
Papa Setiawan keluar dengan segala kemarahan yang ada di dirinya, mendengar ucapan puteri kandung nya yang sudah menghina puteri angkat nya, di tengah keramaian Mall menganggap dirinya sudah gagal menjadi seorang Ayah yang baik dalam mendidik sang anak.
''Papa, Papa pulang?'' sapa Almira ketika melihat sang Ayah berdiri di ambang pintu kamar tamu.
''Iya, Papa sudah pulang? dan saat ini juga harus segera kembali lagi ke perusaha'an,'' jawab nya dengan berjalan ke arah sofa, Papa Setiawan meraih jas yang ia sampaikan ke sandaran sofa di ruang keluarga. Lebih tepat nya yang sedang di duduki oleh Mama Agnes dan juga Almira.
''Tapi kenapa Papa buru buru begitu, Mira masih belum mengobrol dengan Papa, Miraasih ingin bersama Papa,'' tukas nya kepada sang Papa Setiawan yang terus melangkah pergi menuju ke mobil nya berada.
''Bukan kah selama ini kamu tidak pernah membutuh kan Papa, kamu hanya paling dekat dengan Mama kamu saja, tapi sekarang kamu bilang masih ingin mengobrol dengan Papa, ada apa sebenarnya?'' balas Papa Setiawan menghentikan langkah nya dengan kembali membalikkan tubuh nya sehingga bisa menatap wajah sang puteri yang sedari tadi mengikuti nya.
''Papa kenapa sich, Mira bicara itu salah, tidak bicara pun salah,'' seru Almira yang tidak suka dengan jawaban dari Ayah nya.
''Sudah lah, Papa juga buru buru harus pergi sekarang, lebih kamu kembali ke dalam saja,'' Papa Setiawan melanjutkan kembali langkah nya dan segera memasuki mobil yang tadi ia kendarai.
Papa Setiawan sungguh sangat kecewa dengan semua perbuatan anak dan juga istri nya, terhadap anak angkat nya yang selama ini ia kenal dengan sangat baik, berbeda dengan puteri kandung nya yang selalu berbuat semau nya seperti Mama nya, yang selalu menghina dan juga memperlakukan Mahalini dengan seenaknya.
''Kenapa kamu berlaku seperti itu kepada saudara angkat mu, padahal Papa selalu bersikap adil, Papa tidak pernah membedakan antara kamu dan juga Mahalini, tapi kenapa kamu selalu menuruti apa kata Mama kamu yang membawamu kepada keburukan, dan lebih parah nya lagi, kamu malah tengah mengidap sakit hati karena keinginan kamu tidak seluruh nya tercapai. Andai kamu tau yang sebenarnya kalau Mahalini sudah menikah dengan Tuan Devano, apa perlakuan kamu akan berubah baik, Papa tidak yakin kamu bisa berubah sayang, dan papa juga tidak bisa berbuat banyak kepada mu, dan juga Papa sudah capek melihat dan mendengar perlakuan kalian berdua kepada Mahalini,'' gumam Papa Setiawan, yang kini melajukan mobil nya ke apartemen putera bungsunya.
Hanya butuh waktu 20 menit untuk Papa Setiawan sampai di apartemen Farel, bertepatan dengan kedatangan Farel juga dari kampus nya.
''Papa datang?'' seru Farel ketika sudah membuka helm facenya.
''Iya, Papa ingin istirahat di sini saja, apa boleh?'' ucap Papa Setiawan dengan sangat lemah dan juga tidak bersembunyi.
''Boleh lah, kenapa juga harus tidak boleh sich,'' jawab Farel yang kini sudah merengkul bahu sang Ayah, Farel membawa sang Ayah ke unit nya, Farel sengaja tidak banyak bertanya karena sudah melihat wajah Papa nya, yang terlihat sangat kelelahan.
''Istirahat lah Pa, Farel akan keluar dulu untuk membeli makanan,'' Ucap Farel yang sudah membawa sang ayah masuk ke dalam apartemen nya.
