Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 172.


__ADS_3

Khanza dan Khalid tidak mau di pisahkan dari sang Bunda, tiga hari di tinggal bukanlah waktu yang sedikit bagi kedua nya, tapi merey berdua harus terbiasa di tinggalkan oleh sang Bunda mulai sekarang, mengingat pekerja'an Bunda dan Ayah nya begitu banyak, di tambah lagi Khalid yang memang lebih bersikap dingin dan datar ke orang orang sekitar nya.


''Bunda pasti capek sekali ya, Bunda istirahat saja di kamar, biar adek aku saja yang menjaga nya,'' kata Khalid ketika melihat wajah capek sang Bunda.


''Bunda tidak apa apa kok sayang, hanya saja Bunda sedikit panas saja,'' sahutnya dengan menampakkan deretan gigi putih nya.


''Apa nya yang panas sayang, kenapa kamu tidak bilang ke aku tadi,'' sambung Devano seraya berjalan ke arah istri nya, yang di apit oleh kedua putra dan putri nya.


''Badan kamu panas, kita ke rumah sakit saja ya,'' ajak Devano dengan memegang dahi Mahalini.


''Aku nggak apa apa kok Mas, hanya saja sedikit pusing,'' balas nya masih mencoba untuk tersenyum kepada suaminya.


''Kamu bawa saja ke kamar, biar anak anak kalian Mami yang jaga di sini,'' perintah Mami Amora, ''Istirahat lah di kamar, biar kamu lebih nyaman di sana,'' tambah nya lagi yang langu di angguki Khanza dan Khalid.


''Yang di katakan Oma benar Yah, biarkan Bunda beristirahat di dalam kamar saja, kami akan tungy di sini dan tidak akan menggangu Bunda,'' seru Khanza yang sedikit khawatir dengan keada'an sang Bunda.


''Bunda tidak apa apa kok nak?'' ucap Mahalini mengembangkan senyuman nya, agar kedua anak nya tidak menghawatirkan dirinya lagi.


''Sudah, lebih baik kamu istirahat saja dulu, anak anak biar Mami yang urus,'' sela Mami Amora.


Devano langsung membawa Mahalini ke dalam kamar setelah berpamitan dengan Mami Amora sang mertua.


''Oma, Bunda baik baik saja kan, kenapa dia jadi sakit setelah pulang dari bisnis nya,'' tanya Khanza yang memang selalu ingin mengetahui kegiatan kedua orang tuanya.


''Mungkin Bunda kalian masuk angin, jadi Bunda panas dekat, tapi kalau tidak usah khawatir ya, Bunda akan minum obat dan setelah itu dia akan baik baik saja, kalian main sama Oma di halaman belakang bagaimana? agar suara kalian tidak terdengar Bunda yang sedang istirahat,'' ajak nya dengan mulai beranjak dari duduk nya.


Mami Amora dan kedua cucunya berjalan ke arah pintu belakang, di mana merey bertiga akan datang dan melihat langsung taman belakang yang begitu indah dan juga sangat asri.

__ADS_1


''Apa Bunda dulu suka duduk di bawah pohon seperti ini,'' tanya Khanza yang memiliki jiwa kepo yang lumayan tinggi.


''Dulu Bunda jarang ke taman belakang, Bunda kalian paling sibuk di rumah catering nya, dia selalu datang dan membantu di sana, padahal karyawan Bunda kaliy sudah cukup banyak, tapi Bunda kalian memang tidak pernah mau bersiam diri di rumah,'' jawab nya dengan mengulas senyum di bibir nya.


''Aku pengen seperti Bunda besok, kalau Khanza sudah dewasa, Khanza mau memiliki usaha sendiri dan juga mulai menghasilkan uang sendiri juga,'' ucapnya dengan sangat yakin.


''Cucu Oma memang pintar, semoga apa yang kalian impikan akan segera tercapai ya sayang,'' do'a Mami Amora untuk kedua cucunya.


...****************...


