Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 18. Rasa Cinta Devano


__ADS_3

Mama dan Papa Devano sedang menunggu kedatangan putera nya yang sedari tadi sudah pergi tanpa memberitahukan kemana dia akan pergi, tepat jam makan malam? Devano akhir nya sampai ke rumah besar nya, di mana di sana sudah ada sang Mama dan juga Papanya yang sudah menunggu sejak tadi di ruang tamu.


''Ternyata kamu masih ingat pulang juga?!'' tanya Mama Magdalena dengan wajah datar nya.


''Sudah lah Ma, lebih baik kita makan sekarang. Papa juga sudah sangat lapar,'' ujar Tuan Hutama mencoba menengahi antara istri dan juga putera nya, agar tidak ada pertengkaran di dalam rumah nya.


Keduanya pun mengikuti langkah Papa Hutama yang memang berjalan lebih dulu menuju meja makan, di mana di sana sudsh teehidang masakan yang menggugah selera, apalagi Devano siang tadi tidak makan siang hanya karena mengurus masalah Mahalini di perusaha'an nya.


''Pergi kemana saja kamu seharian ini,'' tanya Tuan Hutama dengan terus menyuapi makanan nya ke dalam mulut.


''Devan pergi ke rumah Mahalini Pa,'' jawab nya singkat.


''Ngapain kamu pergi ke rumah seorang gadis, jangan macam macam kamu ya sama anak gadis orang!'' seru Mama Magdalena yang takut putera nya malah melakukan hal tidak senonoh dengan wanita.


''Siapa yang macam macam Ma, Devan hanya mengobrol saja dengan Mahalini, di sana juga ada Bi Ijah kok,'' jawab Devano yang tak terima di tuduh yang macam macam oleh Mama nya.


''Bi-bibi Ijah?'' seru Mama Magdalena terkejut mendengar nama itu lagi, setelah sekian tahun dia tidak mendengar, namun sekarang Mama Magdalena bisa mendengar nama Bi Ijah.


''Bi Ijah sekarang tinggal bersama Mahalini di rumah yang sangat sederhana, Pak Setiawan meminta Bi Ijah untuk menjaga Mahalini dirumah itu,'' Devano menjelaskan kepada sang Mama yang masih tidak terlalu percaya dengan ucapan putera nya.


''Mama masih tidak percaya kalau Mahalini tinggal bersama dengan Bi Ijah,'' Ucap nya tegas dan berlalu begitu saja, setelah menyelesaikan makan malam nya.

__ADS_1


''Ya sudah kalau tidak percaya, Devano mah bodo amat!'' balas nya yang masih menyantap makanan di platas piring nya, karena masih tersisa setengah.


''Setelah ini kamu temui Papa di ruangan kerja Papa,'' titah nya seraya beranjak dari tempat nya dan melangkah pergi menuju tempat kerja nya yang ada di lantai satu.


Devano yang mendengar titah sang Papa hanya bisa menarik nafas panjang, dan menghembuskan secara perlahan. 'Apa sich yang mau di bahas, aku juga sudah ngantuk belum lagi selesai makan malah di perintah seperti memerintah anak buah nya saja,' gumam Devano di sela sela makan nya.


Tok tok tok


''Masuk,'' jawab Tuan Hutama dari dalam.


Ya, Devano mempercepat makan nya agar sang Papa tidak terlalu lama kalau kemungkinan Papa nya akan berceramah, karena masalah tadi siang yang di tinggal begitu saja acara penyambutan nya.


''Papa ingin kamu jujur sama Papa sekarang, ada hubungan apa kamu sama Mahalini,'' jawab Tuan Hutama yang langsung dengan inti pertanya'an nya.


''Aku sama Mahalini tidak ada hubungan apa apa untuk saat ini, tapi mungkin besok atau lusa aku bisa jatuh cinta dengan gadis cantik yang menurut aku hampir sempurna itu,'' balas Devano dengan menyilangkan tangan di dada nya.


