Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 17. Kedatangan Devano ke rumah Mahalini


__ADS_3

Mahalini mulai gusar karena dia harus mencari pekerja'an lagi. ''Aku sudah sangat nyaman bekerja di sana, tapi sekarang semuanya hilang begitu saja, ya Allah? coba'an apa lagi ini,'' gumam Mahalini menengadahkan kepalanya yang masih bersandar di sofa rumah nya.


''Neng Lini sebaiknya sholat dhuhur dulu, agar lebih tenang dan bisa memutuskan apa yang akan di ambil ke depan nya,'' Bi Ijah mengingat kan Mahalini agar sholat terlebih dulu.


''Iya Bi,'' jawab Mahalini tanpa semangat. Mahalini beranjak menuju kamar nya untuk membersihkan tubuh nya yang penuh keringat, setelah utu Mahalini melaksanakan sholat dhuhur nya dengan khusyuk.


Sedangkan di luar ada Devano yang sedang menunggu Mahalini di ruang tamu, Bi Ijah yang mengenal nya hanya bertegur sapa apa adanya.


''Tuan muda silahkan di minum dulu, sambil menunggu neng alini selesai sholat,'' Ucap nya dengan ramah.


''Iya Bi, terima kasih,'' balas Devano menyambut secangkir coklat hangat.


''Bibi masih ingat minuman kesuka'an aku,'' tanya Devano ketika Bi Ijah mau melangkah kan kakinya kembali ke dapur.


''Masih Tuan, kebetulan di dapur masih ada stok coklat, jadi Bibi sekalian buatin Tuan?'' jawab nya dengan lembut. ''Kalau gitu Bibi kembali ke dapur dulu,'' pamit nya seraya mau melangkah pergi, namun lagi lagi Devano mencegah kepergian sang Bibi.


''Bi, Devano mau ke kamar mandi, di sebelah mana ya,'' cegah nya dengan alasan ke kamar mandi, sebenarnya Devano mau mencari kamar Mahalini, karena dia sudah lama menunggu di ruang tamu, tapi Mahalini belum juga keluar dari kamar nya.


''Tuan lurus saja, setelah itu belok kiri,''


''Terima kasih Bi,'' Devano beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju kamar mandi, namun ketika sampai di belokan, Devano malah berbelok ke arah kanan di mana dia mendengar suara orang yang mengaji di dalam kamar nya, Mahalini sedang membaca Surah Ar-Rahman dengan suara yang begitu merdu, sehingga membuat bulu kuduk yang mendengar menjadi berdiri saking merdunya.


''MasyaAllah, merdu sekali suara nya,'' gumam Devano menggeleng geleng kan kepalanya. ''Selain cantik dia juga jago dalam membaca Al-Quran,'' gumam nya lagi dan melangkah pergi menuju ke kamar mandi, di mana tujuan awal nya, ketika mendengar baca'an Shodaqollahul Adzim.


Bi Ijah menyiapkan kue di dapur agar Tuan Muda nya dan juga Mahalini mengobrol dengan santai.

__ADS_1


Di dalam kamar Mahalini sedang melipat mukenah nya dan membuka pintu kamar nya untuk mengambil aii di dapur, Mahalini nampak mendapati gelas di ruang tamu namun tidak orang di sana.


''Bi, apa ada tamu sebelum nya?'' tanya Mahalini ketika berada di samping Bi Ijah.


''Tuan Devano neng?'' jawab nya tanpa menatap wajah Mahalini yang nampak kebingungan dengan jawaban sang Bibi.


''Maksud Bibi Devano yang di perusaha'an Bagaskara Grub?!'' sentak nya karena terkejut dengan jawaban Bibi nya.


''Iya neng, dia menunggu neng Lini sejak tadi,''


''Terus sekarang kemana?'' tanya Mahalini yang masih kebingungan.


''Di kamar mandi, mungkin sebentar lagi akan keluar,'' tak lama kemudian Devano berjalan menuju ruang tamu dan menyesap coklat yang sudah sedikit dingin.


Devano menatap wanita yang sejak tadi di tunggu nya sudah berada di dapur, rambut tergerai dengan masih menggunakan kain di kepalanya nampak begitu cantik, meski tanpa polesan sama sekali di wajah nya.