Di dalam kamar Mahalini tengah memijat kening nya yang terus berdenyut, sesekali Mahalini menutup matanya karena rasa nyeri yang tiba-tiba menyerang.


''Sshh,'' runtih nya, dan rintihan tersebut di dengar oleh sang suami, yang memang berada di samping nya.


''Bunda kenapa?'' tanya Devano lembut.


''Beneran kamu tidak apa apa?'' tanya Devano sekali lagi, karena masih merasa khawatir dengan keada'an sang istri.


''Benaran Mas, Lini tidak apa apa? hanya butuh istirahat saja kok, pasti nanti bakalan baik baik saja,'' balas nya dengan mengusap lengan kekar Devano.


''Ya sudah, lebih baik kamu istirahat saja dulu, Mas masih mau nyelesain ini dulu,''


''Iya Mas,'' jawab nya dengan membenarkan tidur nya, dan Devano langsung menyelimuti Mahalini.


Mahay merasa sangat terharu dengan perlakuan suaminya yang begitu menyayangi dirinya.


''Terima kasih ya Allah, atas semua nikmat yang engkau selalu limoahkan kepada keluarga besar hamba, hamba sangat bersyukur karena sudah di berikan keluarga yang begitu baik dan perhatian kepada Lini ya Allah, terima kasih karena engkau juga sudah memberikan kedua malaikat kecil, sebagai penyemangat hidupku dan juga suami ku, hamba juga tidak tau harus berkata apalagi kepada engkau ya Allah, hanya do'a do'a dan kalimat tahmid yang selalu terucap di lisan ku ini, dan maafkan hamba kalau hamba masih banyak kekurangan dalam mengerjakan perintah dan juga kewajiban ku sebagai umat islam yang taat,'' gumam Mahalini di dalam hatinya, seraya memejamkan matanya, karya sudah mulai mengantuk setelah tadi di berikan obat penghilang sakit kepala oleh Devano.

__ADS_1


Devano menatap Mahalini dari sofa, di mana dia tengah mengerjakan pekerja'an yang harus cepat di selesaikan, sebelum besok kembali ke kantor.


''Kebiasa'an,'' gumam Devano dan beranjak dari duduk nya, berjalan ke arah tempat tidur, Devano membuka hijab yang masih berada di atas kepala Mahalini, karena Mahalini lupa tidak membuka hijabnya lebih dulu, sebelum tertidur tadi.


Devano tersenyum menatap wajah istri nya yang tengah terlelap dalam tidur nya, wajah putih, hidung mancung dengan bibir tipis menghiasi mata Devano.


''Sungguh sangat cantik sekali, kamu bahkan rela menutup aurat hanya dengan mendengarkan aku cerita saja, tanpa di minta dan juga tanpa paksaan sama sekali, tapi aku masih belum bisa memberikan apa yang kamu ingin sayang, maafkan Mas yang masih belum bisa mengabulkan apa yang engkau inginkan, mungkin lusa atau tahun depan, kita akan mewujudkan keinginan kamu itu,'' gumam Devano pelan.


Ya, Mahalini berkeinginan untuk melaksanakan tukun islam yang ke lima, bersama suaminya Devano, tapi mungkin Allah belum berkehendak mereka berdua mendatangi rumah Allah yang berada di Mekkah.


Setelah cukup lama Devano memandangi wajah Mahalini, dia kembali ke sofa, di mana ponsel nya berdering tanda ada yang memanggil.


-''Ada apa Riki,'' tanya Devano dengan nada datarnya.


-'Bos, besok masuk kantor tidak?'' bukannya menjawab, Riki malah balik bertanya ke atasan nya sekaligus sahabat nya, Riki juga sudah dia anggap saudara oleh Devano dan keluarga Bhaskara ayang lain tentunya.


-''Kalau yidak ada hal yang penting, lebih kamu matikan ponsel nya,'' jawab nya dingin dan langsung mematikan secara sepihak sambungan telfon nya, membuat laki-laki di seberang hanya bisa mendengus karena keegoisan Devano.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.


__ADS_2