
Tatapan mata Darren tertuju pada Ara, membuat wanita itu menundukkan pandangan. Lalu menarik kursi di depannya. Kemudian duduk tanpa ingin menatap pria yang terus saja menatapnya. Kedua tangan saling bertautan, bingung ingin mulai dari mana. Apakah tentang ia dan mantan suami, atau tentang ia dan suami sirinya?
Ketika sudah merasa di titik puncak dari dilema hatinya. Ara menghela nafas panjang, "Ka Tama, sebenarnya Aku hanyalah istri siri dari seseorang. Aku bukan wanita baik, seperti yang kakak pikirkan."
"You know, Aku selalu percaya kamu. Tanpa kamu jelaskan." Darren menutup kopinya menggunakan tatakan kaca, lalu menggeser nampan itu. Kemudian menatap Ara tanpa keraguan. "Ayra, kita memang terpisah lama, tapi kamu adalah kamu. Gadis sederhana dengan impian sederhana."
"Sekalipun, kamu melakukan hal diluar batas. Tama mu, akan selalu mendukung dan tetap bersamamu. Jangan pernah khawatir, Ayra. Setiap kenangan buruk akan menjadi pecutan agar hidup kita lebih baik. Jadi, aku siap mendengarkan seluruh kisahmu." Sambung Darren yang tidak ingin Ara merasa putus asa dan berpikir negatif.
Lega bercampur haru yang Ara rasakan. Sungguh, inilah yang selalu dia rindukan. Kepercayaan tanpa pertanyaan. Darren selalu menjadi sosok pelindung yang akan mengayominya. Dulu dan hari ini, tatapan mata tegas nan lugas dari pria itu, seperti siraman embun pagi.
Namun, hatinya sudah milik Bryant. Ia tidak memungkiri, jika sebagian hati bersyukur akan kembalinya Darren. Akan tetapi, hati telah memilih. Ara kembali menghela nafas panjang.
"Sebelum itu, Aku akan mengatakan awal mulanya. Setelah kakak menghilang, kehidupan ku hanya tentang sekolah dan keluarga hingga satu persatu Ibu dan Ayah meninggal dunia. Meski aku sebatang kara, beberapa waktu sebelum kepergian ayah. Seorang pemuda membuat ku jatuh cinta dengan kebaikannya."
Pandangan Ara lurus ke depan, namun bukan menatap Darren. Melainkan menatap tembok yang ada di belakang pria itu. Serpihan ingatan seakan bermain sandiwara di depan matanya. Setiap peristiwa seakan baru saja terjadi.
"Pemuda itu bernama Akbar Wijaya. Wajah oriental khas pribumi dengan tutur bahasa yang lembut. Apapun yang aku lihat darinya. Semua nampak sempurna, yah hatiku jatuh cinta. Ka Tama akan terkejut, ketika semua itu hanyalah tipu muslihat."
"Kami menikah atas nama cinta, tapi nyatanya aku hanya menjadi alat untuk kesenangannya. Selama kami menikah, dia tidak sekalipun menyentuh aku sebagai seorang istri. Justru, dia berselingkuh dengan sahabat lamaku."
"Pada akhirnya, Akbar memberikan talak dan menjual diriku ke rumah wanita malam. Rasanya seperti matahari jatuh ke pangkuanku. Panas membara di dalam hati, disambut sayatan yang menghentikan detak jantungku."
Suara helaan nafas terus menerus terdengar mengiringi cerita wanita itu, luka di hati dengan kisah penuh air mata pengkhianatan. Darren trus mendengarkan tanpa menyela, apalagi mencoba untuk mengucapkan sepatah katapun. Hatinya berdenyut menyulut percikan api kemarahan.
Suara bergetar sang pujaan hati berubah menjadi hantaman batu kerikil yang terus saja jatuh ke atas kepalanya. Kesadaran untuk tetap tenang, hanya demi membiarkan Ara melepaskan semua beban hati dan pikiran yang selama ini terpendam. Darren memejamkan mata, tak sanggup ketika netranya trus melihat luka dari mata Ara.
