
hari berganti minggu, minggu berganti bulan berganti tahun. sudah tidak terasa kini Airin anak dari pasangan tristan dan tiara sudah berumur 5 tahun. seperti dugaan dan pemikiran tiara saat anak itu baru lahir anak itu menjadi sosok yang tidak biasa dia memiliki kecerdasan di atas rata rata di mana itu sudah melampaui anak pada usianya.
sudah lebih dari 10 sekolah yang mengeluarkan airin karena kecerdasan dan kepintarannya itu sehingga guru pendidik tidak sanggup untuk mengajar airin.
hingga keputusan finalnya tristan dan tiara memutuskan airin tidak perlu sekolah tiara hanya meminta airin belajar secara otodidak melalui buku buku yang tiara beli dan di taruh di ruang baca.
hampir setiap harinya tiara membeli 10 buku yang berbeda dan itu airin selesaikan dalam 1 hari satu malam untuk memahami seluruh isi buku.
tristan yang tidak percaya mencoba menguji anaknya itu dan pada beberapa titik berakhir tristan yang di kunci dengan pertanyaan yang bahkan tristan tidak bisa memberikan jawaban satu patah kata saja.
" mama.... airin mau ice cream apa boleh....??? " tanya airin pada tiara.
" boleh sayang ayo kita pergi ke mini market..... " ucap tiara yang tidak pernah menolak keinginan airin selama itu di batas wajarnya.
" asiiik...... tapi apa daddy tidak akan marah ma jika airin makan ice cream lagi. " tanya anak itu.
" dia tidak akan berani jika ada mama ayo jalan. " ucap tiara dengan lembut menoel pucuk hidung airin.
" ayo....... " semangat airin seperti anak pada usianya ketika senang.
di dalam mobil dalam perjalanan ke mini market airin selalu bersenandung tidak jelas tapi itu masih bisa di dengarkan jika anak itu sedang menyanyikan lagu.
" mama.... sudah lama aku tidak bermain dengan adel..... " ucap airin seketika.
" apa airin mau bermain bersama adel sayang..... " tanya tiara.
" ya ma hanya adel saja yang mau bermain dengan airin. " ucap airin seperti sedih.
" ya sudah kita akan ke rumah tante Sintia selepas membeli ice cream. " ucap tiara.
" horeee...... "
ya Sintia juga memiliki anak yang sama dengan tiara seorang anak perempuan. kehamilan yang hanya terpaut beberapa bulan dengan kehamilan tiara membuat umur anaknya tidak terlalu jauh.
airin memang tidak memiliki teman bermain karena kejeniusannya itu dan juga airin suka memberikan pelajaran keras pada setiap orang yang mengusiknya. sehingga teman temannya takut padanya.
Sintia dan iris sudah memiliki rumah yang terpisah dengan tiara, tapi meski begitu keduanya masih tidak ingin lepas dengan tiara mereka masih setia ingin bekerja pada tiara. tiara yang sebenarnya tidak memusingkan hal itu membiarkan apa saja yang menjadi keputusan setiap orang orangnya itu.
tiara tidak pernah memberikan batasan pada mereka selama itu masih di jalurnya.
" adel...... adel........ " teriak airin dengan surat cempreng khas anak usia lima tahun.
" wah lihat keponakan tante yang cantik datang.
__ADS_1
kemari sayang tante kangen sekali dengan mu. " ucap Sintia yang datang dari arah dapur
" tante Sintia.....
apa adel ada......... " tanya airin.
" tante merasa sedih apa airin tidak kangen tante mengapa airin menanyakan adela. "
" tante aku ini masih usia lima tahun. yang aku tau hanya bermain dan menghabiskan uang masalah kangen dan sebagainya itu urusan orang dewasa. jadi airin tidak perlu merasa kangen sekarang. "
Sintia segera mati kutu ucapan itu begitu menekan di hatinya matanya melihat ke arah tiara yang hanya tersenyum.
" sudah tante aku akan ke kamar adel. " ucap airin segera lepas dari pelukan Sintia dan pergi dengan riang ke kamar adel.
setelah kepergian airin.
" Sintia apa dirimu baik baik saja. " tanya tiara.
" nona ini sudah sangat jauh anak itu memiliki pemikirannya sendiri aku sampai tidak bisa menjawab ucapan anak itu. " ucap Sintia.
