
"Serius, Ma? Boleh, boleh." jawab Ara dengan tatapan mata yang menggemaskan.
Bunga langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu mengulurkan tangan, "Ayo, Ma. Aku akan bantu mama kembali ke kursi roda, Ara bisa panggilkan Papa dan yang lain? Kebiasaan dari Mama Bella adalah memasak bersama suami tercinta, benar 'kan, Ma?"
"Anak mama perhatian sekali. Kenapa harus ke ruangan yang membosankan itu? Mama bisa telpon papa kalian dengan ponsel. Jadi, kita tunggu mereka saja," celetuk Mama Bella, kemudian bermain benda pipih yang ada di samping tempat duduknya, membuat Bunga kembali ikut duduk di tempat semula.
Wanita paruh baya itu hanya mengirimkan pesan singkat, dan tidak menunggu lama. Terlihat Papa Angkasa keluar dari ruangan kerja. Siapa sangka, pria itu keluar bersama dua pria yang berwajah serius dan tegang. Seperti baru membahas mayat saja. Para pasutri saling menatap pasangan masing-masing. Satu pasutri diliputi rasa rindu. Satu pasutri diliputi rasa canggung dan satu pasutri hanya saling melemparkan senyuman manis.
Dunia seperti milik ketiga pasutri itu, bahkan tidak menyadari ketika Samuel datang, "Ekhem! Ayo bangun dari mimpi. Disini ada pria lajang."
Ucapan Samuel, membuat keenam anggota keluarga Putra mengalihkan perhatian mereka, lalu menatap pria yang berprofesi sebagai dokter dengan tatapan sinis. Bukan maksud tidak suka, tapi jujur saja. Pria itu mengganggu momen kebersamaan para pasutri beda usia. Sam yang merasa terpojok hanya menampilkan senyuman manis tak bersalah. Sontak saja, membuat semua orang tertawa bersama.
Kebahagiaan itu tidak akan tergantikan. Inilah yang selama ini diinginkan dari keluarga Putra. Hari ini seperti matahari turun dari langit dan menyinari rumah yang selama beberapa tahun dipenuhi kesedihan. Setiap masa lalu yang mulai menjadi akhir baik. Pernikahan Bryant dan Ara. Pernikahan Al dengan Bunga. Ditambah berita kehamilan sang menantu kedua. Lengkap sudah kebahagiaan yang menjadi satu senyuman.
Keluarga itu menikmati sarapan bersama. Meski Ara tidak jadi meminta nasi goreng. Tetap saja, wanita itu harus makan makanan yang sehat dan bergizi. Semboyan dari sang kakak adalah demi kesehatan dede bayi yang baru mulai berkembang di dalam rahimnya. Sebagai seorang wanita yang baru saja memulai fase kedua. Maka ia tak ingin membuat sebuah kesalahan hanya karena ego. Meski demi kebaikannya, ia harus menerima segala jenis peraturan dari keluarga.
Di saat sesi sarapan bersama sudah berakhir. Keluarga itu memutuskan untuk melakukan piknik dadakan, dan itu membuat Ara begitu bahagia. Wanita itu tak henti-hentinya tersenyum manis, dan membuat Bryant selalu melirik ke arah sang istri siri. Padahal, pria itu diberi tugas untuk menyiapkan perlengkapan piknik bersama Samuel. Tanpa sadar, tas yang berisi tenda terlepas dari tangannya, lalu terjatuh ke lantai.
__ADS_1
Akan tetapi, posisi Samuel ada di depan Bryant. Sontak saja, Sam menepuk bahu sahabatnya, "Fokus, Bry. Aku belum nikah, jangan sampai istri ku memenggal kepalamu, ya."
"Hmm, terserah deh. Lagian, kamu aja belum berani melamar calon istrimu. Awas nanti di embat cowok lain. Baru tahu rasa," ucap Bryant pedas, ia sengaja menyindir Samuel agar segera melamar Ocy.
Percakapan kedua pria itu cukup terdengar masuk ke telinga Mama Bella yang berada tidak jauh dari kedua putranya, "Jadi, Sam belum lamar Ocy? Anak ini memang keterlaluan. Lihat aja nanti, aku harus lakuin sesuatu. Salah siapa mainin anak cewek."
