Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 46.


__ADS_3

Devano mengajak Mahalini datang ke rumah nya, karena sang Mama dan juga Papa nya, ingin sekali bertemu dengan Mahalini.


''Hari ini kamu free kan?'' tanya Devano ketika melihat Mahalini keluar dari kamar nya.


''Ada kuliah pagi ini, jadi Lini akan minta ijin ke kepala HRD, karena Lini tidak ingin bolos ke kampus nya,'' jawab Mahalini dengan tanpa menatap ke arah Devano yang sedang mengajak nya berbicara.


Mahalini berjalan ke arah dapur untuk memulai sarapan pagi ini. ''Jadi kamu free nya kapan?'' tanya Devano lagi dengan beranjak dari duduk nya dan erjalan mendekat ke arah Mahalini yang sedang sibuk menyiapkan bahan bahan masakan nya.


''Entahlah, mungkin nanti siang? kalau semua nya sudah kelar semuanya,'' jawab nya cuek, Mahalini terus menyibukkan dirinya di depan lemari pendingin, memilah bahan apa saja yang ia perlukan untuk membuatkan sarapan suami dan juga makan siang nya ketuka berada di kampus nanti.


''Memang nya kenapa, kok Tuan nanya kegiatan Mahalini,'' tanya nya dengan mendongakkan kepalanya ke arah Devano yang tengah berdiri di samping nya.


''Mama sama Papa, menyuruh kita datang hari ini, dan aku kira kamu free hari ini, jadi aku tanya,'' jawab nya dengan terus menatap Mahalini yang masih duduk di depan lemari pendingin.


''Aduch, kemana sich nie barang? giliran di cari kagak ketemu temu gini,'' gerutu Mahalini ketika mencari barang belum ia temukan sedari tadi.


''Apa sich yang kamu cari,'' tanya Devano menimpali gumaman Mahalini.


''Ach, bukan apa apa kok, mungkin yang aku cari sudah habis,'' Mahalini memperlihatkan deretan gigi putih nya dan berdiri membawa semua bahan bahan yang ia ambil dari lemari pendingin, ke wastafel untuk segera di bersihkan.


''Apa yang bisa aku bantu,'' tanya Devano yang berniat baik kepada sang istri.


''Tidak udah Tuan, lebih baik Tuan duduk santai saja di ruang tamu,'' sahut nya dengan sedikit senyuman di bibir nya.


'Kalau Tuan membantu aku, yang ada malah semakin runyam kerja'an ku di dapur, bukan cepat beres? tapi semakin memperlambat waktu saja,' bisik nya pada diri sendiri.


Devano diam mematung dan terus saja menatap tubuh Mahalini dari belakang, Devano akan mengusili sang istri agar dia tidak cepat selesai, dan pergi ke kampus nya begitu saja, dan Devano sendiri dengan terpaksa harus pergi ke perusaha'an nya, katika Mahalini tidak bisa di ajak ke rumah kedua orang tuanya pagi ini.


''Lini, bikinin aku kopi seperti kemarin dong,'' perintah nya.


''Iya Tuan sebentar? Kini rebus air dulu,'' jawab nya menaruh ikan yang ada di tangan nya, dan menyambar panci untuk merebus air untuk membuat kan kopi untuk sang suami. Kini tidak mengeluh sama sekali dengan sikap sang suami, dan Kini juga tidak merasa kalau sikap suaminya sudeh mulai berubah sedikit demi sedikit terhadap nya.


Devano tersenyum melihat tangan terampil yang di perlihatkan oleh Mahalini di depan nya. ''Jangan lupa juga camilan dong Lini,'' lagi lagi Devan memerintah sang istri untuk menyiapkan semuanya.

__ADS_1


''Tuan, camilan nya sudah habis, dan Kini juga belum sempat bikin lagi, kemarin Lini sangat sibuk dan di apartemen Tuan tidak ada alat untuk membuat kue nya,'' Ucap Lini yang tengah mengaduk kopi buatan nya. ''Kalau mau snack saja bagaimana,'' tawar Lini kepada suaminya.


''Nggak ach, masak pagi pagi mau makan snack sich,'' sahut Devano cepat, ''Ya sudah kooi itu saja dulu, karena sebentar lagi aku juga akan sarapan,''


''Maaf Tuan, Tuan tumben tumbenan bangun seperti ini,'' tanya Lini yang mulai di selimuti penasaran.


''Ya mungkin itu semua gara-gara kamu yang berisik di pagi hari,'' jawab nya dengan asal, padahal Devano terbangun karena mendengar suara ngaji Mahalini yang begitu merdu saat di dengar.


'''Memang nya Lini berisik kenapa Tuan?''


''Ya pokoknya berisik dan sangat mengganggu waktu tidur ku,'' lagi lagi Devano berbohong, Devano tak mungkin memuji Mahalini secara langsung, karena gengsi nya yang lumayan gede.


Mahalini malas berdebat dan segera menyelesaikan masakan nya dan segera membersihkan tubuh nya karena sudah berkeringat dan juga bau asap.


''Tuan makan dulu saja, Lini masih mau mandi dan bersiap untuk pergi ke kampus setelah selesai bersiap nanti,'' Mahalini tak ingin Devano menunggu nya, karena itu akan memakan waktu yang sangat lama.


