Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 99.


__ADS_3

Mahalini, Mama Clara dan juga Mami Amora sudah sampai di Yayasan Bunda Kinan, semua anak anak pada berkumpul di depan mobil Mama Clara dan juga Mami Amora.


''Anak-anak, tolong bantu masukin ke dalam ya,'' seru Mami Amora yang sudah sedikit mengenal anak anak, karena Mami Amora lebih sering datang ke tempat ini, ketimbang Mahalini dan juga Mama Clara.


Semua anak anak yangada di yayasan pada membantu mengeluarkan semua barang yang ia bawa ke yayasan Bunda Kinan.


''Nyonya bawa apa, kok banyak banget,'' tanya Bunda Kinanti yang baru keluar dari dalam rumah nya.


Ketika Mahalini dan keluarga nya datang, Bunda Kinanti sedang melakukan sholat dhuha, jadi yang mewakili Bunda Kinanti adalah para anak anak yang kebetulan sedang libur sekolah nya.


''Cuma makanan dan beberapa camilan saja kok Bunda, tadi nya mau sekalian beliin buat si baby, tapi takut salah beli,'' sahut Mahalini yang kini tengah mencium punggung tangan Bunda Kinanti.


''Tidak usah sayang, kemarin Mami kamu sudah beliin syok buat si kecil, ayo masuk? masak iya mau ngobrol berdiri di sini sich,'' jawab nya dengan menggandeng tangan Mahalini dengan sangat erat, takut nya Mahalini malah terjatuh karena di depan yayasan jalan nya bebatuan.


''Bunda, boleh tanya tak?'' tanya Mahalini ketika sudah sampai di teras rumah Bunda Kinanti.


Bunda Kinanti mengangguk pelan seraya membawa ketiga nya menuju ruang tengah, agar lebih enak dalam mengobrol nya.


''Kenapa di depan harus ada bebatuan sich Bunda, bagaimana kalau adek adek main nya kedepan, terus jatuh pasti lukanya akan parah,''


Bunda Kinanti terkekeh mendengar pertanya'an dari Mahalini. ''Tidak kok kak Lini, mereka semua tidak pernah main ke depan rumah Bunda, di samping tempat main mereka sangat luas, jadi mereka semua tidak main di depan,'' jawab nya dengan menggeleng pelan.

__ADS_1


Bunda Kinanti tau kalau Mahalini sangat khawatir kepada semua anak anak yang ada di yayasan Bunda Kinanti, meskipun Mahalini baru satu kali bertemu dengan mereka semua, tapi Bunda Kinanti melihat mata Mahalini yang begitu tulus kepada mereka semua nya.


''Bagaimana, kalau depan rumah Bunda Kinanti di plester saja, batu batu itu di buang saja,'' cetus nya.


''Tidak usah, kalian semua sudah sangat membantu kita semua selama ini. Jadi Bunda merasa tidak enak sama nyonya Clara dan juga Nyonya Amora,'' balas nya yang mencegah Mahalini.


Lama mereka mengobrol dengan Bunda Kinanti di ruang keluarga, Mahalini sendiri sudah pergi ke rumah sebelah, di mana di sana adek adek pada tinggal di dalam nya, Mahalini sangat terharu dengan semua adek adek di dalam nya, mereka tak menampakkan kesedihan nya, mereka semua hanya merasakan kebahagiaan yang di berikan oleh Bunda Kinanti selama ini.


''Kak Lini beneran datang?'' seru salah satu anak kecil yang berlari menuju Mahalini.


''Iya dong sayang, kakak kan sudsh janji akan datang, jadi kakak harus nepati janji dong,'' jawab nya dengan memeluk anak kecil tersebut.


Mahalini mengambil tangan gadis kecil di depan nya, lalu di arah kan ke perut yang sudah membuncit, ''Bagaimana,'' tanya Mahalini kepada sang gadis.


''Kok adek bayinya tidak bergerak sich kak, biasanya kan bergerak di dalam perutnya,'' tanya dengan mendongakkan kepala nya.


''Setelah ini pasti bergerak juga kok, lagian kamu masih kecil kok sudah tau kalau adek ndi dalam perut bisa bergerak,'' tanya Mahalini setengah menyelidiki.


''Perut Ibu pengasuh dulu seperti itu kak, waktu aku pegang adek bayinya bergerak di dalam sini,'' jawab nya dengan polos.


''Pintar banget sich kamu sayang, apa kamu sudah sekolah sekarang,''

__ADS_1


''Sudah, tapi hanya Ibu pengasuh saja yang mengajari aku di dalam yayasan ini, sedangkan yang lain nya sekolah nya di luar yayasan,'' balas nya dengan menundukkan kepala nya.


Mahalini mengalihkan pandangan nya, kepada sang pengasuh, yang saat ini berada di samping nya.


''Dia tidak boleh kelelahan Non, kalau dia kelelahan penyakit nya akan kambuh,'' jawab nya, menatap wajah gadis kecil yang ada di depan nya.


''Memang nya dia sakit apa Bu,'' tanya Mahalini penasaran.


''Sejak kecil dia sudah menderita gagal jantung, entah kenapa orang tuanya rela menaruhnya di sini,'' jawab nya dengan nada lirih.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.

__ADS_1


__ADS_2