Gadis Polos Berdarah Dingin

Gadis Polos Berdarah Dingin
195. berangkat


__ADS_3

segera tiara menyebar energi sekitarnya untuk mendeteksi sisa energi yang airin tinggalkan.


" masih ada.....


ayo kita berangkat ikuti mobilku saja. " ucap tiara yang masih bisa merasakan energi dari airin.


" baik nona. " ucap semua orang mulai mengikuti tiara yang sudah memasuki mobil.


iring iringan mobil segera membelah jalanan kita suzan tiara mengemudikan mobil dengan kecepatan cukup tinggi. di ikuti pula dengan yang lainnya.


di sisi lain airin yang sedang dalam perjalanan yang juga masih di dalam mobil dengan lelaki itu.


" paman apa rumah sakit begitu jauh mengapa lama sekali untuk sampai. " tanya airin mencoba memecah kesunyian karena bosan.


" rumah sakit mama mu bukan rahasia sakit biasa dia di rawat di rumah sakit khusus yang mana tidak semua orang bisa memasukinya. " jelas lelaki itu.


" oh aku baru tau jika ada rumah sakit yang seperti itu. memangnya rumah sakit itu khusus untuk mengobati penyakit yang seperti apa paman. " tanya airin seperti anak usia lima tahun yang begitu banyak ingin tau.


" diam lah kamu masih kecil kamu tidak akan mengerti apapun jadi ikut saja setelah sampai kamu akan tau. " jawab lelaki itu mulai malas menanggapi celotehan airin.


" wah lihat apa ini senjata asli paman.....


milikku du rumah banyak sekali jenisnya paman bahkan senjata itu bisa menembak paman. " ucap airin tangannya mencoba menyentuh senjata.


" jauhkan tanganmu itu. benda itu tidak sama dengan milikmu yang di rumah. yang ini bisa menghilangkan nyawa seseorang. " ucap lelaki itu menghentikan airin yang akan memegang senjata pistol itu.


" aih sayang sekali aku tidak bisa memegangnya jadi aku tidak bisa memastikan apa benda ini sama dengan milikku atau tidak. " kembali airin berbicara wajahnya menunjukkan rasa penasaran


" pegang lah tapi hanya memegang setelah itu letakkan agar kamu tidak penasaran setelah ini. " ujar lelaki itu tersenyum membayangkan nasib airin dan tiara nantinya.


" paman dirimu baik sekali, tenang saja paman jangan khawatir aku sudah terbiasa dengan yang di rumah pasti dengan yang ini aku akan biasa biasa saja. " ucap airin mulai mengangkat pistol itu dengan kedua tangannya.

__ADS_1


" ini cukup berat berbeda sekali dengan yang di rumah begitu ringan. " ucap airin membolak balik pistol yang di pegangnya.


" dasar anak bodoh dipikirnya pistol itu sama dengan miliknya di rumah yang hanya pistol mainan. untung saja aku membutuhkan kamu hidup jika tidak sudah ku minta dirimu untuk menembak kepalamu sendiri. " ucapnya di dalam hati dengan wajah tersenyum.


airin mulai memainkan pistol itu dengan mulutnya menirukan suara pistol itu kemudian di arahkan kesembarang arah hingga pistol itu tepat terarah pada paha lelaki itu airin menarik pelatuknya.


doooooorrrrrr......


" an.... ng....... bangst........ sialan......


kenapa kamu menembakkan itu padaku hah...... "


" eh maaf paman aku tidak sengaja....


apa itu sakit paman.... " ucap polos airin.


" ya sakit lah masak enggak.


" eh..... baik lah paman lagi pula pistol ini jelek dan suaranya pun terlalu nyaring aku letakkan saja kembali. " ucap airin santai saja.


tak lama mobil memasuki parkir bawah tanah yang sudah tidak pernah di gunakan. segera setelah itu mobil terparkir di tempat yang cukup gelap.


