Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 55.


__ADS_3

Hallo kak,


Misalkan bacanya tidak nyambung dengan cerita yang sekarang, Mahyra harap kakak mau baca bab sebelum nya lagi, Maaf, kalau sebelumnya sudah bikin kecewa, karena tadi up nya buru buru dan ponselnya di ambil bocil, jadi langsung up saja, sekali lagi maaf ya kak🙏🙏😘.


...----------------...


Happy Reading


Devano menghapus air mata Mahalini yang kini sudah membanjiri pipi mulus nya.


''Sudah, lebih baik kamu pakai baju ini dulu, setelah itu kita sarapan karena Mama sudah menunggu kita sedari tadi,'' jawab Devano mengalihkan pembicara'an nya, agar Mahalini tidak terlalu memikirkan pekerja'an nya lagi, Devano bisa saja menjadikan Mahalini sebagai sekretaris nya, karena dia adalah istri sah nya, tapi mengingat ucapan Mahalini kemarin yang sempat menolak ketika Mama Clara menyuruh nya menjadi sekretaris suaminya.


Mahalini mengangguk dan mengambil paperback dari tangan Devano, Mahalini kembali ke kamar mandi, namun dengan cepat Devano mencegah kepeegian Mahalini. ''Mau kemana?'' tanya nya dengan cepat.


''Aku mau ganti baju Mas,'' jawab nya memutat badan nya lagi.


''Sudah, kamu ganti baju di sini saja, aku akan menunggu kamu di luar saja,'' cegah nya dengan memegang lengan Mahalini.


''Baiklah,'' sahut nya dengan sedikit mengangguk kan kepalanya pelan.


Devano keluar dari kamar, ingin rasanya Devano membantu Mahalini mengganti baju nya dan dengan cepat membawa nya keluar dari kamar nya, tapi Devano mengutingkan niat nya dengan memutuskan keluar dari kamar dan dengan duduk di kursi yang berada di dekat kamar nya.


Beberapa menit kemudian, Mahalini keluar dari kamar nya dengan menggunakan dress berwarna navy, Devano di buat tercengang dengan penampilan Mahalini yang sedang memakai dress panjang di bawah lutut nya.


''Kenapa Mas Vano menatap ku seperti itu, apa aku terlihat aneh dengan baju seperti ini,'' tanya nya dengan mengerutkan kening nya, karena Mahalini baru pertama kalinya memakai dress.


''Tidak kok, kamu terlihat sangat cantik dengan dress itu,''


''Tapi Lini tidak nyaman dengan baju seperti ini, Lini lebih nyaman dengan jeans dan kaos seperti kemarin kemarin itu,'' balas nya dengan sedikit menundukkan kepalanya.


''Sudah, lebih baik kamu pakai ini saja dulu, nanti kalau kita sudah kembali ke apartemen, kamu bisa pakai baju baju kamu sesuai kemauan kamu, karena aku tidak tau baju seperti apa yang membuat kamu nyaman,'' ucap nya dengan memeluk pinggang sang istri.


Mahalini dan Devano berjalan menuruni anak tangga dengan bergandeng tangan, Mama Clara tersenyum melihat Mahalini dan putera tampak sangat akrab, ''Tak ku sangka, dengan mereka menginao di sini, cucuku akan segera hadir di tengah tengah keluarga ini nantinya,'' gumam nya dengan pelan, sehingga hanya dia saja yang mendengar nya.


''Pagi Ma,'' sapa Mahalini dengan sangat lembut.


''Pagi juga sayang? sudah, kalian berdua sarapan saja dulu, Mama sudah sarapan tadi,'' jawab nya dengan membelai rambut Mahalini yang masih sedikit basah, karena Mahalini tidak memakai hair dryer untuk mengeringkan rambut nya.


''Baiklah Ma,'' ucap nya dengan mengulas senyum di bibir ranum nya.

__ADS_1


''Devan, kamu temani istri kamu sarapan ,'' perintah Mama Clara.


''Iya Ma, lagian Devano juga lapar kali Ma,'' jawab nya berlalu membawa Mahalini ke meja makan, di mana di sana sudah terhidang dengan berbagai makanan.


