
" nona. " sambut lauren setibanya tiara dan iris di rumah itu
" kakak dirimu sudah kembali. "
" ya....... " jawab tiara.
" ini pakaian yang aku beli dan ini juga ada kursi roda. bergegaslah aku tidak bisa menemani kalian. "
" kak ana siapkan juga tempat tinggal untuk mereka karena tempat ini juga tak layak untuk di tempati. "
" iris dirimu bantulah lauren. "
" baik nona aku mengerti. " jawab iris dan lauren
" nona muda mengapa dirimu begitu baik ini terlalu berlebihan untuk kami. "
" bukan sesuatu yang besar hanya tempat tinggal saja jadi tak perlu di pikirkan. "
" tapi ini terlalu besar untuk kami Terima tak adakah yang bisa keluarga kami bisa lakukan untuk membalas semuanya. "
" em.... balasan ya.... aku rasa ada. kalian cukup hidup dan bahagia itu saja cukup. "
" nona muda sungguh baik jika di kemudian hari membutuhkan kami datang lah kapanpun kami siap membantu dengan semua kemampuan kami. "
" ya jika hari itu datang kuharap kalian tidak direpotkan. "
setelah sedikit banyak bicara dan mulai menyiapkan pemberangkatan yang dalam hal ini tiara serahkan pada iris dan lauren. tiara sendiri memutuskan untuk pulang.
tepat sore hari menjelang petang tiara baru saja tiba di rumah tiara segera membawa hasil pembelian batu yang di dapat dari pasar sebelumnya ke kamarnya.
setelah meletakkan batu di kamarnya tiara kembali keluar mencari hana agar memasak.
" nona sudah kembali. "
" oh erika kebetulan sekali bertemu. bisakah dirimu memasak sekarang. "
" tentu saja nona bisa. "
" bagus.... memasak lah aku akan kembali ke kamar, jika sudah segera saja panggil aku. "
" baik nona. "
" erika. "
" ya nona. "
" sepertinya kau begitu keras dalam berlatih. "
" entahlah nona aku merasa nyaman ketika memperdalam teknik bertarung yang nona berikan itu. bahkan sejak aku mempelajarinya set latihan sepertinya terlalu mudah untukku nona. "
" bagus jangan pernah merasa cukup teruslah berkembang dalam kemampuan. "
" aku mengerti nona. "
tiara tanpa berkata lagi segera pergi kembali ke kamarnya erika juga segera ke dapur untuk memasak.
" kak erika. " panggil hana.
" oh hana. "
" sedang apa kak. "
" aku ingin memasak. "
" eh apa sudah tiba waktu untuk makan. "
" tidak nona memintaku untuk memasak tadi. "
__ADS_1
" oh seperti itu rupanya boleh ku bantu kak. "
" boleh saja itu lebih baik. "
" kak boleh aku berbicara. "
" ya boleh. "
" aku rasa kak erika berbeda hari ini. "
" berbeda apanya aku rasa tidak ada yang berubah. "
" kakak saja yang tak menyadarinya. lihat lah kulit kakak semakin halus dan mulus saja bahkan dada kakak sekarang lebih terangkat dan sedikit lebih besar dari sebelumnya. "
" eh benarkah mengapa aku tidak menyadarinya. " segera erika melihat kulitnya kemudian bercermin melihat wajahnya setelah itu sedikit meraba bagian dadanya. "
"*aku rasa apa yang di katakan hana benar jelas saja aku merasa terlalu kesulitan untuk memasangnya rupanya ini sudah sedikit membesar. tapi bagai mana bisa. "
( tiba tiba ucapan tiara muncul di kepalanya saat tadi tiara yang bertanya pada erika. )
" oh aku ingat pantas saja nona menanyakan tentang itu. mungkin ini manfaat yang aku dapat secara fisik setelah berlatih tehnik bertarung yang nona ajarkan. ini luar biasa sungguh luar biasa*. "
" kak kak kak erika. apa kakak percaya sekarang. "
" ya aku percaya aku saja yang tak menyadarinya. "
" hem..... apa kak ana memiliki cara untuk itu aku penasaran. "
" tidak ada aku tak memiliki cara apa apa. "
" ayolah kak erika aku juga ingin milikku sedikit lebih besar dan kencang. "
" aih aku rasa milikmu sudah bagus. "
" tapi aku ingin seperti milik kakak. "
" ha sudah kita bahas itu nanti sekarang selesaikan saja memasaknya. "
di kamar erika baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. tiara juga mulai bersiap menempa batu.
