kepada kedua ponakan nya.
Ketika sedang asik dengan obrolan nya, pintu di ketuk dari luar, dan nampaklah sang Mami yang baru datang bersama sengan Papi Sagara.
''Kalian jugaada di sini toh,'' tanya Mami Amora dengan menghampiri Almira, Hanafi dan juga Farel. Mereka bertiga bergantian mencium ounggung tangan Mami Amora, dan yang terakhir Devano yang meraih tangan sang Mami mertuanya.
''Kenapa kamu tidak ikut gabung dengan yang lain nya nak?'' tanya Mami Amora.
''Tadi Bunda anak anak mau bangun dari baring nya Mi, jadi aku cegah dan menjaga dia di sini saja, takut nya dia malah bngun sembarangan lagi seperti barusan,'' adu Devano, Mahalini hnya mendengus kesal dengan aduan suaminya.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.