
Tak begitu lama, ada seorang laki-laki paruh baya yang sedang mencari barang bekas tak jauh dari tempat Mahalini di gebukin oleh Mama Agnes dan juga Almaira.
''Motor siapa ini? kok di taruh di tengah jalan seperti ini,'' gumam sang kakek pemulung dengan mengitari motor Mahalini.
''Tidak ada orang nya,'' gumam nya pelan. Dan masih bertanya tanya tentang siapa pemilik motor tersebut.
''Ada apa kek, kok kayaknya bingung githu,'' tanya salah satu pengendara motor yang melihat sang kakek terlihat kebingungan.
''Tidak apa apa kok ***, hanya kakek heran saja dengan pemilik motor ini yang meninggalkan motor nya di tengah jalan,'' sahut nya dengan menatap kedua pemotor di depan nya.
''Jadi ini bukan motor kakek?'' tanya salah satu laki-laki yang kini memindahkan motor Mahalini ke pinggir jalan raya.
''Kakek juga bingung dengan ini motor, karena kakek tidak melihat pemilik nya,'' balasnya dengan celingak celinguk ke kanan dan juga ke kiri.
Beberapa menit kemudian ponsel Mahalini berdering di bawah jok motor nya. ''Kayaknya ponsel nya berdering dech,'' kata seseorang yang masih tetap diam di dekat motor Mahalini.
''Bukan ponsel ku, coba cari ponsel siapa yang berdering,'' perintah teman nya ketika tidak mendapati ponsel nya tidak berbunyi.
''Kayaknya di dalam sini dech bro, coba kamu dengerin yang bener,'' titah nya dan menaruh daun telinga nya ke atas jok motor Mahalini.
Laki-laki tersebut langsung membuka jok motor dan mengambil ponsel tanpa melihat ID pemanggil.
-''Neng Lini, kenapa kamu belum pulang? tadi teman dari kampus juga datang kemari mencari neng Lini,'' Ujar seseorang di seberang dengan ucapan yang terus saja nyerocos.
-''Maaf Bu, yang punya ponsel tidak ada di sini, motor nya juga tadi ada di tengah jalan? apa Ibu kenal dengan pemilik ponsel dan motor ini,'' tanya nya.
-''Ech ini siapa, di mana neng Mahalini. Jangan macam macam ya sama neng Mahalini,'' sahut Bi Ijah di seberang dengan gelisah seraya marah marah, karena yang mengangkat telfon nya bukan Mahalini.
__ADS_1
''***?!'' panggil kakek pemulung itu dengan suara yang agak keras ketika melihat tubuh wanita yang terkapar di bawah pohon. ''***, cepat kemari ada orang pingsan,'' teriaknya lagi ketika dia pemotor itu tidak datang menghampiri.
''Ada apa kek,'' tanya salah satu yang sudah berlari menghampiri nya. ''Astaqfirullahal adzim!'' pekiknya karena kaget melihat seorang wanita muda di penuhi darah.
''Astagfirullahal adzim.'' laki-laki yang tadi menerima telfon Bi Ijah segera menutup mulutnya melihat keada'an gadis di depan nya yang sangat memperihatinkan.
''Ayo cepat bawa ke rumah sakit,'' ujar salah satunya yang kini sudah mulai menggotong tubuh Mahalini yang penuh warna biru di pipi dan juga lengan nya.
''Aku cari mobil dulu di depan, nggak mungkin juga kan kita bawa pakek motor?'' seru sang teman, lalu segera mencegat mobil yang lewat, tapi tidak ada yang mau berhenti sama sekali.
Di sisi lain ada kakek Devano yang sedang menuju ke rumah sakit untuk cek up kesehatan nya, karena tadi beliau sempat drop di rumah nya.
''Kamu beneran tidak apa apa kan?'' tanya sang istri dengan menganggap dada suaminya di samping nya.