"Kehidupan itu unik dan misterius. Disaat aku pikir akan menjadi wanita malam. Allah mengirimnya untuk menjadikan diriku sebagai istri siri. Uang masih menjadi segalanya. Raga dan jiwa ini sudah dibeli, tapi sebagai gantinya. Aku menerima kontrak pernikahan siri dan siap menjadi seorang ibu."
__ADS_1
"Semua berjalan baik. Dia menunjukkan kasih sayang yang nyata dan belajar menjadi seorang suami yang bertanggung jawab. Seluruh keluarga menerima hubungan kami tanpa pernah mempermasalahkan status masa lalu, hingga kebahagiaan itu datang mengetuk pintu rumah kami.
Tanpa sadar, cairan bening mengalir begitu saja. Sensasi panas di pelupuk matanya, terus saja memberontak. Percuma untuk dilawan, mungkin ini akan menjadi hari terakhir untuk dirinya berdua dan meratapi nasib yang memang merupakan takdir kehidupannya.
"Aku hamil, meski setelah Dokter memvonis rahimku bermasalah. Aku ingat, betapa semua orang bahagia dengan calon anak kami. Semua berjalan baik dan tidak ada masalah yang berarti, hingga hari itu. Dimana Kakak menemukan ku, ketika mengalami kecelakaan."
"Aku baru tahu, jika diriku tidak pernah ditakdirkan untuk mendapatkan cinta seorang suami dan kebahagiaan anak. Semua hanya menjadi mimpi semata. Suami yang kupikir menikah hanya demi pewaris dan akan perlahan menerima kehadiran ku dan bayi kami. Ternyata itu hanya harapan palsu."
Pria yang mulanya bersikap tenang, kini menjadi gelisah. Semakin Ara mengatakan kisah hidup yang tragis. Hatinya bergejolak. Marah, geram, sedih, luka dan kecewa melebur menjadi satu. Namun, mau melampiaskan semua itu pada siapa? Takdir? Tuhan? Atau kenyataan?
Tidak bisa menyalahkan siapapun. Itu memang garis kehidupan yang harus Ara lewati. Jika berandai-andai, kehidupan tidak akan berubah. Semua menjadi sisa rasa yang lebih baik untuk dikubur dalam. Darren beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan memutari meja.
Pria itu tak kuasa lagi untuk menahan emosinya. Wanita yang selalu hadir disetiap do'anya. Justru hidup dengan begitu banyak tekanan dan menyisakan kehancuran yang nampak jelas dari sorot mata wanita itu.
Darren memegang kursi tempat Ara duduk. Pria itu memutarnya, hingga keduanya saling berhadapan dengan tautan mata yang begitu dalam. "Katakan padaku. Siapa DIA? Pria yang membeli dan menjadikan Ayra ku sebagai wanita pencetak anak."
Ara tertegun dengan pertanyaan Darren. Mata merah di wajahnya yang tegas dengan alis terangkat. Wajah murka yang tidak bisa dilupakannya. "Ka Tama, lupakan ....,"
.
.
.
.
...❤💞💓❤💞💓❤💞💓❤💞...
__ADS_1
...Siang reader's,...
...Karya Istri Siri Tuan Bryant...
Akhirnya akan segera berakhir.
Gak hari ini juga, kok.
Just pemberitahuan dulu, 🤭
Biar gk kaget, kemarin ada yang bilang cerita terlalu bertele-tele. 🤔
Aku gak bisa nulis, cuma 5 bab trus tamat ya, 😌🤝
Kisah kalau ditulis tanpa alur, nanti banyak yang meniru.
Coba bayangin, deh.
Ini dunia halu, tapi bukan berarti, tidak mencapai kewajaran.
Masalahnya, yang menjadi pembaca tuh. Ada yang paham agama, ada yang paham aturan sosial, bahkan paham aturan hukum.
Kalau author cuma mau have fun, pasti nulis tanpa cari tahu apa yang akan disampaikan.
Okay, begitu saja.
Aku berusaha menjadi penulis dengan usaha dan kualitas. Meski masih tahap belajar, Aku tetap berusaha agar tidak memberi contoh buruk yang bisa dilakukan orang lain.
__ADS_1
Intinya, jika kisah tentang pernikahan dibuat seenak hati. Sah aja, tapi tidak dengan peraturan agama dan negara. (Inget, kita hidup di dunia nyata)
😃🙏 #Othoor jadi curhat, ya.