
Selesai makan siang, Mahalini membereskan tempat makan nya, awalnya Mahalini ingin membawa tempat makanan yang kotor ke pantry untuk di bersihkan dahulu sebelum di masukkan ke dalam tas nya ( tempat kitak bekal nya), tapi Devano mwncegah kepergian istri nya yang ingin kembali pantry, karena Devano sudah mengira kalau istri nya sampai ke sana, otomatis dia akan lama berada di pantry.
''Sudah, biar Bibi di rumah saja yang bersihkan kotak bekal nya,'' seru Devano membuat langkah Mahalini terhenti di depan pintu.
''Hanya sebentar saja kok Mas, Lini janji tidak akan lama,'' sahut nya dengan berbalik menatap suaminya.
''Kamuntidak akan sebentar kalau sudah berada di pantry, tadi saja kamu sanga lama di depan resepsionis, lebih baik kamu masukkan saja ke dalam tas nya,'' perintah nya yang tidak akan pernah bisa di ganggu gugat, kalau sudah sang Tuan Muda sudah memerintah.
Mahalini mencebikkan bibir nya, dan menurut apa yang di katakan suaminya barusan, memasukkan kotak bekal nya kedalam tas yang ia bawa tadi.
''Minum lah,'' Devano menyodorkan susu vanilla ke hadapan Mahalini.
Mahalini tidak lagi membantah perintah suaminya, dia hanya bisa menurut apa yang sudah di perintahkan oleh Devano suaminya, karena sejati nya Mahalini hanyalah mencari keberkahan dan juga ridho melewati suaminya, bukan hanya itu saja? surga seorang istri ada pada suaminya, jadi Mahalini harus berbakti dengan suaminya.
''Ayo kita ke rumah sakit saja sekarang, aku sudah tidak sabar ingin melihat si kecil sudah sebesar apa,'' ucap nya dengan mengulurkan tangan ke hadapan Mahalini yang masih membersihkan sisa sisa makanan nya tadi.
Mahalini menyambut uluran tangan dari suaminya? seraya berkata, ''Apa tidak apa apa Mas Vano meninggalkan semua pekerja'an di sini,'' tanya nya dengan mendongak kan kepala nya menatap wajan suaminya, karena tinggi Devano dan Mahalini beda jauh.
''Kenapa harus khawatir begitu, karena aku meninggalkan kantor ku, aku adalah bos di kantor ini, jadi aku mau berbuat apa saja terserah aku dong,'' ucap nya dengan mengapit tubuh Mahalini ke tubuh nya.
''Lebih baik kita berangkat sekarang saja Mas, nanti malah kesorean lagi,'' Ucap Mahalini yang sudah tidak enak dengan keada'an nya saat ini.
Devano mengangguk dan berjalan keluar ruangan dengan menggenggam erat tangan Mahalini, seakan dia ingin memberi tahu kepada seluruh karyawan nya yang ada di kantor nya, bahwa Mahalini adalah istri nya dan saat ini dia sedang mengandung buah cintanya bersama sang istri.
Para karyawan yang ada di lantai atas, menatap Mahalini yang berjalan bersama bos besar nya.
__ADS_1
''Ech itu Mahalini kan, gadis OB yang kemarin bekerja di kantor ini kan? kenapa bos kita bisa sedekat itu sama dia ya,'' bisik karyawan wanita yang memang suka ngegosip.
''Mas lepasin tangan Kini, tidak enak juga di lihatin sama semua karyawan kamu,'' gumam Mahalini pelan.
''Biarkan begini saja, bukan kah kamu istri Mas sekarang? kenapa kamu harus malu di lihat semua para karyawan, kalau mereka melakukan sesuatu sama kamu, aku bisa langsung memecat mereka juga kok,'' balas nya dengan santai.
Di sepanjang jalan semua mata tertuju kepada Mahalini dan juga sangat atasan, dimana mereka berdua nampak sangat akrab, membuat spekulasi semua orang yang mengatakan kalau Mahalini sedang menggoda sang atasan, padahal kan Mahalini adalah istri sang atasan bukan pacarnya lagi.
...****************...
Di rumah sakit
Mahalini dan Devano sedang menunggu giliran antrian untuk masuk ke dalam ruangan dokter kandungan, Mahalini sebenarnya bisa saja masuk lebih awal dari semua orang yang sudah berada di depan ruangan dokter kandungan tapi Mahalini lebih memilih ikut antri bersama semua Ibu Ibu hamil lain nya.
