Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 75.


__ADS_3

Mahalini memejamkan matanya dengan segala pikiran yang ada di otak nya, Mahalini hanya guling guling tak karuan di atas tempat tidur, Devano yang ada di sofa tak jauh dari tempat tidur nya hanya melihat sang istri yang nampak tak nyaman dengan tidur nya.


''Kamu kenapa sayang, kok tidur nya seperti itu sich,'' tanya Devano yang sudah ada di samping tempat tidur Mahalini.


''Aku tidak apa apa kok Mas, hanya kepikiran dengan usaha yang aku baru mulai itu saja,'' jawab nya dengan nada sedih.


''Kamu tidak boleh terlalu banyak pikiran sayang, saat ini kamu sedang mengandung, dan kamu harus selalu bahagia dan juga senang, tidak tertekan dan juga stres, seperti yang Mami Amora katakan tadi,'' tukas nya dengan mengelus pipi chubby Mahalini.


''Tapi itu semua akan membuat pelanggan Lini kecewa Mas, Lini masih ingin terus membuat kue kue pesanan orang orang seperti kemarin dan Lini tidak mau terus berdiam diri dan tidak melakukan apapun,'' balas Mahalini dengan mengubah posisi tidur nya dengan miring menghadap ke arah suaminya.


''Iya, Mas janji tidak akan melarang kamu untuk bikin kue kue pesanan lagi, tapi kamu harus ingat, kalau kamu sudah capek? kamu harus cepat istirahat tanpa harus di suruh lagi oke,'' pesan nya dengan mencubit hidung Mahalini.


''Benarkah??'' tanya Mahalini memastikan lagi kepada Devano. ''Tapi nanti Mama yang ngelarang Lini untuk beraktivitas seperti biasanya Mas?'' sedih nya.


''Nanti Mas akan bilang sama Mama, asal kamu ikuti pesan Mama dan juga Mas saja,''


''Iya, Lini janji kok,'' jawab nya dengan senyuman manis di bibir nya.


'Rasanya sangat bahagia ketika melihat istri ku tersenyum seperti ini, hanya dengan mengikuti perminta'an nya saja dia sudah sangat bahagia seperti ini,' gumam Devano di dalam hatinya.


Akhirnya Mahalini bisa tertidur sangat oulas dengan ucapan suaminya yang mengijinkan dirinya untuk tetap membuat kue kue pesanan nya.


Mahalini hanya tidak mau terus bergantung kepada suaminya, karena dirinya sangat sadar kalau terjadi apa apa kepada nya dia sudah mempunyai tabungan yang cukup untuk dirinya dan juga anak nya kelak, karena hidup seseorang tidak bisa di tebak begitu saja, ada kalanya seseorang bisa mengalami masa sulit dan masa jayanya, karena itulah Mahalini selalu menyempatkan untuk selalu bersedekah untuk tabungan akhirat dan juga membersihkan harta hartanya yang tidak seberapa itu.


...****************...


Di ruang tamu kakek Bhaskara sudah sampai dan sedang mengobrol dengan Mama Clara.


''Kemana cucu menantu ku Mahalini,'' tanya kakek Bhaskara yang baru duduk di sofa empuk nya.


''Mahalini masih tidur Pa, mungkin sebentar lagi dia akan bangun dan turun ke sini,'' jawab nya dengan mengulas senyuman.


''Ternyata masih tidur toh, aku kira dia sedang bersantai gitu, karena hari sudah sangat sore,'' tukas nya dengan menyandarkan tubuh tuanya ke sandaran sofa.


''Ya di maklumi lah Pa, Mahalini kan sekarang sedang hamil, dan dia juga butuh istirahat yang cukup, dan dia juga pasti sangat kelelahan juga,'' sahut Mama Clara dengan tanah kepada Papa mertua nya.


''Silahkan di minum Tuan besar,'' ujar Bibi yang meletakkan teh hangat dan beberapa kue buatan Mahalini di hadapan sang kakek Bhaskara.


Kakek Bhaskara tidak menjawab hanya saja dia menganggukkan kepalanya pelan, sebagai jawaban nya.


Kakek Bhaskara mengambil satu potong kue dari piring, dan segera memakan nya, mengunyah dengan perlahan dan merasakan nikmat kue yang sedang niat nikmati dengan segenap hati.

__ADS_1


''Kayaknya rasa kue ini berbeda dari biasanya, kamu ganti toko buat beli camilan ini,'' tanya kakek Bhaskara kepada Mama Clara.


''Clara tidak pernah ganti toko kue kok Pa, tapi yang di makan Papa sekarang adalah hasil dari buatan cucu menantu Papa,'' balas nya dengan sangat bangga, karena sang menantu sangat pintar dalam segala hal, bukan hanya membuat kue, tapi Mahalini juga bisa memasak makanan yang super lezat dan juga nikmat. puji Mama Clara di dalam hatinya.


''Wah, ternyata menatu ku selain bisa masak, dia juga bisa bikin kue juga,'' Kakek Bhaskara juga memuji Mahalini.


Tak lama kemudian, Devano turun dari lantai dua dengan langkah yang tidak bisa di attikan dengan kata kata, karena saat ini dia harus nya bahagia dengan kabar kehamilan istri nya, tapi Devano sedang kebingungan dengan sang istri yang tak ingin meninggalkan pekerja'an barunya.


''Devan, kamu kenapa kok lesu githu,'' tanya Mama Clara yang melihat kedatangan Devano sang putera.


''Devan tidak apa apa Ma, hanya saja Devan sedang bingung menghadapi sikap Mahalini yang emosi nya naik turun,'' jawab nya dengan mendarat kan boking nya di sofa, setelah mencium punggung tangan Kakek dan juga nenek nya.