Sebuah ide terlintas, membuat Mama Bella tersenyum penuh arti. Tak ingin kehilangan ide yang cemerlang. Wanita itu langsung mengirimkan pesan singkat dari ponselnya. Siapa yang menerima pesan? Kita lihat nanti saja. Sekarang adalah waktunya untuk berangkat menuju tempat piknik. Berhubung semua anggota keluarga ikut. Maka mereka menggunakan dua mobil.
Dimana mobil pertama ada Papa Angkasa, Mama Bella, Samuel, dan Kinara. Sementara mobil kedua, ada Bryant, Ara, Om Al, Bunga dan Ocy. Kedua mobil melaju beriringan. Piknik kali ini menuju sebuah danau yang cukup memakan waktu dua jam perjalanan. Tempat dengan ketenangan dan juga pemandangan alam yang menyejukkan. Suasana selama perjalanan hanya terisi dengan perbincangan basa-basi.
Saat ini yang menyetir adalah Om Al, dan Bryant duduk di sebelah sang paman. Sementara Ara, Bunga dan Ocy duduk di kursi belakang. Namun, pertanyaan Bryant berhasil mengalihkan perhatian yang lain. Benar saja, Ara terlihat aneh. Tiba-tiba saja wajah yang selalu tersenyum berubah sendu dengan sorot mata menunduk. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa perubahan itu terjadi begitu mendadak.
"Ara, apa yang kamu pikirkan? Ceritalah! Lihat, ada aku, dan yang lain. Jangan simpan apapun sendiri, atau kamu ingin makan sesuatu? Katakan. Jangan buat kami cemas," Bunga berusaha untuk membujuk Ara seraya merengkuh dagu istri Bryant agar mau menatapnya, "Hey, jangan nangis. Nanti, hadiahku bisa di cancel...,"
"Bunga! Kamu ingin membuat orang tenang, atau ingin menambah mood anjlok? Bukan begitu caranya," sindir Ocy dengan menepuk keningnya sendiri, lalu mengambil sebotol air mineral, kemudian di ulurkan, "Minumlah. Tarik nafas, lalu hembuskan. Ingat, emosi harus dijaga. Lakukanlah, demi debay."
"Uhuk. Iya, ibu negara. Sini ku bukain," sambung Bunga menerima botol air itu dan membukakan tutupnya, barulah diberikan ke Ara, "Jangan berpikir terlalu jauh. Saat ini, kamu harus menikmati proses kehamilan. Jadi, ayo senyum kakakku tersayang."
__ADS_1
Bunga dan Ocy tengah berusaha membujuk Ara, membuat Bryant bernafas lega. Setidaknya, ia memiliki banyak pendukung yang bisa menjaga istrinya. Tatapan mata bersalah tak bisa terlepas dari sorot matanya. Al yang menyadari bagaimana perasaan sang keponakan hanya bisa mengedipkan mata. Isyarat jika semua pasti akan baik-baik saja. Apalagi keputusan sudah diambil. Kini hanya memerlukan satu pertemuan terakhir untuk menjadi awal masa depan yang lebih baik.
Perjalanan berakhir ketika mobil memasuki tempat parkir dengan deretan pohon pinus. Al bergegas meninggalkan mobil dan membantu Samuel untuk menyiapkan tempat piknik mereka, sedangkan Bryant dan Papa Angkasa bertugas untuk menjaga para wanita. Di saat semua orang sedang menunggu tempat mereka siap. Bunga mengajak Ara, Ocy dan Kinara untuk jalan-jalan di sekitar. Keempat wanita itu hanya melakukan selfie di beberapa spot foto yang bagus.
Kesibukan berganti pose dengan juru kamera yang berbeda, membuat mereka sibuk menikmati kebersamaan. Namun, tanpa mereka sadari. Suara tawa yang ruang dengan celotehan khas anak muda menarik perhatian beberapa pengunjung yang berada di sekitar mereka. Apalagi, penampilan para wanita keluarga Putra begitu elegant, manis dan juga dewasa. Benar-benar perpaduan keanggunan yang alami.
"Wuih, cantik semuanya, bening pol para cewek itu, samperin yuk!" ajak seorang pemuda dengan penampilan santai yang memiliki kebiasaan menyugar poninya ke belakang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭
...----------------...
__ADS_1