
''Bos, saat nya meeting,'' ujar Riki yang masih berdiri di akbang pintu dan tidak masuk ke dalam ruangan sang bos.
Devano hanya mengangguk dan memijit pangkal dahinya, karena kopi yang ia pesan belum juga datang.
Devano beranjak dari tempat duduk nya dan berjalan ke arah Riki yang sedang menunggu nya. ''Lemes banget Bos, kejar target ya? sampe lemes seperti itu,'' seru Riki dengan menggoda sang Bos, Devano yidak menjawab ucapan yang di lontarkan oleh sang asisten.
Devano berjalan menuju ruangan yang di buat acara meeting dengan beberapa klien untuk membahas kerja sama antara perusaha'an nya.
Di sisi lain kopi buatan Mahalini untuk sang Bos sudah selesai di bikin dan tinggal di antarkan saja ke ruangan nya.
''Lini, buat siapa kopi susu itu?'' tanya Clarencia penasaran.
''Ini buat CEO kita Mbak, kopi dengan susu full cream buatan Mahalini,'' sahut nya dengan menyunggingkan senyuman nya.
''Bukan nya Bos minta kopi hitam ya, kenapa kamu malah bikinin kopi seperti ini sich, dan lagi? kenapa ada cemilan nya juga,'' Clarencia yang kelewat penasaran terus bertanya kepada Mahalini.
''Kalau Bos marah tanggung sendiri ya, aku nggak mau ikut ikutan,'' seru Clarencia sedikit berteriak, karena Mahalini sudah melangkahkan kakinya menuju ruangan suami sekaligus CEO tempat ia bekerja.
Mahalini hanya mengangkat tangan nya dan menbulatkan jari telunjuk dan juga jempol nya, menandakan sebagai jawaban yang di tunggu oleh Clarencia.
'Aku juga harus menjaga suamiku mulai saat ini, meski bukan istri yang sesungguhnya, tapi aku harus menjaga kesehatan nya juga kan?'' gumam nya dan terus melangkah ke ruangan Devano. Mahalini mencoba mengetuk pintu ruangan sang Bos, tapi tidak ada sahutan sama sekali dari dalam membuat Mahalini dengan berani masuk ke dalam, untuk menaruh secangkir kopi dan juga camilan di meja kerja sang Bos
''Mungkin dia sudah pergi meeting, aku bakalan kena omel nanti?'' keluh nya, karena dia terlambat untuk mengantar kopi big bos nya.
Di sisi lain Devano sudah sampai di ruangan meeting, dan di sambut dengan ramah oleh 6 orang yang sudah menunggu nya.
''Pagi Tuan Devano,'' sapa semua klien hampir bersama'an.
Devano hanya mengangguk dan berbisik ke arah asisten nya.
''Riki, bilang sama OB suruh bikinin kopi dan bawa ke ruangan ini,'' perintah Devano kepada sang asisten.
''Baik Tuan,'' jawab Riki dan mulai menghubungi telfon yang ada di pantry.
-''Lini, tolong bikinin kopi untuk 8 orang, dan jangan lupa bawakan snack juga,'' perintah Riki kepada orang di seberang telfon.
-''Maaf Pak Riki, Mahalini mengantarkan kopi ke ruangan Bos, nanti aku bilang sama dia,'' jawab Clarencia, ya, yang menerima telfon tersebut adalah teman kerja Mahalini. ''Apa saya saja yang bikinin Tuan,'' kata Clarencia lagi menawarkan diri.
-''Jangan, tunggu Mahalini saja,'' tukas nya dan segera memutuskan sambungan telfon nya.
''Huch, apa salah nya coba aku yang bikin sama Lini yang bikin sama sama kopi juga kan?'' Clarencia meng gerutu, karena dia sendiri tak terlalu pandai dalam membuat kopi yang enak seperti buatan Mahalini.
__ADS_1
''Lini, sekarang kamu bikin kopi lagi untuk 8 orang, dan jangan lupa snack nya juga. Setelah itu kamu antar ke ruangan meeting Tuan,'' Ucap Clarencia seperti yang Riki bilang sebelum nya.
''Haaa, bikin kopi lagi, kan kopi Tuan Muda masih belum di minum di ruangan nya,'' kata Mahalini dengan ragu ragu.