" ayo mulai darimu untuk yang pertama. " ucap tiara mengambil batu pertama yang di dapat di pasar waktu itu.
batu segera saja di tempat seperti biasanya tiara menempa tapi kali ini batu yang tiara lebih keras tak jarang percikan api keluar akibat gesekan batu dan energi yang tiara buat.
batu yang keras. mengakibatkan penempaan batu berjalan lama tiar juga membentuk batin itu menjadi kubus yang di setiap sisinya membentuk corak pusaran angin berwarna ungu gelap. "
" cukup keras rupanya. baik sekarang giiran mu. "
batu kedua merupakan batu yang di dapat karena di berikan oleh sang penjual karena di ancam.
batu kedua tidak sulit walau keras karena batu yang melapisi di luar sangat tipis sehingga tiara melakukannya dengan mudah
tak butuh waktu lama batu seukuran jari telunjuk sudah selesai di tempa. warnanya yang bening transparan juga hasil tempaan yang tiara lakukan sangat halus membuat batu itu semakin cantik.
selanjutnya tiara melanjutkan penempaan pada batu lainnya secara bersamaan. batu yang berjumlah cukup banyak segera di bungkus energi yang tiara ciptakan.
tak butuh waktu yang lama untuk batu sebanyak itu untuk tiara karena lapisan batu luarnya sangatlah rapuh bagi tiara sehingga semua batu di selesaikan dengan waktu singkat.
" emmm batu batu yang aneh batu batu ini yang menarik ku untuk mengambilnya. dan batu ini sepertinya yang di cari kakek ken waktu itu. ha jika aku menjualnya pada kakek ken berapa banyak yang akan aku dapat. uuuu pasti aku akan sangat kaya. hahahahahha tapi aku sudah sangat kaya untuk saat ini. tapi juga tidak salahnya untuk menambah pundi pundi kekayaan. "
tapi pemikiran tiara segera terhenti ketika syarat ketukan pintu dan panggilan dari erika memanggil dirinya.
" nona ini aku erika. "
" ya masuk lah. "
" nona masakannya sudah siap apa nona ingin makan sekarang. " setelah erika masuk. matanya terkejut ketika melihat tumpukan batu yang indah di tepi kasur milik tiara tubuhnya juga merasakan tarikan.
__ADS_1
" ya ayo makan sekarang aku sudah lapar. "
" baik nona silahkan. "
di pusat kota suzan kini iris dan lauren sedang berada di sebuah rumah.
" bibi dan lala tinggallah di sini. untuk paman akan tinggal di lab untuk pemeriksaan lebih lanjut. "
" baik tapi tak perlukah aku menemaninya. "
" tidak perlu bibi percayakan saja paman pada kami. "
" ya baik lah jika begitu. "
" kak lauren apa kaka dan kak iris ini pasangan. "
" eh lala apa yang kamu bicarakan. nak lauren maaf lala masih anak anak. " ucap Ibu lala
" eh tidak papa bibi. lala aku dan iris hanya teman dan kita sama sama bekerja pada nona. " lauren terkejut dengan pertanyaan lala barusan tapi segera memulihkan suasana.
" benar sekali lala. " iris mengimbuhi nya.
" emm kakak terlihat cocok. "
" hehe... ya sudah bibi kami pamit masih ada hal lain yang harus di siapkan untuk perawatan paman. " lauren.
" benar bibi aku juga harus segera kembali karena aku juga memiliki sesuatu yang perlu aku urus. "
" ya ya silahkan aku tidak akan menahan lagi. aku ucapkan terimakasih sekali lagi karena kalian semua sangat baik. "
" seperti kata nona tak perlu di pikirkan bukan hal yang besar. "
lauren dan iris segera pergi dari sana setelah cukup mengobrol bersama mereka. di mobil iris sedikit terganggu dengan pertanyaan lala membuatnya ingin meminta pendapat lauren.
" lauren... apa kita benar benar cocok. "
" iris apa yang coba kau katakan. "
" ucapan lala sungguh mengganggu ku itu selalu terulang di kepalaku. "
" hah kau saja yang baper. "
" tapi tidak ada salahnya juga jika kita bersama. "
" iris berhentilah bermain main. "
" aku serius lauren. "
" eh benarkah. "
" ya tentu saja. "
" ha sudah lah iris untuk saat ini aku ingin fokus dengan pekerjaan tidak dengan percintaan. "
" tapi apa aku boleh tau pendapatmu tentang bagai mana jika kita bersama. "
" aku tidak tau. "
" what.....
why.... aku tampan dan kau cantik kurasa tidak ada masalah. "
" hah iris sudah lah aku percaya kan pada takdir saja. "
" but...
" cukup iris. "
__ADS_1
" ok ok sorry. "
keduanya pun tidak membicarakan apapun lagi, iris mengemudikan mobil kearah jalan pulang