
Pergulatan sepasang pengantin mengalirkan peluh yang membanjiri seluruh tubuh. Sementara ditempat lain, wajah terkejut dan aneh tergambar jelas di wajah seorang pria yang berdiri mematung di depan pintu kamarnya sendiri. Selimut yang terlihat menggembung besar seperti digunakan menutupi dua orang. Bagaimana bisa begitu?
Perlahan ia melangkahkan kaki mendekati ranjang king sizenya. Langkah yang begitu hati-hati hingga suara sepatu yang biasa terdengar nyaring. Benar-benar tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Namun, tiba-tiba saja sepasang tangan melingkar sempurna di perutnya. Tangan putih mulus glowing.
"Kapan pulang, Sayang? Aku rindu....,"
Pria itu melepaskan kedua tangan sang istri, lalu berbalik. Penampilan Hazel sangat mencurigakan. Rambut basah dengan handuk baju lengan tiga perempat. Bukankah biasanya wanita itu enggan memakai handuk yang terlalu rapat.
"Sayang? Kenapa menatapku seperti itu? Kangen ya?" goda Hazel sekali lagi merengkuh tubuh Bryant.
Pelukan yang tak bisa ditolak. Bryant menetralkan semua firasat yang ia miliki. Tanpa pria itu sadari. Disaat berpelukan, seseorang dari balik selimut merangsek turun dari ranjang, lalu bersembunyi di bawah tempat tidur. Disaat situasi sudah aman, barulah Hazel melepaskan pelukannya.
"Bersihkan dirimu, Sayang. Aku akan siapkan pakaian ganti, dan kita bisa sarapan bersama. Bagaimana?" tawar Hazel menyunggingkan senyuman terbaiknya, membuat Bryant mengusap kepalanya dan berlalu menuju kamar mandi.
Ceklek!
Begitu pintu kamar mandi tertutup, Hazel langsung menghampiri pria yang bersembunyi di bawah tempat tidur. "Cepatlah keluar!"
__ADS_1
Uluran tahan Hazel di sambut hangat. Tatapan mata kesana kemari untuk memastikan situasi tetap aman. Wanita itu mengantarkan prianya meninggalkan rumahnya melewati pintu belakang rumah. Namun, disaat ingin menutup pintu. Justru pria itu masih sempat meraup bibir Hazel untuk dinikmati secara frontal.
"Ish kamu! Pergilah!" usir Hazel melepaskan pagutan keduanya secara paksa.
"Mmuuaacchh. Jangan lupa besok lagi," Pria itu berlari meninggalkan rumah besar yang sejak kemarin malam menjadi tempat peraduan cintanya.
Langkah Hazel kembali ke dalam kamar utama. Ia bersikap sangat normal seperti tidak terjadi apapun kecuali bibirnya yang terlihat bengkak. Meskipun tidak begitu terlihat, tetap saja perbedaan bisa dipandang sekilas. Aura yang terpancar begitu segar, membuat wanita itu melakukan tugas seorang istri tanpa satu kata keluhan.
"Hazel, tumben kamu dirumah jam segini?" tanya Bryant yang ternyata sudah memakai pakaian lengkap saat keluar dari kamar mandi. "Bukankah besok kamu berangkat ke Paris?"
Sejenak tatapan matanya memperhatikan sang istri. Cantik, model ternama, dan juga memiliki banyak kelebihan. Namun, sekarang ntah apa yang terjadi. Hatinya merasa terombang-ambing di antara kenyataan hidup yang menghimpit. Ekspresi Bryant, membuat Hazel berjalan mendekati suaminya.
"Apa kamu tidak merindukan aku?"
Bryant masih tidak merespon apapun.
"BRYANT!" panggil Hazel seraya menggoyang kedua bahu suaminya.
__ADS_1
"Yah, ada apa?" tanya Bryant seperti orang bingung.
"Sayang, kamu kenapa? Jangan-jangan....,"
"Lupakan saja. Bagaimana persiapan pemotretan di Paris? Sudah beres semua?" tanya Bryant mengalihkan perbincangan.
Hazel menatap Bryant sunguh-sungguh. "Sayang, apa kamu tidak bisa jujur denganku?"
Bryant mengajak Hazel untuk duduk bersama di tepi ranjang.
"Sayang, ada apa?" tanya Hazel sekali lagi dengan wajah was-was.
Bryant meraih kedua tangan istrinya, lalu menatap mata jernih itu dengan serius. "Aku akan mengatakan sebuah kebenaran, tapi tenangkan dirimu."
"Kebenaran? Bryant, please jangan buat aku takut." Ucap Hazel dengan tatapan sendu.
"Aku sudah menikah lagi!"
__ADS_1