Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 181: Bryant with Darren


__ADS_3

"Aku bisa memberikan apapun demi kebahagiaan Ayra." Ucap tegas Darren seraya menepuk bahu Bryant memberikan jaminan akan pernyataannya.


Sekali lagi, keduanya berpelukan dengan rasa persahabatan. Sungguh, ketika persahabatan bukan tentang ego masing-masing. Beruntunglah mereka. Dimana suka duka akan menjadi kebersamaan. Tidak ada kata keberatan, apalagi menjadi iri hati. Setiap kepedulian itu nyata.


Satu masalah telah berakhir, tetapi masalah lain menghadang. Kedua pria itu pergi meninggalkan rumah sakit untuk menenangkan diri. Ketika kita harus membujuk kemarahan seorang sahabat. Jangan terjang detik itu juga. Kenapa?


Sebentar saja, berikan sahabatmu waktu untuk mengendalikan diri dan meredam emosinya. Satu atau dua pukulan itu lumrah. Kata-kata umpatan kasar masih wajar. Namun ketika itu berubah menjadi murka tak bertulang. Maka, tidak ada tempat untuk bujukan.


"Bu, dua coffee cappucino." Darren memesan seraya menarik kursi, lalu duduk. Begitu juga dengan Bryant yang duduk di hadapannya. "So, tell me. Ada masalah apa lagi dalam kehidupan Ayra."


Helaan nafas panjang menemani, membangkitkan rasa takut kehilangan. Tatapan mata lurus menatap pepohonan hijau. Apa yang harus dikatakan? Semua semakin rumit, bahkan keluarga Putra harus berpindah tempat untuk sementara waktu.


Mereka memilih untuk menghindari angin ribut yang dibawa mantan menantu pertama. Yah, selama keluarga sibuk dengan masalah Mama Bella yang masuk rumah sakit, dan pencarian Ara yang masih berlangsung. Hazel trus saja membuat ulah. Akhirnya, Alkan membuat keputusan untuk berpindah tempat tinggal.


Gedung tempat perusahaan Putra berada pun sekarang memiliki tingkat keamanan jauh lebih ketat. Jangankan Hazel, untuk karyawan yang tidak membawa kartu Identitas saja bisa dipulangkan. Bukan hanya itu saja karena kini pertemuan para klien menjadi jalur lain.


Kehidupan yang kacau hanya karena satu orang saja. Setelah beberapa waktu mencari bukti tentang Hazel. Alkan memang membiarkan wanita itu tetap bebas, tapi hanya untuk mendapatkan bukti lain yang bisa menjerat Hazel ke dalam penjara seumur hidup.

__ADS_1


"Bry!" Panggil Darren seraya mengibaskan tangan di depan wajah Bryant.


Bryant termenung, tapi bukan melamun. Sesaat ingin menenangkan hati yang selalu menikmati serangan seperti kembang api. Satu sisi bersyukur dengan keikhlasan hati Darren, tetapi sisi lain merasa bersalah karena membuat Ara kembali jatuh lemah tak berdaya.


Dia sadar. Jika keputusannya adalah kesalahan besar. Padahal Ara hanya ingin kebahagiaan sederhana, dan memiliki pasangan yang bisa mengerti. Sudahlah. Semua sudah terjadi dan hanya bisa memperbaiki. Penyesalan itu boleh, tapi dilarang untuk larut.


"Kehidupan seperti air yang mengalir. Aku mencoba mengikuti alur, tetapi banyak sekali kayu yang menjadi rintangan. Jika kamu tanya tentang Ara. Apa kamu siap menjadi pendengar tanpa emosi?"


Ntah apa yang akan dikatakan sahabatnya itu. Apapun itu, tidak sekalipun akan melakukan pemberontakan. Seorang pendengar hanya bisa mendengarkan. Benar bukan? Namun terkadang, emosi itu bukan tentang pengendalian.