" han Sintia Sintia.... itu dirimu bahkan dewa saja di buat mati kutu di buatnya. " ucap tiara
" nona sepertinya airin akan melampaui dirimu nona. " ucap Sintia
" aku tidak keberatan sama sekali selama airin masih di jalan yang benar aku tidak akan pernah keberatan. "
" sudah lupakan itu aku ingin menanyakan sesuatu padamu. " ucap tiara
" baik nona. " ucap Sintia.
" jadi bagai mana hasil penyelidikan selama ini tentang orang orang itu. "
" masih di titik buntu nona. aku, iris, erika, dan han masih berusaha nona mereka begitu mendalam dan tersembunyi. " ucap Sintia.
" hemm. begitu rupanya. tapi aku merasa orang itu tidak jauh dia ada di sekitaran kota suzan ini. "
" hah tapi kami tidak menemukan jejaknya sama sekali nona. "
" mungkin memang benar orang itu memiliki sesuatu yang hebat sehingga bisa menyembunyikan dirinya begitu dalam. "
" lalu langkah apa yang harus kita ambil nona jika dia biarkan aku takut salah satu keluarga kita benar benar akan hilang karena ulah orang itu. "
" itu tidak akan terjadi aku akan senantiasa mengawasi semuanya. kita tunjukkan jika kita ini kuat jangan panik agar orang itu selalu bergerak hati hati sampai kita berhasil menemukan keberadaan orang...... " ucap tiara terhenti.
__ADS_1
" gawat ada orang lain di rumah ini. ayo cepat ke kakamar adel. " ucap tiara yang segera hilang dari tempatnya seperti teportasi Sintia sendiri sudah terbiasa dia juga menghilang dari sana menyisakan bayangan dirinya yang duduk saja.
di kamar di sana dua anak itu sudah berlursan darah dengan gunting dan dan bolpon di tangan ke duanya.
tiara yang tiba terlebih dahulu kaget ketika melihat mayat dua sosok di lantai dengan bersimbah darah.
" airin, adel kemari sayang. " ucap tiara lembut lalu memeluk dua anak yang sudah di penuhi darah itu.
Sintia yang juga baru sampai di sana terkejut dengan apa yang di lihatnya dua mayat lelaki dewasa sudah bersimbah darah.
" siapa yang melakukan ini sayang. " ucap tiara pada dua anak dalam pelukannya.
" kami bedua yang melakukannya ma." ucap airin jujur tidak berbohong.
" apa kalian begua yang melakukannya sendiri. "
" iya tante siapa lagi hanya ada aku dan adek disini. " ucap airin lagi.
" bagai mana cara kalian melakukannya. " ucap Sintia masih tidak percaya karena di depan matanya hanya sosok anak balita dang di bunuh dengan kejam adalah sosok lelaki dewasa.
" adel..... " ucap Sintia
" benar ma ini kita berdua yang melakukannya tidak ada orang lain yang membantu. mereka datang dari arah jendela ma. " jelas adel
flashback on.
" adel...... "
" hay irin wah dirimu membawa ice cream. "
" ya..... mau.... "
" boleh......
ayo sini lihat lah aku sedang menonton film yang keren baru ke maring aku membelinya. " ucap adel.
" wah boleh ayo kita nonton. " setuju airin yang juga sepertinya antusias untuk melihat fillm seperti apa yang di lihat adel.
nah saat di pertengahan film di mana tokoh utama dari film itu sedang membunuh semua musuhnya dengan sangat kejam dengan gunting dan boleh poin karena saat itu rupanya tokoh utama sedang menyamar menjadi pelajar biasa saja.
tiba tiba saja dari jendela muncul dua sosok manusia tanpa aura datang dan memasuki kamar. adel dan airin yang memang masih brumur lima tahun menunjukkan ekspresi takut sehinnga mundur dan tekunci di meja belajar milik adel.
secara tak terduga tangan ke dua anak itu masing masing memegang gunting dan bolpoin yang ada di meja.
__ADS_1
lama dua sosok itu mendekat dengan senyuman iblis mereka. airin dan adanya adel saling melihat kemudian saling tersenyum dan mengangguk.
tak lama ke duanya melesat ke arah dua orang dewasa itu menirukan adegan tokoh utama di film itu.