''Kenapa kita tidak periksa lebih dulu sih sayang, kita kan bisa ke dokter kandungan lain nya, tanpa harus mengantuk seperti ini,'' bisik Devano ketika melihat istri nya menatap seorang wanita yang perut nya sudah membesar, sedangkan laki-laki di samping nya mengelus perut sang Ibu dengan sangat lembut.
''Ya pastinya bertambah besar lah sayang, kan batin kita akan terus tumbuh besar di dalam perut kamu, sampai tiba dia lahir nanti,''
''Tapi kalau misalkan tubuh Mahalini mengembang seperti Ibu itu? apa Mas Vano masih mau sama Lini,'' tanya Mahalini tiba-tiba, entah kenapa Mahalini? merasa tubuh nya akan jelek dan suaminya Devano akan meninggalkan nya nanti, pikir nya.
''Kenapa kamu ngomong seperti itu, mau bagaimana pun penampilan kamu nanti Mas akan selalu hidup berdua dengan kamu sayang, kita akan membesarkan anak-anak kita sampai dia tumbuh dewasa, bahkan sampai kita memiliki cucu cucu yang banyak, jadi kamu jangan mengira kalau Mas akan meninggalkan kamu karena tubuh kamu yang gemuk seperti itu,'' jawab Devano dengan panjang lebar, menenangkan sang istri agar tidak terlalu memikirkan hal yang semacam nya.
'Aku sudah berjanji sama kamu, tidak akan pernah meninggalkan kamu, hanya mau yang akan memisahkan kita berdua,' batin Devano.
Devano merasa sangat bersyukur mendapatkan seorang istri, seperti Mahalini yang super duper baik nya, Mahalini bahkan mengajarkan banyak hal kepada suaminya, seperti hal nya sedekah dan beramal.
__ADS_1
Mahalini juga mengajarkan Devano sholat dan belajar membaca Al-Qur'an, berkat Mahalini juga Devano bisa bersikap lebih hangat dengan kedua orang tuanya yangnsedati dulu yidak pernah mengobrol bareng di ruang keluarga, kini rumah besar keluarga Devano lebih hidup lagi dengan kehadiran Mahalini.
Lama di dalam ruangan sang dokter, Devano menyuruh Mahalini untuk beristirahat di bangku, sedangkan dia berjalan menuju ke apotik guna menebus obat yang di resep kan oleh sang dokter kepada istri nya.
Tak menunggu waktu yang lama, suaminya kini sudah berada di depan nya, Devano membantu Mahalini bangun dari tempat duduk nya, Devano sangat senang ketika mendengar sendiri bagaimana keada'an calon anak nya yang ada di dalam perut istri nya, Devano juga sudah bertanya tentang rencana resepsi pernikahan nya yang akan di adakan sebentar lagi, dan dokter mengatakan tidak apa apa, kandungan Mahalini sangat kuat.
''Apa kamu mulai capek dengan kandungan kamu ini,'' tanya Devano ketika melihat istri nya mendesah pelan.
''Tidak sama sekali kok Mas, nikmati saja yang Tuhan kasih, karena tidak semua orang bisa merasakan kehamilan seperti Lini sekarang,'' jawab nya dengan mengulas senyum, meskipun dia sudah merasa begah setiap selesai makan atau melakukan apapun, tapi Mahalini selalu bersyukur kepada sang Khalik karena sudah di beri kepercaya'an untuk merasakan hamil, dan juga menjadi seorang wanita yang sempurna karena sudah menjadi seorang Ibu.
''Tapi, aku tadi melihat wanita hamil yang bilang kalau hamil itu capek dan juga bikin kesal, karena selain itu bentuk tubuh nya akan berubah drastis, maksudnya tidak menarik lagi,'' sambung nya dengan mengatakan apa yang ia dengar di apotek tadi.
''Iya, itu kan mereka Mas, bukan Lini? kalau Lini mah seneng seneng saja dengan kehamilan ini, tubuh akan kembali ideal ketika kita rajin memberi ASI ekslusif pada anak kita dan harus rajin olahraga juga,'' sahut nya dengan mengabaikan pandangan suaminya yang begitu takjub dengan jawaban dari Mahalini sang istri.
'Sungguh mulia sekali hati mu sayang? kamu tidak pernah memikirkan penampilan kamu, meski kamu adalah istri dari seorang CEO, tapi penampilan kamu selalu seperti ini, 'Sederhana'. gumam Devano menatap wajah cantik istri nya yang bobot nya sudah bertambah di usia kandungan nya menginjak 3 bulan.
.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕.