Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Ban 153.


__ADS_3

Setelah di rawat selama 3 hari di rumah sakit, kini Dokter Laila sudah mengijinkan Mahalini untuk pulang ke rumah nya, Mama Clara dan Mami Amira sudah datang untuk menjemput putri dan juga menantunya, untuk segera pulang ke rumah nya.


Mama Clara sudah bersiap dengan menggendong si cantik, dan Mami Amora menggendong yang tampan, kedua nenek baru itu sangat antusias sekali, ketika mengetahui kalau cucunya sudah bisa di bawa pulang.


''Akhirnya kita bisa pulang ke rumah juga sayang, Oma sudah sediakan kamar untuk anak cantik dan juga anak tampan ini,'' ujar sang Mama Clara, seakan keduanya sudah mengerti dengan apa yang ia katakan barusan.


''Mama, Mama jangan aneh aneh dech, mereka berdua masih bayi, bahkan umurnya saja baru 3 hari, sudah di suruh tidur sendirian di kamar nya,'' sahut Devano yang baru masuk dengan mendorong kursi roda nya.


''Iya kenapa memang nya, Mama visa jagain dia kok di kamar nya, agar mereka berdua terbiasa dengan tidur sendirian nantinya, maka dari itu kita ajari dari sekarang saja,'' balas Mama Clara yang tak mau kalah.


''Nak Vano, sudah urus semua kepilangan Mahalini dan kedua cucu cucuku ini,'' tanya Tuan Sagara.


''Sudah Pa, dan sebentar lagi perawat akan melepas selang infus Mahay, kita tunggu saja, sekalian sama obat nya juga,'' jawab Devano.


''Baiklah, lebih baik kita duduk di sofa saja, biarkan mereka berdua berdebat masalah anak anak kamu,'' bisik Tuan Sagara yang tak ingin di dengar oleh sang istri. Bisa bisa tidur di luar nanti malam, kalau sampai pawang nya ngamuk, pikir Tuan Sagara.


Dwvano hanya mengikuti langkah Papa mertuanya yang sudah sangat hafal dengan kelakuan para istrinya, maka dari itu mereka semua memilih menghindar sebentar dari mereka bertiga.


''Sekarang kita selamat, entah nanti kita akan menjadi sasaran nya, ketika bayi bayi yang ia sayangi menangis karena popok nya basah, haus dan juga saling jambak dengan saudara lain nya. Kita akan sama sama pusing nantinya,'' bisik Tuan Sagara pelan, sehingga hanya Devano dan juga dirinya yang mendengar gumaman nya.


****************


Di kediaman Devano, rumah yang mewah dengan semua fasilitas yang ada, membuat Mahalini harus extra sabar dalam menghadapi semua ini dalam kesendirian, bahkan aku hanya ingin benar benar sembuh hari ini juga, gumam Mahalini yang kini sudah sampai di halaman rumah suami nya.

__ADS_1


''Assalamu'alaikum,'' ucap Mahalini ketika melihat banyak sanak saudaranya yang sudah menunggu di rumah nya, tak lupa juga di sana ada Bunda Kinanti, dan juga keluarga yang lain nya.


''Waalaikum salam,'' jawab semua orang yang dengan sengaja di buat bersama'an menjawab nya.


''Lini kira kalian tidak akan datang, karena Lini tidak melihat di rumah sakit, tapi? ternyata, aku sungguh bahagia sekali dengan dengan kehidupan yang sekarang ini,'' ucap nya.


''Ayo kita masuk sekarang saja, kasian si kembar kepanasan ada di luar,'' ajak Bunda KInanti dengan memegang lengan Mahalini yang masih berjalan dengan secara perlahan.


''Hati hati sayang?'' seru Devano ketika sudah selesai menerima panggilan telfon nya.


Dan alangkah terkejut nya? ketika melihat tulisan besar yang menempel di tembok ruang keluarga nya. Dan di sana juga sudah banyak anak anak dan juga saudara dari Mama Clara, Mami Amora juga.