"Diam artinya setuju." Bryant mengubah posisi duduk sehingga berhadapan dengan Darren, tatapan mata serius tanpa berkedip. "Pertemuan kami di rumah wanita malam. Dihari yang sama, disaat aku menjadi seorang istri siri. Ara dijual suaminya."


Sekilas senyuman terbit menghiasi wajah Bryant. Kenangan indah senyuman dari penerimaan keluarganya terasa menghangatkan hati. Kebahagiaan nyata yang selama ini dirindukannya. Andai waktu tak memiliki pengkhianatan. Mungkin saja, semua itu masih dia dapatkan.


"Permisi, ini pesanannya."


Seorang pelayan meletakkan dua cangkir cappucino ke atas meja, lalu pergi setelah menyelesaikan tugasnya. Darren mencoba untuk bersabar menjadi pendengar karena posisinya masih abu-abu. Sementara Bryant melanjutkan cerita tentang pernikahan antara dia dan Hazel.

__ADS_1


Bukan dari tengah. Seluruh cerita menjadi kisah kilas balik hingga satu jam lebih. Kisah itu mencapai pada titik di hari kepergian Ara dari hotel. Semua menjadi jelas dan apa yang menjadi masalah sudah terlihat.


"Jadi, kurang lebih seperti itu. Boleh aku tahu, selama ini Ara dimana?" tanya Bryant menyudahi ceritanya, membuat Darren tersenyum kecil.


Jarinya sibuk mengaduk cappucino yang tinggal separuh cangkir. Tatapan matanya terpatri mengikuti arah putaran air. "Aku membawanya ke rumah sakit, dan kenyataan bahwa Ayra hamil, tetapi mengalami keguguran. Sungguh seperti jantungku yang copot. Aku tidak tahu apapun karena baru mengingat masa lalu, setelah lama amnesia."


"Pada intinya. Aku membawa Ayra untuk pemulihan karena dokter mengatakan kondisinya sangat tidak baik. Villa yang menjadi rumahku, hanya tempat itu yang cocok dengan lingkungan ramah serta pemandangan pengubah suasana hati. Alhamdulillah semua berjalan sesuai rencana."


"Bry, jika cintaku untuk Ayra begitu besar. Bukan berarti, kamu menyerah. Ketika bibir nya melindungimu, bagaimana bisa kamu menyerahkan dia semudah itu? Jujur saja, aku marah, tapi itu hanya sesaat hingga ....,"


Rasanya sakit. Ketika berusaha terlihat baik, tapi nyatanya tidak. Ingin meneruskan, bibirnya begitu kelu. Nama yang selalu dianggap menjadi miliknya. Ternyata milik orang lain. Benar-benar menusuk jantung hingga ke nadi.


Darren mencoba untuk tegar, tetapi hati tak mampu berbohong. Sebesar itukah cinta untuk Ayra? Pertanyaan macam apa. Ketika cinta itu bertahta selama bertahun-tahun, meski amnesia. Cinta itu tetap memeluknya dalam kehangatan.


"Cukup." Bryant menyudahi kegelisahan yang terpancar dari sorot mata Darren. "Semua yang kamu lakukan, aku tidak akan mengucapkan terima kasih. Cintamu memang nyata untuk Ara. Tidak akan pernah diragukan lagi."


"It's ok. Sebaiknya ubah topik." Sambung Darren menyetujui apa yang Bryant katakan. "Kapan perpisahan akan terjadi? Kamu bilang, saat ini status Ayra masih menjadi istri dari seorang baj!ngan. Iya 'kan?"

__ADS_1


"Right. Om Al sudah mengatasi setengah pekerjaan, tapi ada satu masalah. Bagaimana caranya mengatakan kebenaran ini pada Ara." Ujar Bryant, lalu mengusap wajahnya kasar.


"Aku akan bantu dan kamu pikirkan saja tentang pernikahan. Sebelum itu, ingat ada masa iddah. Jadi, selama tiga bulan sepuluh hari. Ayra akan tinggal bersama keluarga ku. Setuju?"


__ADS_2