
Menjelang sore Almira dan Hanafi, sudah datang ke rumah Devano, untuk menjemput Papa Setiawan di rumah Mahalini, tak lupa juga dia membawakan makanan yang tadi di pesan Devano lewat aplikasi hijau nya.
''Assalamu'alaikum,'' ucap Almira ketika memasuki rumah Devano, di sana sudah ada seorang pelayan yang membukakan pintu utama untuk tamu sang Tuan.
''Waalaikum salam,'' jawab sang pelayan, dengan berlari kecil ke arah pintu utama.
''Apa Mahalini ada di dalam?'' tanya nya ketika pintu terbuka lebar.
''Ada Nona, silahkan masuk,'' sang pelayan mempersilahkan Almira masuk ke dalam rumah, di ruangan tampak rame dengan kekehan kecil dan juga canda'an bersama dengan yang lain nya.
''Assalamu'alaikum,'' ucap Almira lagi ketika sudah berada di ruangan tengah.
''Waalaikum salam?'' jawab semuanya. Seraya menoleh ke arah suara yang masih berdiri tak jauh dari tempat mereka berkumpul.
''Ayo kak, duduk sini,'' Mahalini menepuk sebelah tempat duduk nya, si sana masih terlihat kosong, karena hanya ada Mahay dan juga Papa Setiawan saja.
''Ini pesanan Ibu gemoy, ada ada saja yang ndi minta sich dek, kan kamu sudah tidak hamil lagi?'' Ujar Almira dengan memberikan kantong kresek kepada sang adek.
''Lha, siapa yang minta sama kak Mira coba, aku hanya bilang sama Mas Vano tadi ketika mau berangkat ke rumah sakit,'' jawab nya. Mahalini lantas menatap wajah suami nya yang seperti nya tanpa berdosa sama sekali, sudah menyuruh pasangan baru di samping nya.
''Kamu tau nggak dek, aku nunggu nya lama lho, koki di rumah catering kamu masih harus memasak lebih dulu, baru di sajikan,'' keluh nya dengan mendengus kesal, karena perintah Devano yang mengandung ancaman, dengan tidak akan membantu mengurus surat surat ke pengadilan nantinya, dengan sangat terpaksa sekali mereka berdua harus menuruti perminta'an sang laki-laki berkuasa di depan nya.
Mahalini menatap Devano horor,
''Aku tidak menyuruh nya kok sayang, aku hanya meminta mereka bawakan makanan seperti yang kamu bilang ke Mas tadi?'' jawab nya dengan santai, dan tanpa merasa bersalah, karena sudah mengerjai Almira dan juga Hanafi.
Mahalini terkekeh melihat wajah kakak nya yang sudah cemberut, akibat ulah suami nya yang memang benar-benar sangat keterlaluan sekali.
''Ya sudah, sekarang kamu makan dulu saja, kalau dingin tidak akan enak ketika di makan,'' ajak Devano dengan memegang tangan Mahalini untuk beranjak dari duduk nya.
__ADS_1
Perut Mahalini masih sangat sakit ketika akan di bawa ke dapur oleh Devano suami nya. Devano mengambilkan piring dan juga sendok untuk sang istri yang sudah kelaparan, di tambah lagi dia tadi terus menerus memompa Asi nya yang terus membludak.
Mahali tampak asik asik saja memompa Asi nya di dalam kamar, sesekali dia terlihat mengulas senyuman nya ketika melihat betapa banyak nya ASI yang sudah ia dapat kan selama beberapa jam terakhir.
''Apa kamu suka?'' tanya Devano dengan membawa piring, sendok dan juga nasi.
Yang di bawa Almira hanya lauk-pauk nya saja, sedangkan nasi nya banyak di rumah.
''Mas Vano tidak makan juga, ikan nya banyak lho Mas?'' ucap nya dengan mulut yang sudah penuh.
''Kalau sedang makan tidak boleh berbicara, takut nya kamu malah keselek lagi, kan Mas juga yang repot,'' balas nya dengan mengelap bibir Mahalini dengan ibu jarinya.
Mahalini makan dengan lahap tanpa memikirkan orang orang yang sedang berkumpul di ruang tamu nya, sampai Almira datang untuk mengambil air di dapur.
''Adek, kamu berapa hari tidak di kasih makan sama suami kamu, sehingga makan kamu saja seperti itu,'' seru Almira ketika melihat adek nya makan dengan mulut penuh nya.
''Durhaka sekali kamu ya Vano sama kakak ipar kamu ini, gini gini aku adalah kakak Mahalini, kalau kamu lupa?'' kata Almira dengan geram.
''Durhaka apanya, kamu saja tidak mengandung ku kok, kenapa bisa durhaka sama kamu,'' jawab nya dengan sangat santai.
''Sudah sudah, jangan berdebat terus sich, bikin mood aku jelek saja dech,'' Mahalini pura pura mendorong piring nya dan ingin beranjak dari duduk nya.
''Ini semua gara-gara kamu tau nggak!!'' ucap Devano menatap wajah Almira yang sedikit menahan takut, karena Devano sudah memelototi nya.
''Ich, sudah lah aku balik ke ruang tengah saja, kalian berdua nyebelin sich,'' gerutu Almira dengan menghentak hentak kan kakinya ke lantai.
Setelah kepergian Almira sang kakak, Mahalini kembali menarik piring nya yang masih sisa separuh.
''Kamu nggak jadi pergi dari sini,'' tanya suami nya keheranan.
__ADS_1
''Tidak lah, kan nasinya masih ada? apalagi lauk pauk nya juga masih sangat banyak, jadi harus habis, lagian Lini juga lapar banget Mas kalau Mas Vano lupa,'' gumam nya dengan terus menyuapkan makanan nya ke dalam mulut nya.
''Ya sudah makan pelanggan pelanggan saja, aku mau kembali ke ruangan dulu, nanti kalau sudah selesai makan nya, panggil Mas saja di luar,'' pesan nya dengan mendoring kursi ke belakang, dan mencium kening Mahalini.
''Iya, baik Bos perintah di terima,'' jawab nya di selingkuh dengan kekehan renyah nya.
Debay sangat senang sekali, melihat senyuman istri nya sudah kembali lagi, mengingat kemarin Mahalini hanya menangis dan menagis, entah apa yang dia pikirkan, sampai nangis seperti itu di depan nya.
Di ruang tengah.
''Istri kamu kemana? kok ngilang lagi,'' tanya Mama Clara yang baru ikut bergabung, setelah menidurkan kedua cucu nya di kamar samping Devano.
''Ada di dapur Ma, dia sedang makan? kayak nya dia sangat lapar dech,'' sahut Devano yang baru mendudukkan diri di samping Mama Clara.
''Bukan lapar lagi tante, tapi rakus! masak nasi sepiring penuh dan lauk nya satu kotak mau di habis kan sekaligus,'' sambung nya, dan langsung mendapatkan lemparan bantal dari Devano.
''Hati hati kalau bicara, nanti dia malah nangis lagi,'' omel Devano kepada kakak ipar nya yang super nyebelin itu, wanita yang dulu pernah menggoda nya, tapi gagal. Dan tidak di sangka malah mendapatkan adek nya sebagai nyonya Devano Bhaskara.
.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih kak 😘💕😘💕😘💕😘💕.
__ADS_1