Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 100: JUJUR?


__ADS_3

"Kebiasaanmu tidak berubah. Mau sampai kapan meratapi nasib malang mu? Ayolah, boy. Bersyukur dengan semua yang kamu punya. Jangan sampai ada penyesalan lain di kemudian hari, mungkin aku tidak lagi berdiri untuk menjadi pendukungmu."


Bryant menepis tangan Muel yang merangkul pundaknya, lalu mengubah posisinya dan kini menatap sang sahabat, "Nasib malang, ya? Kamu benar. Aku yang menjadi anak durhaka. Istri mendua, dan kini memiliki istri siri yang sangat polos. Jujur saja, aku berpikir. Seandainya Hazel yang hamil, apa keluargaku akan bahagia seperti saat ini? Apa restu akan kami dapatkan? Egois bukan. Yah, ini yang ada di hati dan pikiran seorang pria beristri dua."


"Beberapa hal yang ku pikirkan akan membaik. Ternyata semakin memburuk. Aku disini berusaha memenuhi impian orang tua, tapi di satu sisi juga menjadi penghianat. Memang benar, ide menikah lagi dari Hazel. Bagaimana masa depan nanti? Aku sendiri tidak tahu. Satu hal pasti, Ara yang akan terluka melebihi luka yang kurasakan. Apa sudah waktunya untuk jujur tentang status pernikahan yang ada di antara kami. Bagaimana menurutmu?"


Samuel termenung mendengarkan kejujuran dari Bryant. Setelah sekian lama, akhirnya sang sahabat mau berdamai dengan hati dan pikiran. Ini sebuah kemajuan yang baik, tapi untuk memulai kejujuran tentang hubungan yang rumit. Sanggupkah menanggung resikonya? Saat ini, fase kehamilan Ara baru dimulai dan mengingat kondisi wanita itu yang memiliki kondisi rahim berbeda. Tentu bisa mengakibatkan hal di luar imajinasi.


"Boy, sebagai seorang sahabat, maka aku sarankan untuk segera jujur tentang hubungan mu. Bagaimanapun, Ara berhak tahu, jika suaminya sudah memiliki istri sah. Namun, sebagai seorang dokter. Aku melarang keras niatmu untuk jujur saat ini. Hasil pemeriksaan yang terakhir saja menjelaskan, bahwa kita harus ekstra menjaga kestabilan emosi dan kesehatan Ara. Keputusan di tanganmu, tapi ingat satu hal. Jangan berikan tekanan apalagi shock jantung pada adikku."


Penjelasan Muel, membuat Bryant menghela nafas panjang. Berat, itu yang dirasakannya. Ntah kenapa, tapi semua menjadi satu. Seperti beban ratusan ton terpikul di pundak. Tiba-tiba, terasa usapan di bahu. Tangan pria yang selama ini selalu menjadi pendamping, masih setia memberikan dukungan, "Bantu aku untuk menjaga Ara. Mulai besok, aku akan tinggal di rumah lain. Semoga semua segera berakhir. Satu lagi, kembali saja ke rumah yang disediakan Om Al karena disini tidak aman untuk istriku."


"Seperti keinginanmu, Boy. Cepatlah akhiri pernikahan palsumu dan ingat, kamu harus menikah secara sah negara dengan Ara. Apa kamu mau, di saat anakmu lahir. Anak itu tidak bisa memakai nama ayahnya sendiri? Sebagai sahabat, aku selalu memberikan nasehat. Akan tetapi, sebagai seorang kakak. Tentu aku ingin melihat kebahagiaan adikku. Jangan cemburu dengan Ara, dia wanita yang special."


Percakapan kedua sahabat rasa saudara di antara Bryant dan Muel menjadi pengingat hati. Siapapun yang memiliki pendukung dengan hati tulus tanpa pamrih. Sungguh kehidupan mereka harus dipenuhi rasa bersyukur. Jangan pernah sia-sia kan orang yang siap menjadi penasehat, siap menjadi pendengar yang baik, dan siap menegur ketika kita melakukan kesalahan. Hubungan seperti itu, teramat sulit untuk didapatkan.

__ADS_1


Kebahagiaan keluarga Putra menyelimuti hati semua anggota keluarga itu. Namun, mereka lupa akan satu kenyataan. Dimana di antara hati yang berbunga-bunga. Ada satu hati yang terluka. Meskipun rasa sakit itu bersembunyi di hati. Tetap saja, tidak seorangpun tahu. Sorot matanya cukup menjelaskan, bahwa ia tidak baik-baik saja.


"Bunga permisi dulu, mau naruh kado ke kamar," pamit Bunga seraya memeluk dua kotak kado seperti anak kecil, lalu beranjak dari tempatnya.


Mama Milea, Mama Bella, Papa Bram dan Ara mengalihkan perhatian mereka pada gadis itu. Dimana Bunga sudah mulai berjalan tanpa menunggu jawaban. Ntah kemana keceriaan si gadis pembuat onar menghilang. Baru juga menikah beberapa hari, sikapnya sudah jauh berbeda. Terlalu pendiam dan tidak semanis dulu, bahkan harus ditanya dulu agar mau ikut ngobrol bareng yang lain.


"Nak, taruh nanti saja. Papa dan Mama tidak bisa menginap," cegah Mama Milea, tapi tidak ditanggapi oleh putrinya.


Putri kesayangannya tetap melanjutkan langkah kaki berjalan menyusuri lantai. Jangan-jangan, gadis itu tidak mendengar ucapannya. Mama Bella yang sedikit paham dengan situasi Bunga mencoba untuk mencairkan suasana, "Lea, biarkan saja. Sejak semalam Al blum pulang, jadi Bunga khawatir."


"Aku akan susul putriku, permisi," pamit Milea tanpa ingin berlama-lama, perasaannya mengatakan Bunga dalam masalah. Sebagai seorang ibu yang melahirkan dan membesarkan anaknya dengan kedua tangan. Hati tidak bisa berbohong, pikiran pun ikut tak tenang.


"Ara boleh kasih tahu nama orang tuamu?" tanya Bram to the point.


Ara mendongak, lalu membalas tatapan mata seorang pria yang bertanya tentang orang tuanya. Aneh sih pertanyaan itu, karena sejak masuk keluarga Bryant. Tidak satupun orang bertanya tentang masa lalu, mereka hanya menjalani hubungan seperti air mengalir, "Ayah ku bernama...,"

__ADS_1


"Ara, tunggu dulu. De, bisa katakan pada kakak. Kenapa kamu tanya soal orang tua istri Bry? Apa ada yang kamu sembunyikan atau kamu tahu sesuatu dan tidak mau mengatakan pada kakak," Mama Bella menyela ucapan Ara, lalu berbalik menatap adiknya dengan tajam, "Bram! Kenapa diam? Lihat aku, dan jangan menundukkan kepala."


Sikap protective sang kakak, langsung membuat Bram menarik nafas dalam. Ia lupa, saat ini ada Ka Bella. Wanita yang selalu melindungi keluarga meski baru mengenal. Sebenarnya, penilaian dari kakaknya selalu benar. Meski begitu, lebih baik jangan menginterogasi orang-orang yang menjadi kesayangan nyonya rumah. Tidak peduli siapa yang memulai, tapi pasti akan berakhir dengan diam terkalahkan.


Sejenak menetralkan perasaan, lalu kembali tenang. Barulah ia siap menghadapi singa betina keluarga Putra, "Kakak ku yang super manis. Aku hanya ingin tahu saja, yah siapa tahu nanti ketemu di luar. Jadi kan bisa diajak ngobrol bareng gitu. Pertanyaan ku masih wajar, loh. Kakak ini udah negatif aja, padahal aku adik sendiri."


"Maaf, tapi aku tidak memiliki orang tua lagi. Ayah dan ibu sudah kembali pada pangkuan Yang Maha Esa. Aku yatim piatu," jawab Ara tanpa mengurangi kesopanan agar tidak menyinggung perasaan ibu mertua dan pria yang menjadi ayah Bunga.


Mama Bella tersenyum tipis, "Nak, siapa bilang kamu yatim piatu? Lihat, disini ada Mama, ada papa juga. Meskipun suamiku itu sibuk ntah kemana. Lihat ada Bram, dan anggap saja sebagai papa kedua mu. Jangan pernah menganggap dirimu sendiri. Kami ada untuk saling mengasihi dan memberikan dukungan. Jangan merasa kamu orang luar. Ini yang terakhir, semoga kedepannya tidak ada kata kamu anak yatim piatu."


...****************...


......................


Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭

__ADS_1



......................


__ADS_2