Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 73.


__ADS_3

Setelah cukup lama berdiam diri di kamar mandi, Mahalini memutuskan untuk keluar dari ruangan dokter, dengan membawa test pack yang di bungkus dengan tisu.


Mami Amora memberondong ketika melihat sang puteri sudah keluar dari kamar mandi.


''Sayang, kamu nggak apa apa kan?'' tanya nya dengan memeluk Mahalini.


''Lini tidak apa apa kok Mi, Lini hanya kebelet pipis saja tadi,'' jawab nya dengan meremas hasil test tadi.


Dokter wanita itupun meraih tangan Mahalini dan mengambil tisu di tangan nya, di sana terdapat test pack dan memperlihatkan dia garis merah, tapi masih terlalu samar, mungkin Mahalini masih beberapa minggu saja telat nya.


''Selamat Bu, kamu hamil dan sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu,'' ucapnya tiba-tiba, membuat Mami Amora terkejut dengan penuturan sang dokter yang mengatakan kalau puteri nya sedang hamil.


''Apa itu benar dokter?'' tanya nya memastikan lagi, kalau dirinya tidak salah dengar dengan ucapan dokter di depan nya.


''Tidak Nyonya, ini hasil test barusan,'' sang dokter menunjukkan test pack kepada nyonya Amora.


Nyonya Amora mengambil dan menatap ke arah test pack yang ia pegang saat ini, garis dia dengan warna merah muda(pink).


''Kamu benaran hamil sayang?'' cetus nya dengan senyuman bahagia nya.


''Tapi Lini tidak merasakan tanda tanda seperti orang hamil Dokter,'' tanya Mahalini yang belum yakin sepenuh nya, karena dia tidak merasakan tanda orang hamil, seperti mual dan juga muntah di pagi hari.


''Kini hanya merasakan pusing beberapa hati ini,'' tambah nya yang di angguki oleh dokter wanita itu.


''Dokter, kapan jadwal untuk kontrol kembali,'' tanya Mami Amora dengan sangat antusias, dia sangat bahagia mendengar kehamilan puteri nya. Allah sudah memberikan kebahagia'an yang lebih kepada nya, selain Mami Amora bertemu dengan Mahalini, bahkan dia sebentat lagi akan menjadi seorang nenek.


''Dua minggu lagi boleh kontrol,'' jawab nya dengan sangat ramah.


''Tapi Lini takut,'' gumam nya pelan.


''Tidak usah takut, ada Mami,'' jawab nya dengan pelan. ''Lebih baik Lini jaga kehamilan dari sekarang, tidak boleh terlalu capek dan banyak pikiran,'' tambah nya lagi, Mami Amora memberi pesan kepada puteri nya Mahalini.


Mahalini hanya mengangguk dan dokter pun menulis resep obat yang harus ia tebus di apotik, untuk di minum setiap harinya.


''Terima kasih Dokter?'' Ucap Mahalini dan Mami Amora.


Di ruang tunggu Papi Sagara dan juga Devano sedang menunggu dengan cemas dan ada rasa khawatir di diri mereka masing-masing, dengan rasa tak karuan Tuan Sagara dan Devano menunggu kedua wanita yang sedari tadi masuk ke dalam ruangan dokter, dan sampai saat ini belum juga keluar.


''Mahalini kok lama banget keluar nya ya Pi,'' ujar Devano yang baru pertama kalinya memanggil Tuan Sagara dengan sebutan Papi.


''Entah lah, semoga tidak terjadi sesuatu dengan keduanya,'' jawab Tuan Sagara yang juga cemas, namun tidak ia tampakkan kepada sang menantu.


Tak lama kemudian pintu ruangan di buka dan nampak lah Mahalini dan juga Nyonya Amora berjalan keluar dari ruangan dokter tersebut.


''Kamu tidak apa apa kan sayang, apa kamu sedang sakit parah,'' Devano memberondong beberapa pertanya'an kepada Mahalini.


''Mami akan tebus obat dulu di apotik ya,'' Pamit Mami Amora kepada Mahalini dan juga Devano.


Mami Amora mengajak Tuan Sagara ke apotik yang ada di rumah sakit tersebut, sedangkan Mahalini disuruh menunggu di depan dokter tadi, Devano menatap wajah sendu sang istri.