Tanpa menunggu jawaban Devano, Mahalini sudah berlari ke arah kamar nya dan segera masuk ke dalam kamar mandi, bukan dia mau cept mandi juga, sebenarnya Mahalini sudsh tidak tahan ingin buang hajat yang sedari tadi ia tahan untuk cepat menyelesaikan tugas negara nya.


''Kita kira bakalan telat nggak sich ke kampus nya, lagian kenapa juga aku sampai kesiangan keluar dari kamar nya sich,'' gerutu Mahalini menyalahkan dirinya sendiri yang keenakan membaca Al-Qur'an, sehingga dia lupa akan semua tugas nya di apartemen ini.


Perut Devano sudah mulai berdemo minta segera di isi, pertama Devano mencicipi masakan di depan nya, dan mengangguk kan kepalanya perlahan, pertanda makanan di depan nya enak.


Di lihat nya lagi, kalau kalau Mahalini sudah ada di luar kamar nya, tapi Mahalini belum ada tanda tanda mau keluar dari kamar nya, jadi Devano memutuskan untuk makan lebih dulu tanpa menunggu Mahalini lagi.


Devano menatap wadah kotak yang sudah berisi nasi di dalam nya, debay mengernyit kan dahinya karena heran dengan kotak di samping nya.


Dua kitak berjejer dengan rapi di samping nya, ''Untuk apa dua kotak nasi ini,'' gumam Devano seraya menyuapkan nasi ke dalam mulut nya.


''Apa mungkin ini bekal Mahalini selama ini, apa dia benar-benar tidak memiliki uang sama sekali? dan bodoh nya aku belum memberikan uang sama sekali sejak kemarin, dan kenapa aku sampai lupa sich...'' Devano melupakan kewajiban nya sebagai suami, meski hanya suami kontrak buat Mahalini, tapi Devano berhak menafkahi Mahalini selama dia menjadi istri nya.


Mahalini keluar dengan kaos lengan panjang dan celana jeans navy nya, tak lupa juga Mahalini sudah membawa tas punggung yang berisi laptop dan juga buku buku kuliah nya, seperti setiap hati yang ia lihat.


''Lini, ini untuk kamu,'' ucap Devano ketika Mahalini menuju dua kitak di samping nya.

__ADS_1


''Buat apa Tuan, kemarin kan sudsh berbelanja, jadi masih belum butuh untuk belanja lagi,'' ucap nya dengan mengambil lauk dan juga sambal yang sengaja ia pisah dengan plastik yang sengaja Mahalini ambil dari dalam tas nya.


''Ini untuk jajan kamu dan keperluan kamu,'' kata Devano tetap menyodorkan kartu Black card kepada Mahalini.


''Tidak usah Tuan, Lini masih ada tabungan kok buat keperluan Lini sehari-hari,'' tolak Lini dengan lembut, Mahalini meraih kantong kresek yang di selipkan di tas nya, dan membungkus semua kotak bekal yang ada di samping Devano.


''Kamu bawa dua kotak bekal, untuk siapa saja?'' tanya Devano setengah menyelidik.


''Ini untuk Lini Lah Tuan, memang nya buat siapa lagi coba,'' balas Mahalini yang mulai jengah dengan pertanya'an sang Tuan nya. ''Satu lagi buat sarapan setelah Lini sampai nanti, karena Lini tidak bisa sarapan di sini, jadi Lini akan sarapan di kelas nanti,'' Ujar nya dengan meraih tangan Devano, Mahalini menciun punggung tangan Devano dan berpamitan pergi ke kampus nya.


''Lini berangkat ke kampus dulu Tuan, biarkan saja sisa makanan nya di meja saja, nanti seoulang kuliah? baru Lini bersihkan meja nya,'' ucap nya sebelum keluar dari apartemen Devano.


''Assalamu'alaikum,'' ucap Mahalini yang kini sudah pergi dari apartemen Devano, meninggalkan Devano sendirian yang tengah menikmati makanan nya.


''Waalaikum salam,'' jawab Devano ketika sudah sadar Mahalini tak ada di sana lagi.


''Kenapa kamu menolak kartu uni Lini, dan kenapa masakan kamu selalu bikin aku nagih untuk selalu memakan masakan kamu,'' gumam nya pelan, Devano menatap kartu yang akan ia berikan kepada Mahalini namun di tolak oleh sang empu.


''Kalau wanita lain, pasti dia akan senang menerima kartu ini, karena dengan kartu ini mereka bisa berbelanja dengan sepuasnya tanpa batas,'' Devano yang sudah kenyang merapikan meja makan nya, membawa piring kotor dan juga cangkir bekas kopinya ke wastafel untuk segera di cuci, Devano sadar kalau Mahalini akan capek dengan menatap barang barang kotor yang menumpuk di wastafel dapur nya.


Baru jam delapan pagi Devano berangkat ke kantor nya, untuk mengerjakan beberapa pekerja'an nya dan setelah itu dia akan pulang lebih awal, karena sudah berjanji kepada sang istri, untuk mengajak ke rumah orang tuanya.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕


__ADS_2