
Mahalini menyuruh para tamu nya meminum air yang sudah terhidang di meja nya, tak lupa juga ada camilan dan juga beberapa camilan yang memang di minta oleh Mahalini tadi, kepada pegawai di rumah catering nya.
''Sudah berapa bulan Lini,'' tanya Almira memberanikan diri, untuk bertanya perihal kehamilan nya.
''Empat bulan kak, oiya? di cicilan dong kue nya, mungkin lain waktu minat untuk acara nikahan kalian berdua,'' sambung Mahalini, yang mana membuat Hanafi dan juga Almira saling bertukar pandang.
''Jangan aneh aneh dech Lini, kakak masih mau terus belajar dan juga bekerja setelah nya nanti, masak iya kakak terus terusan bergantung sama Papa sich,'' jawab nya dengan menyikut lengan Mahalini.
Mahalini hanya terkekeh mendengar nya, ''Ya di aminin dong, masak iya jawab nya gitu sich,'' lagi lagi Mahalini menggoda sangat kakak yang sudah bersemu merah, bahkan mukanya saat ini seperti udang rebus.
''Kak Hanafi baik kok kak, nanti malah di embat wanita lain lho,'' cetus nya membuat Almira lagi lagi menyikut lengan Mahalini, sang adek angkat.
''Sudah ach, aku tidak ingin membahas soal itu sekarang, kan kak Hanafi sudah bilang tadi, kalau sudah jodoh pasti tidak akan kemana,'' sahut nya dengan tanpa sadar, kalau ternyata Almira juga sudah menaruh hati kepada Hanafi.
''Cieh bilang saja kakak juga suka dengan kak Hanafi, tapi malu buat ngungkapin nya,'' Mahalini meledek sang kakak, sedangkan Hanafi hanya tersenyum bahagia mendengar ucapan dari Mahalini yang kini sedang menggoda sang Kakak.
Almira menyuapkan kue nya ke dalam mulut, tanpa mau menjawab celetukan dari Mahalini, di mana dirinya saat ini sudah sangat malu kepada Hanafi, yang hanya ia anggap teman baiknya.
'Masak iya aku yang harus mengungkapkan perasa'an terlebih dulu sih,' gumam nya dengan terus mengunyah kue yang sudah ada di tangan nya.
''Do'akan yang terbaik saja,'' sambung Hanafi, yang kini merasa kasihan kepada Almira.
''Pelan pelan makan nya,'' ucap Hanafi ketika Almira tersedak ketika mendengar jawaban dari Hanafi.
Ketiga nya sedang asik mengobrol di dalam ruangan, sedangkan Devano sudah sampai di depan rumah catering Mahalini.
''Lini ada di dalam?'' tanya Devano kepada Zerine.
''Nona Lini ada di dalam ruangan nya Tuan, sedang ada teman nya di dalam?'' jawab Zerine kepada Devano.
__ADS_1
Devano mengerutkan keningnya ketika dia tau, kalau istri kecilnya sedang menemui tamu di dalam ruangan nya.
''Laki laki apa perempuan,'' tanya Devano yang masih berdiam di depan Zerine, yang tak lain adalah sahabat Mahalini istri nya.
''Mereka laki-laki dan juga perempuan Tuan,'' jawab nya lagi, masih dengan menundukkan kepala nya.
''Baiklah, kamu kembali bekerja,'' sahut nya dengan melangkah kan kakinya menuju ke ruangan Mahalini sang istri.
Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Devano langsung membuka pintu ruangan Mahalini.
''Mas Vano,'' sapa Mahalini dwngan beranjak dari duduk nya, ''Mas Vano kapan datang nya, kok nggak ngasih kabar ke Lini? kalau mau datang,'' tambah nya lagi, yang kini sudah berjalan menghampiri suaminya, yang masih menatap ke arah Almira dan juga Hanafi.