__ADS_1


''Kamu kenapa sayang?'' tanya Devano kepada Mahalini.


Mahalini mendongak kan kepala nya menatap wajah suaminya, lalu dia pun mulai berpikir, 'Apa yang harus aku lakukan kepada Mas Vano tentang kehamilan ku saat ini,' gumam nya didalam hati.


Dengan rasa gugup dan juga takut, Mahalini memberikan kertas yang di berikan oleh dokter tadi.


''Apa ini,'' tanya Devano dengan mengernyitkan dahinya, melihat amplop yang di sodorkan oleh sang istri barusan.


Devano membuka dan membaca isi amplop yang menyatakan kalau Mahalini saat ini sedang hamil, Devano membulatkan matanya menatap kertas yang ia pegang, berkali kali Devano membaca agar dia yakin dengan isi di dalam nya.


''I-ini beneran?'' tanya nya gugup. ''Kamu ha-hamil,'' lanjutnya dengan nada tercekat.


Mahalini mengangguk pelan, aeraya mendongak kan kepala nya menatap wajah Devano, ''Apa Mas Vano tidak senang dengan kehamilan ini,'' tanya Mahalini dengan perasa'an khawatir.


''Kenapa kamu ngomong seperti itu sich sayang, laki-laki mana yang tidak senang mendengar istri nya hamil, aku sungguh sangat senang dengan berita ini,'' tukas nya dengan merangkul pundak Mahalini.


''Tapi pernikahan kita tinggal satu minggu lagi,'' gumam nya pelan, Devano melonggarkan rangkulan nya dan menatap wajah Mahalini yang terlihat sendu dan ada juga rasa sedih di matanya.


''Sudah berapa kali aku bilang, kalau surat perjanjian itu sudah aku bakar, sebelum aku tidur dengan kamu,'' Devano menegaskan kalau surat tersebut sudah ia bakar dan tidak akan ada yang namanya perceraian lagi.


''Kamu harus jaga kandungan kamu dengan baik, Mama akan senang mendengar berita ini,'' ucapnya bahagia.


''Ayo sayang, kita pulang sekarang, dan ini obat yang harus kamu minum agar kandungan kamu kuat dan juga bayi yang kamu kandung juga sehat,'' kata Mami Amora memberikan obat kepada Mahalini.


Devano menerima kantong plastik yang ada obat sang istri, ''Terima kasih Mi,'' ucap Devano kepada sang Mami.


''Mulai sekarang kamu harus jaga diri dengan baik dan jangan sampai kecape'an juga,'' pesan lagi.


''Terus usaha Lini bagaimana coba' Mas, lagian usaha Lini juga baru di tintis kemarin, masak iya harus berhenti begitu saja sich,'' bela Mahalini, mendengar ucapan dari sang Papi dan juga suaminya, Mahalini mencoba membela dirinya.


''Tapi kamu harus banyak banyak istirahat sayang?''


''Tapi Lini tidak apa apa Mas, Lini bakal bosen di rumah Mama tanpa ada kegiatan sama sekali, sedangkan Lini juga sudah berhenti bekerja di perusaha'an Mas Vano kan?''


''Ya sudah, kamu boleh melakukan semua kegiatan kamu, asal dengan syarat kamu tidak boleh terlalu capek, di sana juga ada Mama kamu juga kan, mungkin Mami akan merekomendasikan seseorang yang akan membantu kamu dalam usaha kamu selama kamu hamil oke,'' potong Mami Amora yang tak ingin melihat sang puteri sedih dan merasa terkekang dengan aturan aturan barunya.


Mahalini hanya mengangguk pelan seraya berjalan menuju mobil di parkiran, meninggalkan suami beserta kedua orang tuanya yang masih berdiri di depan ruangan dokter umum.


''Kamu harus lebih sabar dalam menghadapi emosi Mahalini, emosi wanita hamil naik turun, apalagi dia tidak boleh stress dan itu akan berdampak kepada janin yang ia kandung saat ini,'' pesan Mami Amora kepada Devano.


''Baik Mi, tapi bagaimana kalau Lini tidak mau berhenti membuat kue kue pesanan orang orang,'' tanya Devano yang masih belum mengerti dengan perubahan Mahalini saat ini.


