Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 24. Bertemu dengan Almira


__ADS_3

Devano memejamkan matanya sejenak lalu mengangguk pelan. Mahalini beranjak dan melangkah pergi menuju pantry untuk membuatkan coklat panas pesanan sang bos.


''Buat siapa coklat panas itu Lini,'' tanya Clarencia ketika Mahalini tengah membuat coklat panas di pantry.


''Tuan Devano kak, sengaja aku bikinin coklat panas saja karena beliau kan belum sarapan,'' jawab Mahalini yang kini mengambil nampan, dan mengeluarkan kue dari dalam tas nya.


''Kak, ini kue kalau mau ambil saja di dalam tas Lini,'' ucapnya kepada Clarencia yang masih membersihkan jendela kantor.


''Iya, ech itu buat Tuan Devan, kenapa malah di bawa sekarang sich? kan belum datang,'' serunya ketika Mahalini sudah lumayan jauh dari tempat ia berdiri.


''Tuan Devan tidak pulang kak, dia tidur di kantor. Tadi aku tak sengaja membuat dia bangun, dan untungnya dia tidak marah,'' adu Mahalini membuat Clarencia membulat kan matanya.


''Yang benar saja kamu?'' pekiknya membuat Mahalini meringis karena gendang telinganya yang berdenging.


Mahalini berjalan menuju ruangan bos nya, Mahalini takut sang bos marah karena terlalu lama menunggu coklat panas nya.


'Aku harus berbuat apa ya nanti, kalau beneran bertemu dengan kakeknya Tuan Devano,' batinnya sembari terus mengayunkan kakinya menuju ruangan sang bos.


Tok tok tok


''Masuk saja Lini?'' Ujar Devano dari dalam.


Mahalini memegang knop pintu dan tiba tiba ada seorang wanita yang langsung menerobos masuk ke dalam, setelah Mahalini berhasil membuka pintu ruangan CEO nya.


'Untung saja tidak tumpah,' batin Mahalini yang masih memegangi nampan yang berisi kue dan juga coklat panas nya.


''Maaf tuan Devano,'' Ucap wanita tadi ketika Devano melitot ke arah nya, ''Tapi saya benar-benar cinta sama kamu,'' Ucap wanita itu lagi yang sangat berani mengatakan cinta kepada CEO tampan dan juga dingin itu.

__ADS_1


''Maaf, tapi tidak cinta sama kamu! mending kamu keluar dari sini, sebelum aku memanggil satpam untuk mengusir kamu dari ruangan ini!!'' usir Devano dengan menunjuk pintu ruangan nya, dan melihat Mahalini yang masih berdiri di sana.


''Pergi!!'' teriak Devano lagi dengan marah. ''Lini kemarilah, kenapa kamu sangat lama cuma bikin coklat panas saja,'' seru Devano.


Wanita yang masih ada di depan nya menoleh ke arah Mahalini dan mulai meremehkan dia, ''Kamu itu hanya OB jadi kerja yang benar!'' ketus nya dengan melangkah keluar dari ruangan Devano, orang yang begitu ia cintai.


Mahalini melangkah dengan pelan ke arah Devano yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan nya. ''Maaf Tuan, lama,'' kata Mahalini dengan suara yang begitu lembut saat di dengar oleh Devano.


''Duduklah, temani aku sejenk di sini. Sebelum aku pergi meeting,'' titahnya, yang membuat Mahalini hanya menurut perintah dari sang Tuan.


''Kue ini?'' tanya Devano yang menggantungkan pertanya'an di saat sudah menggigit sebagian kue yang di bawa Mahalini.


''Maaf Tuan, apa... kuenya tidak enak?'' tanya Mahalini yang kini sudah menatap Devano.


''Bukannya tidak enak, tapi ini enak sekali? kamu beli di mana kue seperti ini,'' tanya Devano yang sudah menghabiskan satu potong kue buatan Mahalini.


''Ini buatan saya sendiri Tuan?'' jawab nya dengan menundukkan kepalanya.


''Kalau misalkan Tuan suka, nanti Lini bikinin lagi? atau buat di bawa ke rumah kakek anda saja, bagaimana,'' Mahalini mencoba memberi ide kepada Devano, sedangkan dia sendiri tidak yakin kalau kakek Devano akan menyukai kue buatan dia.


