
tiara yang seperti di bakar hanya bisa merintih karena bergerak pun tak bisa, karena kedua tangan dan kakinya di ikat.
" haus.... panas....... lepaskan....... tolong.... "
kata kata itulah yang terus terdengar dari tiara yang di bakar di tiang gantungan dengan api mengelilingi tiara
waktu terus berlalu suara tanpa wujud itu beberapa kali mendatangi tiara untuk menawari bantuan. dengan syarat tiara harus mau tubuhnya di ambil alih.
tapi tiara masih tidak mau dan terus menerus menahan sakit terbakar. kini sudah mencapai 100 tahun kurang dari sehari lagi dan tiara sudah di ambang pilihan menyerah.
" ayo datanglah padaku dan Terima saja apa yang ku tawarkan padamu toh dirimu tak rugi malah kau untung. ayolah menyerah saja kulihat dirimu sudah tak tahan lagi. "
" aku aku aku men. " tapi ada suara yang menghentikan tiara untuk menyerah
" *tiara ayo nak dirimu kuat ibu dan ayah selalu bersamamu nak ayo kuat sedikit lagi sayang. "
" tiara kuat kok kakek percaya tiara pasti kuat*. "
" ibu ayah kakek ibu ayah kakek ibu ayah kakek.... tiara terus mengulangi kata kata itu tiara jadikan itu kekuatan untuk bertahan
" gadis bodoh dan keras kepala mengapa kau tak Terima saja diriku. " ucap suara itu menggema terlihat marah
tapi tiara terus menguatkan hatinya tiara terus menyebut ibu ayah kakek saja dia tak memperdulikan yang lainnya.
satu hari itu pun berlalu dan hari ini sudah genap 100 tahun tiara terbakar di tiang gantungan. dan suara itu sudah tak datang lagi untuk membujuk tiara.
suasana api yang panas dan tiara yang di tiang gantungan kini berubah di padang rumput yang luas dengan angin yang sejuk dan udara yang bersih.
kini tiara sedang terbaring di atas dahan pohon, tiara yang menyadari jika suasananya berbeda segera membuka matanya dan melihat sekitar.
" di mana lagi aku... apakah masih belum juga usai.... aku sudah melewati seratus tahu."
" bagus rupanya dirimu berhasil. selamat karena tidak masuk dalam kegelapan. "
" siapa tunjukkan wujud mu. "
" aku adalah dirimu dan aku adalah sisi terang dalam hidup mu. tapi bagaimana caranya aku mewujudkan diriku sedangkan diriku sudah wujud dengan dirimu. "
" ltu..... sekarang katakan ada apa lagi apa aku harus melewati hal semacam itu lagi sekarang.
" tidak tidak waktumu sudah tiba untuk kembali jadi kembalilah aku akan selalu mengikuti mu menjadi sisi terang untuk mu menghalangi sisi gelap datang untuk menguasai mu. "
" aku ini membunuh orang bagaimana caranya. aku juga tak tau ke depannya akan bagaimana"
" mudah sekali dirimu membunuh orang orang yang bermasalah. jadi aku akan selalu ada walau sebenarnya membunuh itu suatu hal yang tidak benar."
" baik lah aku ingin kembali, aku sudah seratus tahun di sini bagai mana dengan tubuhku. "
" ya kembalilah cukup pejamkan mata saja maka dirimu akan kembali. "
__ADS_1
tiara segera mengikuti apa yang di katakan suara tanpa wujud itu. tiara memejamkan matanya dan detik berikutnya tiara sudah kembali. dengan suara erika memanggil manggil dari luar pintu kamar mandi.
" nona.... nona... apakah nona di dalam. "
" ya aku di dalam ada apa erika. "
" apakah nona akan makan sekarang atau nanti. "
" sekarang saja erika. dan tolong bantu aku mengeringkan rambutku seperti yang terakhir kali. "
" baik nona. "
" duduk lah dahulu tunggu sebentar. "
" baik nona. "
tiara segera keluar dari berendam nya karena airnya sudah berwarna hitam pekat. jadi tiara memutuskan untuk mandi kembali. untuk membasuh tubuhnya dengan air yang lebih bersih.
