
''Apa Lini mengganggu tidur Tuan,'' tanya nya dengan lembut.
''Tidak kok, hanya saja aku ingin mendengarkan kamu ngaji saja, sudah? jangan hiraukan aku lagi, lebih baik kamu lanjutkan ngaji kamu saja,'' jawab Devano dan menyuruh Mahalini kembali dengan Al-Qur'an yang sedang ia pegang.
''Baiklah, lebih baik Tuan lanjut tidur lagi saja, ini masih sangat pagi,'' tukas nya dengan mengulas senyum di bibir nya.
Devano tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan, Mahalini kembali melanjutkan kembali membaca Al-Qur'an yang tinggal sedikit lagi, dengan baca'an Bismillah Mahalini melanjutkan kembali baca'an nya.
'Ini yang membuat aku tidak bisa berpaling dari kamu Lini, semakin hati aku semakin tau sifat dan tingkah kamu yang begitu baik dan juga ramah, bukan hanya orang lain yang sangat suka dengan sifat ramah kamu, tapi Mama ku juga bersikap demikian, Mama sangat menyayangi kamu,' bathin nya yang masih menatap Mahalini dari samping.
Mahalini yang sudah menyelesaikan ngajinya beranjak dari duduk nya, Mahalini tidak lekas membuka mukenah nya, dia hanya membuka rok mukenah nya saja, sedangkan atasan nya masih terpakai dengan rapi di kepala Mahalini, membuat Mahalini terlihat lebih cantik ketika dia sedang menutup rambut panjang nya.
''Kenapa cuma bawah nya saja yang di buka, memang nya kamu masih mau sholat lagi,'' tanya Devano heran, karena Mahalini masih menggunakan mukenah atasan nya, sedangkan Devano yang baru menyadari Mahalini memakai sarung, mengangkat satu alisnya ke atas.
''Kamu pakek sarung?''
''Ach, iya Tuan? sengaja kalau Lini sedang sholat lebih enak memakai sarung seperti ini,'' jawab nya dengan sedikit menurunkan mukenah nya. Karena Mahalini sedang tidak memakai baju, hanya tengtop saja yang melekat di tubuh atas nya.
''Pertanya'anku masih belum kamu jawab kan?'' tanya nya lagi membuat Mahalini bingung.
''Pertanya'an yang mana Tuan?'' tanya nya balik.
''Kenapa mukenah kamu belum di buka semua nya,'' jawab nya dengan nada datar nya.
''Sengaja Tuan, karena Mahalini tidak memiliki baju ganti, kemarin hanya mukenah dan ini saja yang ada di dalam tas Lini,'' balas nya dengu perasa'an takut dan juga gugup. Tidak mungkin kan dia membuka mukenah nya dan hanya memakai sarung dan juga tengtop saja di depan suaminya.
''Kamu boleh memakai baju aku di lemari, ambil saja yang kamu suka, di rak bagian bawah banyak kaos yang sudah tidak aku pakai dan menurutku kaos kaos itu cocoy buat kamu,'' kata Devano beranjak dari tempat tidur nya.
''Terima kasih Tuan,'' jawab Mahalini dengan sumringah, karena dia bisa memakai baju hari ini, ya walaupun baju itu akan kebesaran di tubuh kecil Mahalini, tapi apalah daya? Mahalini juga tidak bisa terus terusan memakai mukenah di rumah mertua nya.
__ADS_1
Mahalini berjalan ke arah lemari dan mengambil kaos sesuai arahan Devano, yang ternyata di sana ada kaos yang ukuran paling kecil, sehingga tidak terlalu besar di tubuh mungil nya.
''Mau kemana kamu,'' tanya Devano yang baru saja keluar dari kamar mandi nya.
''Mau ke dapur Tuan, ambil minum dan sekalian mau bantuin Bibi di sana,'' sahut nya dan melangkah pergi, Devano tidak bisa terus terusan mencegah kepergian Mahalini, dan tinggal di dalam kamar hanya berdua saja, karena ketiga nya adalah setan, pikir nya.
Mahalini menghampiri para pekerja di dapur rumah Devano yang sudah pada sibuk dengan pekerja'an masing-masing.