Mahalini membalikkan tubuh nya menatap ke arah ruang tamu untuk sekedar melihat Devano sudah kembali ke sana atau belum, namun tatapan mereka malah bertabrakan dengan mata mereka masing-masing. Mahalini segera mengalihkan pandangan ke arah lain seraya menarik nafas pelan dan menghembuskan dengan perlahan.


''Neng, bawa kue ini ke meja,'' kata Bi Ijah yang di angguki oleh Mahalini.


Satu piring kue sudah teehidang di meja hadapan Devano, ''Silahkan Tuan kuenya di incip,'' kata Mahalini dengan lembut seraya menundukkan kepalanya.


''Terima kasih,'' jawab Devano datar.


''Oiya, saya datang kemari untuk menanyakan kenapa kamu pulang begitu saja tadi,'' tanya Devano memulai pertanya'an nya.

__ADS_1


''Maafkan saya Tuan, kalau saya sudah membuat keributan di acara penting Tuan, saya tidak bermaksud berbuat begitu, tapi saya hanya ingin menjaga harga diri Papa saya saja,'' balas Mahalini dengan panjang lebar.


''Iya, aku sudah mengetahui kalau kamu cuma membela ayah kamu yang sedang di hina, tapi kenapa kamu malah pergi begitu saja, apalagi pekerja'an kamu belum selesai kan?'' ujar Devano sembari menggigit kue yang di hidangkan.


''Maaf Tuan, sebagai ganti permintaan maaf saya, gaji saya selama dua minggu ini nggak usah di bayar, kalau masih ada kekurangan, biarkan saja mencicil nya Tuan,''


''Heyyy!!'' seru Devano yang mendengar ucapan Mahalini barusan. ''Aku nggak seberengsek itu juga kali, hanya dengan masalah yang awalnya hanya salah paham, dan langsung ingin memecat kamu,'' Devano yang sudah mulai hilang kesabaran nya sedikit meninggikan suaranya, agar Mahalini berhenti berkata yang tidak seharus nya via katakan.


''Sudahlah lupakan saja, dan aku mau kamu besok kembali bekerja seperti biasanya, dan bukan nya kamu sekarang harus pergi ke kampus?'' ujar Devano mengingatkan Mahalini yang seharusnya sudah masuk kuliah.


''Maaf Tuan, saya masih malas untuk pergi keluar rumah, jadi hari ini saya ingin bolos dan tidur sepuasnya di rumah?'' sahutnya membuat Devano melotot tak percaya dengan penuturan Mahalini barusan.


''Sudah, lebih baik kamu siap siap sekarang, kebetulan aku juga ingin ke kampus itu ada yang mau aku urus di sana,'' titah nya menatap tajam Mahalini.


''Tapi Tuan?''


''Tidak ada tapi tapian, kamu sekarang ganti baju aku tunggu 15 menit untuk ganti baju,'' potong Devano yang ingin penolakan dari Mahalini lagi.


Dengan berat hati Mahalini beranjak dari duduk nya dan melangkah menuju kamar nya, dia hanya mengambil sweater dan juga tas punggung nya yang biasa di bawa ke kampus.


''Sudah,'' tanya Devano dengan heran, karena Mahalini hanya mengambil tas dan juga sweater yang masih ia pegang, tak ada make up di wajah nya dan juga rambut nya masih tergerai seperti tadi, tapi kain yang menempel di rambut nya sudah di letakkan di kamar nya tadi.


''Kenapa Tuan?'' tanya Mahalini melihat penampilan nya sendiri yang menurut dia tidak ada yang sama sekali.


''Kamu yakin dengan penampilan kamu saat ini,'' tanya Devano memastikannya lagi.

__ADS_1


Mahalini mengangguk pelan, ''Ya beginilah penampilan Tuan?'' kata Mahalini melirik Tuan Muda nya dengan ekor mata nya.


'Gadis gadis yang lain, selalu merias diri agar dia selalu di kejar laki-laki, tapi Mahalini sendiri hanya berpenampilan sederhana tanpa make up saja sudah terlihat begitu cantik?' batin Devano.


__ADS_2