10 menit tiara sudah keluar dari kamar mandi. erika segera bersiap untuk mengeringkan rambut tiara.
" erika berapa lama aku di kamar mandi sebelum dirimu datang. " tanya tiara yang penasaran.
" dari semenjak nona datang kemudian aku datang untuk memanggil nona sudah dua jam tiga puluh menit. "
" em...... "
" apakah ada sesuatu nona. " tanya erika.
" baik nona... " jawab erika tanpa memperpanjang pertanyaannya
" erika apakah kak tara tidak menghubungimu sama sekali. "
" semalam nona tara menghubungiku bertanya kabar dan nona muda. dan sempat membicarakan beberapa hal dengan singkat. ada satu hal yang nona bicarakan kalau dirinya sedang ada masalah jadi tak bisa berkunjung menemui nona. " jelas erika
" apa kak tara mengatakan masalah apa yang menimpanya. "
" itu aku tidak tau dan tidak bertanya nona maaf. "
" oh baiklah biarkan aku saja yang bertanya padanya nanti. "
setelah beberapa menit akhirnya selesai, kini tiara dan erika keluar kamar untuk makan.
di meja makan rupanya sudah ada iris han dan Sinta. yang sudah menunggu tiara.
" nona. " sambut mereka bertiga berdiri.
tiara hanya mengangguk, " duduk lah. "
" di mana kak ana apa dia masih belum siap. "
__ADS_1
" lauren pagi tadi sudah pergi nona dia mengatakan jika dia harus pergi ke negara U, ada bisnis yang harus di tangani di sana. " jelas erika
" jadi seperti itu, lalu han bagai mana keadaanmu. " tanya tiara.
" aku baik baik saja nona di penjara aku sudah sering di tikam jadi luka ini hanya tambahan hiasan di tubuhku. "
" em.... jika seperti itu tak ada yang perlu dikhawatirkan. ayo kita makan saja. "
setelah itu mereka semuanya makan dengan tenang dan hikmat Sintia yang baru pertama kali makan bersama berusaha menyesuaikan diri.
setelah makan tiara tidak segera meninggalkan ruang makan tapi masih membicarakan beberapa hal.
" iris segera selesaikanlah rancangan dari komputer mu itu, apakah kau sudah menentukan tempatnya. "
" baik nona, soal tempat sudah aku tentukan nona, jadi semuanya beres aku hanya tinggal menunggu barang datang dan kemudian merangkai nya. "
" em baguslah. dan kau hanya di rumah saja hari ini urus lukamu dan segera pulih. "
" baik nona sesuai perintah mu. "
" erika kau ikut aku menemui kak tara sekarang. "
" baik nona. "
" dan..... " ucapan tiara terhenti melihat kearah Sintia. " oh namaku Sintia nona. "
" em... sintia kau di rumah saja bantu han dan iris jika memerlukan sesuatu. "
" babaik.... nona. "
" bagus.. erika ayo berangkat keluarkan mobil. "
segera saja erika dan tiara pergi dari sana erika menuju garasi untuk menyiapkan mobil tiara ke kamar dahulu untuk mengambil ponselnya.
di mobil dalam perjalanan. erika mengemudi dengan tenang dan halus, dan seperti biasa tiara duduk di kursi belakang melihat ke arah luar jendela tan ada pembicaraan apapun.
" sebenarnya apa yang terjadi pagi ini mengapa aku mengalami kejadian seperti itu. sungguh itu menyakitkan di panggang selama seratus tahun jika mental ku tidak kuat ku yakin aku sudah gila. "
" Queen akhir akhir ini dirimu sepertinya lebih pendiam ada apa. "
" entahlah aku juga tidak mengetahuinya. "
" baik lah apa kau tau tentang kejadian pagi ini yang menimpaku. "
" tidak aku tidak tau yang pasti adalah jiwamu saja yang hilang entah kemana, hanya menyisakan raga kosong. "
" benarkah kau tak mengetahuinya. "
" ya benar aku tak mengetahuinya. "
__ADS_1
" ya sudah jika seperti itu. "lalu tak ada pembicaraan lagi.
mobil masih melaju di jalanan. tidak ada hambatan yang benar benar menghentikan laju mobil yang di kemudikan oleh erika.