''Sudah, jangan banyak tanya? nanti kena skak sama Pak Riki, berabe kita,'' seru Clarencia mengingat kan Mahalini yang terus berpikir.
Mahalini tak banyak bertanya lagi, dia juga mulai meracik kopi hitam buat tujuh orang, sedangkan satunya lagi Mahalini mencampur susu full cream lagi untuk suami kontrak nya.
''Lini, kenapa nggak sama kopinya, nanti Tuan marah lagi,'' kata Clarencia kepada Mahalini.
''Tuan tidak boleh minum kopi hitam Mbak, jadi aku bikinin beliau kopi seperti ini saja, kan lebih aman buat lambung nya juga. Tapi nggak terlalu aman juga sich?'' balas Mahalini dengan santai dan mengaduk kopi kopi yang sudah ia tuang dengan air panas.
''Kalau kamu kenak marah, jangan bawa bawa aku ya,'' Clarencia mengingatkan Mahalini lagi.
''Beres Mbak,'' sahut nya dengan kekehan kecil, namun di dalam hatinya Mahalini merasakan takut juga, kalau kalau dia kena omel di ruangan dengan banyak orang di sana.
''Mbak Clarencia saja yang antar ya,'' suruh Mahalini kepada rekan nya.
''Nggak ach, aku takut kena omel di sana, kan malu banget aku pasti,''
Mahalini mengerucut kan bibir nya dan berjalan menuju ke ruangan di mana meeting sedang berlangsung. Tak lupa juga ada beberapa camilan yang di bawa Mahalini di atas nampan nya, satu camilan adalah buatan Mahalini sendiri.
''Semoga Tuan nggak ngomel ngomel karena aku bikin kopi seperti ini, semangat??'' gumam nya dengan menyemangati dirinya sendiri.
Mahalini mengetuk pintu dengan agak kesusahan, karena nampan yang ia bawa lumayan berat, di tambah badan nya belum terlalu fit hari ini.
''Masuk,'' Ucap Devano dari dalam, tapi Mahalini tidak bisa membuka pintu tersebut.
Devano yang merasa aneh langsung menatap ke arah Riki, ''Riki, tolong bukain pintunya, mungkin dia sedang kesusahan bukanya,'' titah nya dengan suara yang sangat pelan.
Riki mengangguk dan beranjak dari tempat duduk nya dan berjalan ke arah pintu, dan benar saja? Mahalini sedikit kesusahan membuka pintu ruangan dengan tangan yang memegang nampan yang juga berisi 8 cangkir dan beberapa camilan di atas nya.
''Kenapa kamu tidak minta bantuan saja sama Clarencia,'' tegur Riki ketika melihat Mahalini kesusahan.
''Tidak apa apa kok Pak Riki, tadi Mbak Clarencia pamit ke toilet, jadi aku bawa sendiri dech, hehehe,'' jawab Mahalini dengan kekehan kecil yang memperlihatkan deretan gigi putih nya.
''Ayo masuk, smua orang sudah menunggu dan acara meeting nya juga sudah berlangsung sejak tadi,'' kata Riki membuka pintu ruangan dengan lebar dan menampakkan Mahalini yang berpenampilan sederhana namun terlihat sangat cantik, di tambah dengan kunciran rambut seperti kuda menambah kesan manis pda diri Mahalini.
Klien klien Devano menatap kagum ke arah Mahalini membuat Devano kesal oleh kelakuan mereka, yang tak terlalu menampakkan, namun dengan raut wajah yang seperti itu sudah bisa membuat Devano marah dan juga kesal.
''Maaf Tuan menunggu lama,'' Ucap Mahalini dengan sopan.
__ADS_1
Mahalini menata kopi kopi di atas meja, lebih tepatnya di depan semua orang membuat Devano bertambah kesal.
''Selamat menikmati Tuan Tuan,'' Ucap Mahalini dengan sangat ramah.
''Lini, kenapa kopi ku tidak sama dengan yang lain nya,'' tegur Devano tanpa melihat ke arah Mahalini yang ada di samping nya.
