
Jam 7 malam Mahalini dan juga Devano baru keluar dari kamar nya, mereka berdua berjalan menuruni anak tangga satu persatu menuju ke meja makan, di mana di sana sudsh ada Mama Devano dan juga sang Papa yang sedang menunggu nya.
''Assalamu'alaikum Pa, Ma,'' sapa Mahalini pada kedua mertuanya.
''Waalaikum salam sayang, ayo duduk dan kita mulai makan malam,'' kata Mama Devano yang di angguki okeh Mahalini.
''Bagai kerja'an kamu Van,'' tanya sang Papa ketika Devano mendaratkan boking nya ke kursi yang sudah di geser ke belakang.
''Baik Pa, semuanya lancar kok,'' jawab nya dengan mengambil piring yang sudsh di isi oleh Mahalini.
''Bagus lah, kamu harus meningkatkan kinerja perusaha'an kamu, agar lebih maju lagi dan juga berkembang, atau gini saja? kamu ajak istri kamu saja, jadikan dia sekretariat kamu agar kalian juga bisa sama sama membangun perusaha'an itu bersama,'' ujar Papa Devano yang di benarkan oleh sang Mama.
''Yang di katakan Papa kamu itu benar Van, lebih baik kamu jadikan Lini sekretaris agar dia bisa bantu kamu di kantor nya.''
''Ma, Pa, Lini masih belum bisa bekerja dengan mas Devan, lagipula Luni juga tidak paham dengan urusan kantor,'' sahut Mahalini yang tidak mau di jadikan sekretaris oleh kedua mertuanya.
''Sebenarnya Lini sudsh bekerja di sana kok Ma, tapi sebagai office girls,'' jawab Devano yang mengetahui tatapan mata Mahalini.
''Ya sudah, tinggal di angkat menjadi sekretaris saja apa susah nya sich,'' sambung sang Mama lagi yang tak ingin melihat menantunya menjadi office girls di kantor puteranya.
''Ma, lebih baik kita malam saja dulu, nanti makanan nya keburu dingin dan tak enak waktu di makan,'' tukas Papa Devano menghentikan obrolan nya.
Akhirnya mereka semua makan malam dengan keheningan, hanya dentung sendok dan garpu yang saling beradu malam itu, selesai makan malam Mahalini membantu membereskan meja dan juga piring kotor untuk segera di bawa ke wastafel.
''Biar saya saja Nona,'' cegah sang Bibi yang tengah membersihkan meja makan nya.
''Nggak apa apa kok Bisa, biar Lini bantu,'' jawab nya dengan mengulas senyum di kedua bibir nya.
__ADS_1
''Tapi Nona,''
''Sudah lah Bi tak apa, kan tidak setiap hari Lini bantu beresin di rumah ini,'' potong Mahalini yang sudah bisa menebak apa yang akan di ucapkan oleh sang asisten rumah Mama Devano.
Mama Devano hanya tersenyum melihat sang menantu yang selalu bersikap ramah kepada semua orang, ''Mama senang karena kamu mendapatkan wanita benar-benar baik Devan, jadi pesan Mama? jangan pernah sakiti hati seorang wanita yang terlihat polos dan juga tulus seperti Lini, atau kamu akan menyesal di kemudian hari nanti, dan setelah kamu kehilangan dia? barulah penyesalan yang akan kamu dapatkan, jadi?? mulai sekarang perlakukan dia selayak nya seorang wanita yang sangat berharga di matamu,'' pesan Mama Devano membuat ke khawatiran di hati Devano.
''Baik Ma,'' jawab Devano dengan singkat dan mencoba bersikap seperti biasa biasa saja.
Melihat Lini yang begitu cekatan dan teramoil di dapur sang asisten pun bertanya, ''Nona Lini juga sangat lincah dan cekatan dalam bekerja di dapur,''
''Ya emang inilah pekerja'an ku sebelum Bi, jadi Bibi tidak usah khawatir lagi oke,'' jawab Mahalini dengan membilas piring piring yang sudsh ia sabuni.
''Tapi, biasanya kalau orang kaya tidak pernah mau masuk ke dalam dapur Nona, tapi Nona Lini sangat pintar,'' tanya nya yang mengira Mahalini adalah seorang yang kaya, sehingga dia berkata demikian.
Mahalini tersenyum pahit mendengar ucapan sang asisten rumah Devano. ''Lini bukan orang kaya Bi, malah sebalik nya Lini hanya anak angkat di rumah itu yang di perlakukan seperti sampah,'' jawab nya dengan lirih, Mahalini memejamkan mata nya sejenak, menghilangkan rasa sakit yang tiba-tiba datang di dalam hatinya.
''Maafkan Bibi Nona, Bibi sungguh tidak tau,'' mohon nya dengan penuh sesal, karena sudah membuat Mahalini merasa sangat sedih dengan semua ucapan nya barusan.
''Kalau githu Lini pamit mau ke Mama dan mas Devan,'' pamit Mahalini dan melangkah pergi menuju ruang keluarga, di mana di sana sudsh berkumpul kedua mertua dan juga suaminya.