Mereka semua sangat antusias untuk menyambut kepulangan Mahalini bersama kedua bayinya, jadi akhirnya mereka menyempatkan diri untuk datang ke rumah besar Mama Clara,


Di depan nya nampaklah seorang wanita hamil yang kebetulan masih saudara sepupu Devano, ''Mungkin kamu lupa ya sama aku, kok tidak menyapa sich,'' ujar nya dengan menyilangkan tangan ke depan dada nya.


''Mana mungkin aku lupa dengan bumil yang semakin nampak kecantikan nya.'' balas Mahalini dengan kekehan nya.


Para wanita sibuk dengan obrolan nya, sedangkan para pria pria matang, sibuk membicarakan bisnis, yang sempat kemarin ada yang mencoba menyanotase perusaha'an Devano, tapi untung lah semua nya bisa terasi dengan baik, sehingga tidak menimbulkan masalah di kantor nya.


''Kemarin aku sudah mendapatkan fakta, dari anak buah yang kamu urus sekarang, mereka adalah anak buah kiriman dari Tuan Jonson, aku sudah mengajak saudara kamu untuk datang bersama ku, tapi kalau mereka menolak, kita harus secepat nya eksekusi mereka semua, biar ini semua menjadi pelajaran bagi mereka,'' ungkap saudara sepupu Devano yang memang mengapa tugas dari Devano langu kemarin, karena Devano sendiri sedang sibuk dengan istrinya yang sedang di rawat di rumah sakit.


''Lakukan yang menurut kamu benar, dan jangan sampai ada kesalahan dalam menjalankan tugas besar ini, Tuan Jonson bukan lawan yang bisa kita anggap enteng dan juga remeh, dia sangat licin seperti belut yang bisa meloloskan diri dari tangan kita. Papi juga sudah menyuruh orang untuk membantu kamu menyelidiki kasus yang kamu alami ini,'' sambung Papi Sagara menepuk punggung Devano.

__ADS_1


''Terima kasih Pi, kalau tidak ada kalian semua, aku tidak tau harus berbuat apa sekarang, karena fikiran ku masih buntu mengingat kejadian menimpa istriku saja belum mendapatkan bukti yang akurat, karena Mahalini tidak mau bercerita apa yang terjadi kepada nya,'' papar nya dengan memijit pelupa nya yang terasa berdenyut nyeri.


''Sudah, sekarang kamu fokus dulu pada istri kamu, masalah kantor ada Papa dan juga Papi kamu yang siap membantu bila di perlukan, saku sepupu kamu juga bisa di andalkan juga,'' Papa Devano menengahi obrolan mereka semua.


''Ayo kita makan siang dulu,'' teriak Mama Clara yang sudah selesai menata semua makanan di bawah, dengan beralaskan karpet. ''Maaf ya, kita makan nya lesehan saja, ala ala warung bakar yang kemarin kita datangi itu lho?'' Mama Clara tertawa renyah, mengingat dia kini sudah sah menyandang status baru, dengan panggilan Oma kedua cucu cucu nya.


''Tante bisa saja, memang nya kapan kita datang ke warung bakar bakar itu,'' celetuk sepupu Devano yang memang suka menggoda tantenya.


Gibran adalah anak dari adik Mama Clara, tapi mereka sangat dekat sehingga tidak ada jarak yang memisahkan di antara mereka berdua, tapi Gibran harus pergi untuk urusan pekerja'an nya di negara sebelah, dan akhirnya Devano dan Gibran terpisah karena jarak dan waktu.


Ketika Devano menghubungi Gibran untuk membantu di perusaha'an nya dia meyakinkan diri untuk kembali ke rumah nya dan bergabung lagi dengan adek sepupu nya, yang kini sudah memiliki dua orang anak, sedangkan dirinya masih tetap lajang karena masih enak hidup sendiri tanpa ada yang merecoki kehidupan nya saat ini.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.

__ADS_1


__ADS_2