" ahk.... ini sakit. dasar kau bocah sialan. " maki lelaki itu karena pahanya terasa sakit


" eh paman aku kan tidak sengaja jangan marah. " ucap airin.


" tidak sengaja matamu. " ucap lelaki itu membawa airin turun dari mobil.


" paman mengapa mama di rawat di rumah sakit dengan fasilitas yang sangat buruk bahkan tempat parkirnya saja tidak ada lampu. semoga mama baik baik saja tidak semakin bertambah buruk. " ucap airin.


" kau diam lah aku sudah mulai panas mendengar celotehan mu itu.

__ADS_1


sekali lagi kau bersuara aku akan membuang mu ke kandang buaya. " ucap lelaki itu sudah mulai kesal pada airin di tambah lagi dengan luka tembak yang terasa sakit di pahanya.


" wah paman apa kamu memiliki buaya jika iya boleh aku melihatnya di rumah aku memiliki buaya tapi itu hanya sebuah boneka mungkin jika aku bermain dengan yang asli akan lebih seru. " ucap airin polos dan tidak takut.


" iya main lah dengan buaya lapar itu mungkin tidak butuh waktu lama untukmu menjadi bubur daging di buatnya. " ucap lelaki itu


" pam..... "


" diam sekarang atau aku tembak kepalamu. "


" ish..... galak banget sih. awas saja aku laporin paman sama mama nanti.


lelaki itu tidak menjawab tapi di hatinya lelaki itu menggerutu merutuki dirinya sendiri.


" mengapa aku harus berhadapan dengan bocah tengil ini aku seperti orang bodoh saja di buatnya awas saja nanti kau aku akan meminta bagian terbanyak saat aku menyiksamu. harga diriku sebagai seorang elit pembunuh menjadi turun karena tidak bisa berbuat apa apa menghadapi seorang bocah. " gerutu hati lelaki itu


kini airin dan lelaki itu tengah menyusuri jalanan dari pasar gelap dia sana tampak sepi banyak lapak yang sepertinya di tinggalkan oleh pemiliknya.


" aku mulai merasa curiga padamu paman aku rasa kita tidak ke rumah sakit tapi paman sedang menculik ku kan. " ucap arin.


" sudah kamu ikut saja sekarang nanti kamu akan tau sendiri. " ujar lelaki itu mulai tersenyum karena merasa airin mulai ketakutan.


" paman jangan coba menculik ku paman tidak tau ibuku seorang yang hebat. jangan buat diri paman menjadi menyesal lebih baik paman pulangkan saja aku. " ucap airin.


" mamamu itu tidak ada apa apanya. sudah sampai disini lebih baik kamu tau ya memang benar aku sedang menculik kamu akan menjadi tiket untuk mamamu datang ke tempat ini dan tuanku akan membunuh mama kamu itu. " ucap lelaki itu tidak menyadari perubahan raut wajah airin yang sudah dingin dan tampak begitu marah saat mendengar lelaki itu mengatakan akan membunuh tiara.


" paman jangan katakan tentang membunuh, apa lagi itu mama yang menjadi targetnya. paman asal paman tau aku akan membunuh siapapun orang yang ingin membunuh mama. " ucap airin begitu dingin.


" kamu..... membunuh...... bodoh..... kamu hanya membual saja dasar bocah. " ucap lelaki itu yang tidak dia sadari pisau tajam yang terbentuk dari energi sekitar sudah siap kapan saja memotong leher lelaki itu.


" baik lah paman jika waktunya tiba nanti orang pertama yang akan menyambut kedatangan dewa kematian adalah dirimu ingat itu. " ucap airin dingin tapi dengan wajah yang lucu membuat lelaki itu tidak menaruh waspada pada airin.

__ADS_1


cukup lama menyusuri jalanan sepi pasar gelap kini airin sudah tiba di suatu tempat yang cukup tersembunyi di sana airin di perlihatkan pada seorang lelaki juga yang sedang duduk di kursi bakal seorang raja dengan rambut panjangnya yang terurai.


__ADS_2