
''Kita langsung ke meja makan saja,'' ajak nenek Devano yang langsung merasa akrab dengan Mahalini, wanita cantik yang pernah ia tolong kemarin.
Mahalini mengangguk pelan, tak lupa senyum di bibir yang kini di beri warna peace Mami pemilik salon kecantikan.
Dengan ragu Mahalini mengambil nasi di depan nya, dia merasa tidak pantas berada di tengah-tengah keluarga yang terhormat dan juga terpandang. Sedangkan dia sendiri hanya anak pungut yang di temukan di pinggir jalan waktu dulu oleh Papa Setiawan.
''Anggap saja rumah sendiri nak? karena sebentar lagi kamu akan menjadi keluarga kita,'' Ucap nenek Devano yang di angguki oleh Mama Devano.
''Benar yang di katakan nenek, makanlah yang banyak dan tidak usah merasa malu atau rendah di hadapan kami,'' sambung Mama Devano lembut.
''Terima kasih Nyonya,'' jawab Mahalini mengulas senyum nya.
''Nyonya?'' nenek Devano langsung mengoreksi ucapan Mahalini yang memanggilnya dengan sebutan nyonya.
__ADS_1
''Panggil saja aku seperti Devano memanggil,'' gumam nya dan menyuapkan makanan yang sudah ada di sendok nya.
''Ba-baik nek,'' jawabnya gugup.
Mereka ber enam sedang menikmati makan malam bersama dengan nikmat, Mahalini sendiri sudah terbiasa dengan hidangan mewah di depan nya, namun tidak untuk mencicipi nya, bahkan memakannya. Mahalini hanya bertugas memasak tanpa ikut makan makanan enak yang ia masak ketika masih berada di rumah Mama Agnes.
Dalam hati Mahalini menangis, kini dia sudah bisa merasakan makanan mewah yang ada di depan nya, dan tak kalah mewah dari masakan ia sendiri waktu kemarin.
''Apa kamu tidak menyukai masakan nya,'' tanya Mama Devano tiba-tiba, membuat Mahalini menjatuhkan air mata nya yang menggenang di kelopak matanya.
Mama Devano hanya menarik nafas dengan sikap Mahalini yang selalu gugup dan malu ketika berada di depan keluarga besarnya.
Selesai makan malam mereka semua berkumpul di ruang keluarga yang begitu luas.
__ADS_1
''Devano, kapan rencana kamu akan menikahi Mahalini,'' tanya sang Kakek yang tho the poin kepada cucunya.
''Menurut kakek yang enak thu kapan?'' tanya Devano balik kepada sang kakek, membuat kakek Bagaskara berdecih.
''Cihh, yang akan melakukan pernikahan kamu dan Mahalini, kenapa harus tanya kakek, kalau kakek bilang besok? apa kamu mau besok!'' jawab nya dengan menatap tajam ke arah Devano yang duduk berdekatan dengan Mahalini.
''Kalau mau kakek besok, kenapa enggak?'' tantang Devano membuat kakek Bagaskara memutar mata malas.
''Devan hanya akan menikah di depan kalian semua dan juga di hadapan keluarga besar kita saja, Devano masih belum siap mempublikasikan pernikahan Devano dalam waktu dekat ini,''
''Kenapa begitu Devan? teman Mama dan juga klien Papa juga ingin tau pernikahan kalian,'' potong sang Mama.
''Mama dan Papa kan tau sendiri, perusaha'an Devan sedang dalam masa pemulihan setelah kemarin ada musuh yang sengaja masuk ke dalam perusaha'an. Devano tidak mau musuh musuh Devano tau kelemahan Devano setelah menikah nanti,'' Devano memberikan alasan yang cukup masuk akal buat semua keluarga nya.
__ADS_1
Kakek Bagaskara juga tidak mau terjadi sesuatu dengan Mahalini, cucu menantu yang sangat polos dan lugu di matanya.
''Baiklah, aku setuju dengan ucapan Devano barusan. Mungkin nanti kita bisa mengadakan resepsi pernikahan kalian berdua,'' gumam nya yang setuju dengan perkataan sang cucu