''Dari segi apa kamu melihat kalau Mahalini adalah gadis yang hampir sempurna, seperti yang katakan tadi,'' Tuan Hutama mencecar sang putera agar dia bisa tau kalau putera benar-benar cinta dan sayang dengan satu wanita.


''Sejak Devano melihat dia di kampus untuk pertama kalinya, dan di kantor juga, setelah itu tadi siang Devano datang ke rumah nya, Mahalini sedang mengaji di dalam kamar nya dengan suara yang begitu merdu, sampai sampai bulu kuduk Vano merinding,'' cerita Devano kepada sang Papa, entah Papa nya suka atau nggak itu urusan dia, dan Devano tidak mau ambil pusing untuk memikirkan nya.


''Apa kamu sungguh sungguh dengan Mahalini Van?'' Tuan Hutama bertanya sekali lagi kepada putera nya.

__ADS_1


''Beri Vano waktu untuk meyakinkan diri Vano Pa, dengan begitu Vano tidak akan menyesal di kemudian hari setelah menikah nanti,'' jawab Devano yang di angguki oleh Tuan Hutama.


Tuan Hutama juga sebenarnya sudah suka dengan Mahalini, dengan sikap lemah lembut nya dan dia juga pekerja keras, itu semua yang di suka oleh Tuan Hutama kepada Mahalini. Tuan Hutama sendiri tidak mau mengekang putera nya agar dia mencari wanita yang sederajat dengan dia, karena cinta tidaklah memandang harta, tahta dan dunia.


''Baiklah, pikirkan dengan baik baik keputusan yang akan kamu ambil. Papa dan Mama tidak akan pilih pilih soal pasangan kamu kelak, asal dia bisa menghormati Mama dan juga Papa. Terlebih lagi dia bisa di ajak hidup susah bareng ketika di perusaha'an terjadi kesulitan, dan bukan meninggalkan kamu sendiri di saat di landa kesulitan,'' pesan Tuan Hutama kepada Devano yang segera di benarkan oleh Devano sendiri.


''Insya Allah Pa, do'akan saja yang terbaik untuk kedepan nya,'' gumam Devano dengan mengulas senyum kepada Papa nya.


'Entah apa benar aku mencintaimu atau hanya merasa kasihan saja, aku belum bisa mengambil kesimpulan sekarang Lini, tapi aku yakin kalau aku akan segera memilikimu untuk selama lamanya, biarlah Tuhan yang menyatukan kita nanti,' gumam Devano di dalam hatinya.


''Sekarang kamu tidur lah, besok masih ada banyak pekerja'an yang harus kamu selesaikan selain menyelesaikan urusan Mahalini,'' kata Tuan Hutama setengah menyindir putera nya. Tuan Hutama tau betul saat ini putera nya sedang memikirkan wanita yang bernama Mahalini itu.


''Papa apa apaan sich, Devano balik ke kamar dulu,'' pamit nya dan segera pergi dari hadapan Papa nya agar dia tidak lagi di ejek oleh Tuan Hutama.


Keluarga Tuan Hutama tidak pernah memandang status seseorang dengan segi penampilan dan juga kekaya'an nya. Tapi Tuan Hutama lebih menikah dari segi attitued dan juga adab nya kepada orang yang lebih tua dari nya.


Tuan Hutama yang lelah segera menghampiri sang istri yang belum tidur di dalam kamar nya.


''Mama belum tidur?'' tanya Tuan Hutama yang sudah mulai mengganti bajunya dengan piyama yang sudah di siapkan oleh nyonya Magdalena.


''Belum Pa, Mama masih mikirin perkata'an Devano tadi, yang mengatakan kalau Bi Ijah tinggal dengan Mahalini, kenapa dia tidak kembali kepada keluarga kita saja Pa. Mama menunggu Bi Ijah sudah sangat lama, tapi dia malah bekerja di tempat lain,'' jawab nya dengan nada sedih.

__ADS_1


__ADS_2