''Baiklah, terima kasih nak?'' sahut Papa Setiawan yang sudah membatingkan yubuh lelah nya di kasur yang sering kali ia tiduri, ketika dirinya menginap di rumah sang putera.
Farel pergi membiarkan sang Papa istirahat di dalam kamar nya, sedangkan dirinya sudah turun ke lantai menggunakan lift yang berada di sana, dia menaiki motor sport nya menuju ke sebuah rumah makan untuk membeli makanan untuk dirinya dan juga Papa Setiawan.
''Aku tau kalau Papa sedang bersitegang dengan Mama, tapi kenapa mereka semua harus selalu bertengkar sich,'' gumam Farel ketika masih mengendarai motor nya.
''Pesan apa Mas,'' tanya seorang pelayan ketika Farel sudah memasuki rumah makan tersebut.
''Seperti biasanya saja mbak,'' jawab nya dengan mendarat kan bokongnya di kursi, yang kebetulan ada di depan memesan.
__ADS_1
''Seperti nya kamu sedang marah atau sedang sedih,'' tanya karyawan wanita yang datang kembali menghampiri nya, setelah memberi tahu koki di dalam dapur dengan pesanan Farel.
''Ya begitulah, namanya juga kehidupan? pasti ada sedih dan juga bahagia nya, jadi ya tinggal bagaimana kita menikmatinya dan juga bersyukur saja,'' jawab Farel panjang lebar.
''Iya sich, tapi aku heran dengan kamu, setiap kamu kesini selalu sedih kayak nya,'' wanita di depan nya meledek Farel dengan sesekali terkekeh geli ketika melihat wajah garang Farel berubah menjadi sendu seperti sekarang.
''Bodoh lah,'' jawab singkat Farel yang tak ingin membahas nya lagi, wanita yang sedang mengobrol dengan Farel adalah teman kuliah nya yang juga bekerja di rumah makan itu, jadi pasti mereka sangat akrab, karena Farel juga sering membeli makanan di sana hanya sekedar membantu teman nya agar dirinya selalu ada pemasukan dalam kerja nya.
...****************...
Mahalini duduk bersama dengan Mama Clara di ruang tamu nya, sedangkan Devano sudah kembali ke kamar nya untuk mengerjakan beberapa pekerja'an nya yang belum selesai.
''Sayang, kamu bahagia dengan pernikahan ini,'' tanya Mama Clara memulai obrolan nya.
''Bahagia Ma,'' jawab singkat Mahalini.
''Benar, benar benar bahagia atau cuma pura pura bahagia saja di depan Mama,'' tanya Mama Clara lagi, ingin memastikan yang sebenarnya. Mahalini hanya mengangguk lagi dan juga mengulas senyum di bibir ranum nya.
''Semoga di dalam sini cepat hadir Devan junior ya,'' Mama Clara mengelus perut rata Mahalini.
''Amiin, semoga di segerakan ya Ma,'' sahut nya dengan mencoba untuk tersenyum, agar Mama Clara selaku mertua nya tidak lagi berpikiran yang macam macam kepada nya.
''Papa kamu sudh berangkat ke kantor tadi pagi, tadi sempat ingin menunggu Devan di sini tapi sampai jam 7 pagi kalian berdua tidak turun turun juga,'' balas Mama Clara dengan tersenyum tipis, mengingat putera dan juga menantu nya sudah melakukan hubungan suami istri.
''Ma-maafkan Lini Ma, Lini kesiangan bangun nya,'' kata Mahalini dengan menundukkan kepalanya.
''Sudah, sekarang kamu jangan sedih lagi oke, jadi kita pergi ke Mall saja dech, untuk menghibur kamu yang kemarin juga gagal belanja, Mama juga masih menyimpan kartu suami kamu lho sayang,'' Mama Clara sudah mengeluarkan kartu black card Devano yang kemarin di sita oleh Mama mertua nya.
''Tapi Mas Vano Ma,'' gumam Mahalini, mengingat hati ini suaminya tidak berangkat ke kantor, dan masaknya dia harus sendirian di rumah nya.