''Duduk sayang,'' ujar Mama Devano ketika melihat Mahalini berjalan ke arah nya, dan Mahalini pun duduk di sebelah Devano seperti yang Devano minta sebelum nya.
''Mama, sekarang kan sudah ada Lini yang menemani kamu di sini, jadi Papa dan Devano akan ke ruang kerja sebentar, ada sesuatu yang harus di bahas saat ini juga,'' seru sang Papa.
''Sepenting itukah?'' tanya nya penasaran.
Papa Devano mengangguk dan mengajak Devan untuk pergi ke ruang kerja Papa nya. ''Kamu tunggu di sini dulu sayang, atau kamu tunggu di kamar saja kalau masih lelah,'' kata Devano dengan lembut dan juga penuh perhatian kepada sang istri, seakan-akan dia benar-benar sepasang suami istri yang sedang di landa asmara.
__ADS_1
''Lini di sini saja, mau ngobrol sama Mama juga,'' balas nya dengan senyum tipis nya.
Devano dan juga Papa nya berjalan menuju ke ruang kerja nya, sedangkan Mama dan Mahalini masih duduk santai di ruang keluarga, di mana di sana sudah ada secangkir coklat panas dan juga sepiring camilan yang baru saja di antar oleh sang asisten.
''Bagaimana kuliah kamu nak?'' tanya Mama Devano memulai obrolan nya.
''Baik Ma, semuanya bisa di atur dengan sesuai rencana awal,'' jujur nya dengan terus menyunggingkan senyuman nya, membuat hati Mama Devano teriris.
'Kenapa seorang Agnes tega memperlakukan Mahalini seperti ini, dia gadis yang baik dan juga sopan, tapi kenapa seakan-akan Agnes dan juga Almira sangat benci dengan Mahalini,' batin Mama Devano yang masih terus menatap wajah lelah Mahalini, mungkin tadi dia juga baru pulang dari kampus dan langsung berangkat ke rumah ini, pikir Mama Devano.
''Bagaimana pendapat kamu tentang menjadi sekretaris Devan di kantor,'' tanya Mama Devano lagi.
''Maaf Ma, Lini tidak bisa. Dan Lini juga tidak enak dengan semua pegawai di sana, nanti yang ada dia malah mikir macam macam lagi, karena Lini tiba-tiba di angkat menjadi sekretaris mas Devano,'' lagi lagi Mahalini menolak usulan dari mertuanya.
''Memang nya kenapa? kamu tidak usah mendengarkan ucapan ucapan dari semua karyawan di sana, lagipula kamu kan istri sah Devano, kenapa harus takut sich,'' gumam nya dengan memeluk Mahalini dengan penuh kasih sayang.
''Yang di katakan Mama memang benar, kalau Lini adalah istri dari Mas Devan, tapi semua karyawan di sana kan tidak ada yang tau akan kebenaran itu Ma, jadi Lini harap? Mama tidak lagi memaksa Lini untuk menjadi sekretaris mas Devan,'' ungkapan hati Lini buang paling dalam hanya ia utarakan kepada sang Mama mertua, karena dia tidak mau di anggap menjadi penggoda dan malah berujung kebencian yang akan ia dapat kan dari semua karyawan yang bekerja di sana, Mahalini juga takut kalau dia di benci oleh semua orang yang sudah berbuat baik kepada nya selama dia bekerja di kantor itu.
''Baiklah, Mama tidak akan memaksa kamu lagi, tapi Mama harap kalau kamu sudsh sangat lelah menjadi OB di sana, Mama harap kamu bisa berhenti dari pekerja'an itu ya,'' pinta Mama Devano dengan lembut.
''Sekarang kamu kembali ke kamar lebih dulu, mungkin Devan akan lama di ruang kerjanya dengan Papa nya, banyak masalah yang sedang di alami Papa nya, mungkin Papa Devan meminta bantuan dia agar swmuanya cepat terselesaikan dengan cepat dan juga menemukan seseorang yang berani bermain main dengan Papa kamu di kantor,'' cerita Mama Devano dengan panjang lebar.
''Baiklah, Lini akan kembali ke kamar dulu kalau gitu Ma, apa tidak apa apa Lini tinggalkan Mama di sini sendirian,'' tanya nya tidak enak.
''Nggak apa apa sayang, Mama juga akan ke kamar mau istirahat juga,'' tukasnya yang di angguki Mahalini.
Setelah berpamitan Mahalini melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamar suaminya yang ada di lantai atas, sebenarnya Mahalini mau pulang ke apartemen, namun suaminya masih belum juga keliar dari ruangan kerjanya membuat Mahalini membaringkan di atas tempat tidur nya.
__ADS_1
Mahalini memejamkan matanya ketika menghirup aroma wangi Devano yang tertinggal di bantal yang ia tiduri.
Malam begitu tenang dan juga sunyi membuat Mahalini tertidur sangat pulang di ranjang ukuran besar itu.