''Aku hanya khawatir saja sama kamu sayang, apa Mas mengganggu?'' tanya Devano dengan lembut.
''Sama sekali tidak menggangu kok Mas, kebetulan di sini ada kak Murah dan juga Kak Hanafi,'' ucap nya dengan mencium punggung tangan suaminya, sebelum kembali ke sofa di dekat nya.
Hanafi dan Almira beranjak dari tempat nya, sembari mengulurkan tangan kepada Devano, Devano menerima uluran tangan dari Almira dan juga Hanafi.
''Belum Mas, tapi rencana nya sebentar lagi, karena masih di siapin sama Zarine,'' jawab nya, dengan mengulas senyum di kedua bibir nya.
Mahalini sebenarnya sudah merasa takut dengan kedatangan Devano ke rumah catering nya, mengingat Almira selama tidak pernah bersikap baik kepada nya.
''Lebih baik kita makan siang yuck, mungkin makanan nya sudah siap,'' ajak Mahalini yang sengaja mengalihkan ucapan nya.
''Baiklah, ayo kita makan sekarang? karena istri ku harus segera minum obat dan juga istirahat,'' gumam Devano pelan, namun dengan nada tegas nya, sehingga yang mendengar gumaman nya, tidak ingin makan siang bareng dengan nya.
''Mas??'' kata Mahalini lembut, Mahalini merasa tidak enak hati kepada kedua tamu nya, yang masih berada di dalam ruangan nya.
''Ayo kak kita makan siang dulu,'' ajak Mahalini dengan menggenggam tangan Almira dengan sangat lembut.
__ADS_1
Devano dan Hanafi berjalan di belakang nya, sesekali Devano melirik ke arah Hanafi, yang memang berdampingan.
''Aku harap kamu bisa menjaga wanita mu dengan baik, kalau dia berani mencelakai istri ku lagi, aku tidak akan segan segan membunuh nya,'' ujar Devano pelan, membuat Hanafi terbelalak kaget dengan ucapan Devano, yang notabene nya adalah suami dari adek angkat Almira.
''Saya akan benar-benar menjaga Almira, saya jamin dia tidak akan berbuat yang aneh aneh kepada Mahalini,'' jawab nya dengan nada santai nya.
Hanafi sudah berjanji kepada nya sendiri, akan merubah Almira menjadi wanita yang lebih baik dari sebelum nya.
''Ayo kak, semoga kalian berdua suka dengan menu makanan yang ada di rumah catering ku ini,'' kata Mahalini, ketika sudah sampai di meja panjang, di mana di sana sudah tersedia beberapa macam lauk pauk di atas nya.
''Bagaimana, kalau aku tawarin ke teman teman di kampus nanti,'' Almira meminta ijin lebih dulu kepada sang adek.
''Wah itu ide bagus kak, siapa tau makanan yang ada di sini cocok dengan lidah teman teman kakak di sana,'' balas Mahalini dengan sumringah nya.
Meski pun pelanggan Mahalini saat ini sudah sangat membludak, dan pesanan dari berbagai orang orang penting dan juga kelas menengah atas, juga sudah menjadi pelanggan di rumah catering Mahalini.
Apalagi dengan di dukung oleh sang Papi yang mempunyai kolega dan para klien di mana-mana, sehingga mereka juga ikut mempromosikan rumah catering Mahalini.
''Ini sangat enak Lini, tidak usah di tanya lagi dech, mereka pasti mau dengan makanan ini, bagaimana? kalau sekarang aku bawa beberapa saja ke kampus, itung itung juga promosi lewat rasa juga,'' cetus nya dengan semangat.
''Tapi tidak pakek tester ya kak Hanafi,'' sambung Mahalini yang langsung meledak tawa mereka semua, masak iya? makanan harus pakek tester, yang benar saja Lini. Kalau kue masih mending nyediain tester, lha ini makanan, pikir Hanafi dengan menepuk jidad nya.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.