''Ide bagus,'' sambung Devano yang terus terusan menggigit kue buatan Mahalini.


''Kalau githu saya permisi dulu Tuan, saya juga harus menyelesaikan tugas saya sebagai OB di sini,'' pamit Mahalini yang hanya di angguki saja oleh Devano, Devano sedang sibuk dengan kue di hadapan nya.


Setelah seharian sibuk dengan semua pekerja'an nya Mahalini memilih pulang dari perusaha'an tempat dia bekerja dengan menggunakan motor metik kesayangan nya, namun di pertengahan jalan Mahalini malah bertemu dengan Almira dan juga Agnes Mama angkat nya.


Mereka berdua mencegat motor Mahalini dengan menghadang dengan mobilnya. Mahalini yang melihat tingkah mobil di hadapan nya segera menghentikan laju motornya, dan mematikan mesin motor nya, karena Mahalini sudah melihat wanita yang ada di dalam mobil di depan nya.

__ADS_1


'Kenapa mereka mencegat aku kayak gini sich, mana sekarang aku harus buru buru ke kampus lagi,' gerutu Mahalini ketika melihat Mama angkat nya sudah melipat kedua tangan di dadanya.


''Apa kabar kamu anak pungut? kirain kamu sudah meninggal, ternyata masih berkeliaran di sini juga,'' ujar Mama Agnes dengan angkuh.


Mahalini hanya mendengarkan ocehan dari Mama angkat nya tanpa mau membalas ejekan serta hina'an kepada nya.


''Sudahlah Mah, anak sampah seperti itu jangan di kasih ampun lagi, kasih dia pelajaran biar dia sedikit jera dengan tingkahnya yang sok itu,'' seru Almira yang mengompori sang Mama, agar dia bisa melihat adegan yang sudah sangat lama dia tidak lihat lagi setelah kepergian Mahalini dari rumah nya.


Kini Almira maju dengan angkuh, dan dia langsung menampar pipi Mahalini begitu saja, Mahalini yang menday serangan tiba-tiba tidak bisa menghindar dari tangan Almira kakak angkat nya.


''Kenapa kalian masih mengganggu Lini,'' gumam Mahalini dengan memegang pipi yang di tampar oleh Almira.


''Kamu harus menderita Lini, kamu nggak pantas hidup bahagia setelah pergi dari rumahku,'' Ucap Mama Agnes dengan sangat lantang, sehingga membuat beberapa pengendara melirik ke arah mereka bertiga.


''Apa salah Lini Ma, Lini juga sudah pergi dari rumah itu, dan Lini juga tidak pernh minta uang Papa lagi, apalagi yang Mama inginkan dari Lini,'' jawab Mahalini yang kini sudah meneteskan airmata nya.


''Karena kamu sudah merebut Devano dariku Lini, ingat! Devano hanya akan menjadi milik Almira!'' sahut Almira yang kini malah menarik rambut panjang Mahalini.


Mama Agnes dan juga Almira tidak merasa malu dengan perlakuan mereka di pinggir jalan, yang sedang menjadi tontonan pengendara mobil yang berseliweran lewat jalan tersebut.


Dengan angkuh Almira membawa Mahalini ke bawah pohon dengan di bantu Mama Agnes, kedua wanita itu mulai menyiksa Mahalini lebih kejam dari sebelumnya, sehingga di rasa puas! baru mereka pergi meninggalkan Mahalini yang sudah babak belur gara-gara di siksa habis habisan.


''Apa kamu puas sekarang?'' tanya Mama Agnes dengan menepuk kedua tangan nya, lalu mereka masuk ke dalam mobil dan pergi menit Mahalini yang terkapar di bawah pohon.


Mahalini tidak bisa berbuat apa apa sekarang, dia hanya bisa berdo'a sekarang agar dirinya bisa di temukan oleh orang yang mau membantu nya.


Maaf kak baru update sekarang, kemarin sibuk karena mbah buyut meninggal 🙏🙏.

__ADS_1


Terimakasih yang sudah mampir dan selalu dukung karya almahyra, jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak.


Makasih 🙏🙏🙏


__ADS_2