''Maaf Tuan, Nyonya besar bilang Tuan Muda tidak boleh mengkonsumsi kopi hitam dulu, jadi Lini tambah sedikit susu full cream di kopi anda?'' jawab Mahalini jujur.
''Maaf Tuan, kenapa anda tidak boleh meminum kopi hitam,'' tanya salah satu klien yang berniat ingin mengejek Devano.
''Maaf Tuan, saya akan bantu jawab. Sebenarnya sich yang saya tau kopi hitam tidak baik di minum di pagi hari, dan juga tidak baik untuk kesehatan dan juga lambung kita, jadi saya mengganti kopi Tuan muda dengan kopi seperti ini, biar beliau tetap sehat dalam mengerjakan semua pekerja'an yang ada di perusaha'an ini,'' jawab Mahalini dengan panjang lebar. Membuat seseorang yang akan meledek Devano bungkam dengan sekali jawaban dari Mahalini. Dan Skak Mat buat orang julid, pikir Mahalini tersenyum dengan penuh kemenangan.
''Kamu sangat pintar dalam menjawab pertanyaan ini, misalnya kita meeting lagi di perusaha'an ini, alangkah lebih baiknya kamu bikinkan kami kopi seperti itu juga,'' seru salah satu klien yang juga bergabung di ruangan tersebut.
Dalam diam nya Devano mengulas senyum di bibir nya, 'Kamu memang sangat pandai dalam mengambil hati semua orang ini,' tukasnya di dalam hati.
''Baiklah Tuan, kalau begitu? saya akan kembali bekerja lagi,'' kata Mahalini yang langsung di angguki oleh semua klien Devano.
Sepeninggal Mahalini semua orang yang berada di ruangan meeting sedang menikmati camilan yang di bawa oleh Mahalini.
''Tuan Devano sangat hebat dalam mencari pekerjaan seperti gadis tadi, dia begitu sopan dan juga ramah. Tak lupa juga kopi buatan nya sangat nikmat,'' Ujar Tuan Kamil memuji Mahalini.
''Kue yang dia bawa juga enak, dan ini lagi? aku tidak pernah menemukan camilan seperti ini sebelum nya,'' sambung Tuan Jason menunjuk piring di depan nya.
''Maaf Tuan, kalau camilan yang di piring memang itu buatan pegawai tadi, jadi tidak di penjual belikan,'' jawab Riki, agar semua orang tidak lagi penasaran dengan kue di depan nya.
'Istri ku memang hebat, dengan sifat lemah lembut nya dan juga tangan yang ajaib bisa mengubah semuanya menjadi baik seperti sekarang ini,' batin Devano yang mengklaim Mahalini sebagai istri nya.
''Kalau seperti ini, saya bakalan sering datang ke sini untuk membahas pekerjaan, dari pada di luar kantor mending datang ke kantor ini langsung, iya kan?'' seru Tuan Jason yang di angguki oleh semua nya.
''Senang bisa bekerja sama dengan anda Tuan Devano,'' Ucap Tuan Kamil seraya mengulurkan tangan nya ke hadapan Devano.
''Saya juga senang bisa bergabung dengan anda semuanya Tuan Kamil, dan jangan kapok untuk datang ke perusaha'an ini lagi,'' balas Devano dengan berbangga hati.
Dari dulu memang perusaha'an Devano selalu jadi incaran perusaha'an perusaha'an ternama, namun tidak seperti sekarang ini yang malah semua klien nya senang dengan pertemuan nya yang di adakan di kantor nya.
''Sudah siang, kami harus kembali ke kantor lagi,'' kata Tuan Kamil.
''Iya, kita sampai lupa kalau sudah saat nya makan siang?'' jawab salah satu dari ke enam orang tersebut.
''Saking asik ngopi dan juga ngemil di sini, jadi lupa kalau sudah waktunya makan siang,'' celoteh Tuan Jason yang di benarkan oleh yang lain.
__ADS_1
Kepergian para klien Devano pergi dengan membawa berita yang menggembirakan buat perusaha'an Devano, ini semua berkat kepandaian Mahalini dan juga keramahan nya dalam menyambut tamu yang datang ke perusaha'an nya.
Terima kasih buat yang sudah mampir, dan buat para kakak yang selalu dukung karya receh Almahra juga, Terima kasih banyak 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕☺☺