Derita Anak Angkat

Derita Anak Angkat
Bab 103.


__ADS_3

Ketika makan malam sudah siap, Mahalini dan Devano turun dari kamar nya yang ada di lantai dua.


''Sayang, kamu tidak apa apa kan?'' tanya Mama Clara ketika melihat menantunya turun dari lantai dua.


''Tidak apa apa kok Ma, Lini baik baik saja kok?'' sahut nya denganengulas senyuman manis nya.


''Tapi kamu tidak keluar dari kamar nya sejak tadi pulang dari Mall,'' tanya nya lagi.


''Kaki Liini hanya pegal saja Ma, jadi Lini hanya tiduran saja sedari tadi di kamar,''


''Syukur lah kalau begitu, kapan kapan kita belanja lagi ya,'' kata Mama Clara, membuat Mahalini membulatkan matanya. Kaget dengan ajakan sang Mama. 'Baru tadi juga belanja, apalagi belanja'an nya banyak gitu, apa masih kurang ya,' bathin Mahalini namunasih terus mencoba tersenyum di depan Mama mertua nya.


''Tidak usah Ma, belanja'an tadi saja sudah tidak ada tempat lagi di kamar Lini, apalagi mau belanja lagi, mau dibtaruh di mana Ma,'' balas nya dengan sangat lembut.


''Kita kan belum kuras habis uang suami kamu,'' sambung Mama Clara dengan melirik ke arah putra nya.


''Sudah ach, ayo kita makan malam sekarang saja, Vano juga sudah sangat lapar, apalagi istri cantikku ini, pasti sangat kelaparan juga, iya kan sayang??'' Devano menatap wajah istri nya, yang kini berpenampilan sedikiy beda dari sebelum nya.


Malam ini Mahalini memakai gamis dengan lengan panjang, dan rambut nya di ikat ke atas, Mahalini memang tidak langsung memakai sekaligus, tapi Mahalini mau nya secara bertahap saja, takutnya dia malah tidak istiqomah dengan kemauan nya selama ini.


''Kamu semakin cantik sayang, dengan baju seperti ini,'' bisik Devano tepat di telinga Mahalini.


Mahalini mengerutkan kening nya, seraya mencoba menjauh dari suaminya, tapi Devano malah semakin mendekat ke arah nya, membuat Mama Clara dan juga Papa nya berdeham melihat kelakuan putra nya yang tidak tau malu.


''Kalau sudsh jatuh cinta, memang serasa dunia hanya milik berdua ya Pa, dan kita hanya numpang saja di mari,'' celoteh nya dengan menarik tangan Papa Devano, mendengar penuturan Mama mertua nya, Mahalini menjadi sangat malu, karena dia tidak menyangkal suaminya akan bersikap seperti iitu di depan Mama nya.


''Mas Vano sich,'' Mahalini menepuk punggung Devano, sembari beranjak dari duduk nya menuju meja makan. Di mana Mama Clara dan juga Papa mertua nya sudah menunggu di sana.


Devano menggeleng pelan, lalu melangkah mengikuti istri nya ke meja makan.


Semuanya makan malam dengan sangat khidmat, tak ada obrolan ketika mereka sedang menyuapkan makanan nya, hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring keramik.

__ADS_1


Selesai makan malam, Mahalini mengobrol di ruang keluarga bersama Mama dan juga Papa mertua nya.


''Bagaimana rumah catering nya sayang?'' tanya Papa mertua nya.


''Alhamdulillah, baik Pa? apalagi sekarang pesanan nya bertambah banyak, kata Zerine ada beberapa pelanggan baru yang mau dengan catering Lini, jadi Lini tidak bisa menolak semuanya, mungkin ini juga rezeki buat si kecil ini,'' jawab nya dengan mengelus perut buncit nya.


''Anak Papa memang membawa hoki ya, bukan cuma Lini saja yang mendapatkan kesibukan baru Pa, Devano juga dapat tender baru lagi, dan ini adalah rezeki yang tak pernah Devano duga selama ini,'' sambung Devano, Mahalini menatap suaminya yang mengatakan memenangkan tender baru.