''Aku selalu baik baik saja, tapi kamu yang sangat lebay dengan penyakit ku ini,'' jawab nya dengan tak suka, karena hampir setiap hati sang kakek selalu di bawa ke rumah sakit dengan alasan drop, padahal cuma sakut dada biasa doang. Pikir kakek Devano.
''Berhenti di depan,'' perintah kakek Bagaskara kepada supir nya.
''Ada apa?'' tanya kakek Bagaskara kepada laki-laki yang mencegatnya.
''Maafkan kami Tuan, tapi kami butuh tumpangan untuk wanita ini ke rumah sakit,'' jawab nya dengan sangat hati hati, karena dia sangat tau yang ia cegat saat ini adalah Tuan Bagaskara.
Kakek Bagaskara mengangguk dan membuka pintu belakang, beliau keluar dan menyuruh laki-laki itu memasukkan tubuh wanita malang itu ke dalam mobil nya.
''Kamu masukin ke dalam saja, kebetulan saya akan ke rumah sakit,'' perintah kakek Bagaskara kepada orang tersebut.
Orang yang sedari tadi menggendong Mahalini pun menaruh tubuh Mahalini ke dalam mobil, kakek Devano menerima kepala Mahalini yang langsung di taruh di atas pahanya.
__ADS_1
''Dia kenapa kok bisa begini?'' tanya nenek Devano kepada orang yang menggendong Mahalini.
''Saya juga tidak tau Nyonya, kamu menemukannya sudah seperti ini,'' jawab nya sangat sopan.
''Ya sudah, terima kasih sudah mau membantu, saya akan membawa wanita ini ke rumah sakit sekarang,'' balasnya dengan mengulas senyum di bibir tuanya, namun masih nampak begitu cantik di usia senjanya.
Kakek Bagaskara duduk di samping sang sopir dengan sesekali menatap wajah cantik Mahalini yang begitu memperihatinkan.
40 menit kemudian Tuan Bagaskara sudah sampai di rumah sakit miliknya, beliau memanggil perawat untuk memindahkan Mahalini ke dalam.
Tuan Bagaskara yang mengurus Mahalini di rumah sakit, sampai akhirnya ponsel Mahalini bergetar menampilkan ID pemanggil dengan nama Bos.
-''Lini, kamu di mana? supir ku sudah menunggu kamu sejak tadi,'' ujar laki-laki di seberang, alis kakek Bagaskara mengernyit ke atas karena dia seperti kenal dengan suara yang menelfon.
-''Maaf, anda siapa,'' tanya kakek Bagaskara kepada seorang di seberang.
-''Ini ponsel Mahalini kan, siapa anda?'' Devano malah balik tanya kepada kakek Bagaskara, yang tak lain adalah kakek nya sendiri.
-''Wanita yang punya ponsel sedang ada di rumah sakit, lebih baik anda ke rumah sakit sekarang,'' titah nya dengan nada datar seraya memutuskan panggilan telfon nya secara sepihak.
''Siapa yang memegang ponsel Mahalini,'' gumam Devano dengan beranjak dari duduknya, dan menyambar jas yang ada di sandaran kursi, tak lupa juga Devano menghubungi Bi Ijah yang sebenarnya sedari tadi sudah sangat khawatir dengan anak majikan nya.
-''Hallo Tuan?'' Ucap Bi Ijah yang sudah menggeser layar ponsel nya.
-''Bi Ijah ke rumah sekarang, Mahalini ada di sana, nanti aku menyusul,'' sahut Devano dan menutup panggilan nya.
Bi Ijah tertegun sejenak mendengar Mahalini yang berada di rumah sakit, tanpa pikir panjang Bi Ijah segera menuju ke rumah sakit dengan meminta antar ke tetangga dekat rumah nya.
__ADS_1
Di ruangan UGD Mahalini sedang terbaring lemah, wajah yang cantik terlihat membengkak akibat tamparan yang di lakukan oleh Mama Agnes dan juga Almira tadi, darah masih mengalir dari hidung nya, dan ada beberapa luka di lengan sampai sikunya, mungkin terkena ranting kayu yang ada di sana tadi pas waktu ia di siksa.