''Pagi Bibi,'' sapa Mahalini ramah.
''Pagi juga Nona, kenapa sudah bangun Nona? ini masih sangat pagi sekali,'' sahut salah satu asisten rumah tangga di kediaman orang tua Devano.
''Iya Bi, sudah terbiasa bangun di jam segini, masak apa? biar Lini bantu,'' ucap nya dengan sangat ramah, membuat para asisten saling menatap.
''Sudah, lebih baik Nona kembali ke kamar, biar kami saja yang mengerjakan semua nya dengan mereka Nona,'' sahut nya dengan menunjuk tiga orang yang sudah berdiri di belakang nya.
Mahalini kini tengah duduk di kursi yang ada di dapur dengan sayur yang akan ia bersihkan, dan di potong potong sebelum di masaka. Para asisten hanya bisa melihat sekilas menantu di rumah majikan nya.
''Nona Lini masih kuliah atau sudah bekerja?'' tanya nya memiliki obrolan nya.
''Lini masih kuliah dan kerja juga Bi, biasalah buat tambah tambah uang jajan, agar tidak meminta sama Papa lagi,'' balas nya dengan senyuman nya.
''Oiya, kalau boleh tau makanan kesuka'an Mas Devan apa saja?'' tanya Mahalini dengan gugup.
''Tuan Devano lebih suka dengan daging, atau roti bakar dengan selain kacang kalau pagi hari Nona,'' jawab kepala pelayan di sana.
''Och pantas saja, beberapa hari ini Lini masakin masakan kampung Mas Devan selalu menggerutu, tapi Mas Devan juga habis beberapa piring meski dia bilang tidak mau,'' cerita Mahalini kepada kepala pelayan di sana.
''Kalau begitu Tuan sangat menyukai masakan Nona Lini,'' ungkap nya dengan rasa heran.
__ADS_1
''Entahlah Bi, tapi Lini suka bingung mau masak apa, karena Lini sendiri tidak tahu makanan kesuka'an Mas Devan? sedangkan kalau Mas Devan ditanya selalu tidak menjawab pertanyaan Lini,'' lagi lagi Mahalini mengeluarkan unek unek yang selama ini ia pendam sendirian.
''Apapun masakan Nona Lini pasti akan di makan oleh Tuan kok, Nona yang sabar ya,'' sang asisten memberanikan diri untuk mengelus punggung Mahalini.
''Iya Bi, tapi sekarang Lini sudah tau makanan kesuka'an Mas Devan,'' ucapnya dengan menyunggingkan senyuman nya.
Lama mereka mengobrol di dapur, menciptakan keakraban dengan para asisten yang bekerja di sana.
Adzan subuh berkumandang dan menandakan semua umat muslim akan melaksanakan kewajiban nya sebagai umat yang taat akan Agama, salah satunya Mahalini yang sudah mulai berpamitan kepada semua para asisten di sana, dan juga kepada kepala pelayan juga.
''Lini sholat subuh dulu Bi, setelah itu Lini pasti akan ke sini lagi,'' pamit nya dengan nada yang sangat lembut.
''Silahkan Nona,'' jawab semua para pekerja di sana hampir berbarengan.
Setelah Mahalini pergi dari dapur, para pekerja membicarakan sikap Mahalini yang sangat baik dan juga lembut itu.
''Nona Lini sangat baik ya, tidak seperti yang aku pikirkan selama ini. Aku kemarin sangat takut? kalau istri Tuan Devano sangat cilas dan juga keras kepala, dan hanya menyuruh nyuruh hal hal yang tidak penting juga, tapi kenyata'an nya istri Tuan Devano jauh dari apa yang aku bayangkan sejak kemarin,'' akunya dengan mendapatkan keplakan langsung dari kepala pelayan.
''Kalau ngomong suka benar,'' kata kepala pelayan yang berkata jujur.
Semua orang tertawa dengan sangat keras membuat rumah besar seakan akan hidup kembali.
Kedatangan Mahalini ke rumah besar membawa kebahagia'an tersendiri bagi para pelayan, dan bukan cuma para pelayan yang merasakan itu semua, tapi juga di rasakan oleh Mama Clara dan juga Papa Sanders.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕
__ADS_1