''Kamu harus makan yang banyak, biar badan kamu lebih berisi dari sekarang,'' bisik Devano kepada Mahalini.


''Ngap tau Mas kalau terlalu gemuk, dan lagi? Lini tidak kurus juga,''


''Kata siapa tidak kurus, kamu terlalu ringan ketika di angkat tadi,'' potong Devano, membuat Mahalini merengut dengan perkata'an suaminya.


Mahalini tidak lagi menanggapi ucapan suaminya yang sudah mulai cerewet kepada nya, kemarin Mahalini hanya bisa berkata sepatah dia patah saja dengan sang suami, namun sekarang Mahalini bisa mendengar kecerewetan suaminya.


Di dalam hatinya, Mahalini mengucap syukur karena sudah di berikan suami dan juga keluarga yang sangat baik kepada nya, mengingat selama ini Mahalini hanya mendapatkan siksa'an dan hinaan saja dari keluarga angkat nya, Mahalini mengulas senyum mengingat akan hal itu, takdir memang tidak selamanya buruk, ada kalanya kita akan merasakan kebahagia'an dan juga kasih sayang, yang sebelum nya tidak ia dapat kan. Hanya dengan kesabaran dan juga keikhlasan yang akan membawa kita ke jalan kebahagia'an.


...****************...


Hati ini Papa Setiawan pulang ke rumah nya dengan tubuh lelah nya, karena selama ini beliau hanya akan datang ke apartemen putera nya saja, tanpa mau datang ke rumah mewah nya, di mana di rumah mewah tersebut hanya ada pertengkaran dan juga kemarahan.


''Kenapa kamu baru pulang sekarang,'' ujar Mama Agnes yang berteriak dari lantai dua, setelah tadi melihat mobil suaminya masuk ke dalam halaman rumah nya.


''Sudah lah Ma, Papa sedangkan tidak ingin berdebat dengan Mama saat ini, Papa juga sangat lelah dan juga baru sampai di rumah ini,'' jawab nya dengan mendudukkan diri di sofa panjang, Papa Setiawan merebahkan tubuh lelah nya di atas sofa, dan mencoba memejamkan matanya.


Papa Setiawan tidak mengindahkan setiap ucapan istri nya, yang memang seperti itu sikap nya.


''Och, jadi sekarang Papa sudsh mulai tuli, sehingga tidak menjawab pertanya'an Mama,'' seru Mama Agnes ketika tidak di hiraukan sama sekali.


Mama Agnes semakin menggila dengan sikap Papa Setiawan yang masih terus mengacuhkan nya, Mama Agnes murka dengan Papa Setiawan sehingga menarik kerah baju yang di kenakan Papa Setiawan saat ini.


''Papa dengar tidak!!'' teriak nya di dekat telinga Papa Setiawan.


Papa Setiawan membuka matanya dan menatap tajam ke arah Mama Agnes dengan tatapan yang tidak seperti biasa nya. Tatapan tersebut sangat tajam? seakan mau menghunus Mama Agnes dwngan sebilah pisau yang sangat tajam.


''Ini yang Papa tidak suka pulang ke rumah ini, Mama terlalu egois dan mau menang sendiri, selama ini Mama tidak pernah sekalipun menghargai Papa, Mama hanya mementingkan dirinya sendiri, dan Mama juga hanya butuh uang Papa saja, selebihnya nya dari itu Mama tidak perbuatan mengharapkan kedatangan Papa di rumah ini, iya kan?'' jawab nya dengan sedikit keras di depan istri.


''Dan asal Mama tau, selama ini Papa sengaja tidak pernah datang ke rumah ini, agar Mama bisa merenungi kesalahan nya, kenapa Papa tidak pulang, tapi yang Papa pikirkan selama ini salah, Mama tidak pernah memikirkan kesalahan Mama, Mama hanya pintar dalam menilai seseorang dengan setiap kesalahan dari kesalahan terkecil sekalipun, sedangkan Mama sendiri buta dalam menilai dirinya sendiri,'' tukas nya dengan ketus.