''Sudah lah, asal ada orang yang membantu dia, dia tidak akan yerlalu capek dengan pekerjaa'n nya,'' kata Papi Sagara pelan.


Mahalini yang sedang menunggu kedatangan suami dan kedua orang tuanya di depan rumah sakit.


''Itu kang cilok yang biasa Lini beli dech, jadi pengen kan?'' gumam nya dan berjalan menghampiri kang cilok langganan nya di depan pagar rumah sakit.


''Bang beli cilok nya dong,'' seru Mahalini ketika melihat kang cilok mau pergi.

__ADS_1


''Lho neng Lini ada di mari, sedang apa di mari neng?'' tanya kang cilok.


''Biasalah Bang, cek up saja, soalnya pusing takut nya darah tinggi? echhh,'' Mahalini tak meneruskan ucapan nya membuat kang cilok penasaran.


''Ech kenapa neng Lini, neng Lini nggak apa apa kan?'' tanya nya dengan rasa khawatir nya.


''Malah kurang dana Bang,'' Mahalini terkekeh karena sudah membuat kang cilok nya penasaran dengan perkata'an Mahalini.


''Neng selalu begitu sama Abang, abang serius nanya, ech malah bercanda gitu,'' gerutunua dengan memberikan sebungkus cilok pesanan Mahalini.


''Kalau masalah dana Abang juga butuh juga kali neng?'' balas nya dengan tertawa lepas.


''Ning Bang uang nya, nanti sore Ke kampus kan Bang? biasa jajan di sana seperti biasanya,'' ucapnya dengan kekehan kecil.


''Assshiap, kalau itu neng? kalau Abang selalu stanby di kampus neng,'' balas nya dengan mengangkat tangan yang dintaruh di dahinya, dia hormat kepada Mahalini karena canda'an Mahalini yang sangat kocak.


Mahalini tertawa dengan sangat lepas di depan kang cilok, interaksi seperti itu menjadi pusat perhatian Devano, Tuan Sagara dan juga Nyonya Amora juga.


''Pa, lihat puteri kita? dia tidak pernah merendahkan orang lain, dan dia malah lebih senang bercanda dengan orang orang kecil seperti pedagang di depan itu,'' Gumam Nyonya Amora kepada sang suami.


''Iya Mi, Papi juga bangga kepada puteri kita yang memang selalu merendah kepada semua orang,'' Tuan Sagara memuji puteri nya karena kebaikan nya.


''Sayang, ayo kita pulang sekarang, Mama sudah beberapa kali menghubungi dan menyuruh pulang ke rumah,'' ajak Devano yang sudah berdiri di samping nya.


''Ya sudah Bang, Lini pulang dulu ya,'' pamit Mahalini kepada kang cilok di depan nya.


''Iya neng hati hati di jalan,'' jawab nya.


Mahalini melangkah menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah sakit, dan sekilas menatap wajah Mami Amora dan juga sang Papi.


''Mami dan Papi mau ikut Devano ke rumah,'' tanya Devano pelan kepada sang mertua.


''Tidak usah nak, besok besok saja kita datang ke sana, sekarang Mami kamu harus beristirahat karena Papi yidak mau penyakit nya kambuh,'' jawab nya dengan jujur dan merangkul sang istri dari belakang.


''Kalau gitu Mahalini pamit ya Pi, Mi,'' cetus nya seraya melambaikan tangan nya ke arah kedua orang tuanya.


Tuan Sagara dan Nyonya Amora juga masuk ke dalam mobil nya dan melajukan menuju rumah nya, si perjalanan pulang nya senyum Mami Amora terus terlihat di bibir nya, ''Nggak nyangka kita sebentar lagi akan jadi kakek dan nenek Pi,'' gumam nya dengan senyuman yang terus menghiasi bibir tipis nya.


''Iya Mi, Alhamdulillah? itu semua adalah bonus dari kesabaran kita selama ini Mi, kita harus banyak bersyukur dalam hal ini, karena sang pencipta sudah sangat baik dengan kita berdua,'' jawab nya dengan terus mengemudikan mibil nya.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕.


__ADS_2