Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 170.


__ADS_3

Di bawah panggung banyak orang yang memuji kecantikan Mahalini yang tertutup dengan baju panjang rancangan dia sendiri.


''Tidak nyangka ya, desainer baju baju yang baru saja di tampilkan adalah buatan seorang wanita cantik dan muslimah,'' Ucap pengunjung yang berada tak jauh dari Devano duduk.


''Iya, aku juga salut dengan dia, meskipun dia cantik? tapi dia tidak menampakkan kecantikan nya dengan memakai baju baju yang terbuka, dia malah lebih menutup auratnya sendiri, aku juga pengen kapan kapan di bikinin langsung baju baju gamis dech,'' jawab salah satu teman nya.


''Iya, aku juga pengen dech,'' sambung yang lain.


Devano tersenyum mendengar semua obrolan dari wanita wanita yang bahkan seumuran dengan Mahalini, ''Aku sangat sama kamu sayang, terima kasih karena kamu sudah menjadi istri terbaikku selama ini,'' gumam nya pelan.


****************


Di Rumah Catering.


Zarine dan Zainal yang di beri kepercaya'an langsung, untuk mengelola rumah Catering tersebut sangat senang, karena kemajuan Rumah Catering Mahalini semakin pesat.


Pak Djarot dan istrinya masih tetap tinggal di rumah Catering Mahalini, sebenarnya Mahalini menginginkan kedua pasangan baru itu untuk menempati rumah yang sengaja ia beli tak jauh dari rumah Catering nya, tapi Zarine dan Zainal menolak secara halus dan bahkan tetap kekeh tinggal di rumah kontrakan nya.


Sedangkan Pak Djarot dan sang istri memilih tetap tinggal di samping rumah Catering Mahalini.


Kalau kalian tidak mau tingo di rumah itu, kalian bisa tinggal di sini dengan kami, biar kami ada teman nya juga,'' sahut istri Pak Djarot kepada Zarine.

__ADS_1


''Tidak usah Bu, kita berdua sudah membayar uang kontrakan selama satu tahun ke depan, jadi kalau kita tinggal di rumah yang di beli Mahalini, uang kita yang sudah di kasih kan tidak akan pernah kembali kepada kita lagi Bu, jadi mungkin lain waktu saja kita berdua tinggal di sana, atau mungkin di sini,'' jawab Zarine dengan panjang lebar.


''Ya sudah, kalau gitu terserah kalian berdua, lagian kalian pengantin baru dan tidak mau ada orang yang menggangu waktu kalian,'' sambung Pak Djarot yang memang masih ikut membantu Zarine dan juga Zainal di rumah catering.


''Tidak seperti itu kok Pak, kami berdua sangat kalau kita berkumpul dengan kalian semua, tapi yang jadi masalah nya adalah uang kontrakan yang sudah di bayarkan penuh,'' sahut Zainal memperjelas alasan mereka mengapa tidak mau tinggal di rumah yang Mahalini beli.


''Iya sich, Bos kita memang lah sangat baik, pada semua karyawan nya,'' ucap Zainal yang di setujui oleh semua nya.


''Beliau juga cantik dan juga kaya, meskipun begitu Bos tidak pernah tinggi hati, dia selalu rendah hati kepada semua orang, termasuk pada semua yang bekerja di sini,'' kata Pak Djarot.


''Iya, aku juga bersyukur punya Bos seperti Mahalini, sejak dulu dia selalu bersikap seperti itu kepada semua orang, di kampus dulu Mahalini juga pekerjaan keras hanya untuk mendapatkan uang makan dan biaya kuliah nya, tapi siapa sangka kalau ternyata Mahalini adalah seorang putri dari keluarga konglomerat seperti tuan Sagara, tapi semua nya tidak membuat Mahalini semerta merta berubah menjadi wanita yang egois dan juga sombong, tapi dia bahkan lebih rendah hati kepada kita semua,'' ungkap Zarine dengan panjang lebar.


''Tidak di sangka juga kita sudah sangat lama bekerja di tempat ini, dan hidup kami sudah lebih baik dari sebelumnya, orang orang kadang ada yang bilang, kenapa tidak bikin usaha sendiri, kan kalian sudah sangat lama bekerja dengan Bos kamu,'' cerita Zarine kepada Pak Djarot yang di anggap tetua oleh para pekerja di sana.


''Terus kamu jawab nya bagaimana,'' tanya Pak Djarot yang tengah di landa penasaran.


''Aku jawab, lebih senang bekerja dengan Bos yang sekarang, lagian kita juga masih cukup setia dengan Bos ku yang sekarang, kalau masalah usaha sendiri belum tentu kita bisa menangani nya langsung, dan masih harus punya modal yang lebih, takutnya usaha kita tidak berjalan dengan lancar, apa yang kita harapkan tidak berjalan dengan yang sebenarnya, dan alhasil kita gulung tikar, dan karena sudah begitu kita harus berbuat apa lagi coba,'' jawab Zarine dengan jelas.


''Yq sudah, nikmati saja pekerja'an ini sekarang, mungkin di lain waktu kalian di beri kesempatan untuk membuat usaha sendiri, Bapak lebih suka dengan pekerja'an yang sekarang Nak, karena Bapak juga sudah tua, dan bersyukur sekali bisa di tampung di sini dulu sama Mahalini, dan mana mungkin Bapak pindah gitu,'' sambung Pak Djarot dengan mengingat beberapa tahun lalu, mengingat dirinya sedang berjualan dan tidak laku, karena para pesaing di luaran yang sangat banyak, tapi di rumah Catering Mahalini, Pak Djarot masih bisa berjualan sama dengan jualan nya yang kemarin, dan beliau pun bersyukur karena sudah di beri tempat tinggal gratis oleh Mahalini dan juga keluarga nya, tanpa mereka semua Pak Djarot tidak bisa membayangkan dirinya, bakalan tinggal di mana saat ini, pikir nya.


Setelah cukup lama mengobrol, dan pekeeja'an yang ia kerjakan selesai, Zarine dan Zainal berpamitan kepada Pak Djarot dan Bu Djarot.

__ADS_1


''Sudah malam Pak, Bu? kita berdua pamit dulu ya,'' pamit nya dengan mengulurkan tangan nya kepada kedua orang tua yang sudah di anggap Ibu Bapak sendiri oleh Zarine.


''Ya sudah hati hati ndok di jalan,'' sahut Bu Djarot dengan mengelus pundak Zarine.


''Iya Bu, terima kasih,'' jawab nya dan langsung naik ke atas motor yang di kendarai Zainal sang suami.


Pak Djarot menutup pintu rumah Catering Mahalini, dan pulang ke rumah di samping nya, ya walaupun di sana ada seorang yang di tugaskan untuk menjaga keamanan di rumah Catering Mahalini, tapi Pak Djarot tidak juga tenang, karena dia sudah di beri kepercaya'an penuh untuk menjaga tumah Catering Mahalini.


''Bapak benar-benar tidak mau pindah dari sini,'' tanya sang istri dengan hati hati.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.

__ADS_1


__ADS_2