''Bingung kenapa sich, kan kamu cuma memikirkan istri kamu, tanpa harus membuat dia sedih dan juga tertekan,'' jawab sang nenek yang sedari tadi diam tidak menjawab semua ucapan dari Mama Clara.


''Mahalini masih kekeh dengan pendirian nya Ma, dia tidak ingin berhenti dari pekerja'an nya yang sekarang? maksud Devan, Lini masih ingin terus membuat kue kue pesanan dari tokoh kue itu'' Devano mencoba menceritakan semuanya kepada keluarga nya, siapa tau keluarga nya ada yang memberikan solusi, agar dirinya tidak lagi bingung dan di landa kegalauan juga.


''Biarkan saja dia melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi nya dan juga bagi semua orang, biarkan dia berkreasi dengan keahlian nya saat ini, asal dia bahagia kenapa kau tidak ijinkan,'' sahut nya dengan mengingat kan cucu nya.


''Yang di katakan kakek kamu itu benar Devan, kamu tidak boleh melarang istri kamu yang mau melakukan apapun, selama dia dalam kondisi sehat, kamu juga harus mengontrol emosi kamu di mulai dari sekarang, ingat! istri kamu sedang m ngandung buah cinta dari kalian berdua,'' ujar Nenek Bhaskara yang juga membenarkan semua ucapan suaminya.


Devano hanya mengangguk dan akan mengingat semua ucapan dan pesan dari kakek dan juga nenek nya.


''Assalamu'alaikum,'' sapa Mahalini yang sudah berada tak jauh dari Mama Clara, kakek, nenek dan juga suaminya.


''Waalaikum salam,'' jawab semua orang secara bersama'an.


Mahalini mencium punggung tangan kakek dan juga nenek dari suaminya, dan tak lupa Mahalini bertegur sapa untuk membuat nya lebih nyaman dan tidak merasa canggung seperti pertemuan nya saat pertama kalinya.


''Kakek apa kabar nya,'' tanya Mahalini yang sudah duduk di samping Devano suaminya.


''Alhamdulillah sangat baik, dan kakek harap kamu juga baik baik saja saat ini,'' cetus nya dengan menatap wajah cucu menantu nya.


''Alhamdulillah kek, Lini juga baik dan sehat juga,'' sahut nya dengan kekehan kecil.


''Kenapa kamu tidak pernah jangan nenek di rumah besar,'' tanya sang nenek kepada Mahalini.


''Kalau tidak ada yang mengantar ke sana, Lini tidak terlalu tau rumah Kakek di mana?'' jawab nya dengan jujur.


''Emang dasar cucuku saja yang nakal ini, bukan nya mengajak istri nya ke rumah kakek, malah di biarkan saja,'' ketus nya dengan menatap Devano tajam.


''Ya, kan kakek sangat tau Devano seperti apa, pekeeja'an Devan juga sangat banyak dan Lini juga sibuk dengan kuliah nya,'' bela Devano yang tak mau di salahkan dalam hal ini.

__ADS_1


''Harus nya kamu menyuruh sopir untuk mengantarkan istri kami ke sana, kenapa kamu bodoh sekali dalam hal ini,'' seru kakek Bhaskara yang kesal dengan sikap cucunya.


''Ya tapi kan?''


''Tapi, dasarnya kamu saja yang terlalu malas bertemu dengan kakek dan juga nenek di rumah itu, iya kan,'' sambung sang nenek dengan nada tinggi nya.


''Iya, itu juga lagi,'' jawab Devano dengan kekehan kecil, menampakkan deretan gigi putih nya, menghadapi sang nenek yang sedang marah, Devano tidak harus membalas dengan kekuatan juga atau menambah volume suara nya, hanya dengan kekehan saja sang nenek pasti akan luluh dengan nya.


Dan benar saja, saat ini nenek Devano malah tertawa dengan kelakuan cucunya yang sangat menyebalkan, tapi sungguh ngangenin.


''Sudah jangan bercanda terus, kakek dan nenek datang ke sini hanya ingin melihat Mahalini saja, karena kakek sudah mendengar kalau cucu ku sedang hamil saat ini,'' gumam kakek Bhaskara yang di angg7i oleh sang istri.


''Apa benar kamu sedang hamil sayang?'' tanya sangat nenek dengan nada lembut nya.


''Iya nek, Kini sedang hamil? baru 4 minggu,'' jawab Mahalini dengan perasa'an takut.


''Alhamdulillah, akhirnya aku akan di panggil buyut oleh anak mu kelak,'' seru sangat kakek yang langsung mendapatkan yepukan pelan di bahunya.


''Apa apa'an sich, kita di sini tidak ada yang budek, kenapa kamu malah teriak seperti itu sich,'' seru sangat nenek kepada kakek Bhaskara.


''Kan kakek dari semangat nya sampai berbuat seperti itu,'' balas kakek Bhaskara.


''Sudah lah, saat ini aku dalam keada'an senang dan bahagia, karena cucu ku sedang mengandung penerus dari keluarga kita,'' kata sangat nenek, beliau tidak mau berdebat dengan suaminya yang saat ini dalam mode bahagia nya.


''Besok kita adakan syukuran untuk menyambut cucu pertama kita ini,'' kata sang nenek lagi.


Keluarga Devano sangat bersyukur karena Mahalini sudah mengandung keturunan keluarga Bhaskara. Semua orang nampak bahagia dan selalu menyunggingkan senyuman nya ketika mengingat di dalam rahim Mahalini saat ini sedang bersemayam buah hati Devano, laki laki dingin dan menyebalkan itu.


Akan kah kebahagia'an terus berdatangan di keluarga Bhaskara setelah mengetahui Mahalini hamil buah cinta dari Devano sang cucu.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕.

__ADS_1


__ADS_2