
Almira dan Hanafi masuk ke dalam ruangan Mahalini, setelah sang satpam mengantarkan kedua nya.
''Masuklah, neng Mahalini sudah menunggu kamu di dalam,'' ucap nya dengan ramah.
''Terima kasih Pak,'' sahut Hanafi dengn tak kalah ramah juga.
Almira dengan takut masuk ke dalam ruangan Mahalini, dan Hanafi dengan lembut nya menggenggam tangan Almira, seraya menganggukkan kepala nya.
''Tidak akan apa kok, percaya sama aku,'' ucap nya, menguatkan Almira? agar dia tidak merasa takut untuk bertemu dengan Mahalini sang adek angkat.
Almira mengangguk pelan , seraya mengikuti langkah Hanafi yang menggenggam erat telapak tangan nya.
''Assalamu'alaikum,'' ucap Hanafi ketika sudah ada di hadapan Mahalini.
''Waalaikum salam,'' jawab Mahalini dengan mendongak kan kepala nya, ketika dia mendengar suara laki-laki yang masuk ke dalam ruangan nya.
''Maaf, kalau kami berdua mengganggu waktumu Nona Mahalini,'' ucap Hanafi lagi dengan sangat ramah.
''Tidak apa apa, santai saja,'' sahut nya dengan beranjak dari duduk nya dan berjalan mengitari meja kerja nya, Mahalini menghampiri Almira yang masih mematung di belakang Hanafi, teman dekat nya.
Mahalini menghambur ke pelukan Almira yang masih diam mematung, ''Kak Mira apa kabar,'' seru Mahalini yang kini sudah memeluk tubuh Almira.
''Ba-baik,'' jawab nya dengan gugup.
''Kak Mira, ayo duduk? Abang nya juga, ayo,'' ajak Mahalini dengan menggandeng tangan Almira menuju ke sofa yang ada di dalam ruangan nya.
Mereka berdua hanya mengikuti langkah Mahalini menuju sofa yang ada tak jauh dari tempat dia berdiri.
''Oiya kak, Mama Agnes apa kabar nya, maaf? selama ini Lini tidak bisa menjenguk Mama Agnes,'' gumam nya dengan nada lirih nya.
''Keada'an Mama baik baik saja kok, dan aku sekarang sudah tidak tinggal bersama Mama, aku ngontrak di sebuah kontrakan dekat kampus,'' sahut Almira dengan menatap wajah Mahalini yang kini semakin cantik dan juga sangat terawat, tidak seperti ketika dia berada di rumah nya, yang hanya mendapatkan siksa'an dan juga perlakuan kasar dari Mama Agnes dan juga Almira sang kakak angkat.
__ADS_1
''Lha kenapa malah ngontrak, kenapa dengan rumah kak Mira,'' tanya Mahalini menelisik wajah Almira, Mahalini meyakini kalau dirinya sedang tidak baik baik saat ini, karena bagi Mahalini? Almira tidak pernah hidup dengan kesederhana'an.
''Aku hanya ingin hidup mandiri saja, dan juga mau hidup tenang, tanpa aturan dari Mama lagi, aku sudah capek Lini, harus mengikuti aturan dari Mama terus,'' sambung nya dengan menahan tangis.
''Kakak harus sabar dalam menghadapi Mama, terus kalau bukan kak Mira yang menjaga Mama, siapa lagi coba,'' kata Mahalini yang mengelus punggung sang kakak angkat.
''Aku datang ke sini untuk meminta maaf sama kamu, selama ini aku sudah jahat sama kamu Lini, maafkan aku ya,'' pinta Almira dengan berlinang air mata.
Mahalini memeluk tubuh sang kakak, walau bagaimana pun Almira adalah kakak nya, sejak kecil mereka berdua selalu hidup bersama, sampai akhirnya ketika Mahalini dan Almira masuk ke sekolah menengah atas, sang Mama selalu memprovokasi Almira, agar dirinya tidak terlalu baik kepada Mahalini, yang notabene nya adalah anak pungut.