''Kenapa dengan ku,'' sahut Devano yang kini sedang menuruni anak tangga, dan berjalan ke ruangan keluarga di mana Mahalini dan sang Mama sedang bercengkrama di sana.
''Kita mau ke Mall, apa kamu mau ikut sekalian?'' tanya Mama Clara ketika Devano mendudukkan diri di sofa dekat sang istri.
''Baiklah, lebih baik kita berangkat sekarang saja dech,'' ajak Devano yang sudah beranjak pergi untuk mengambil kunci mobil nya.
''Lini juga mau ambil tas di atas dulu Ma,'' kata Mahalini kepada Mama Clara, namun sebelum Mahalini beranjak dari tempat nya, Devano sudah mencegah sang istri untuk tetap diam di tempat nya.
__ADS_1
''Biar aku saja yang ambil tas kamu di dalam kamar, sekalian aku mau ambil kunci mobil dan juga dompet di sana,'' cegah nya yang di angguki oleh Devano. Sedangkan Mama Clara jangan di tanya lagi, Mama Clara memang sudah bersiap sedari tadi, ketika melihat Mahalini dan juga Devano sarapan Mama Clara mengambil tas di dalam kamar nya.
''Sejak kapan gunung es itu berubah baik seperti itu,'' tanya Mama Clara yang melihat putera nya sudah terlihat lebih mencair dari sebelum nya.
''Entahlah Ma, Lini juga tidak tau akan perubahan Mas Vano,'' jawab nya yang tidak terlalu mengetahui perubahan sikap suaminya, kemarin Mahalini masih merasa sifat Devano dingin kepada nya, tapi setelah adegan semalam, Mahalini merasa perubahan Devano kepada nya.
'Apa karena gara-gara yang semalam itu, Mas Vano menjadi bersikap baik kepada ku,' bisik nya kepada dirinya sendiri.
''Sudah lah jangan terlalu ini pikirkan lagi, Mama berharap perubahan Devano untuk selama nya? tidak untuk hari ini saja,'' bisik nya pelan, karena orang yang menjadi bahan obrolan sudah berada di anak tangga paling bawah.
''Kita berangkat,'' ucap nya dengan menghampiri Mahalini di tempat duduk nya.
Mama Clara dan juga Mahalini mengangguk dan mulai beranjak dari tempat duduk nya, Devano yang melihat expresi Mahalini segera membantu nya, Devano mengerti kalau Mahalini masih merasakan kesakitan di **** ***** nya, tapi Mahalini mencoba kuat di hadapan Mama mertuanya, karena tak mungkin juga dia mengadu kesakitan di depan Mama Clara kanπ€.
''Kamu baik baik saja kan? kalau kamu masih kesakitan kita tidak usah ikut saja, biar kamu istirahat saja di dalam kamar,'' bisik Devano ketika melihat Mahalini meringis tadi.
''Nggak apa apa kok Mas, nggak sakit kok cuma nyeri saja,'' balas nya dengan mengulas senyum di bibir nya, agar Devano juga tidak merasa khawatir kepada nya.
'''Ayo, kenapa masih diam di situ, Mama sudah nungguin kalian di depan lho,'' seru Mama Clara yang kembali ke dalam lagi karena anak dan juga menantu nya belum juga keluar dari dalam rumah nya.
''Ma...''
''Mas,'' potong Mahalini ketika Devano ingin berkata jujur kepada Mama Clara.
''Ada apa sayang,'' tanya Mama Clara.
''Tidak apa apa Ma, tadi Lini hanya ke kamar mandi saja sebentar? makanya Mas Vano masih diam di sini,'' bohong nnya membuat Mama Clara bernafas lega.
Mama Clara sebenarnya tau kalau menantu nya saat ini tengah berbohong, tapi ya sudah lah? hari ini kita akan bersenang-senang di Mall dan juga akan mengajari menantu nya untuk menguras habis uang suaminya, pikir Mama Clara.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih ππππππππ