''Wah, Ayah kamu hebat sayang?'' kata Mahalini seakan berbicara dengan anak nya, meski masih berada di dalam perut nya, Mahalini sering mengajak calon baby nya mengobrol.


''Lha kok Ayah sich sayang,'' protes Devano, mendengar istri nya mengatakan kata Ayah.


''Kan Vano sudah panggil Papa, jadi anak kita manggil nya Ayah saja ya,'' tawa nya, Devano menggeleng pelan, dia tidak setuju kalau anak nya kelak manggil nya dengan sebutan Ayah.


''Jangan Ayah dong sayang, minimal Papa, Papi Daddy atau...''


''Uncle,'' potong Mama Clara, seketika ruangan keluarga menjadi tuuh dengan tawaan mereka bertiga, sedangkan Devano kini cemberut mendengar ucapan dari Mama nya.


''Benar banget Ma,'' balas Mahalini, membuat Devano berdecak kesal, melihat istri cantik nya, sama sekali tidak membela nya.


''Sudah lah, terserah mau di panggil apa saja,'' jawab Devano dengan pasrah.


Mahalini dan Mama Clara tertawa terbahak bahak, sampai Mahalini tersedak ludah nya, karena terlalu lama tertawa.


''Tu kan, lagian suka banget ledekin suaminya sich,'' kata Devano dengan memberikan segelas air kepada Mahalini.


''Vano kok gitu sich sama istri kamu,'' kata sang Papa, Papa nya tidak setuju dengan ucapan Devano barusan.


''Iya iya, maaf,'' sahut Devano yang tidak ingin ada perdebatan di dalam rumah nya.


''Mas, bagaimana? kalau besok kita buat syukuran kecil kecilan, karena Mas Vano sudah memenangkan tender, agar semuanya menjadi barokah dan juga berkah buat keluarga kita,'' Mahalini mencoba memberikan idenya kepada sang suami.

__ADS_1


Sebenarnya, tanpa persetujuan dari suaminya, Mahalini akan mengadakan syukuran? atas berhasil nya suaminya.


''Yang di katakan istri kamu ada benarnya lho Vano,'' sambung Papa nya.


''Iya, tidak ada salah nya kurang mengadakan acara syukuran,'' Mama Clara menyetujui usulan dari menantunya.


''Baiklah kalau begitu, tapi mau di adakan di mana?'' tanya nya masih belum mengerti.


''Ya di kantor Mas lah, nanti Lini bikinin tumpeng nya dech, jadi Mas tinggal terima beres nya oke,'' jawab nya dengan sangat antusias sekali.


''Aku nggak mau ya, kalau kamu sampai kelelahan gara-gara nyiapin ini semua,'' papar nya yang tidak mau melihat istri nya kecape'an.


''Tidak akan kok Mas, percaya dech sama Lini,'' Mahalini meyakinkan suami, agar dia tidak terlalu khawatir kepada nya.


''Selama ini istri kamu juga sangat sibuk kok, tapi dia baik baik saja kok,'' ujar Mama Clara menatap putra nya yang terlalu berlebihan itu.


''Tapi dulu sama sekarang sangat beda Ma, dulu dia belum hamil, dan sekarang dia sedang mengandung anak Vano, jadi apa salah nya? kalau Vano khawatir sama dia,'' ungkap nya, yang di benarkan sama sang Papa.


''Tapi di sini banyak mbak nya kok Pa, jadi Lini janji tidak akan kecape'an,''


''Biar Mama bantu oke,'' seru Mama Clara yang sudah tidak tega melihat wajah sedih menantunya. ''Sudah Vano, dua tida apa apa kok, calon anak kamu kan kuat, jadi kamu tenang saja oke,'' Mama Clara mengedipkan matanya, agar putra nya mengerti keada'an istri nya saat ini.


.


.


.


BERSAMBUNG


Terima kasih buat yang sudah mampir dan selalu dukung karya receh Almahyra.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan favorit kan ya kak, Terima kasih 😘💕😘💕😘💕😘💕.


__ADS_2