''Tanpa kakak meminta maaf pun, Lininsudsh memafkan kakak kok, jadi jangan bersedih lagi oke,'' bisik nya tepat di telinga Almira. Meski dia selalu berbuat jahat kepada nya, tapi Mahalini sudah mulai melupakan perlakuan kakak nya waktu dulu.
Hanafi tersenyum mendengar penuturan dari Mahalini, ternyata benar kalau Mahalini adalah seorang wanita yang baik hati dan juga ramah kepada semua orang, meski orang tersebut sudah berlalu tidak adil kepada nya.
''Beberapa bulan ini kita selalu mencari alamat kamu, tapi tidak ketemu juga? dan beberapa minggu lalu kami berdua sempat datang ke rumah Tuan Devano, tapi satpam di sana tidak mengijinkan kami berdua masuk, ya sudah kita datang ke sini saja, nggak apa apa kan?'' ujar Hanafi dengan mengulas senyum di bibir manis nya.
''Kok Lini tidak tau kalau kalian datang ke rumah Mas Vano?'' sahut Mahalini dengan terkejut.
''Ya, memang suamiku suka berlebihan kalau ada orang yang datang ke rumah, soalnya aku di sana hanya bersama para asisten saja, maaf ya sebelum nya,'' ujar Mahalini tidak enak hati dengan kedua orang yang ada di depan nya.
''Tidak apa apa kok,'' jawab Almira dengan menghapus air mata nya yang sudah membanjiri kedua pipinya.
''Sampai lupa, kalian berdua mau minum apa?'' tanya Mahalini, yang tiba-tiba ingat? kalau kedua tamu nya tidak di suguhkan minuman.
''Apa saja dech, yang penting air,'' jawab Hanafi dengan kekehan kecil.
Mahalini juga terkekeh geli, mendengar jawaban dari teman dekat sang kakak. ''Oiya, kalau boleh tau, abang nya pacar Kak Mira,'' tanya Mahalini yang sudah menghubungi orang dapur.
''Lini, apa sich? kita tuh hanya berteman saja kok, kita satu kuliah dan kemarin bertemu di rumah sakit, ketika aku sedang di rawat di sana,'' Almira memotong ucapan dari Mahalini, adek angkat nya.
''Ya, awal nya teman, tapi setelah itu jadi demen,'' goda Mahalini yang langsung di sikut oleh Almira.
__ADS_1
Tidak tau saja, sekarang wajah Almira sudah memerah karena malu dengan ucapan dari sang adek. Sebenarnya Almira juga suka dengan Hanafi, selain dia baik, dia juga banyak mengajarkan Almira dalam hal kebaikan dan membaca Al-Quran juga.
''Do'akan saja yang terbaik, kalau kita memang jodoh, pasti Allah akan memberi jalan yang terbaik buat kita berdua,'' sambung Hanafi dengan tersenyum.
Hanafi juga sudah mulai ada rasa kepada Almira, Almira sebenarnya anak yang baik, tapi karena ajaran dari sang Mama saja, Almira bisa menjadi seorang wanita yang sangat egois dan juga angkuh, tapi akhir akhir ini Almira sudah berubah lebih jauh dari sebelumnya nya.
''Amiiin,'' jawab Mahalini, yang mengamini ucapan Hanafi barusan.
Tok tok tok
Pintu di ketuk oleh salah satu pegawai di sana, ''Maaf mbak Lini, minuman nya mau di tarok di mana?'' tanya sang pegawai ketika dia sudah da di dalam ruangan.
''Tarok di sini saja Mbak, terima kasih ya Mbak,'' ucap Mahalini kepada mbak Mbak yang bekerja di rumah catering nya.
''Sama-sama Mbak Lini,'' jawab nya dengan berlalu.
Hanafi melihat sifat ramah Mahalini, hanya bisa berdecak kagum kepada wanita di depan nya, selain Mahalini cantik? dia juga sangat rendah hati.
Kepada pegawai nya saja dia bersikap ramah seperti itu, apalagi dengan suami nya, pikir Hanafi dengan menggeleng geleng kan kepala nya pelan.
.
.
.
BERSAMBUNG
Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.
Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕.
__ADS_1