Setelah mengutarakan semua isi hatinya, Papa Setiawan berlalu menuju kamar tamu yang berada tak jauh dari tempat ia berdiri sekarang.


Mama Agnes jangan di tanya lagi, dia masih terus saja berteriak karena di tinggalkan begitu saja oleh suaminya, Mama Agnes geram dengan perlakuan Papa Setiawan, Mama Agnes memang selalu bersikap semaunya kepada Papa Setiawan, sehingga semua yang di katakan oleh Papa Setiawan itu adalah benar adanya, Mama Agnes selalu merasa menang sendiri dan selalu meminta orang di depan nya merasa salah dan kalah.

__ADS_1


''Semoga, kamu selalu mendapatkan kebahagia'an sayang,'' gumam Papa Setiawan mengingat puteri angkat yang kini sudah berada sangat jauh dari nya, Papa Setiawan tidak bisa sesering dulu dan tidak bisa seenaknya bertemu dengan Mahalini.


Papa Setiawan memejamkan matanya sejenak dan terus saja mengingat masa kecil Mahalini yang selalu mendapatkan perlakuan semena mena dari istri dan juga puteri kandung nya.


Di umur 4 tahun, Mahalini sudah di paksa untuk bisa membersihkan piring dan juga kamar mandi, di umur segitu anak kecil masih senang bermain dengan semua teman teman nya, tapi tidak untuk Mahalini.


''Ya Allah, hamba sudah gagal menjadi suami yang baik dan menjadi imam yang baik, hamba tidak bisa mengajari istri hamba dalam kebaikan,'' adanya kepada sang penguasa dan yang maha pencipta.


Tanpa terasa Papa Setiawan tidur begitu lama sampai sore datang, di saat itulah Mama Agnes mengadu kepada Almira yang baru saja datang dari main nya bersama teman teman nya.


''Mama juga sich langsung memberondong Papa seperti itu, harusnya Mama ngomong sama Papa dwngan baik dulu, bukan langsung mencecar seperti itu,'' ucap Almira yang mengomeli Mama Agnes.


''Mama juga tidak mau seperti itu, tapi Mama juga sudah sangat marah ketika melihat Papa masuk ke rumah dengan wajah tanpa merasa bersalah sama sekali, membuat Mama naik pitam,'' jawab nya dengan angkuh.


Mama Agnes selalu merasa benar dan selalu menang sendiri, Mama Agnes terlalu keras kepala sehingga membuat Papa Setiawan kembali marah ketika mendengar ucapan Almira yang kemarin berhasil menghina Mahalini di sebuah Mall besar.


''Oiya Ma, Mira kan belum cerita kepada Mama? kalau Mira kemarin berhasil mempermalukan Mahalini di dalam toko sepatu, lagian sok soan memilih sepatu mahal, sedangkan dia juga hanya sebagai OB di perusaha'an Devano,'' ceritanya yang membuat Mama Agnes kembali menyunggingkan senyuman nya mendengarkan setiap cerita dari Almira.


''Harus nya kamu menghajar nya, dan tidak usah di beri ampun sama anak pungut seperti Mahalini itu,'' tukas nya dengan angkuh.


''Mira tidak memikirkan sejauh itu juga Ma, lagipula di dalam toko tersebut banyak sekali pelanggan yang datang untuk membeli sepatu,'' jawab nya dengan santai.


Sedangkan Papa Setiawan masih terus mendengarkan cerita dari dua wanita yang sangat penting bagi Papa Setiawan, tapi sifat keduanya sangat lah kejam, seakan sama persis dengan kelakuan Ib*lis yang berwujud manusia.


Papa Setiawan mengepalkan tangan nya sangat kencang sehingga kuku nya menancap ke kulit telapak tangan nya. Mahalini adalah gadis yang sangat baik dan tidak pernah merasa dendam kepada semua orang yang sudah sering menyakitinya, tapi manusia yang selalu menyakiti Mahalini tidak pernah berpikir hal itu baik atau tidak dalam kehidupan sehari-hari nya.


.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 🙏💕🙏💕🙏💕🙏💕

__ADS_1


__ADS_2